Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 12


__ADS_3

Burhan memarkirkan kendaraannya di depan warung yang nampaknya tak terlalu ramai di jam nanggung seperti ini. Mungkin nanti menjelang sore, barulah warung akan ramai.


"Ayok bang!",ajak Zea pada Lingga.


"Ze, apa ku terbiasa mampir-mampir kalo pulang sekolah?",tanya Lingga pada Zea.


"Ngga sih bang. Jarang banget malahan. Kenapa bang?",tanya Zea heran.


Lingga tak menjawab. Justru dia bertanya pada Burhan.


"Han, di dasbor ada masker kan?",tanya Lingga.


"Ada mas!",sahut Burhan sambil mengambil masker untuk majikannya itu. Zea mengernyitkan alisnya.


"Abang kenapa? Mendadak flu ya?",tanya Zea polos. Lingga merespon nya dengan mengangguk setelah ia menutup mulutnya dengan masker.


"Abang lama, Zea duluan deh!",ucap gadis kecil itu turun dari mobil.


''Mas, saya tunggu di sini aja deh!",kata Burhan.


''Kamu ngga mau makan sekalian?",tanya Lingga pada Burhan. Burhan menggeleng pasti. Lingga pun tak mengambil pusing, dia turun menyusul Zea yang sudah mengobrol akrab dengan karyawan warung itu.


Warung itu tak berbeda jauh dengan warteg, hanya saja lebih modern karena bisa request menu seperti ketoprak, soto atau sejenisnya lah.


"Bang!", panggil Zea pada Lingga. Lingga pun mendekati adik sepupunya itu.


"Abang mau makan pakai lauk apa?",tanya Zea antusias sambil melihat beberapa sayuran yang sudah di sajikan di balik etalase kaca.


Belum sempat menjawab, Lingga sudah mengalihkan perhatiannya pada sosok gadis cantik yang sedang berbicara dengan salah seorang karyawan warung.


"Mba Lisa, pesanan ketoprak buat empat puluh hari keluarga pak RT udah di handel sama siapa?",tanya Galuh.


Kalimat itu yang Lingga tangkap. Mata lelaki tampan itu tak berpaling dari sosok cantik yang berkacamata itu. Galuh terlihat tersenyum dan bercanda ria dengan karyawannya.


"Abang!",pekik Zea yang kesal karena di abaikan oleh Abangnya. Sontak Galuh pun menoleh karena suara Zea yang cukup menarik perhatian.


Dalam sepersekian detik mata Lingga saling bertemu dengan mata Galuh.


Kamu masih tak berubah Luh, aku masih mampu mengenali kamu! Batin Lingga.


"Di tanya malah bengong? Abang mau makan sama apa?",tanya Zea. Galuh melangkahkan kakinya menuju ke tempat di mana Lingga dan Zea berdebat.

__ADS_1


"Eum...Abang mau...!", kalimat Lingga menggantung karena tiba-tiba Galuh sudah menghampiri Zea.


"Zea? Kok ngga langsung pulang ?",sapa Galuh dengan penuh perhatian pada Zea.


"Iya kak, di jemput sama Abang! Mama sama papa sibuk!",jawab Zea. Galuh pun tersenyum. Lingga tak beralih sedikit pun dari wajah Galuh yang semakin cantik itu.


"Bang, mau makan apa ihh!",Zea kembali gemas pada Abang nya itu.


"Telor ceplok sama sambal kecap!",kata Lingga tapi matanya masih menatap Galuh.


Galuh mengernyitkan alisnya. Sepertinya ia pernah mengenal sosok itu, tapi siapa??? Galuh bertanya dalam hatinya.


"Hahaha Abang, masa jauh-jauh kesini mau telor sama sambal kecap? Di rumah juga bisa. Oh, jangan-jangan di Kanada ngga ada kaya gitu ya?", ledek Zea menyikut lengan Abangnya.


"Iya, di sana ngga ada Ze. Abang aja pertama dan terakhir kalinya makan kaya gitu delapan tahun yang lalu di kampung!",kata Lingga tanpa melepaskan tatapan nya dari Galuh.


Sekarang Galuh menatap laki-laki yang datang bersama Zea. Tapi setelah itu, dia pun memutuskan untuk mengabaikan perasaannya yang hanya mampu menebak-nebak.


"Ya udah, biar kakak yang bikinin deh kalo gitu! Zea mau apa?",kini Galuh beralih pada Zea.


"Aku mau soto ayam aja deh kak!", jawab Zea riang. Galuh tersenyum ramah.


"Galuh!",panggil Lingga. Galuh pun menghentikan langkahnya. Zea langsung mencari tempat duduk untuk nya dan juga Abangnya.


Galuh memutar badannya, berhadapan dengan Lingga.


