
Masih cerita di masa lalu, maap ya....kalo kurang berkenan 🙏🙏🙏🙏
*******
Arya duduk di kantin rumah sakit. Burhan pun berada di sana untuk menemani majikan serta Galuh yang akan menandatangani kontrak bahwa diri nya setuju dan dengan tanpa paksaan sudah mendonor kan ginjalnya untuk Gita.
"Saya tahu, mungkin apa yang saya berikan tidak sepadan dengan apa yang sudah kamu korbankan untuk istri saya nanti. Tapi, sebelumnya saya ucapkan terima kasih!", Arya memulai pembicaraan sebelum tanda tangan kontrak dengan Galuh. Sedang administrasi dengan dokter sudah selesai.
"Iya tuan. Tuan bahkan sudah sangat membantu saya, ibu dan adik saya!",kata Galuh.
"Operasi akan di laksanakan besok pagi. Kamu akan berpuasa nanti. Jadi, selama kamu di rawat, ibu dan adik kamu akan ada dalam pengawasan anak buah saya. Termasuk Burhan, mengerti?", tanya Arya pada Galuh.
"Mengerti tuan, terimakasih banyak!", jawab Galuh.
Arya sudah mempersiapkan sebuah surat perjanjian yang akan di tandatangani oleh nya juga dengan Galuh, serta Burhan sebagai saksi. Surat itu berisi tentang persetujuan Galuh yang sudah bersedia mendonorkan ginjalnya tanpa paksaan apa pun dari Arya. Meski pada dasarnya, Galuh sendiri yang menawarkan diri tapi juga Arya membutuhkan tawaran Galuh.
Galuh membaca dengan teliti, hingga mata nya menyipit saat melihat ada angka tertera di lembaran itu.
"Tuan...ini apa?",tanya Galuh.
"Itu kompensasi yang bisa saya berikan buat kamu. Setelah kamu mendonorkan ginjal mu, kamu sudah tidak boleh bekerja terlalu keras. Uang item bisa kamu gunakan untuk modal usaha dan juga biaya hidup kalian. Nominal itu tidak sepadan dengan apa yang kamu berikan pada saya dan istri saya!",ujar Arya panjang lebar.
Galuh masih tertegun melihat jumlah angka nol yang begitu banyak, delapan digit! Masyaallah, Galuh tidak pernah membayangkan itu semua.
"Tapi tuan, anda bahkan sudah membiayai operasi ibu saya?",kata Galuh dengan suara bergetar.
"Itu tidak seberapa dengan apa yang kamu berikan untuk kehidupan istri saya!",kata Arya lagi.
Galuh tak tahu akan berkata apa. Dia hanya menitikkan air matanya. Mungkin dia akan kehilangan salah satu ginjalnya. Tapi setidaknya dia bisa memberikan kehidupan yang layak untuk ibu dan juga adik nya.
"Sekali lagi terimakasih tuan!",kata Galuh dengan isaknya.
"Heum! Kalo boleh saya tahu, dimana ayah kamu? Kenapa kamu harus menjadi penanggung jawab ibu mu?",tanya Arya melipat kedua tangannya di dada. Biasa, bersikap bossy!
Burhan bahkan tak percaya jika tuannya bisa bersikap demikian, berterima kasih pada seseorang yang sudah bersedia menyelamatkan istrinya.
"Ayah saya sudah meninggal saat saya masuk SMA tuan!",kata Galuh lirih.
"Hah? Lalu, ibu mu bisa hamil? Bagaimana mungkin...?"
"Ibu di perko** saat beliau bekerja di pabrik Xxx di kampung saya. Dan sejak ibu tahu dirinya hamil, kondisi psikis ibu kurang baik."
Arya merasa iba pada gadis yang ada di hadapannya.
"Oh, begitu!",hanya itu sahutan Arya. Setidak-tidaknya, dia tak salah berbuat baik pada gadis yang ada di hadapannya.
"Oh ya, satu lagi!",kata Arya.
__ADS_1
"Ya tuan?"
"Setelah perjanjian ini selesai, saya harap jika suatu saat terjadi sesuatu pada mu karena imbas dari donor ginjal mu, kamu tidak akan menyalahkan saya dan membawa-bawa nama saya. Tapi ya...saya berharap kamu akan selalu baik-baik saja!",ujar Arya.
Galuh sedikit kasar menelan ludahnya. Dia sudah mencari tahu seperti apa dampaknya hidup dengan satu ginjal. Itu artinya dia harus benar-benar hidup sehat setelahnya.
"Saya berjanji tuan Arya!",ucap Galuh.
Dan operasi itu pun selesai dilakukan. Gita sudah mulai membaik, begitu pula dengan Galuh.
Sedang kondisi Sekar tak seperti yang di harapkan. Pasca siuman, wanita cantik itu depresi berat. Apalagi saat melihat bayi Syam. Mental nya terganggu karena mengingat dirinya pernah menjadi korban pelecehan oleh seorang laki-laki bejat.
Arya sempat iba pada Kondo Sekar. Tapi urusan nya dengan Galuh atau pun Sekar sudah selesai.
"Tuan!",panggil Galuh saat dirinya sudah mulai bisa berjalan.
"Apa?",tanya Arya.
"Boleh saya bertemu dengan istri anda?",tanya Galuh. Arya menautkan kedua alisnya.
"Untuk apa?",tanya Arya. Galuh tersenyum tipis.
"Tidak apa-apa tuan, saya hanya ingin menyapa beliau. Saya tidak akan membahas jika saya yang sudah mendonorkan ginjal saya pada beliau!"
