Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 87


__ADS_3

Glen berada di rumah sakit di temani Surya. Jangan tanya seperti apa kondisinya saat ini. Wajah tampannya hampir tertutup oleh luka bekas tamparan dari papanya dan yang paling parah dari Lingga.


Keponakan istrinya meluapkan emosinya pada Glen yang sudah membuat keluarga istrinya menanggung beban selama ini.


"Tidak perlu di rawat kan Dok?", tanya Surya pada dokter.


"Tidak perlu pak. Jika nanti pasien demam, berikan saja parasetamol dan antibiotik. Silahkan resepnya bisa di ambil di apotik rumah sakit."


"Iya dok, terimakasih! Mari!", Surya berpamitan pada dokter lalu bersalaman.


Glen bisa berjalan sendiri tapi tak segagah biasanya. Dia benar-benar seperti korban penganiyaan, copet yang di keroyok mungkin!


"Kita kembali ke Jakarta Pa?", tanya Glen.


"Mau mu!", jawab Surya ketus. Glen hanya menghela nafas. Pokoknya, untuk saat ini apapun yang Glen lakukan bahkan sekedar bertanya adalah sebuah kesalahan.


Glen mengikuti Surya di belakangnya. Mereka menuju ke apotik yang ada di depan rumah sakit.


Setelah mengantri mendapatkan obat, keduanya kembali ke mobil dan menuju ke hotel untuk beristirahat.


Ponsel Glen dalam posisi mati, sejak pulang dari kantornya kemarin ia tak sempat mengisi baterai. Di tambah lagi selama ia di hotel, ia hanya mengabarkan pada Helen jika dirimu di kampung Lingga. Setelah itu, ponselnya benar-benar mati.


Surya mengecek ponselnya. Ada misscalled dari Helen. Lelaki dewasa itu memanggil balik pada menantunya.


[Iya Len?]


[....]


Surya menoleh pada Glen yang masih terlihat meringis karena sakit di beberapa bagian wajahnya.


[simpan tenaga mu untuk marah-marah Len! Glen baru papa bawa balik ke hotel. Lingga menghajar Glen habis-habisan!]


[....]


[Tidak perlu! Kalian hanya makan menambah masalah! Setelah Glen membaik, papa akan membawa di pulang padamu!]


Tanpa sapaan apa-apa, Surya mematikan ponselnya. Dia masih kesal pada menantunya. Surya sadar jika wajar saja Helen marah, tapi bukan berarti dia bisa tega pada Syam yang bahkan tak memiliki salah apa-apa karena kesalahan itu benar-benar kesalahannya Glen.


Glen sendiri memilih untuk mendengarkan obrolan papanya dengan istrinya. Lelaki tampan itu lelah jika harus berdebat dengan istrinya.


Bukan kah pernikahan mereka juga karena campur tangan orang tua Helen dan papanya????? Andai saat itu ia tak di jodohkan dengan Helen, Glen pasti akan mencari cara agar dirinya bisa bertanggung jawab pada Sekar dan Syam lahir dari kedua orang tua utuh. Tapi....jika tak menikah dengan Helen, bagaimana mungkin Zea hadir dalam kehidupan mereka...??? Banyak hal yang berkecamuk dalam pikiran Glen.

__ADS_1


"Nanti kamu tunggu di hotel. Papa akan bicara lagi pada Lingga!", kata surya. Glen menoleh pada papanya.


"Sebenarnya mau papa apa? Mengambilnya Syam dari mereka?", tanya Glen. Surya menatap putranya dengan tajam.


"Papa tidak pernah berpikir mengambil Syam dari orang-orang yang sayang padanya Glen!", bentak Surya. Nyali Glen pun menciut, dia tetap merasa segan bertengkar dengan papanya.


"Syam berhak mendapatkan apa yang menjadi haknya kelak! Dia keturunan ku! Darah Surya Atmaja mengalir dalam tubuh anak itu! Masa suram suram yang sudah ia lewati tidak akan bisa kamu bayar sekalipun kamu memberikan harta yang kamu punya Glen!"


Glen memilih diam. Bicara pun pasti akan salah?!


"Sebenarnya dimana otak kamu Glen? Dimana???!"


Surya memijat pelipisnya. Meraup kasar wajahnya dengan telapak tangan.


"Dimana perasaan kamu Glen saat...saat...ah...saat kamu tahu ternyata tindakan bejat kamu menghadirkan dia dalam rahim perempuan yang bukan istri kamu!??!"


Glen memilih menatap arah lain. Glen akui, melihat Syam seperti melihat dirinya saat masih kecil. Tapi saat itu, ia hanya ingin berusaha mempertahankan hubungan pernikahannya dengan Helen.