"Iya?",tanya Galuh sambil mengernyitkan alisnya.


"Maaf!",ujar Lingga lirih. Galuh yang tidak mengerti pun hanya merespon ucapan maaf Lingga dengan tatapan bingung.


"Maaf sudah membuat mu menunggu lama!",ucap Lingga dengan suara bergetar. Dia sudah tidak tahan untuk berpura-pura tidak mengenal Galuh, istrinya sendiri.


"Menunggu apa ya?",tanya Galuh balik. Lingga melepaskan masker yang menutupi mulutnya.


Karyawan Galuh yang sedang tak sibuk pun menonton adegan buka masker yang ternyata menampakkan sosok tampan. Pujian dan decakan kagum keluar dari bibir mereka. Tapi tidak dengan Galuh.


Gadis itu tertegun menatap sosok lelaki yang sudah menikahinya delapan tahun yang lalu. Laki-laki yang sudah menggantung statusnya bertahun-tahun.


Jadi? Apa ini? Masihkah ia sah menjadi istri dari laki-laki tampan yang ada di hadapannya?


Lingga akan menjangkau tangan Galuh, tapi Galuh mundur. Ia tak ingin bersentuhan dengan Lingga, meski Lingga suaminya sendiri.

__ADS_1


"Luh!",ucap Lingga lirih. Tanpa aba-aba air mata Galuh menetes. Tapi cepat-cepat ia menghapusnya. Semakin ia hapus, semakin deras air matanya.


Lebay??? Mungkin! Tapi kenyataannya memang menyakitkan bukan! Delapan tahun bukanlah waktu yang sebentar! Dimana janji nya? Dia bilang akan kembali dua Minggu setelah ia kembali ke kota ini? Tapi apa?


Lingga datang delapan tahun berikutnya! Apa itu namanya?? Jika kemarin-kemarin Galuh berharap Lingga kembali ke kampung nya, menemukan pesan yang ia tulis dimeja ruang tamu rumah reyotnya! Tapi tidak sekarang! Justru setelah sang suami ada di hadapannya, Galuh merasa jika sebaiknya Lingga tak usah muncul di hadapannya.


Ternyata lebih menyakitkan! Batin Galuh.


"Kita harus bicara Luh!",Lingga mendekati Galuh. Tapi Galuh kembali mundur.


"Untuk apa kamu kembali?",tanya Galuh dengan suaranya yang bergetar. Lingga meneguk salivanya dengan kasar. Zea yang dari tadi ingin kembali berteriak memanggil Abang nya pun memilih bungkam.


"Galuh, aku bisa jelaskan semuanya! Please, dengarkan aku!",kata Lingga memohon.


"Apa yang akan kamu jelaskan mas?",tanya Galuh mengusap kasar air matanya.


"Kita bicara berdua ya, jangan di sini! Please?!",Lingga kembali memohon.


"Sepertinya delapan tahun sudah cukup menjelaskan semuanya mas. Tolong! Untuk terakhir kalinya, beri aku kejelasan status ku! Talak aku mas !",ucap Galuh.


Semua mata tertuju pada Galuh yang mengatakan hal demikian. Yang mereka tahu, Galuh masih single. Tapi kenapa dia minta talak pada seorang laki-laki yang baru saja ia temui?


"Ngga Luh. Aku ngga ada niat seperti itu. Makanya, aku ingin jelaskan Luh!",kata Lingga dengan sedikit memaksa.


Galuh memejamkan matanya.


"Lakukan! Lakukan apa yang ku katakan tadi! Biarkan aku bebas dari belenggu yang kamu buat mas. Aku ingin bebas dari rasa bersalah dan rasa berdosa! Aku ingin hidup normal mas!",kata Galuh lagi.


"Galuh....aku tahu aku salah, tapi aku minta maaf, dan tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya!",paksa Lingga.


"Pergi lah!",ucap Galuh lirih.


"Galuh, aku ingin memperbaiki semuanya. Kita sah kan pernikahan kita Luh!",kata Lingga lagi.


"Pergi! Pergi aku bilang mas! Pergi!", bentak Galuh. Setelah itu ia meninggalkan warung lalu naik ke lantai atas di mana kamarnya berada.


Zea yang cukup paham dengan obrolan Abang dan kakak Syam pun memilih untuk menarik Abang nya dari tempat itu.


"Ya sudah bang, kita pulang aja ya!",Zea menarik tangan Lingga. Lingga yang masih kalut pun hanya menuruti keinginan adik sepupunya itu.


Di dalam mobil, Lingga memilih diam. Zea pun meminta Burhan untuk mengantarkannya ke rumah. Sepertinya kakak sepupunya itu sedang tak bisa di ajak bicara.

__ADS_1


__ADS_2