
Syam turun ke bawah untuk makan malam. Meski ia menjawab setiap pertanyaan yang di ajukan oleh keluarganya, sikapnya cukup menonjol jika Syam berbeda.
"Syam udahan. Mau beresin buku buat sekolah besok", kata Syam meninggalkan meja makan. Semua mata tertuju pada Syam, tak terkecuali Salim dan Sekar.
Sekar terlihat sendu melihat perubahan sikap sang putra. Sedang Salim sendiri, ia ingin menyempatkan diri untuk berbicara empat mata dengan Syam.
Setelah selesai makan malam, Salim meminta ijin untuk berbicara dengan Syam di kamar bocah itu.
Tok....tok....
"Dek, Abah boleh masuk?", tanya Salim dari balik pintu. Syam yang tengah menyiapkan bukunya pun menghentikan sejenak lalu menjawabnya.
"Masuk aja bah!", sahut Syam.
Salim mendorong pintu kamar Syam dan mendekati bocah tampan itu.
"Abah ganggu?", tanya Salim Syam menggeleng.
"Ngga bah, kenapa?", tanya Syam.
Salim duduk di ranjang Syam yang berhadapan langsung dengan bangku belajar Syam. Bocah itu pun mendudukkan bokongnya menghadap bapak tirinya tersebut.
"Boleh Abah bicara dari hati ke hati sama adek?", tanya Salim. Syam berpikir sebentar setelah itu mengangguk.
"Abah mau bicara apa?", tanya Syam yang sebenarnya bisa menebak apa yang akan bapak tirinya sampaikan.
"Soal kehamilan ibu kamu, apa kamu kurang bahagia dengan kehadiran calon adik-adik kamu?", tanya Salim penuh kehati-hatian.
"Siapa bilang, Syam bahagia kok bah!", kata Syam.
"Adek ngga ada pikiran kalo nanti kami tidak menyayangi Syam lagi?", tanya Salim lagi yang ingin mendengar secara langsung jawaban calon Kakak itu.
Syam terdiam sejenak dan membuat Salim mengerti.
"Dek, kasih sayang kami tidak akan berubah. Syam tetap anak ibu dan Abah. Tidak ada yang berubah. Kasih sayang kami, tetap sama. Buat Syam! Jadi, Abah harap adek tidak berpikir nanti kami akan mengabaikan adek."
Syam menunduk, memilin jemarinya yang saling bertautan. Salim berkontribusi di hadapan Syam kamu mengecup kedua punggung tangan Syam hingga membuat si empunya sedikit terkejut.
"Adek memang bukan darah daging Abah, tapi buat Abah...adek tetap anak Abah. Bahkan Abah menyayangi adek, seperti anak Abah sendiri. Dan Abah harap, adek juga akan sayang sama Abah seperti bapak kandung adek!", kata Salim tulus.
Hati Syam menghangat mendengar ucapan Salim. Sungguh, dia tak ada niat untuk meragukan kasih sayang Salim. Tapi semua bisa berubah seiring berjalannya waktu bukan??? Iman saja bisa terombang ambing seperti halnya ombak di lautan. Apalagi sebuah perasaan????
"Syam juga sudah menganggap Abah seperti bapak sendiri. Kalo ngga, Syam tidak akan meminta Abah untuk sama ibu, membahagiakan ibu!", kata Syam setelah itu ia memeluk mantan supir pribadi Arya tersebut.
Salim membalas pelukan bocah itu lalu menepuk-nepuk pelan punggung Syam.
"Ya udah, Abah ke bawah. Syam lanjutkan lagi belajarnya ya!", kata Salim. Syam pun mengangguk. Ia menatap Salim yang keluar dari kamarnya sampai tubuh tinggi itu tak terlihat lagi.
.
.
.
__ADS_1
Pagi-pagi sekali, Arya sudah menyambangi rumah Galuh tanpa di temani Gita. Tujuan utama nya tentu bertemu dengan Ganesh, cucu kesayangannya. Tapi ada juga tujuan lain.
Saat menjumpai Syam mengeluarkan sepeda, Arya menghampiri bocah itu.
"Syam!", panggil Arya.
"Papa Arya!", sahut Syam tersenyum.
"Papa antar ke sekolahnya!", ajak Arya.
