Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 162


__ADS_3

Acara demi acara telah usai. Sebelum pulang, Glen menyempatkan diri berpamitan pada Syam karena dia akan kembali ke ibu kota subuh nanti.


"Besok pagi papa pulang ke Jakarta Syam, tapi akan papa usahakan untuk sering ke sini menemui kamu''


Tangan Glen mengusap puncak kepala Syam dengan lembut.


"Iya Pa''


"Kalau liburan nanti, kamu ikut ke Jakarta mau kan?'', tanya Glen.


"Kita sudah pernah membahasnya Pa. Insyaallah kalau diijinin sama ibu dan abang, Syam mau kok ke sana.''


Glen pun tak menyahut.


"Apa yang papa pikirkan?'', tanya Syam.


"Heum? Itu....", ucapan Glen tersendat.


"Papa takut kalau kita akan berjarak lagi?'',tanya Syam.


"Iya, jujur papa takut kamu semakin jauh sama papa tapi kamu dekat dengan Salim nantinya.''


Salim tersenyum lalu tiab-tiba memeluk Glen. Glen pun membalas perlukan Syam.


"Papa tetap papa Syam. Jangan berpikir yang bukan-bukan!''


Glen tersenyum simpul. Ada sedikit rasa lega yang Glen rasakan. Setidaknya, Syam sendiri yang menjamin ucapannya.


"Maafkan papa ya Nak. Seandainya papa bertanggungjawab saat itu, pasti kamu tidak perlu mera....''


"Sudah lah Pa, jangan bahas itu lagi. Syam masih mencoba untuk beradaptasi dengan semuanya dan berdamai dengan keadaan'', Syam memotong ucapan Glen yang sudah bisa Syam tebak endingnya.


"Baiklah, papa langsung ke hotel. Besok subuh papa langsung berangkat.''


"Ya udah, papa hati-hati. Kabarin kalau sudah sampai dan salam buat Zea, Opa Surya juga...Tante Helen.''


"Iya, insyaallah!'', Glen kembali memeluk putranya.


Setelah puas berpelukan, Glen pun benar-benar meninggalkan rumah mewah untuk ukuran kampung tersebut.


Ternyata, saat Glen akan pulang bersamaan dengan Salim yang juga kan memasuki mobilnya untuk kembali ke mess pabrik. Dua pasang mata itu saling bersirobok beberapa saat. Tapi Glen lebih dulu memutuskan untuk mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


Setelah itu, Glen memasuki mobilnya dan meninggalkan pekarangan rumah Sekar. Di dalam mobil, Glen memikirkan lamaran Salim yang di terima dengan tangan terbuka oleh pihak keluarga Sekar.Di usapnya dengan kasar wajah tampannya tersebut.


Niat hati ia ingin beristirahat lebih dulu di hotel, kenyataannya dia justru langsung meluncur ke ibu kota. Pikirannya tak bisa tenang jika memikirkan hal yang tak seharusnya di pikirkan olehnya.


Berbeda dengan Glen yang uring-uringan sejak acara lamaran, justru Salim terlihat bahagia. Bahkan senyumnya kian melebar saat anak-anak mess meledeknya yang akan menjadi bapak dari bos mereka. Sayangnya seorang Salim biasa rendah hati. Dia tak berpikir jika beberapa waktu yang akan datang, dia juga bisa di panggil bos.


Masalahnya, Salim merasa tahu diri. Dia pun tak ada bedanya dengan para karyawan Lingga .Bedanya, mereka di gaji oleh Lingga sedang Salim di gaji oleh Arya.


Hingga menjelang tengah malam, Salim masih banyak mengobrol dengan anak-anak mess.


.


.


.


Matahari sudah menunjukan sinarnya. Beruntung saat ini hari libur. Baik Syam mau pun penghuni rumah yang lain tak terlalu di buru-buru oleh waktu.


Jika Lingga tampak fresh setelah di penuhi hasratnya oleh sang istri, Sekar pun tak beda jauh. Wajahnya terlihat begitu bersinar. Mungkin karena hormon kebahagiaan hingga wajahnya pun turut memancarkan aura positif. Begitu pula dengan Syam yang merasa harinya cerah karena ia bisa bermain sepuasnya.


Tapi tidak dengan Galuh. Ibu muda itu masih bergelung selimut bersama buah hatinya. Ternyata, setelah memenuhi kewajibannya pada ayah Ganesh, justru ia dikerjai oleh Ganesh yang mendadak rewel. Mana Ganesh nya tak mau di pegang ayahnya, alhasil Galuh terjaga semalaman.