"Kalian tidak saling mengenal, bagaimana kalian akan bertegur sapa heum?",tanya Arya.
Arya menggaruk pelipisnya sedikit dan akhirnya ia mengijinkan Galuh bertemu Gita yang sudah bisa duduk di atas brankar nya.
"Assalamualaikum Tante!",sapa Galuh. Gita yang sedang bersandar pun menoleh ketika ada yang masuk kedalam ruangan nya dan menyapa nya.
"Walaikumsalam, siapa ya?",tanya Gita.
Galuh yang masih pucat menghampiri Gita yang sepertinya masih lemah, berbeda dengan Galuh yang sudah mulai pulih.
"Kenalin Tante, saya Galuh. Pasien sebelah. Tapi hari ini, saya sudah boleh pulang. Kita...masuk di hari yang sama Tante!",kata Galuh. Gita yang memang ramah pun tersenyum membalas senyuman Galuh yang tulus.
"Alhamdulillah, kalo kamu sudah pulang duluan. Sendiri saja? Tidak ada yang menjemput?",tanya Gita. Galuh menggeleng.
"Kebetulan ibu saya baru melahirkan dan adik saya masih belum terlalu kuat Tan. Masih di inkubator."
Gita mengangguk paham.
"Tante... cepat pulih ya! Saya, pamit. Terimakasih sudah menemani saya mengobrol sebentar, sudah mengganggu istirahat Tante."
"Ngga mengganggu Kok nak Galuh. Semoga lain kali kita bisa bertemu lagi. Syukur-syukur jadi menantu tante. Sayangnya putra Tante di Kanada, jadi ngga bisa kenalan sama gadis sesantun kamu Nak Galuh!", kata Gita.
Hati Galuh mencelos, bukan karena anaknya Gita tidak ada di sana melainkan diri nya sudah menjadi istri orang meski hampir satu tahun dia tak mendapatkan kabar apa pun dari sosok lelaki yang katanya suaminya.
__ADS_1
"Tante bisa aja, kalo begitu saya permisi ya Tante. Semoga cepat sehat!"
"Terimakasih doa nya galuh!",kata Gita. Usia meninggalkan ruangan Gita, Galuh langsung menuju ke kamar rawat ibunya.
Sekar sedang tertidur. Perawat bilang, ibu nya sempat histeris beberapa saat lalu. Bahkan dokter menyarankan agar ibu nya di rawat di RSJ setelah masa pemulihan pasca operasi Caesar.
Ada rasa bimbang yang Galuh rasakan. Bagaimana bisa ia tega melihat ibunya di rawat di RSJ? Lalu bagaimana nasib adiknya?
"Galuh?!", panggil Arya. Galuh pun menoleh pada 'pahlawan'nya.
"Tuan? Ada apa?",tanya Galuh.
Pria dewasa itu memberikan sebuah amplop cokelat yang cukup besar.
"Itu uang Cash, lima puluh juta. Dan ini, ATM atas nama kamu berisi tujuh ratus lima puluh juta. Mulai sekarang milik kamu. Itu hak kamu. Seperti yang sudah saya janjikan saat itu! Setelah ini, kamu bisa melanjutkan kehidupan mu dengan lebih baik. Buat usaha yang tidak membuat mu terlalu lelah. Biar kamu bisa merawat ibu dan adik bayi kamu?!"
Meski terdengar dengan nada arogan, tapi telinga Galuh tetap merasa jika Arya sangat perhatian pada masa depannya.
Beberapa hari setelah itu, Galuh pun keluar dari rumah sakit dengan ibu dan adik bayinya. Karena ibunya selalu histeris setiap melihat Syam, Galuh menutup Syam dalam gendongannya dengan selimut dan mendorong kursi roda ibunya. Hari itu juga ia memilih pindah dari kontrakan lamanya. Galuh benar-benar memanfaatkan apa yang sudah Arya berikan padanya.
.
.
.
Flashback off 🤗🤗
"Jadi, Galuh yang sudah mendonor ginjal buat mama?",tanya Lingga pada Burhan. Burhan pun mengangguk.
"Kenapa kalian membiarkan begitu saja Galuh dan keluarganya?", tanya Lingga.
"Nyonya sempat meminta mencari tahu mba Galuh, Mas. Karena tuan sudah menceritakan apa adanya. Dan nyonya ingin sekali bertemu dengan mba Galuh. Tapi setelah kami ke kontrakan lamanya, kami tidak tahu mereka pada pindah ke mana. Sampai akhirnya, saya tahu kalo mba galuh... istrinya mas Lingga dan tinggal di tempat itu."
"Apa kira-kira reaksi papa saat dewa penolong nya adalah menantu nya sendiri???",tanya Lingga pada Burhan. Burhan hanya menggeleng lemah.
Lingga melirik jam dinding nya yang menunjukkan pukul empat pagi.
"Hari ini, kamu istirahat saja di sini Han. Aku akan menemui Galuh. Aku ingin memperbaikinya semuanya dan membayar kesalahan ku selama ini. Dan karena dia juga, mama bisa merasakan sehat sampai detik ini."
"Lho, mas mau ke rumah mba Galuh? Ini mau subuh lho!",kata Burhan.
''Aku akan menunggu Galuh membuka warung! Dan setelah itu, aku ingin mengajak nya bicara!"
Lingga langsung meraih kunci mobilnya lalu melesat menuju ke rumah Galuh.
*****
__ADS_1
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya 🙏🙏🙏 🤗🤗🤗🤗🤗