
Surya menarik Zea dan juga Helen agar menjauh dari putra juga cucunya. Ia membiarkan Glen meluapkan apa yang sebenarnya ia rasakan. Begitu pula dengan Syam. Cucu lelakinya berhak mendapatkan lebih dari sekedar pelukan seorang ayah.
Arya dan Gita memilih menghampiri Lingga yang mondar-mandir di depan pintu. Tentu saja si bungsu itu sedang mencemaskan istrinya dan juga calon bayi mereka.
Arya menepuk bahu Lingga pelan.
"Duduk lah!", pinta Arya pada Lingga.
"Aku belum bisa tenang sebelum melihat istri dan anakku pa!", kata Lingga lirih dengan wajahnya yang sangat cemas. Ada ketakutan yang mungkin hanya Lingga saja yang merasakannya. Takut kejadian empat tahun yang lalu terulang.
"Mereka akan baik-baik saja!", kata Arya menenangkan. Padahal... sebenarnya arya pun sama takutnya. Hanya saja dia lebih bisa menyimpan rasa itu karena selama ini sikapnya yang arogan dan selalu memasang wajah datar. Tapi tanpa orang lain ketahui, termasuk istrinya sendiri. Dia pun pernah dua kali merasakan kesedihan itu. Kesedihan kehilangan Arsyam nya dan juga calon cucu pertamanya dari Lingga. Cukup hanya Arya yang tahu rasa kehilangan itu seperti apa.
Akhirnya, Lingga mau duduk di apit oleh kedua orang tuanya.
Di sisi lain, Glen masih memeluk erat bocah mungil yang masih tergugu. Perasaan campur aduk yang tak bisa di gambarkan. Rasa benci, rasa senang dan segala rasa yang belum pernah Syam rasakan selama hidupnya.
Dekat dan dalam pelukan ayah kandungnya!
Perlahan pelukan Glen mengendur. Di usap-usap puncak kepala Syam yang berwajah sangat mirip dengannya di bandingkan Zea.
"Papa minta maaf!", Glen menakupkan kedua tangannya di pipi Syam.
Sekar yang duduk tak mampu meneteskan air matanya. Cairan itu lolos begitu saja. Menatap sang putra yang menangis di hadapan ayah kandungnya membuat dada Sekar sakit. Dia takut....takut seandainya Syam di ambil oleh keluarga papanya. Dia tidak ingin hal itu terjadi. Tapi melihat Syam yang sepertinya begitu menikmati pelukan ayahnya, Sekar pun tidak tega.
Apakah Sekar egois jika melarang Syam untuk berdekatan ayah kandungnya, dengan seseorang yang memiliki darah yang sama???
"Aku tidak minta apa pun! Tidak! Sudah cukup! Aku sudah cukup merasakan seperti apa pelukan seorang pa-pa!", kata Syam terisak.
"Cukup! Rasa penasaran ku sudah hilang! Sudah terjawab! ", kata Syam memundurkan tubuhnya dari Glen.
Glen menggeleng lemah kembali mendekati Syam.
"Maafkan papa yang sudah membuat kamu menderita selama ini Syam. Papa tahu, apa yang papa lakukan jahat. Papa sadar itu Syam. Papa minta maaf!", kata Glen dengan suara bergetar.
"Aku...aku sudah memaafkan anda! Jadi, kembali lah pada keluarga anda. Aku mohon!", Syam menakupkan kedua tangannya di dadanya.
Glen menggeleng pelan.
"Aku tidak mau menjadi penyebab ketidakharmonisan keluarga anda. Terimakasih sudah di beri kesempatan untuk memeluk anda tadi! Anggap saja hal ini tidak pernah terjadi. Biarkan semua seperti dulu! Seperti saat kita tak pernah mengenal sebelumnya! Aku tidak mau ada hati yang hancur seperti apa yang aku rasa selama ini. Tolong! Jangan ganggu kami lagi!", Syam memundurkan tubuhnya lalu berjalan memunggungi Glen dan langsung menghambur memeluk ibunya.
