
"Bang!", panggil Galuh setelah keduanya rebahan di atas ranjang hotel tempat mereka menginap beberapa hari yang akan datang.
"Iya sayang? Kenapa? Mau Abang usap pinggangnya?", tawar Lingga. Istrinya memang sering minta di usap pinggangnya sejak kehamilannya semakin besar.
Galuh menggeleng sambil menatap wajah suaminya.
"Abang yang capek seharian nyetir dan ngurusin semuanya. Mau aku pijat ngga bang?"
Lingga tak menjawab, justru ia tersenyum.
"Ngga usah, Abang ngga capek! Justru kamu yang capek, kemanapun pasti ngajak si utun!", kata Lingga sambil mengusap perut Galuh.
"Kan emang kodrat nya begitu Bang?", kata Galuh meletakkan kepalanya di bahu sang suami. Lingga pun merengkuh badan kecil istrinya.
"Bang!"
''Heum?"
"Abang sudah tahu kalo tuan Arya memang seperti itu. Jadi jangan tanggapi dengan emosi seperti itu lah bang. Gimana juga, beliau orang tua Abang!"
Lingga tampak lebih memilih diam dari pada memperdebatkan soal papanya yang mungkin sampai kapan pun akan seperti itu. Nyatanya, kehadiran calon cucunya saja waktu itu tak mampu mengetuk pintu hatinya. Hingga...karena terlambat penanganan, Lingga dan Galuh harus kehilangan calon anak pertama mereka.
"Bang!", Galuh menggoyang bahu suaminya karena merasa di cuekin.
__ADS_1
"Apa sayang?"
"Tolong, kalau nanti ketemu tuan Arya terus beliau menghina ku lagi, jangan di ambil hati. Biarkan saja! Abang ngga usah sakit hati, apa yang tuan Arya katakan memang benar. Aku hanya anak kampung. Jadi, Abang ngga usah tersinggung."
Lingga menggeser posisi duduknya.
"Kamu pikir Abang tidak punya hati Yang?", Lingga menatap mata istrinya. Galuh sendiri bingung menanggapi apa.
"Mana mungkin Abang akan diam saja saat istri, ibu dari anak-anakku di hina sekali pun oleh papa ku sendiri? Ngga Yang!"
Galuh mengusap dada Lingga dengan pelan, mencoba menenangkan emosinya.
"Aku tahu maksud Abang! Paham kok bang. Cuma, sekali pun Abang marah seperti itu kalau mata hati tuan Arya belum terbuka, semua sia-sia."
Suara deru nafas Lingga terdengar ke telinga Galuh.
"Meluluhkan? Ngga, Abang ngga ada niat sama sekali. Biarkan saja papa begitu. Dan satu lagi Yang, jangan menyebutkan dia Tuan. Dia bukan majikan kamu Yang!"
Galuh memilih mengangguk untuk mencari aman.
"Abang heran ,kenapa papa bisa sekeras itu. Padahal sudah jelas-jelas kamu yang nolong mama. Tapi kenapa seolah hal itu ngga keliatan sama sekali di mata papa? Apa karena uang? Kalau memang karena uang, bukan berarti dia bisa merendahkan orang yang kemampuannya di bawahnya kan!"
"Mungkin Tu...ah... maksudnya papa mu, hanya ngga suka aja sama aku bang. Karena gara-gara aku, kamu gagal bertunangan dengan anak rekan bisnisnya. Mungkin karena hal itu!"
__ADS_1
"Hanya papa yang tahu alasan sebenarnya!"
"Iya, kalau pun Abang belom bisa bersih baik sama papa, setidaknya ingat ada mama yang selama ini merindukan Abang."
Lingga langsung menoleh pada istrinya.
"Kalau bisa, Abang ingin ajak mama keluar dari pernikahan toxic dengan papa. Karena selama bertahun-tahun, mama selalu saja tertekan dengan semua aturan dan kemauan papa."
"Astaghfirullah, kok Anang mikir begitu sih?? Bukan damai, tapi Abang sama papa bakal lebih parah berantemnya!"
Lingga tersenyum masam.
"Entah apa yang membuat mama bertahan dengan laki-laki searogan papa!"
"Bang, mama bertahan karena mama memang mencintai papa."
"Tapi aku tahu kalo mama selalu saja Ter...."
"Jangan berpikir seperti itu karena perspektif kamu sendiri bang! Kita lihat dari kacamata mama, mereka berdua kan menikah sudah bertahun-tahun. Di tambah lagi anak-anak nya sudah dewasa, punya kehendak sendiri. Kota contohnya! Kalau bukan dengan pasangan, lalu akan menjalani sisa hidup dengan siapa?"
"Udah lah, malas bahas papa!", Lingga merebahkan kepalanya di bantal. Disusul oleh Galuh di sebelahnya.
"Bang! Usap-usap kepalanya!", rengek Galuh manja. Lingga Lin menurut permintaan sang istri.
__ADS_1
****
Tenkyuuuuu 🙏🙏🙏🙏✌️✌️✌️