Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 165


__ADS_3

Kabut tipis menyelimuti kampung halaman Galuh. Tidak mendung, tapi memang suasananya selalu seperti itu.


Pagi itu....


Arya dan Gita sudah memakai pakaian santai ala rumahan. Arya mengenakan kaos lengan panjang yang cukup tebal dengan celana training yang memang cukup menghangatkan.


Sedang Gita sendiri, perlahan sedang belajar mengenakan hijab seperti menantu dan besannya.


Ternyata, memakai hijab sangat nyaman. Jika awalnya Gita memakai hijab karena cuaca dingin yang membuat dirinya harus beradaptasi, tidak dengan pagi ini.


Perempuan lima puluh tahunan itu semakin nyaman dengan identitas barunya sebagai muslimah. Padahal dari kecil, Gita adalah seorang Muslimah.


"Papa yakin mau memulai!?", tanya Gita cekikikan.


"Apa sih Ma? Tentu saja yakin! Kemarin-kemarin kita sudah belajar sama Sekar!", sahut Arya.


"Baiklah, semoga hasil kebun kita melimpah ya Pa. Biar Lingga jadi pengepul hasil kebun kita hehehe!", kelakar Gita.


Ya, sepasang suami istri itu kini sering melepas tawa bersama. Kehadiran Syam dan Galuh benar-benar membawa perubahan besar dalam kehidupan seorang Arya yang jarang tersenyum kepada anggota keluarganya apalagi bercanda????


"Ngga usah aneh-aneh deh Ma, kebun sepetak gini cuma isi cabe sok-sokan mau jadi ikutan kaya Lingga."


"Bercanda Pa...ya Allah!", Gita terkikik geli melihat ekspresi wajah suaminya yang serius. Keduanya pun mulai sibuk dengan tanaman yang baru saja mereka tanam.


Ternyata menyenangkan sekali, pikir mereka!


Puluhan tahun aku baru merasakan berkebun lagi! Menjual hasil kebun ibu ku dan juga Pras! Aku hanya menjualnya dan uang yang ku dapat untuk biaya kebutuhan sekolah ku. Bahkan Pras menolak untuk menerima hasil jualan ku. Padahal dia sangat berhak, karena dia yang menanam dan mengurusnya. Batin Arya.


"Pa!", panggilan Gita membuyarkan lamunan Arya.


"Kenapa?"


"Papa mikirin apa?"


Arya diam beberapa saat.


"Dulu...ibu sama Pras yang suka nanam sayuran. Tugas papa cuma menjualnya ke pasar."


Gita mendengarkan cerita suaminya.


"Dulu...papa bisa lulus SMA juga dari hasil menjual sayuran itu Ma. Pandu memang kaya, tapi istri dan anak-anaknya tak mengijinkannya untuk membiayai papa dan ibu papa."


Terdengar helaan nafas dari bibir Arya. Lelaki itu pun melepaskan sarung tangannya lalu duduk di bangku yang ada di sana. Gita juga mengikuti langkah suaminya. Mungkin suaminya sedang ingin berbagi kisah kelam yang Gita tak pernah tahu sebelumnya.


Mereka menikah karena di jodohkan meski pada akhirnya keduanya saling jatuh hati dan setia hingga saat ini.


"Setiap papa pulang menjual hasil sayur, Yudis seringkali meledekku. Dia selalu merendahkan ku. Tapi Pras selalu menguat ku dengan kalimatnya."

__ADS_1


"Pada prinsipnya, kehidupan itu ibarat roda yang terus berputar. Kadang di atas, kadang di bawah! Maka dari itu, jangan pernah meremehkan seseorang yang sedang ada di bawah. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa datang. Bisa saja orang yang kita remehkan, dia akan berada di puncak teratas jauh dari kita."


Arya menatap langit yang sudah mulai berwarna biru.


"Papa bisa membuktikan apa yang Pras katakan, Ma! Tapi... sayangnya Pras tidak tahu Papa sudah berada di posisi ini. Apalagi kalau mengingat perlakuan Papa pada anak dan istrinya....!", Arya menunduk. Ada rasa sesal dan juga sedih yang hanya seorang Arya merasakannya.


"Pa ...!", Gita mengusap bahu suaminya yang menunduk.


"Semua sudah berlalu, Pa. Kita sudah mendapatkan hikmah dari semua yang sudah terjadi. Tolong penyesalan papa jangan terlalu berlarut-larut seperti itu. Tugas kita sekarang adalah menyayangi Galuh dan Syam seperti anak kita sendiri!", Gita menguatkan suaminya.


Arya tak menyahuti apapun. Meski ucapan istrinya benar, tapi semua yang ia lakukan saat ini tentu saja tidak bisa mengubah masa lalu kelam yang harus Galuh dan keluarganya hadapi.


Ponsel Arya berdenting. Sebuah chat dari Lukas mengabarkan tentang kondisi Yudis pasca di buat bangkrut.


"Pa?", tanya Gita yang melihat suaminya menatap datar ponselnya.


"Yudis mengamuk di rumah Puja!", kata Arya datar.


"Apa? Lalu Vanes dan Angel?", tiba-tiba Gita merasa khawatir.


"Papa yakin Puja dan Bagaskara, besan kita bisa melindungi Vanes dan Angel!", kata Arya. Bukan Arya tak mencemaskan menantu dan cucu perempuannya, tapi dia yakin jika anak sulungnya serta besannya yang juga punya kuasa itu bisa melindungi mereka.


"Ya, mama harap begitu!", kata Gita.


