
Lingga memarkirkan kendaraannya di pelataran parkir sebuah hotel yang tak jauh dari tempat di mana kafe nya berada. Setelah memberikan kode booking, Lingga pun check in.
Jam dua dini hari, dia memasuki kamarnya. Di lihatnya ponsel yang sejak tadi tak di sentuh. Ternyata lampu nya berkedip-kedip. Ada notif chat dari sang istri.
Tak heran jika sang istri menghubunginya jam segini. Pasti Galuh baru selesai dengan anak-anak kebun.
Lingga mengirimkan chat pada istrinya. Mengabari jika dia sudah sampai di kamar hotel. Lalu Lingga meminta Galuh untuk beristirahat lebih dulu.
Karena sudah biasa seperti itu, Galuh pun memutuskan untuk kembali beristirahat setelah anak-anak kebun berangkat ke pasar induk di kabupaten kota.
Lingga mengistirahatkan tubuhnya yang lelah setelah membersihkan diri lebih dulu. Tak lama kemudian, dia pun terlelap dan terbuai dalam mimpi.
.
.
.
Pagi sudah menyapa, Galuh bersiap untuk membuat sarapan. Seperti biasa bik Mumun sudah datang ke rumahnya.
"Neng, Den Lingga teh pergi ya? Mobilnya yang satu ngga ada?", tanya Bik Mumun.
"Iya Bik, lagi ke jakarta mau lihat perkembangan kafe yang di renov bekas kebakaran kemarin!", jawab Galuh. Bik Mumun mengangguk pelan.
"Biar saya aja neng. Neng Galuh mah tunggu aja di meja makan, atau saya panggilin den Syam sama ibu dulu?"
"Ngga usah Bik, biar saya aja yang panggil. Bibik lanjut aja!"
Bik mumun mengangguk tipis dan setelah itu ia kembali melakukan pekerjaannya.
Galuh menghampiri ibunya di kebun bunga yang ada di teras. Perempuan cantik yang sudah tak lagi muda itu sedang menggunting daun-daun tanamannya yang mulai menguning.
"Bu, sarapan dulu yuk! Itu nanti lagi?!", ajak Galuh. Sekar pun menoleh pada anaknya.
"Sebentar, ibu nyusul Luh. Selesain dikit lagi!", sahut Sekar.
Galuh pun tak memaksa. Ia langsung beranjak ke kamar Syam di lantai atas. Dengan sedikit payah, Galuh sampai ke kamar adik satu-satunya.
"Dek, sarapan dulu!",ajak Galuh. Syam membuka pintu sambil menggendong tas sekolahnya.
"Iya kak. Kakak ngga usah naik turun deh. Capek ntar!", kata Syam merangkul bahu Galuh yang sekarang tingginya hampir sama. Entah Galuh yang pendek atau memang Syam yang tinggi seperti ayahnya.
"Iya iya! Ayok!", ajak Galuh sambil menuruni tangga.
"Abang udah sampai?", tanya Syam.
"Udah tadi jam dua. Paling sekarang udah di kafe lagi dia. Katanya pengen cepet-cepet selesaikan renovasinya biar bisa segera buka lagi. Kasian karyawan yang belum kerja lagi."
Syam mengangguk cepat.
"Ibu mana?", tanya Syam.
"Biasalah! Ibu kamu tuh dek, kalo udah ngurus bunga mah lupa!", kata Galuh sambil mengisi piring Syam dengan nasi dan lauk.
"Ibu kakak juga kali!", sahut Syam. Galuh dan Syam tertawa bersama. Tiba-tiba Sekar datang menghampiri meja makan.
__ADS_1
"Ngga seneng ya punya ibu kaya ibu?", sindir Sekar sambil mengambil nasi. Syam dan Galuh saling berpandangan lalu tertawa pelan.
"Ibu mah sok baperan sekarang!", kata Galuh.
"Dih, siapa yang baper?", tanya Sekar balik.
"Udah deh, dasar wanita. Sarapan yang bener, dilarang bicara saat makan!", nasehat Syam.
Galuh dan Sekar tak menyangkal ucapan Syam, karena memang benar. Mereka pun melanjutkan sarapan mereka. Beberapa menu berlalu, Syam sudah menyelesaikan makan paginya.
Deni dkk sudah menunggu Syam di gerbang.
