
"Bang...!", panggil Galuh lirih.
"Heum?", gumam Lingga yang masih betah memainkan rambut panjang Galuh yang terurai.
"Pintunya udah di kunci belum?", tanya Galuh. Dia takut jika tiba-tiba ada yang mengetuknya.
"Kamu sudah bertanya pertanyaan yang sama tiga kali sayang!", ujar Lingga dengan suara yang mulai berat.
Galuh meneguk salivanya dengan kasar. Deg-degan makkk! Batin Galuh.
Lingga menelusup kecerukan leher istrinya. Galuh di buat membeku di tempatnya duduk. Ya, dia berada dalam pangkuan suaminya.
"Bang?", kata Galuh dengan suara bergetar. Lingga menyudahi aktivitasnya yang baru ia coba pada istrinya.
"Kenapa yang?", tanya Lingga sambil menyelipkan rambut ke telinga Galuh. Mata lentik Galuh bergerak lambat.
Tak ada jawaban dari Galuh, mata Lingga fokus pada bibir ranum sang istri yang seolah menginginkan untuk di jamah.
Perlahan, Lingga mendekatinya dan menempelkan perlahan. Ia melihat Galuh yang memejamkan matanya, seolah mengisyaratkan bahwa Lingga boleh menyentuhnya.
Pertahankan Lingga runtuh! Saat awalnya dia mencoba perlahan, nyatanya dorongan dari dalam dirinya menuntut lebih.
Skip-skip-skip....
Penonton kecewa 🤣🤣🤣🤣🤣
Galuh yang terbiasa bangun sebelum subuh, kini seolah enggan untuk bangun. Berbeda dengan suaminya yang sudah segar bahkan jauh sebelum azan tahajud.
Why????
Akhirnya dia bisa ganti oli setelah bertahun-tahun lamanya servis alone 🤭. Dia melihat istrinya yang masih meringkuk di bawah selimut.
Jangan di bayangkan seperti di novel-novel ya, tak berpakaian dibawah selimut ! Jawabnya big NO! Gadis itu...eh...mantan gadis yang baru saja melepaskan jabatan lamanya itu sudah berpakaian lengkap atas bantuan pak suami tentunya.
Lingga mengusap kepala Galuh dengan sayang. Galuh sedikit terusik karena tangan Lingga yang dingin.
Perempuan cantik itu mengerjapkan matanya perlahan. Ia sedikit terkejut melihat suaminya yang berada tepat di depan wajahnya.
"Abang!", pekik Galuh tapi pelan. Lingga tersenyum melihat wajah polos istrinya yang bangun tidur tapi tetap cantik.
"Kalo masih ngantuk, tidur lagi aja! Sakit kan itunya?", tanya Lingga tanpa di filter apalagi Lingga memberi kode dengan lirikan matanya ke arah yang di maksud.
Wajah Galuh memerah mengingat adegan semalam yang membuatnya sudah tak lagi gadis.
"Dih, malu! Padahal semalam aja bilangnya...Abang.... terus bang...ab...hmppttt!", Galuh menutup bibir Lingga yang frontal dengan telapak tangannya.
"Abang ih....!", kata Galuh malu. Malu banget, malu sekali tapi ... mau😆
"Hahaha, gemes Abang tuh sama kamu Yang!", kata Lingga. Galuh mengerucutkan bibirnya.
"Jangan manyun, nanti Abang gigit lagi!", ancam Lingga. Spontan Galuh menutup bibirnya dengan tangannya sambil menggelengkan kepalanya.
Lingga semakin terkekeh di buatnya. Tingkah istrinya sungguh menjadi hiburan tersendiri untuknya.
Tangan Lingga terulur mengusap kepala Galuh penuh sayang.
"Terimakasih, terimakasih sudah memberikan hak abang! Abang...Abang merasa sangat bahagia, dengan ini...kamu sudah membuktikan bahwa kamu benar-benar sudah memaafkan Abang Yang. Padahal kesalahan Abang begitu besar dan... sangat menyakiti kamu!", kata Lingga yang tiba-tiba jadi haru.
Galuh mengusap rahang tegas suaminya.
__ADS_1
"Allah saja maha pemaaf, kenapa kita sebagai umatnya tak bisa memaafkan?", kata Galuh tersenyum tapi matanya mengembun.
