
Puja berada di balik kaca menatap bayi mungil di dalam box bening berukuran kecil itu. Perut Ganesh terlihat naik turun dengan nafas yang teratur.
Bibir Puja terangkat membentuk sebuah lengkungan. Entah kenapa ia pun turut begitu bahagia melihat sosok kecil di sana. Apakah kerinduannya pada bayi laki-laki kecil sudah terobati hanya dengan melihat Ganesh??
"Puja?", sapa seseorang yang sangat familiar di telinga Puja. Lelaki itu pun menoleh.
"Mama!", sahut Puja dengan raut wajah berbinar. Ia langsung memeluk mamanya.
"Kapan datang nak?", tanya Gita yang terkejut tiba-tiba si sulung ada di sini.
"Tadi pagi landing, siang ke sini bareng Burhan."
Gita menepuk lengan Puja pelan, lalu ia menatap Ganesh di balik kaca. Puja pun melakukan hal yang sama seperti mamanya itu. Padahal, ia pun tadi seperti sang mama yang memandangi Ganesh dari jauh.
"Mama pengen banget gendong Ganesh, Puja!", kata Gita.
"Heum, semoga perkembangan Ganesh semakin baik jadi dia bisa segera keluar dari box itu!", kata Puja mengusap bahu mamanya.
"Heum, tapi ...besok pagi mama balik ke kota Nak. Papa ...ada urusan di kantor yang cukup mendesak."
"Benarkah? Urusan apa, Ma?", tanya Puja penasaran.
"Eum...kamu tanya saja sama papa kamu. Mama bingung menjelaskannya gimana."
Puja menautkan kedua alisnya.
"Sekarang papa di mana?", tanya Puja.
"Lagi telpon sama Lukas!", jawab Gita.
"Owh...!", hanya itu sahutan dari Puja. Tak berapa lama kemudian, Arya pun hadir di antara Puja dan Gita.
"Kapan kamu pulang Puja?", tanya Arya. Puja menoleh pada papanya.
"Eh, Pa. Tadi pagi", jawab lelaki itu.
"Sendiri? Angel sama Vanes mana?", tanya Arya mencari keberadaan sosok menantu kesayangan dan juga cucu perempuannya.
Wait!!! Ralat! Sekarang dia menyayangi kedua menantunya ya?!?
"Iya, mama sampe lupa nanya. Dimana mereka nak?", Gita menoleh pada Puja.
"Mereka di rumah Ma, Pa. Masih jetlag, kasihan kalo di ajak ke sini. Yang ada malah makin kecapean."
"Oh...ya udah, berati papa ketemu sama mereka besok!", kata Arya lalu berjalan mendekati kaca menatap sang cucu.
'Opa pasti bakal kangen banget sama kamu Ganesh! Kalau boleh...papa ingin selalu mendampingi kamu!', batin Arya dengan tatapan datarnya seperti biasa.
Meski dia sudah damai dengan anggota keluarganya dengan tanda kutip tentunya, tapi wajah datarnya masih sama. Hanya pada saat-saat tertentu saja ia bersikap ramah.
"Oh ya pa, maaf kalo ini waktu yang tidak tepat. Tapi...Puja memutuskan untuk kembali ke rumah papa, meneruskan perusahaan papa. Itupun...kalau papa tidak keberatan!", kata Puja.
Wajah datar Arya berubah menjadi senyuman yang merekah. Ia menepuk-nepuk bahu Puja.
"Kenapa papa harus keberatan? Justru papa sangat bahagia Puja!", kata Arya.
Gita tersenyum melihat suaminya bisa tersenyum lebar seperti itu.
"Puja tahu, sebenarnya papa menyiapkan semua ini untuk Lingga. Tapi....!"
"Bukan seperti itu Puja! Papa menyiapkan semua ini untuk anak-anak papa, kamu dan juga Lingga. Tapi perusahaan keluarga mama kamu juga cukup besar dan sudah merger dengan perusahaan keluarga Vanes. Papa pikir, kamu lebih condong ke sana dari pada mengurus perusahaan kita."
"Maafkan Puja pa, ngga seharusnya Puja ngga seperti ini ,seolah datang meminta warisan pada papa. Harusnya, Puja seperti Lingga. Bisa membuat usaha sendiri, tidak mengandalkan papa."
"Bicara apa kamu!?!", sergah Arya.
"Kenyataannya begitu Pa, Lingga mandiri dan hebat kan? Kalau aku... aku memang bisa memimpin tapi belum bisa membuat sendiri."