"Syam naik sepeda aja Pa, papa ada keperluan sama Abah atau abang kan?", tanya Syam. Ternyata Lingga keluar sambil menggenggam Ganesh.
"Papa emang mau pergi sama Abang, dek! Adek ikut aja! Nanti pulang biasa, di jemput Abang atau Abah!", pinta Lingga. Tanpa berpikir lagi, Syam pun mengangguk.
Galuh mengambil Ganesh dari gendongan Lingga. Bayi mungil itu belum merengek minta ikut ayahnya, entah dua atau tiga bulan lagi nanti.
Ketiga lelaki beda usia itu kini berada dalam satu mobil. Arya dan Lingga terlibat obrolan serius karena pada dasarnya bapak dan anak itu akan survei tempat untuk membuka usaha. Arya memang sudah pensiun dari perusahaannya, tapi dirinya yang workaholic sepertinya enggan untuk duduk manis di rumah selama dirinya masih mampu bekerja.
"Dek!", panggil Lingga.
"Kenapa bang?", tanya Syam.
"Adek jujur sama Abang!", kata Lingga tiba-tiba.
"Jujur? Memang adek bohongin Abang apa? Kok suruh jujur?", tanya Syam bingung.
"Abang tahu, adek ngga keberatan mau punya adik. Kembar pula, tapi ada satu hal yang mengganjal hati Abang!"
"Maksudnya bang?"
"Ngga gitu!", kata Syam.
"Lalu?", tanya Lingga penasaran. Syam menghela nafas sejenak.
"Syam cuma ...huffft! Kehamilan ibu sekarang pasti kabar yang sangat membahagiakan buat kita semua, termasuk Syam sendiri."
Lingga pun mengangguk pelan dan sesekali menoleh ke belakang karena dia yang menyetir mobilnya.
"Berbeda kan sama Syam dulu bang???", kata Syam. Aura di dalam mobil itu berubah hening. Arya sejak tadi diam, mungkin belum saatnya berbicara. Lingga sendiri sepertinya mulai memahami apa yang akan Syam katakan. Arahnya ke mana dan endingnya seperti apa! Dia paham sekali seperti apa adik iparnya tersebut.
"Syam lahir ke dunia kan hanya karena sebuah kesalahan yang bahkan tak di sadari oleh pelakunya!", kata Syam tersenyum miris. Dia sudah memaafkan Glen, tapi ia masih mengungkitnya di saat asal mulanya di bahas.
"Adek jangan...!", ucapan Lingga terhenti karena Syam memotongnya.
"Maaf bang, jangan potong dulu omongan Syam!", protes Syam. Lingga pun mengangguk dan memilih diam.
"Syam memang tidak tahu persis seperti apa beratnya ibu mengandung Syam. Tapi yang Syam tahu, ibu tidak mengharapkan kehadiran Syam. Bahkan Abang liat sendiri, seperti apa bencinya ibu sama Syam waktu itu!", kata syam menatap jendela luar.
Lingga tak menyahuti ucapan adik iparnya karena ia memang melihat sendiri seperti apa keadaan ibu mertuanya dulu setelah ia kembali pada Galuh.
"Apa salah kalo Syam iri Bang, Pa? Jangan menyayangi Syam, menyentuh Syam yang masih bayi pun ibu tidak mau. Karena apa??? Karena Syam anak yang tak pernah di harapkan! Syam tahu, Syam paham! Kondisi ibu saat itu membuat ibu bersikap demikian. Tapi apa salah, kalau Syam merasa semua tidak adil?", tanya Syam yang sebenarnya tak butuh pembelaan dari siapa pun.
"Bohong kalo Syam ngga iri dengan calon adik-adik nanti! Kehadiran mereka, memang diinginkan. Tidak seperti Syam!", Syam menghapus jejak air matanya dengan kasar. Sebenarnya ia malu jika harus membahas hal itu lagi, dan lagi!
__ADS_1
Arya meminta Lingga menepi saat sebentar lagi sampai ke sekolah Syam agar dirinya bisa pindah ke belakang dan duduk dengan Syam.
"Anak papa ini hebat! Bukan anak cengeng!", Arya menyodorkan tisu untuk menghapus air mata Syam. Bocah itu pun menerimanya.