"Bu, kak Syam berangkat dulu ya. Assalamualaikum!", pamit Syam.
"Walaikumsalam!", jawab Galuh dan Sekar bersamaan.
"Luh, ibu mau ke kebun kangkung dulu ya!", pamit Sekar.
"Ibu mah bukannya istirahat dulu, kebun lagi....kebun lagi....!", kata Galuh.
"Nanti kalo cucu ibu sudah lahir, ibu bakal sibuk jagain cucu. Ngga sempet ke kebun. Biarin atuh, dari pada ibu jenuh!"
"Iya...iya...ibuku yang cantik!", rayu Galuh. Sekar hanya menggeleng lalu membiarkan sang ibu menuju pintu belakang. Tujuannya adalah kebun kangkung yang ada di tempat agak kebawah sana.
Setelah membereskan meja makan di bantu bik Mumun, Galuh kembali ke kamarnya.Ternyata ada panggilan tak terjawab dari sang suami. Langsung dengan gerak cepat, Galuh menghubungi balik suaminya. Mereka melakukan video call.
[Assalamualaikum Abang!]
[Walaikumsalam Yang! Abang udah di kafe. Nih lihat sekarang....]
[Alhamdulillah, Masya Allah....bagus bang!]
[Heum, sesuai ngga sama selera kamu Yang?]
[Ngga harus bang. Yang penting rapi, nyaman dan aman. Tolong di tambah lagi tingkat keamanannya ya bang. Baik buat pekerja atau pengunjung kafe]
[Siap Bu Bos! Ada lagi?]
[Hehehe Abang mah, jadi kangen aku tuh!!!]
Galuh mengerucutkan bibirnya. Coba Galuh di samping Lingga, sudah pasti tidak akan lolos dari kecupan Lingga.
[Ya sabar atuh. Insya Allah secepatnya Abang selesaikan, biar bisa ketemu kamu Yang]
[Hum, iya iya!Oh Iya bang?!]
[Apa yang?]
[Mumpung di jakarta, mampir atuh ke rumah mama. Kan sekarang mah istilahnya Abang sama papa udah baikan, akur gitu. Ngga ada salahnya silaturahmi]
[Kan baru ketemu kemaren-kemaren Yang]
[Udah, pokoknya mampir ya bang. Oke?]
Lingga menghela nafas perlahan.
__ADS_1
[Iya. Laksanakan perintah kanjeng ratu!]
Galuh terkekeh mendengar suaminya memanggilnya seperti itu.
Percakapan suami istri jarak jauh itu menyita perhatian para pekerja di sana. Di tambah lagi, kondisi leher Lingga yang menarik perhatian siapapun yang melihatnya.
Tanda cinta tersebut seolah ingin sengaja di tunjukkan bahwa pal Bos sudah ada punya.
Di sisi lain, seorang laki-laki menghubungi Shiena.
[Hallo? Gue lagi ga butuh Lo, Lo ngapain telpon gue?]
Shiena masih bergelung di bawah selimutnya. Dia berada di sebuah apartemen milik keluarganya.
[Ckkk...abis sama siapa Lo? Ngapa ngga pake gue?]
[Isssh....Lo ganggu gue. Terserah gue mau pake siapa, buruan Lo mau ngomong apa?]
[Butuh info juga kan Lo?]
[Apaan sih?]
Shiena makin di buat kesal oleh salah seorang brondongnya yang memang sering di booking saat Shiena membutuhkan partner di ranjangnya.
[Gue dari jalan Xxx. Ngga sengaja gue liat cowok yang lagi Lo cari. Siapa namanya? Liga, lega atau siapa?]
[Lingga maksud Lo?]
[iya.]
[dimana dia?]
[Tapi Lo janji abis gue kasih info, Lo pake gue!]
[Iya ah bawel! Dimana?]
[Di kafe xxzz bekasa kebakaran kemarin!]
[Lo ga lagi bohong kan?]
[Terserah kalo ngga percaya!]
[Oke, tengkyu. Gue bakal turutin apa mau Lo]
Setelah itu panggilan selesai.
Shiena bersiap untuk menuju ke kafe tersebut. Shiena menyukai Lingga karena dia laki-laki yang memegang prinsip cukup kuat.
Apa Shiena sedang mencoba jadi pelakor? Entahlah.....
*****
21.20
Terimakasih 🙏
__ADS_1