"Ya, adikmu hebat. Tapi kamu juga hebat. Kalian berdua sudah mengembangkan usaha keluarga kalian di Kanada."
Puja tak lagi bisa berkata-kata. Di matanya, Arya kini benar-benar sudah berubah. Papanya bisa di ajak bicara bukan lagi diktaktor yang harus di dengar dan segala sesuatunya di turuti.
__ADS_1
Benarkah Arya sudah berubah???
Arya kembali menatap cucunya. Lalu ia pun tersenyum samar.
"Kalau Puja sudah di perusahaan, itu artinya kita bisa dekat dengan Ganesh kan Ma? Bagaimana kalau kita buat rumah disini? Membuat villa , homestay, hotel kalo perlu? Jadi, kita bisa selalu bertemu dengan Ganesh!", kata Arya ringan tanpa beban.
Puja dan Gita saling berpandangan, benarkah lelaki di hadapannya adalah papa Puja, suami Gita???? Kemana sikap arogansinya???
.
.
.
"Apa kalian ikut kami saja?", tawar Helen pada Sekar dan Syam yang akan ke rumah sakit juga.
"Ngga usah Helen, biar mang Salim yang mengantarkan kami sesuai perintah Pak Arya. Saya yang tidak enak kalau menolak nya, Helen!", kata Sekar berusaha bersikap sewajarnya pada istri dari papanya Syam.
"Padahal kita searah lho?!", kata Helen. Tapi tidak dengan Glen yang sejak tadi seolah sedang menahan sesuatu, tapi entah apa itu.
Salim sebagai seorang laki-laki sangat paham tatapan Glen pada Sekar. Lelaki yang berprinsip sebagai supir itu hanya mampu menghela nafas.
Apa hakku??? Batin Salim
"Terimakasih atas tawarannya, Helen!",kata Sekar tulus. Ya, mereka sedang berusaha untuk mengakrabkan diri. Bagaimana pun, nantinya mereka akan terus saling berhubungan satu sama lain.
"Syam, mau ikut mobil papa atau mang Salim?", tanya Glen pada Syam. Syam menatap bingung ke arahnya.
"Setelah dari hotel dan pamit sama Galuh, kami kembali ke kota Syam!", kata Helen. Syam hanya mengangguk tipis.
"Gimana, Bu?", tanya Syam pada ibunya. Tapi ia juga menoleh pada mang Salim yang tengah menatapnya.
"Terserah Syam saja?!", kata Sekar tersenyum.
"Papa juga pengen dekat sama anak papa, sebelum papa kembali ke kota Syam!", kaya Glen berusaha meyakinkan sang putra.
"Baiklah!", kata Syam pada akhirnya. Jika beberapa waktu lalu Helen sempat tersinggung dan takut jika suaminya perhatikan pada Syam dan Sekar, setidak sekarang hatinya jauh lebih lapang. Perempuan itu sedang berusaha untuk menerima kondisi yang memang memaksa untuk seperti ini.
Syam pun duduk di samping Glen atas perintah Helen. Dia berusaha mendekatkan Glen dengan Syam karena mungkin untuk beberapa saat mereka tak di pertemukan.
.
.
.
"Lho, ibu duduk di depan?", tanya Salim pada Sekar yang justru membuka pintu depan di saat Salim membukakan pintu belakang.
Tak ada jawaban dari Sekar, Salim pun memutari mobil lalu duduk di balik kemudi.
"Saya kan bukan majikan mang Salim, kesannya saya seperti nyonya besar!", sahut Sekar terkekeh tipis. Salim menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Tapi kan Bu...sayanya ngga enak!", kata Salim lirih.
"Ngga usah ngga enak mang, sama aja kok kita ini. Jangan sungkan sama saya, nanti justru saya jadi tidak nyaman."
Setelah berbicara seperti itu, Sekar menoleh ke arah luar. Matanya fokus menatap jalan kampung yang masih jarang ada rumah penduduk.
Apakah di kampung banget? Jawabnya tidak. Hanya saja memang rumah Galuh ada di ujung atas. Sedang pabrik penggilingan beras dan pabrik batako masih ada di bawah. Jadi cukup lumayan jika di tempuh dengan jalan kaki.
Tak ada obrolan apa-apa di antara keduanya. Sekar menyadari, tidak ada Syam membuat mereka berdua benar-benar canggung. Salim membuang nafasnya perlahan.
Kenapa harus didekatkan jika nantinya tidak di satukan...? Batin Salim.