"Menangis memang tidak berarti cengeng, tapi anak papa ini!", puk-puk! Arya menepuk bahu Syam.
"Anak papa ini anak kuat dan hebat!", Arya mencoba memuji Syam untuk membuat si bocah itu bangga.
"Kamu tahu Syam?", tanya Arya pada Syam yang langsung menatapnya.
"Sebelas tahun yang lalu, papa sudah jatuh hati pada sosok bayi mungil yang tampan. Bayi yang tidak memiliki dosa dan masih sangat suci. Meski papa tak mengenalnya saat itu, tapi hati papa sudah terlanjur cinta dan sayang pada bayi itu."
Syam masih menyisakan isakan kecil.
"Kamu tahu Syam? Entah kenapa hati papa terpanggil saat seorang gadis, meminta papa untuk mengazani dan memberikan nama untuknya!"
Tenggorokan Syam tercekat, sedang Lingga menjadi pendengar untuk papa dan adik iparnya.
"Papa benar-benar tidak tahu saat itu jika bayi itu adalah adik dari menantu papa, anak sahabat papa! Papa tidak tahu Syam! Sama sekali tidak tahu! Tapi...hati papa terpanggil untuk melakukannya karena perasaan jatuh hati pada bayi itu, benar adanya!"
Arya menepuk bahu Syam.
"Kamu tahu siapa bayi itu???", tanya Arya. Syam mengangguk, dia tahu papa Arya sedang membicarakan dirinya.
"Ya, bayi itu kamu Arsyam Nadir Saputra! Papa yang orang asing aja saat itu bisa langsung menyayangi mu tanpa mengenal lebih dulu, apalagi.... orang-orang yang ada di sekitar mu saat ini Syam???! Tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak menyayangi anak sebaik kamu! Tidak perlu ada perasaan bahwa kamu akan tersingkirkan setelah ada bayi-bayi mungil itu hadir. Tidak ada Syam, tidak ada!"
"Rasa sayang kami akan tetap sama, hanya cara menyayangi kami yang berbeda. Tidak mungkin kan kami akan membantu mu kamu mandi sedang kamu mampu melakukan sendiri?"
Syam pun mengangguk.
"Dan soal ibu mu yang tidak merawat mu saat bayi, kamu tahu alasannya apa. Lalu, apa kamu pernah mencoba menempatkan diri di posisi kakak?", tanya Arya.
Syam langsung menoleh pada Arya.
"Kakak kamu melakukan apapun yang terbaik untuk mu, merawat mu, mendidikmu dan menyayangi mu meskipun kalian tidak memiliki ayah yang sama. Kamu tahu sendiri apa yang sudah Kakak alami kan? Berpisah dengan Abang dengan waktu yang cukup lama? Menerima kebencian papa! Menderita karena berusaha dengan kemampuan dan keterbatasan, apa kamu akan mengecewakan perjuangan kakak mu hanya karena merasa kamu bukan anak yang tak diinginkan???? Abang mu juga sudah berperan menyatukan kamu dan ibumu. Kamu mau membuat Abangmu dan kakak yang sepenuhnya menyayangi kamu dengan jiwa dan raganya hanya karena cara berpikir kamu seperti itu???"
Arya berbicara panjang lebar berharap Syam paham dengan apa yang ia maksud. Syam sendiri diam, gak menyahuti ucapan Arya sejak Arya berbicara.
Masih ada waktu tiga menit sebelum pintu gerbang di tutup.
"Ayo, waktunya sekolah! Percaya sama papa, semua akan baik-baik saja! Semua sayang sama Syam!", kata Arya menegaskan ulang.
Syam pun mengangguk lalu meraih punggung tangan Arya dan Lingga bergantian.
"Terimakasih Pa, Bang!", kata Syam lalu turun dari mobil tanpa membahas tentang obrolan nya dengan Arya.
"Semoga Syam paham ya Pa?!", kata Lingga.
"Papa harap begitu Ga!", sahut Arya. Keduanya pun melanjutkan perjalanan menuju kota kabupaten.
****
2bab y gaes 🤗✌️✌️
__ADS_1
Terimakasih banyak-banyak buat like komen dan semua yang udah ninggalin jejaknya ✌️✌️✌️🙏🙏🙏