
"Mama ingat, saat aku pulang KKN di kabupaten Xxx? Sehari sebelumnya, kami menikah!"
Gita terperangah tak percaya. Lalu, ia menatap wajah ayu Galuh yang kalem. Perempuan setengah itu mengingat-ingat wajah menantunya.
"Gara-gara papa memaksa ku ke Kanada, aku harus berpisah dengan istri ku selama delapan tahun Ma, pa! Papa mengambil semua fasilitas ku. Semua, tak terkecuali ponsel ku! Aku tidak bisa menghubungi istriku. Aku tidak bisa ke mana-mana karena papa benar-benar membuat ku tidak mampu melakukan apapun!"
Lingga mengeluarkan semua unek-uneknya selama ini.
Arya menatap tajam pada putranya.
"Apa mama tahu?? Aku sudah melewatkan banyak hal dengan apa yang istri ku alami selama aku tidak ada Ma!"
Nafas Lingga memburu, Galuh mencoba menarik tangan Lingga agar dia tak seemosi itu.
"Papa merahasiakan sakit mama, operasi besar mama. Padahal aku dan bang Puja anak mama. Dan apa mama tahu?", Lingga menjeda ucapannya.
Arya menatap tajam pada putranya.
"Mama tahu, siapa pendonor ginjal mama?",tanya Lingga. Gita mengangguk.
"Kata papa, ada korban kecelakaan yang meninggal. Dan keluarga nya mengijinkan ginjal nya di donor kan buat mama. Dan kami sudah membayar kompensasi yang sepantasnya Ga!",jawab Gita.
Lingga tertawa sinis. Sedang wajah Galuh sudah pucat pasi. Dia sebenarnya tak ingin jadi penyebab pertengkaran antara anak dan bapak. Tapi Lingga tak bisa di cegah. Mungkin ini yang baru Galuh tahu, suaminya tipikal laki-laki yang mudah tersulut emosi.
__ADS_1
"Papa mau berkata jujur, atau aku yang mengatakannya?",tanya Lingga pada papanya. Arya masih bergeming dengan tatapan tajamnya.
"Maksudnya apa Ga?",tanya Gita.
"Ckkk, suami mama memang hebat!", sindir Lingga.
"Jaga bicara mu Ga!", kata Helen mengingatkan keponakannya.
"Istri ku ma, istri ku yang mendonorkan ginjalnya buat mama. Menantu mama yang sudah memberikannya Ma."
Gita kembali terkejut mendengar ocehan putra bungsunya. Dia menggelengkan kepalanya lalu menatap suaminya.
"Pa...!"
"Aku sudah membayar yang sepantasnya Ma!",jawab Arya.
"Dia yang menawarkan diri Ma. Dia butuh uang untuk biaya lahiran adiknya yang hadir dari hasil pemerkosaan. Papa sudah membantunya untuk membiayai nya dan juga memberikan sejumlah uang yang pantas."
"Tapi kenapa papa bohongi mama. Mama sudah bilang, lebih baik mama tidak selamat dari pada membuat orang yang sebelumnya sehat mengorbankan dirinya! Kenapa papa bohong? Kenapa???", tanya Gita.
"Papa ngga ada pilihan Ma. Kamu tanya saja sama Burhan. Dia saksinya! Papa tidak pernah memaksa. Bahkan adiknya saja, papa yang memberi nama dan mengazani nya. Masih kurang, Galuh???",tanya Arya.
"Mama dengar kan?",tanya Lingga pada mamanya.
__ADS_1
Gita masih tak percaya jika suaminya berbuat demikian, membohongi nya selama ini.
"Disurat itu, papa tidak akan bertanggung jawab jika suatu saat terjadi sesuatu dengan menantu mama ini."
Gita bangkit dari sofanya, mengambil map yang di pegang suaminya. Di dalam map tersebut, ada surat pernyataan tersebut yang di tanda tangani oleh Galuh, suaminya juga Burhan. Lalu di belakangnya, ada surat pernyataan bahwa Lingga dan Galuh sudah menikah siri delapan tahun yang lalu.
"Pa...?"
"Kenapa kamu melanggar perjanjian, muncul di depan ku? Bahkan datang bersama putra ku, menjadi istrinya??? Hah! Masih kurang uang yang ku berikan waktu itu???",tanya Arya.
"Papa!",teriak Lingga. Tapi Galuh berusaha menenangkan suaminya, ya... suaminya meski mungkin belum ada cinta di dalam hatinya.
"Maaf tuan, saya memang orang miskin! Saya sadar itu, saya salah! Saya sudah menyalahi perjanjian itu. Tapi, saya lebih dulu menikah dengan mas Lingga dibandingkan kejadian di mana saya membutuhkan bantuan anda. Saya ucapkan banyak terimakasih, berkat bantuan anda saya masih bisa berdiri di sini! Saya minta maaf! Dan...jika saat itu ibu saya tidak menjadi korban pemerkosa dari laki-laki itu, mungkin saya tidak perlu merasakan samua ini. Dan mengenal anda sebagai penolong saya, Tuan Arya!", kata Galuh sambil menunjuk Glen dengan jari telunjuknya.
Glen terkesiap beberapa saat dengan wajah pucatnya.
"Apa maksud mu?",tanya Helen sekarang. Galuh mengalihkan pandangannya pada ibu Zea.
"Laki-laki itu yang sudah melecehkan ibuku. Dia pernah datang di hari yang sama saat mas Lingga meninggalkan kampung kami. Dia meminta maaf karena sudah melecehkan ibuku. Dengan entengnya ia memberikan kami uang. Kami tahu, kami orang miskin. Tapi kami punya harga diri. Dan gara-gara pria itu, ibu ku harus menanggung beban sampai sekarang karena tidak bisa menerima kehadiran Syam. Karena pria itu!", kata Galuh sambil menitikkan air matanya.
Sebenarnya tak sepenuhnya salah Glen, Sekar sendiri yang menolak pertanggungjawaban dari Glen bukan?
Sekarang semua mata tertuju pada Glen. Tak terkecuali Helen, perempuan itu menatap kecewa pada suaminya.
__ADS_1
"Katakan kalo semua itu bohong mas?", kata Helen. Glen masih tak bersuara.
Sedang Gita sendiri sudah terduduk lesu di sofanya lagi. Kepalanya berdenyut. Lingga dan Galuh masih saling menautkan genggaman tangan mereka. Lalu Arya??? Lelaki setengah baya itu juga terdiam. Terlalu banyak kejutan yang ia lihat hari ini.