.
.
.
"Udah selesai bang?", tanya Galuh pada suaminya yang tadi membahas pekerjaan di kota.
__ADS_1
"Huum! Grand openingnya di tunda sampe kamu pulih dulu Yang!", kata Lingga.
"Kenapa gitu?", Galuh memicingkan matanya.
"Ya ,mana tega Abang biarin kamu sama Ganesh sendirian Yang!", kata Lingga penuh kelembutan.
Galuh meraih punggung tangan suaminya lalu di kecupnya.
"Aku ngga sendirian abang, ada ibu sama Syam yang bakal bantuin aku jaga Ganesh. Kamu ngga usah cemas gitu dong bang. Meremehkan saya itu namanya!", Galuh berseloroh.
"Bukan meremehkan yang, tapi Abang yang ngga bisa jauh dari kalian!", sahut Lingga tersenyum.
"Tuh...kan! Dasar!", Galuh meraup wajah Lingga dengan telapak tangannya.
"Heum, pasti Abang akan sangat merindukan kalian. Jadi... kapan-kapan aja grand openingnya!", Lingga membahas lagi.
"Ngomong-ngomong, kafe kita terbakar sudah berapa lama?", tanya Galuh pada Lingga.
"Tiga mingguan, hampir sebulan. Kenapa emang Yang?", tanya Lingga.
"Selama kafe belum beroperasi, anak-anak dimana?", tanya Galuh. Anak-anak yang di maksud tentu karyawan mereka.
"Sebagian ada yang pulang kampung, ada yang di minimarket sama yang cowok bantuin renovasi."
"Dapat income ngga mereka?", tanya Galuh.
"Atas perintah kamu, iya Yang!", jawab Lingga.
"Kok atas perintah ku sih? Ngawur!", Galuh kembali meraup wajah Lingga yang terkekeh.
"Yang, mereka juga butuh pekerjaan. Jangan di lama-lamain lah. Kasihan!", kata Galuh.
"Jadi, nanti grand opening tanpa kamu sama Ganesh?", tanya Lingga.
"Ya ngga lah bang, yang penting doa kami selalu sama Abang!", Galuh mengusap rahang tegas Lingga.
"Kita ngga pernah tahu, apakah ada yang menggantungkan rezekinya lewat kafe tersebut atau tidak. Iya kan?", tanya Galuh.
Lingga mendesah pelan. Susah memang membujuk istrinya yang hobi banget memikirkan orang lain.
"Abang! Dengerin ya, aku tahu seperti apa merasakan kesulitan hidup. Jika sekarang kita berada di posisi bisa membantu, ayo lakukan!"
"Beri tahu Abang, kesulitan terbesar mu saat Abang belum kembali bertemu dengan mu Yang?!"
Galuh menarik nafas dalam-dalam lalu tersenyum.
"Apa ya? Makan nasi uduk sebungkus berdua sama ibu, seiring puasa karena memang sedang tidak banyak uang. Waktu ibu masih jualan gado-gado, masih mending lah. Aku juga masih jadi SPG di mall. Tapi sejak tahu ibu hamil Syam dan depresi.... huftttt! Aku resign dari kerjaanku dan meneruskan dagangan ibu. Dan... akhirnya aku harus menjual ginjalku."
"Kamu ngga pernah cerita hal ini sama Abang Yang?", tanya Lingga heran.
"Abang sudah terlalu merasa bersalah, aku tidak mau menambah rasa bersalah Abang! Aku cukup sadar dan sangat paham jika Abang benar-benar berjuang untuk bersama ku!", mata Galuh berkaca-kaca.
Lingga merengkuh tubuh kecil di hadapannya.
"Galuh, Lingga!", tiba-tiba seseorang masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Tapi mereka berdua hafal suara siapa itu.
"Rencananya papa akan buat rumah di sini. Perusahaan akan di pegang Puja. Jadi, papa bisa selalu dekat dengan cucu papa kan?", tanya Arya pada keduanya.
Galuh dan Lingga saling berpandangan, tak lama kemudian Gita menyusul suaminya.
Melihat keterkejutan di wajah Lingga dan Galuh, Gita sudah menebak jika rencana Arya sudah ia sampaikan.
.
.
.
21.47
Selamat malam, semoga ada yang belum tidur buat sekedar mampir siniiih 🤭🤭🤭
__ADS_1
Tinggalin jejak kalian please ✌️✌️✌️✌️✌️
Terimakasih 🙏🙏🙏🙏🙏