Lingga menakupkan kedua tangannya di pipi Galuh. Ia ******* bibir perempuan itu dengan lembut lalu keduanya menyatukan kening mereka.
"Terimakasih sudah hadir dalam hidup Abang! Tolong...mulai sekarang bergantung apa pun sama Abang. Kamu punya Abang yang, jangan melakukan apa pun sendiri! Bukan Abang tidak suka kamu menjadi perempuan yang kuat! Tapi Abang ingin, kamu bisa merasakan bahwa sekarang ada laki-laki yang bertanggung jawab atas dirimu! Dunia akhirat! Abang tidak bisa berjanji akan selalu membuat mu bahagia, tapi Abang akan berusaha untuk tidak menyakiti dan membuat mu sedih Yang!", kata Lingga tepat di depan bibir istrinya. Galuh mengangguk pelan. Perasaan haru menjadi satu dengan bulir bening yang mengalir tanpa permisi.
Sejak hari itu, keduanya menjalani pernikahan dengan penuh kasih sayang. Syam yang sudah mulai berani mendekat Sekar, sedang Sekar pun mulai membuka hati untuk Syam.
Lingga benar-benar menjadi sosok penting di keluarga Galuh. Jika dulu Galuh yang selalu menjadi penguat dan pemikul segala masalah dalam kehidupan keluarganya, kini beban itu terasa berkurang sejak kehadiran Lingga.
Keadaan semakin bahagia saat Lingga tahu jika Galuh tengah hamil. Sayangnya, wabah covid menyerang di saat semua sedang penuh kebahagiaan.
Kafe di haruskan tutup, begitu pula dengan minimarket. Mau tak mau, ia harus merumahkan karyawan kafe nya. Di tambah lagi, Galuh harus melahirkan secara Caesar di saat keuangan Lingga benar-benar terpuruk.
Positif covid, usaha down...dan banyak yang harus Lingga hadapi hingga akhirnya ia terpaksa kehilangan bayinya. Meminta tolong papa nya, adalah penyesalan terbesar seorang Lingga kala itu.
(Berawal di bab 40an kayanya dst lah pokoknya Mak othor lupa hihihihi 🤭)
.
.
.
"Bang, usaha kita di sini sedang tak baik-baik saja!", kata Galuh yang sedang duduk di depan televisi bersama suami , adik dan juga ibunya.
"Apa lebih baik kita pulang kampung aja, kak? Bang?", tanya Sekar pada anak sulungnya dan menantunya. Syam sesekali menoleh pada ibunya dan kakaknya. Tapi berita korban covid masih menjadi perhatian anak itu.
"Bagaimana bang?", tanya Galuh pada Lingga.
"Apa yang akan kita lakukan di kampung?", tanya Lingga. Ketiga orang dewasa itu menghela nafas berat. Keuangan mereka memang masih cukup, tapi kan pasti semakin lama tabungan mereka akan menipis.
"Gimana bang?", tanya Sekar pada menantunya.
"Ya udah, Minggu depan Abang ke kampung. Beresin rumah dulu. Kalian di sini saja, kalau sudah beres Abang ajak kalian pulang!", kata Lingga.
Dan ternyata, Lingga tak hanya satu Minggu di kampung. Dia berada di kampung halaman Galuh sebulan untuk merenovasi rumah Sekar agar lebih layak di huni. Tidak besar, setidaknya bisa nyaman di pakai oleh keluarganya.
Dia melihat peluang di kampung istrinya. Suasananya masih asri dan dingin. Dia mencoba peruntungan membeli tanah di sebelah tanah Galuh. Lalu ia mempekerjakan dua orang kampung tersebut untuk mengurus tanah tersebut dan di tanami beberapa sayur yang cepat di panen.
Setelah di rasa cukup, ia kembali ke ibu kota dengan membawa sebuah bak terbuka yang akan dia gunakan untuk ke pasar induk untuk mengangkut hasil sayurannya. Dia menjemput istri, adik iparnya dan juga ibu mertuanya.
Dan banyak yang harus mereka perjuangkan hingga menjadi sesukses sekarang!
Flashback off 🤗🤗🤗🤗
.
.
.
"Abang! Aku ngga tahu kalo suami ku bukan Abang, apa aku bisa seperti ini?", kata Galuh menatap suaminya sendu.
