
Arya membawa Syam ke tempat lain menjauh dari keluarganya. Lelaki paruh baya itu benar-benar sudah mulai berubah menjadi sosok yang jauh lebih hangat.
Meski kadang kala ada saatnya sesekali ia tampak arogan. Tapi di saat bersama orang-orang tersayangnya, dia akan bersikap hangat seperti sekarang-sekarang ini. Apalagi yang di hadapi adalah sosok Syam yang sudah terlanjur ia sayangi sejak masih bayi.
"Abah ngga mencelakai orang kan Pa?", tanya Syam. Arya tersenyum lalu menggeleng.
"Tentu saja ngga Syam, bahkan papa ngga pernah tahu Abah kamu kalau marah seperti apa. Padahal...dulu papa sering marahin Abah kamu!"
"Benarkah? Abah ngga pernah marah?", tanya Syam.
"Ngga ada orang yang ngga bisa marah Syam. Papa hanya tidak tahu seperti apa Abah kamu kalau lagi marah!", jelas Arya lagi.
"Jadi ...?", tanya Syam lagi.
"Jadi ya ngga mungkin kalau Abah kamu melakukan seperti yang kamu bayangkan tadi. Jangan di kira kata eksekusi itu seperti bayangan kamu yang menembak narapidana. Bukan begitu Syam!"
"Lalu seperti apa?", tanya Syam lagi.
Arya menghela nafas berat.
Pantas Salim sampai kewalahan menghadapi keingintahuan Syam. Ternyata sekali dijawab, dia akan melanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan berikutnya yang pasti ngga kelar-kelar!
"Tapi tolong setelah papa jawab, jangan ada pertanyaan lagi ya Syam!", pinta Arya. Syam mengangguk cepat.
Akhirnya Arya menceritakan tentang apa yang Salim lakukan meski hanya garis besarnya saja. Dan dirasa sudah cukup, Arya mengakhiri ceritanya.
Baru saja Syam akan membuka mulutnya, Arya mengangkat telapak tangannya.
"Cukup ya Syam?!", kata Arya putus asa.
Syam menurunkan bahunya perlahan. Masih banyak pertanyaan yang bernaung dalam otak encernya yang di atas rata-rata anak seusianya. Tapi sayangnya lelaki paruh baya itu seolah sudah lelah jika harus mendapatkan pertanyaan lain.
"Oh ya, waktu itu kamu bilang ada acara makan bersama dengan gubernur, kapan Syam?", tanya Arya mengalihkan pembahasan tentang mafia dan eksekusi.
"Minggu ini Pa, di dampingi Pak Rama. Kebetulan pak Rama katanya teman kost Abah waktu masih kuliah."
"Memang acaranya di mana? Ngga ada wali yang mendampingi selain guru kamu Syam?", tanya Arya.
"Di Bandung Pa. Ngga tahu, pak Rama ngga bilang apa-apa. Coba nanti Syam tanyakan deh. Kalo misal orang tua boleh ikut, papa mau nemenin Syam?"
"Emang boleh?", tanya Arya balik.
"Abah jagain ibu, takut ibu lagi sering mual muntah. Abang jagain Ganesh sama kakak."
Arya tersenyum.
"Makasih udah ajak Papa. Tapi ...maaf, bukannya papa menolak. Apa ngga sebaiknya Syam tanya dulu sama papa Glen? Papa rasa ngga ada salahnya kalo papa Glen yang menemani kamu. Syukur-syukur Zea bisa ikut juga, kangen ngga sama saudari kamu itu heum?", tanya Arya.
Syam tertegun beberapa saat. Dia memang sempat berpikir, bagaimana jika ia meminta papa Glen untuk menemaninya. Apalagi... tempat pertemuannya cukup jauh.
Dari Jakarta ke kampung, udah gitu ke Bandung. Lumayan capek kan???
"Syam!", Arya meraih bahu Syam.
"Coba dulu ya sama papa Glen. Kalo memang dia ngga bisa, papa akan dengan senang hati nemenin Syam. Heum?!"
Syam pun mengangguk pelan. Setidaknya dia akan mencoba bertanya lebih dulu pada papanya. Barangkali papanya mau menyempatkan diri untuk menemani ke acara yang baginya sangat penting, kalau pun nanti dia harus siap kecewa...ada papa Arya yang bersedia.
.
.
.
Arya dan Gita sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Para penghuni rumah itu pun sudah berada di kamar mereka.
Syam selesai membereskan jadwal pelajaran besok pagi ke dalam tasnya. Ponselnya menyala, terlihat ada nama papa Glen memanggil.
__ADS_1
Syam memang tak menggunakan nada dering di ponselnya takut mengganggu.
Tangan Syam terulur untuk mengangkat panggilan dari papa kandungnya tersebut.
[Assalamualaikum Pa]
Sapa Syam pada Glen.
[Walaikumsalam, papa ngga ganggu kan Syam? Ngga lagi tidur?]
[Ngga pa, baru selesai belajar. Papa apa kabar?]
[Alhamdulillah, papa baik. Opa dari situ ya?]
[Iya pa, Syam pikir opa mau nginep ternyata ngga]
[Iya, Opa masih ada urusan lagi sayang]
[Oh...iya, Opa juga bilang begitu sih. Papa ada apa telpon Syam, ada hal penting?]
[Iya Syam. Rencananya Minggu ini, papa, mama Helen dan Zea mau merayakan ulang tahun mama Helen. Syam bisa ke sini ngga? Nanti papa jemput?]