"Dan Pandu...Yudis menyerahkan Pandu kepada Puja!", kata Arya mengusap kasar wajahnya.


"Pa...?"


"Lukas akan bawa Pandu ke panti jompo agar ada yang mengurusnya! Papa tidak mau Puja di repotkan dengan mengurus laki-laki tua itu!", Arya bangkit dari duduknya.


"Pa! Papa tidak lupa kan kalau beliau ayah Papa sendiri? Jangan bersikap seperti itu. Bagaimana pun beliau tetap orang tua papa meski seperti apa pun perlakuan beliau terhadap papa. Tapi papa wajib ..."


"Mengurus nya? Begitu maksud Mama?", tanya Arya menoleh pada Gita yang sudah berdiri di belakangnya.


"Dia tak ada bedanya dengan perbuatan Glen! Bedanya Pandu menikahi ibuku dan Glen tidak menikahi Sekar! Asal mama tahu! Bahkan Syam jauh lebih beruntung karena berada di lingkungan orang-orang yang sayang padanya, tidak seperti papa!", ujar Arya meninggalkan istrinya yang termangu.


Maafkan mama yang tidak memahami rasa sakit hati papa selama ini! Kenapa papa tak pernah berbagi rasa sakit hati itu pada mama? Apa papa pikir papa terlalu kuat menghadapi semua nya sendiri? Gumam Gita yang menatap punggung suaminya menjauh dari tempat ia berdiri.


.


.


.


"Bapak dan anak sama saja!", bentak Yudis pada Puja yang mencak-mencak di rumah Arya yang kini di tinggali Puja dan keluarganya.


"Berhenti Om! Jangan melebihi batasan Om. Puja masih berusaha untuk bersikap sopan terhadap Om Yudis!", kata Puja. Pembawaan Puja memang lebih tenang. Wajar saja dia menjadi pemimpin di perusahaan Arya yang besar itu.

__ADS_1


"Sopan kamu bilang? Kalo kamu masih menghormati Om, seharusnya kamu tidak melakukan tindakan yang sangat merugikan ku! Dasar licik!", teriak Yudis di depan Puja.


"Mungkin Om lupa, papa sudah memperingatkan Om. Tapi om sendiri yang berulah! Jadi jangan salahkan Puja ataupun Papa!", kata Puja.


"Heh! Kamu cuma bocah kemarin sore Puja! Berani sekali kau melawan ku seperti itu hah?!", Yudis mencengkram kerah kemeja Puja. Lukas dan beberapa orang Puja hendak melawan Yudis tapi Puja mengangkat salah satu tangannya agar mereka tak perlu ikut campur. Puja bisa mengatasi sikap kakak tiri papanya tersebut.


Sedang di kursi roda, ada sosok renta yang usianya sudah delapan puluhan itu menatap sedih kedua orang yang ada di hadapannya.


"Apa yang om tabur, itu yang akan om tuai!", Puja melepaskan tangan Yudis dari kerah kemejanya dengan pelan.


"Bang***!", Yudis siap memukul tapi Puja menahannya.


"Jangan membuat kesabaran ku habis Om. Aku masih menghormati mu sebagai orang yang lebih tua dariku Om. Jadi, bersikap lah selayaknya orang tua yang pantas di hormati!"


Nafas Yudis menderu menahan emosi yang siap meledak di hadapan keponakannya tersebut. Tapi dia tidak punya kekuatan apapun lagi sekarang.


Dia sudah berdiri di kakinya sendiri! Ya, sendiri!


Setelah di kabarkan semua aset berpindah tangan ke Arya, istri dan anak-anaknya meninggalkan dirinya begitu saja.


Yudis beralih pada sosok renta di kursi roda lalu mendorong nya kasar di depan puja.


"Urusi laki-laki tua yang tidak berguna ini!"


Puja menangkap kursi roda yang di duduki Eyangnya. Puja sangat emosi saat ada orang tua yang di perlukan seperti itu.


Usai menyerahkan Pandu, Yudis meninggalkan rumah mewah itu begitu saja.


Puja berjongkok di hadapan Eyangnya.


"Maaf Eyang kalau Puja harus mengatakannya. Eyang lihat kan, putra kesayangan Eyang membuang Eyang begitu saja. Bahkan dia menyerahkan pada ku, anak Arya. Putra Eyang yang selama hidupnya selalu Eyang dan keluarga Eyang rendahkan!?", kata Puja.


Lelaki yang sudah sangat sepuh itu hanya mampu meneteskan air matanya. Dia sudah tak sanggup melakukan apapun selain duduk di kursi rodanya.


"Untuk beberapa hari ini, Puja akan meminta perawat untuk merawat Eyang. Bukan Puja tidak mau, tapi...Puja sibuk!", kata Puja berdiri meninggalkan Pandu yang tergugu.


Dalam hati Puja, sebenarnya ia pun tak tega mengatakan demikian. Akan tetapi, Swans ia bersikap manis pada kakeknya tersebut akan memicu kemarahan Arya yang malah nantinya akan menyakitkan bagi Arya atau pun Pandu.


Melihat bos nya mengatakan hal demikian, Lukas melaporkannya pada Tuan besarnya, Arya.


******


07.46


Niatnya mah ya...kalo para bocil libur sekolah tuh, bangun siang....masak santai...


Ternyata???? Ngga ada bedanya. Kalo libur justru bocil pada bangun pagi dan Mak nya juga kudu tetap stay di dapur 🤭🤭🤭

__ADS_1


Happy weekend ✌️


__ADS_2