"Hei? Abang yang harusnya bersyukur memiliki kamu Yang! Kamu hidup Abang! Kamu yang membuat Abang mengenal Nya. Selama ini Abang selalu abai! Kamu yang sudah menuntun Abang hingga di titik ini! Maafkan semua kesalahan Abang Yang!", kata Lingga sungguh-sungguh.
Galuh mengangguk. Sejak ia melahirkan, entah kenapa ia menjadi mudah terharu.
Semoga bukan dari bagian baby blues ya???
__ADS_1
"Sekarang, kita fokus membesarkan Ganesh. Memberikan kasih sayang sepenuhnya pada anak kita. Agar dia tak kekurangan kasih sayang kita!"
Galuh kembali mengangguk. Lalu ia pun mengeratkan pelukannya di pinggang Lingga.
"Yang?"
"Heum?", sahut Galuh tapi masih di posisi itu.
"Jangan kenceng-kenceng! Abang lagi berusaha untuk tahan puasa Yang! Kalo kamu gini terus nanti ada yang bangun!", kata Lingga.
Galuh mendengus kesal sambil memanyunkan bibirnya tapi Lingga yang tak tahan buru-buru meraup bibir mungil itu.
Modus!!!!!
"Abang mah suka gitu!", Galuh menimpuk wajah Lingga dengan tangannya yang tertawa puas mengerjai istrinya.
Sementara itu, Surya mengajak Zea pulang ke Jakarta di antar oleh Pak Ujang. Sedang Glen dan Helen meminta ijin papa dan Zea untuk menyelesaikan urusan mereka dengan Syam dan Sekar.
Zea tampak nya keberatan kembali ke ibu kota. Dia sedang menikmati rasanya punya saudara, Syam! Tapi nasehat opa nya harus ia dengarkan dan di turuti.
Glen dan Helen sudah berhenti di depan sebuah rumah yang tak terlalu besar dengan halaman yang luas. Ada beberapa mobil yang keluar dari samping rumah tersebut.
Glen memarkirkan kendaraannya di depan mobil Lingga yang kecil.
Sepasang suami istri itu beranjak ke arah pintu ruang tamu. Mereka berusaha mengerahkan kekuatan untuk bisa menemui Syam dan Sekar.
Tak sengaja Salim keluar dari pintu belakang dan melihat keberadaan Glen serta Helen.
Glen yang tiba-tiba menoleh pun melihat Salim yang menatap ke arahnya. Dua pasang mata itu saling menyiratkan perasaan yang tak mereka sadari itu apa.
Glen cemburu Salim dekat dengan Syam atau Salim yang seolah tak menyukai Glen karena kesalahan yang di lakukannya pada ibu Syam????
"Mang Salim!", panggil Glen pada akhirnya. Salim yang di panggil pun mendekat.
"Tuan , Nyonya!", sapa Salim berusaha sesopan mungkin. Dia tak berhak ikut campur yang bukan urusannya.
"Syam dan Sekar ada?", tanya Glen pada Salim.
"Setahu saya ,ibu sedang istirahat. Den Syam juga di kamar. Saya tidak tahu mereka sedang tidur atau tidak tuan!", kata Salim menjawab apa adanya.
"Apa sebaiknya kita menunggu mereka di mobil saja mas?", tanya Helen pada Glen. Glen pun mengangguk.
"Maaf tuan, nyonya. Saya tidak punya hak mempersilahkan anda masuk karena saya juga bukan penghuni rumah ini. Tapi kalau memang ada kepentingan mendesak, saya coba minta tolong bibik memanggil ibu atau den Syam?", tawar Salim.
"Ngga usah mang Salim, kami tunggu di mobil saja!", tolak Glen lalu mengajak istrinya kembali masuk ke dalam mobil.
Salim sendiri tak enak hati, tapi apa daya dirinya tak berhak mempersilahkan atau mengusir tamu sang tuan rumah bukan????
*****
21.31
Terimakasih 🙏🙏🙏
🤗🤗🤗🤗🤗
Ada yang nyate, ngrendang, tongseng, apalagi nih???? 🤭🤭😆😆
Terimakasih sudah mampir ke sini. Jangan kecewa ya pemirsahhhh 😁🙏🙏
__ADS_1