"Kakak mana Bang?'',tanya Syam.


"Kasian, kenapa ngga bangunin ibu sih Bang?'', tanya Sekar.


"Ibu kan juga sama capeknya. Ngga apa-apa Bu. Yang penting sekarang Ganesh nya juga udah ngga rewel''


Sekar hanya mengangguk pelan.


"Bang, Syam main bulu tangkis di bawah ya!'', ijin Syam pada abangnya.


"Iya, tapi waktunya sholat kamu harus udah pulang lho ya?''


"Insyaallah Bang.''


.


.


.

__ADS_1


DI sebuah saung yang ada di tengah kebun tiga orang dewasa yang sudah memiliki cucu itu menikmati siang hari yang sejuk meski matahari terlihat begitu terik. Tapi nyatanya udara memang cukup dingin. Ketiganya mengobrol berbagai hal, termasuk persahabatan antara dirinya dengan mendiang almarhum bapak Galuh.


''Saya menyesal sekali Sekar, sudah membuat Galuh dan kamu kesusahan. Seandainya saat itu saya tidak mengirim Lingga ke Kanada, mungkin pernikahan antara Galuh dan Lingga tidak akan serumit itu. Dan jika dari awal saya tahu kalau kalian berhubungan langsung dengan Prastian...."


"Sudah mas Arya, semua sudah terjadi. Tidak ada yang perlu di maafkan karena kenyataannya kita hanya mengikuti alur yang sudah di atur.''


Arya mengiyakan dengan anggukan.


"Maaf Sekar, kalau boleh tahu...almarhum Prastian meninggal karena apa? Sakit? MAaf sebelumnya, bukan maksud saya....''


"Iya mba, ngga apa-apa kok.''


"Jadi, Prastian kenapa?'', tanya Arya.


Sekar pun memulai ceritanya. Dia mengenal Prastian saat usianya masih tujuhbelas tahun dan beberapa bulan kemudian, mereka memutuskan untuk menikah padahal usia mereka terpaut cukup jauh. Tapi pembawaan Prastian yang dewasa, meluluhkan gadis belia seperti Sekar.


Sebagai pasangan suami istri, tentunya keduanya saling terbuka satu sama lain. Mulai dari Pras yang memang bukan dari kalangan berada apalagi berpendidikan tinggi. Dia menceritakan pengalaman semasa remaja akhir yang terpaksa harus berhenti menjadi tukang kebun di keluarga Pandu, ayah Arya.


"Kang Pras pernah cerita kalau dia sangat mengkhawatirkan sahabatnya yang baru saja di tinggal oleh satu-satunya orang yang peduli padanya. Tapi maaf, kang Pras memang tak menyebutkan nama mas Arya. Saya lupa almarhum memanggil anda siapa saat itu.Dan...satu rahasia yang kang Pras ceritakan pada saya adalah mendiang bik Siti meninggal mendadak bukan karena serangan jantung. Tapi karena ulah salah satu anggota keluarga Pandu yang membuat beliau seolah meninggal karena tersengat listrik.''


Mata Arya mengembun mendengar cerita Sekar.


"Kang Pras melihat orang tersebut berniat mencelakai mas Arya. Tapi ternyata, dia salah sasaran. Kang Pras juga tidak berani bersikap karena ancaman orang itu, hingga akhirnya kang Pras terpaksa keluar dari pekerajan itu.''


Nafas Arya mulai tak beraturan, beruntung Gita mengelus punggung suaminya.


"Beberapa tahun sejak keluar dari keluarga Pandu. kang Pras bekerja di salah satu pabrik ternama sampai akhirnya kami di pertemukan lalu menikah.''


Sekar mendongak, menatap langit yang biru bersih. Mungkin kenangan di masa lalunya, terlalu menyakitkan untuk di ingat.


"Kalau sudah tidak sanggup cerita, tidak apa-apa Sekar'', kata Gita.


"Ngga apa-apa Mba!''


Sekar pun menceritakan kejadian dimana suaminya di temukan sudah dalam keadaan tak bernyawa di belakang pabrik yang tak lazim untuk di datangi oleh Pras karena tempat itu bukan bagiannya.


"Jadi, Pras meninggal kenapa???'', tanya Arya yang masih penasaran.


********


21.16

__ADS_1


Segini dulu ya heheeh makasihhhh.....


__ADS_2