
Bada Isya, Arya dan keluarga bersiap untuk berangkat ke ibu kota. Kondisi Sekar sudah baik. Dia memang hanya sedikit shock saat melihat Glen. Tapi Galuh meta dirinya jika semua akan baik-baik saja.
"Biar Mang Salim yang bawa mobil papa. Kak puja suruh nyetir sendiri?!", kata Lingga.
"Papa masih mampu!", kata Arya.
"Pa, papa capek. Benar kata Lingga, papa sama mama tinggal duduk di bangku penumpang. Biar Salim yang bawa mobilnya. Ya pa?", Gita mencoba meyakinkan suaminya.
Lelaki dewasa itu hanya menghela nafas. Saat semua sudah bersiap, mobil Surya datang dan tepat berhentilah di belakang mobil mereka.
"Mau apa lagi om Surya?", monolog Lingga.
"Abang?!", Galuh menggeleng pelan pada suaminya agar tak gegabah atau bertindak tidak sopan pada Surya yang jauh lebih tua darinya.
Sekar sendiri merangkul bahu Syam. Dia merasa takut jika Surya akan membawa Syam dari sisinya.
"Ibu, dengarkan Syam baik-baik. Syam akan selalu sama ibu. Ada Abang yang akan menjaga Syam untuk bersama Ibu. Percayakan sama Abang, ya Bu?",Syam mencoba meyakinkan ibunya.
"Syam janji akan sama ibu terus?", tanya Sekar. Syam mengangguk pelan.
Arya tak menyambut rekannya tersebut. Justru mata Surya langsung beralih pada Lingga.
"Selamat malam Ga, semua!", sapa Surya.
"Ada apa ya Om Surya kesini lagi?", tanya Lingga.
"Abang!", Galuh mencoba mengingatkan suaminya lagi.
"Saya ingin bicara dengan kalian", jawab Surya. Lalu mata Surya beralih pada Syam dan sosok cantik di sampingnya.
"Apalagi yang om ingin bicarakan?", tanya Lingga. Galuh mencubit pinggang Suaminya sedikit.
"Silahkan masuk Om!", kata Galuh. Lingga membulatkan matanya karena terkejut pada sikap istrinya yang welcome pada Surya.
__ADS_1
"Kamu juga ikut bergabung sama kami kan Ar?", tanya Surya pada Arya. Tanpa menjawab pertanyaan Surya, Arya pun ikut kembali masuk ke dalam ruangan.
Gita dan lainnya memilih untuk menunggu di teras. Hanya keluarga inti Galuh dan Arya yang masuk ke dalam ruang tamu mereka.
"Silahkan duduk Om!", pinta Galuh.
Syam duduk bersama Sekar di apit oleh Galuh juga. Sedang Arya dan Lingga duduk di sofa tunggal begitu juga Surya.
"Ada apa lagi om kembali ke sini?", tanya Lingga dengan suara mulai melunak.
"Maaf Ga. Mungkin...om terlambat tahu soal kehadiran Syam!", kata Surya memulai obrolan tapi justru ia menatap Arya. Arya yang di tatap seperti itu pun tak mau kalah membalas tatapannya.
"Lalu, mau om Surya apa sekarang?", tanya Lingga.
"Saya tahu, mungkin saya keterlaluan. Tapi...dalam diri Syam mengalir darah keluarga Atmaja. Ijinkan Syam untuk menjadi bagian dari keluarga kami."
"Tunggu! Om mau mengambil hak asuh Syam dari kami? Jangan harap!", kata Lingga.
"Abang, dengarkan dulu apa yang mau Om Surya sampaikan!", cegah Galuh agar suaminya tak emosi. Lingga pun menuruti apa kata istrinya.
"Om tidak bermaksud mengambil alih Syam dari kalian. Om hanya ingin Syam mendapatkan hak nya sebagai bagian dari keluarga Atmaja."
"Hak yang seperti apa ya Om? Di akui di keluarga kalian, begitu?", tanya Galuh.
"Nak Galuh, saya tahu kalian pasti sangat kecewa atas tindakan Glen selama ini. Tapi... ijinkan saya menebus kesalahan Glen selama ini. Saya minta maaf!"
"Kami sudah memaafkan om, tapi apa yang anda inginkan sekarang? Memberikan sebagian harta om untuk Syam, begitu?", tanya Galuh.
Tebakan Galuh tak salah, Surya memang bermaksud seperti itu.
"Kurang lebih seperti itu Nak Galuh. Tapi...saya juga ingin menyempatkan nama Atmaja di belakang nama Syam", lanjut Surya.
Galuh tersenyum tipis.
__ADS_1
"Maaf Om, saya rasa tidak perlu. Bagaimana pun, Syam tidak lahir dari pernikahan yang sah!", tolak Galuh menohok. Entah bagi Surya ataupun Sekar sendiri. Tapi Sekar yakin jika putri nya tidak mungkin gegabah memutuskan segala sesuatu.
Begitu pula Lingga yang mendengar istri nya mengungkapkan apa yang ingin ia katakan.
"Tapi, Om hanya ingin suatu saat nanti setelah Syam dewasa, Syam berhak atas apa yang sudah menjadi haknya dari kakek biologisnya."
"Sebelumnya saya ucapkan terima kasih Om Surya sudah memikirkan sejauh itu. Tapi... kembali lagi, Syam masih kecil. Belum bisa memikirkan sejauh itu. Kami memang bukan orang berada seperti keluarga anda Om. Tapi, kami sebagai wali dari Syam juga sudah menyiapkan masa depan Syam. Syam berhak atas perkebunan kami, maaf kalo Om menganggap kami sombong. Tapi, semua ini hanya titipan. Kami tidak akan serta Merta mengagungkan apa yang kami punya yang nantinya untuk Syam. Karena...jika yang kuasa mau, Dia akan mengambilnya dari kami hanya dengan sekejap mata!"
Ucapan Galuh cukup mengena bagi Surya, begitu pula dengan Arya yang selama ini selalu menjunjung tinggi harta dan tahta. Tapi ucapan menantunya....????
"Lebih baik, om simpan saja untuk Zea yang jauh lebih berhak!", kata Galuh.
"Boleh om tahu siapa nama lengkap Syam?", tanya Surya sambil menatap cucu nya, fotocopy-an dari Glen kecil.
"Arsyam Nadir Saputra", jawab Galuh.
"Kenapa ada nama Saputra di belakang nama Syam? Sedangkan dia keturunan Atmaja?", Surya menelisik wajah cucunya.
Galuh menghela nafas.
"Karena papa Arya yang sudah memberi Syam nama, bahkan jauh sebelum kami tahu kalau om Glen adalah papa kandung Syam. Dan papa Arya yang sudah membantu persalinan ibu saat melahirkan Syam."
Surya tertegun, niat hati ingin marah pada Arya yang sudah menyematkan nama keluarganya pada sang cucu. Tapi lagi-lagi dia harus menerima kenyataan bahwa keluarga Arya lah yang sangat berjasa dalam pertumbuhan Syam selama ini.
Arya sendiri tak bisa berkomentar. Niatnya ingin agar Syam mendapatkan hak nya dari Surya, tapi ternyata pemikiran Galuh tidak lah sama seperti dirinya.
Bagi Arya sekarang adalah Surya tahu bahwa ada Syam yang hadir dalam kehidupannya.
Urusan apakah nanti Syam akan menerima Surya dan keluarganya menjadi bagian dari dirinya, Syam yang akan menentukannya sedini saat dia dewasa nanti.
******
Segini dulu ya 🤗🤗
__ADS_1
Terima kasih 🙏🙏🙏