"Kalau memang Helen keberatan atas kehadiran Syam, setidaknya beri tahu papa. Bira syam jadi urusan papa, bukan malah mengabaikan Syam. Dan justru papa baru tahu sekarang Glen! Papa memang kecewa karena perbuatan kamu yang sudah melecehkan Sekar. Tapi papa jauh lebih kecewa karena kamu sudah menelantarkan mereka!"


"Maaf, pa!", ujar Glen lirih.


"Untuk apa kamu minta maaf pada papa? Harusnya kamu meminta maaf pada ibunya Syam, pada Syam, Helen dan Zea! Sebagai seorang ayah, sebagai sesama laki-laki, papa merasa malu memiliki anak seperti kamu Glen!"


.


.


Lingga menghampiri istrinya yang sedang merapikan bon. Dia langsung duduk di samping Galuh sambil mengalungkan tangannya ke leher Galuh.


Galuh menoleh sekilas, wajah suami nya terlihat sumringah. Tidak seperti tadi sebelum ia merapikan bon.


"Oh iya Bang, ada yang mau kasbon sepuluh juta. Tapi di rumah ngga ada yang kas segitu. Abang ambil nanti sore ya? Ambil di dana nya Syam. Yang pinjam orang kebun!", kata Galuh menyampaikan pada suaminya.


"Huum!", sahut Lingga tanpa beban.


"Gitu doang?", tanya Galuh. Lingga tersenyum lalu menowel hidung Galuh.


"Iya, sepuluh juta dari dana Syam karena yang ambi orang kebun! Abang dengar!", kata Lingga.


Galuh hanya mendengus lalu kembali merapikan bon yang ada di meja. Masih ada seminggu lagi ia harus menyiapkan gaji para karyawannya. Baik karyawan kampung maupun yang ada di kota.

__ADS_1


"Dua hari lagi Abang ke Jakarta lagi Yang!", kata Lingga.


"Ngapain?", tanya Galuh dengan nada keberatan. Lingga meraih wajah istrinya lalu mengecup singkat bibir mungil yang selalu menjadi candu baginya. Tiada hari tanpa menyentuh bibir istrinya itu. Kecuali kalau memang terpisah jarak tentunya.


"Kebiasaan deh! Kalo ada yang liat kan malu Abang!", Galuh menjewer kuping suaminya.


"Awsssshhhh sakit Yang! Habis Abang gemes kalo ga nyium sih!"


"Kebiasaan!", Galuh memukul paha suaminya.


"Eh, malah mancing-mancing?!", ledek Lingga.


"Abang ih....!", Galuh mulai kesal karena di ganggu seperti itu oleh Lingga. Tapi Lingga justru tertawa melihat tingkah istrinya yang di matanya sangat menggemaskan.


"Kamu tahu yang, Abang lagi bahagia!", kata Lingga. Galuh sudah selesai dengan nota-notanya.


"Oh ya? Kepo dong? Bahagia kenapa?", tanya Galuh menghadap Lingga. Bukannya menjawab, Lingga justru mengusap kepala Galuh dengan sayang.


"Abang tadi......"


Lingga menceritakan apa yang Alex katakan tentang papanya. Bahkan kejadian barusan tak lupa ia ceritakan pada Galuh.


Mata Galuh berkaca-kaca. Dirinya tak menyangka akan mendengar kabar baik itu. Tapi meskipun begitu, perempuan hamil itu tetap tersenyum.


Setelah Lingga selesai menceritakan pada Galuh, keduanya pun saling berpelukan mengungkapkan kebahagiaan yang membuncah di antara keduanya.


Berbeda dengan Arya yang langsung menghampiri Alex. Di teras belakang, ia sedang mengobrol dengan beberapa pekerja kebun.


"Alex!!!", suara garang Arya terdengar nyaring di telinga Alex. Dengan gerakan slowmo Alex menoleh ke asal suara itu.


"Eh...om Arya, apa kabar Om!", sapa Alex kikuk. Dengan cepat Arya memukul lengan Alex hingga laki-laki itu terpekik.


"Ahhh...sakit Om, ya Tuhan!", kata Alex over acting.


"Kamu benar-benar....!", geraman Arya pada Alex terhenti saat ada suara lembut memanggilnya.


"Papa!", panggil Galuh. Arya mengurungkan untuk memarahi Alex karena panggilan Galuh.


*****


To be continue ya 🤗🤗

__ADS_1


Kayanya bab nya ngga sampai 💯 udah kelar nih hehehehh


Terima kasih 🙏🙏🙏


__ADS_2