Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 47


__ADS_3

Burhan sudah menemukan rumah untuk mess sementara karyawan Lingga. Sedang karyawan cewe sengaja di suruh tinggal sementara di gudang minimarket. Karyawan minimarket sendiri sebagian ada yang di roof top yang memang di sediakan untuk menginap adapula yang kost di tempat yang agak jauh dari minimarket.


Malam menjelang. Kehebohan pasca kebakaran perlahan sirna. Karyawan nya pun sudah terlihat seperti biasa.


"Jadi, untuk sementara cewek-cewek bantu di supermarket ya? Dan buat cowok, kalau mau pulang kampung silahkan. Tapi kalau bersedia ikut merenovasi kafe juga tidak apa-apa. Saya tidak akan memaksa", kata Lingga di depan semua karyawannya tak terkecuali karyawan minimarket.


"Bersedia pak!", sahut mereka kompak.


"Baiklah, kalau begitu kalian bisa istirahat. Besok kita mulai merenovasi kafe."


Semua membubarkan diri. Kaum Adam menuju ke mess yang lumayan jaraknya di tempuh dengan berjalan kaki. Tapi mereka bahagia karena bos nya sangat memperhatikan kebutuhan mereka hingga sedetail ini.


"Gue janji, gue bakal setia sama pak bos. Dia udah baik banget sama gue!", celetuk salah satu karyawan.


"Gue juga. Pak bos dan Bu bos emang kelewat baik."


Jam setengah sebelas malam, minimarket sudah akan tutup tapi karena ada pembeli yang katanya membutuhkan minum sangat mendesak, minimarket itu masih melayani pembeli.


Kebetulan, Galuh juga sedang mengambil minum di lemari pendingin.


"Bang, boleh ngga aku minum ini dikit aja bang?", rengek Galuh.


"Yang lain aja sayang, Abang ambil air mineral buat di hotel nanti."


"Tapi bang, kayanya enak gitu bang minum yang ada sodanya dikit. Ayolah bang, ngga tiap hari kok. Ya bang?", rayu Galuh lagi.


"Demi utun!", Galuh memasang puppy eyes yang sangat menggemaskan dimata Lingga.


"Dikit aja tapi, nanti Abang yang habiskan lho!", ancam Lingga.

__ADS_1


"Iya bang, serius cuma dikit!", janji Galuh.


"Ya udah!", akhirnya Lingga mengalah. Lingga membawa air mineral dan beberapa makan ringan juga roti serta biskuit untuk dinamakan di hotel. Karena sang istri suka terbangun malam hari hanya untuk sekedar ngemil.


"Buahnya apa sayang?"


"Apa aja lah bang. Udah, ngga usah kebanyakan jajanan ah!"


"Kenapa? Kamu kan kalo malam suka kebangun gara-gara si utun lapar!"


Galuh hanya nyengir kuda. Lingga pun merangkul bahu istrinya sambil membawa keranjang belanjanya.


Tapi saat keduanya akan menuju ke kasir, mereka melihat seseorang yang sangat di kenal. Seseorang yang sedang mengambil air mineral di rak minuman, bukan di lemari pendingin.


Sayangnya, orang tersebut seperti tak menyadari kehadiran sepasang suami istri itu. Dia langsung menuju ke kasir. Karena sudah di luar jam kerja, kasir pun di layani dengan cara manual.


"Terimakasih mba!", kata perempuan itu pada kasir. Belum sempat keluar dari toko, Galuh memanggil perempuan itu.


"Nyonya Gita!", panggil Galuh. Gita pun menghentikan langkahnya lalu berbalik badan.


Matanya langsung menangkap sosok perempuan mungil yang sedang berbadan dua dengan mata berkaca-kaca.


Gita mendekati Galuh.


"Mama!", suara yang sangat Gita rindukan pun muncul di belakang Galuh.


"Lingga, Galuh!", ucap Gita lirih. Perempuan setengah baya itu pun menghambur memeluk putra bungsunya.


Gita menumpahkan segala kerinduannya yang selama ini terpendam. Perempuan itu menangis di bahu putranya.

__ADS_1


"Mama kangen Ga, mama kangen! Kenapa kamu tega sekali tak memberi kabar sama mama Nak?!", Gita memukuli punggung putranya. Sedang Lingga sendiri membiarkan sang ibu meluapkan emosinya. Setelah emosi mereda, Gita pun melepaskan pelukannya dari Lingga. Ia beralih pada sosok perempuan yang berperut buncit.


Gita mengusap perut Galuh.


"Cucu mama?",tanya Gita pada Galuh. Galuh pun mengangguk. Spontan Gita meraih badan mungil Galuh ke dalam pelukannya. Dia semakin menangis di bahu menantunya.


Gita bersyukur akan memiliki cucu lagi setelah beberapa tahun lalu, ia terpaksa kehilangan cucunya.


"Maafin mama yang tidak bisa membantu kalian waktu itu, maafin Mama!", Isak Gita. Galuh mengusap punggung mertuanya.


"Ngga apa-apa Nyonya, semua sudah jadi ketentuanNya! Nyonya sendiri apa kabar? Bagaimana juga dengan tuan Arya?", jawab Galuh. Gita menggeleng. Menantu nya masih memanggil dirinya tuan dan nyonya, bukan mama dan papa .


"Kami baik Nak.Kalian sedang apa di kota ini?", tanya Gita.


"Kafe kami kebakaran Nyonya. Makanya, kami kesini."


"Selama ini kalian di mana?",tanya Gita pada anak dan menantunya.


"Di kampung saya nyonya!", jawab galuh.


"Stop memanggil saya nyonya, panggil mama!", pinta Gita. Galuh dan lingga saling berpandangan lalu tersenyum.


"Iya, ma!", sahut Galuh. Kedua perempuan itu pun saling berpelukan. Tak lama kemudian, ada yang kembali masuk ke dalam minimarket.


"Lama sekali Ma!", kata Arya. Tapi kemudian ia menyadari jika istrinya sedang memeluk seorang perempuan yang cukup ia kenal. Begitu juga sosok laki-laki yang ada di belakang istrinya.


"Mama!", panggil Arya lagi. Ketiga orang dewasa itu menoleh ke asal suara.


"Papa!", ucap Lingga dan Gita bersamaan. Tapi tidak dengan Galuh, dia memilih diam.

__ADS_1


__ADS_2