[Minggu ini?]
[Iya Syam, bagaimana kalo papa jemput Syam. Nanti ijin sehari ngga apa-apa kali, biar papa yang ijin sama pak guru kamu]
Syam terdiam. Apa yang harus dia katakan???
[Eum... sepertinya Syam ngga bisa Pa]
[Lho, kenapa Syam?]
Glen cukup bingung.
[Sebenarnya.....]
[Maaf ya Pa]
Suara Syam terdengar begitu lirih. Sedang Glen sendiri jadi bimbang.
Di satu sisi ia ingin merayakan kebahagiaan istrinya di sisi lain, putranya pun akan merayakan kebahagiaan dengan tema yang berbeda.
Glen berada di persimpangan lagi. Andai ia menuruti Helen, Syam yang akan bersedih. Begitu juga dengan sebaliknya, jika ia menuruti Syam...Helen akan merasa terabaikan seolah Glen dikira hanya memperhatikan Syam saja.
[Pa?]
[Eh, iya Syam? Maaf! Eum...coba nanti papa pikirkan lagi sayang. Papa kabarin nanti keputusannya gimana]
[Jangan bikin Tante Helen sedih lagi Pa, udah Syam sama papa Arya saja ngga apa-apa]
Glen semakin merasa bersalah dan bingung. Memang, momen ulang tahun bagi Helen bukan hal yang harus di rayakan. Hanya saja, memang di keluarga tersebut ada saat-saat tertentu yang di gunakan untuk berkumpul. Salah satunya acara ulang tahun itu.
Sayangnya ...Glen harus menghadapi situasi seperti ini lagi meskipun tak sesulit dulu saat belum berdamai dengan kenyataan.
[Ngga sayang. Ya udah, Syam tidur ya. Sudah malam!]
[Heum, iya Pa. Selamat malam pa, assalamualaikum]
[Selamat malam, walaikumsalam sayang]
Syam meletakkan lagi ponselnya di meja belajar. Meski sejak tadi sebelum Glen menghubunginya, Syam sudah menyiapkan mental untuk kecewa....tetap saja perasaan itu masih tetap bercokol di dalam hatinya.
Tapi Syam masih berusaha bersikap realistis. Yang penting hubungan mereka sekarang baik-baik saja, itu lebih dari sekedar cukup.
.
.
__ADS_1
.
"Kenapa Pa? Syam bisa ke sini kan?", tanya Helen pada suaminya. Glen menggeleng lemah. Lelaki tampan itu pun menceritakan tentang Syam yang akan makan bersama gubernur.
Helen tampak tenang mendengarkan cerita suaminya hingga ia mendapatkan kesimpulan sendiri.
"Ya udah, udah malam Pa. Istirahat !", pinta Helen pada Glen.
"Mama..."
"Sudah pa, istirahat saja!", kata Helen pelan sambil memunggungi suaminya. Perempuan cantik yang hampir kepala empat itu pun belum bisa memejamkan matanya. Pikirannya menerawang jauh.
Aku sudah tidak muda lagi, apa masih cukup penting merayakan berkurangnya usia? Sedang Syam yang diberi kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang penting, harus mengalah?
Helen membuang nafas perlahan, ia menoleh ke belakang. Suaminya sudah tidur lelap terdengar dari dengkuran halus dari bibir suaminya.
Kita lihat besok aja ya Pa! Gumam Helen.
.
.
.
Pagi pun tiba....
"Syam naik sepeda aja deh!", kata Syam saat selesai sarapan.
"Ngga usah dek, jauh ah! Ini juga udah agak siang, nanti malah telat masuk kelasnya. Udah di antar aja!", kata Galuh.
"Iya, Abang yang antar." Bocah tampan itu pun mengangguk.
Jika Abangnya sudah bertitah, Syam tak lagi menolaknya. Di mata nya, Abang tetap lelaki yang utama dia hormati meski ada orang lain yang lebih berhak di hormati selain Lingga.
"Abang ada acara ketemu siapa lagi Bang?", tanya Galuh.
"Koh Awa, Yang! Dia mau ngisi batako buat mengisi toko matrial yang di dekat kabupaten!", jawab Lingga.
"Ponselnya jangan di matiin!", pinta Galuh.
"Iya sayang, nanti setiap saat Abang kasih unjuk kegiatan Abang. Heum???"
"Ngga usah begitu ah...lebai?", ujar Galuh. Lingga terkekeh lalu mengajak Syam untuk berangkat sekolah.
Di perjalanan, Syam menoleh ke arah rumah Riang. kondisinya sepi, mungkin Riang sudah berangkat lebih dulu di bandingkan dirinya.
"Kenapa dek? Nyariin teman kamu?", tanya Lingga. Syam pun dengan jujurnya mengangguk pelan.
"Kemarin dia juga di jemput ojek."
Lingga tak menanggapi, mobilnya tetap melaju ke arah sekolah Syam yang berbeda desa dengannya tinggal.
"Makasih bang!", kata Syam sambil mencium punggung tangan Lingga.
"Iya, belajar yang benar. Ngga usah nanggepin kalo ada yang bully, oke?"
"Siap kak! Assalamualaikum?", pamit Syam.
"walaikumsalam!", jawab Lingga dan setelah itu ia meninggalkan halaman sekolah Syam.
*******
21.47
Mood nya lagi uwoow...jadi Mon maap kalo rada-rada ya🙏🙏🙏
Semoga masih bisa di nikmati. Terimakasih 🙏🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1