Tangis Syam kembali pecah saat dirinya berada dekapan sang ibu.
Glen mendongakkan kepalanya sambil memejamkan matanya. Perasaan campur aduk yang....ah...hanya seorang ayah yang mampu merasakannya.
Glen memang tak tahu seperti apa menjadi Syam selama ini. Dia tak tahu seperti apa kesulitan yang harus putranya alami selama ia hidup hampir sebelas tahun ini.
Permohonan maaf tidak mampu menghapus setiap luka yang Glen berikan. Apakah salah jika ia ingin memperbaiki semuanya dari awal?
Dan bagaimana bisa seorang Syam memutuskan untuk mengalah dan mundur agar rumah tangga orang yang sudah mencampakkannya tetap baik-baik saja????
Perlahan Glen menghampiri ibu dan anak yang saling berpelukan itu. Salim memilih menyingkir dari para majikannya. Ya, dia sadar diri siapa dirinya jika di sejajarkan dengan mereka semua.
"Sekar!", kata Glen lirih. Keduanya tak saling mengenal apalagi saling mencintai. Tapi keduanya terikat karena kehadiran seorang Syam.
Sekar menguatkan hatinya agar rasa traumanya tidak hadir lagi. Dia lelah. Dia juga kasian pada anak juga menantunya yang selama ini selalu berusaha membuatnya kembali normal.
Tiba-tiba saja Lingga sudah berada di belakang Sekar.
"Lo mau ngomong apa sama ibu ?", tanya Lingga memanggil Glen tanpa embel-embel apa pun. Usia mereka hanya terpaut delapan tahun. Bahkan mereka juga pantas jika di anggap seumuran.
Glen sedikit terkejut saat Lingga memanggil seperti itu. Tapi, Glen mencoba memakluminya.
"Aku ingin meminta maaf pada Sekar dan Syam. Aku tahu aku salah, aku bajingan, aku brengsek! Tapi kamu tahu Sekar! Di hari yang sama aku ingin mempertanggungjawabkan semuanya. Tapi kamu menolak ku mentah-mentah. Bahkan aku tak tahu jika akan hadir Syam. Sekalipun saat itu tidak ada Syam, aku tetap akan mempertanggungjawabkan perbuatan ku. Tapi kamu yang kekeh menolaknya!"
Sekar meremas jemarinya. Perempuan cantik yang sudah menuju tua itu hanya memejamkan matanya.
Ya, Sekar mengakui dirinya juga bersalah. Andai dia menerima pertanggungjawaban Glen saat itu. Mungkin Syam tidak akan mengalami hal sulit seperti ini. Galuh tidak harus menjual ginjalnya. Dirinya tidak gila dan bisa menyayangi Syam layaknya seorang ibu yang menikmati perannya memiliki bayi.
__ADS_1
Tapi apa???
Selama ini Sekar hanya menyalahkan orang lain. Padahal dirinya pun punya andil besar dalam kesakitan yang Syam rasakan.
Lingga menatap ibu mertuanya yang memejamkan matanya. Syam sendiri masih berada di pelukan Sekar.
"Aku tidak akan mengambil Syam dari kamu Sekar. Tidak! Aku tahu diri, Sekar! Syam!", kata Glen tergugu.
"Bagus jika anda tahu diri. Nasab anak yang lahir dari luar pernikahan ada di pihak ibunya. Jadi, aku harap om Glen paham akan hal itu!", kata Lingga dengan suara yang mulai tenang.
"Iya, om paham. Tapi...om hanya ingin memperbaiki kesalahan yang sudah om buat pada Syam dan Sekar. Tidak ada niat lain!"
"Tidak perlu! Syam akan baik-baik seperti sebelum kita bertemu. Bukan maksud saya menolak niat baik anda, tapi saya tidak ingin ada hati anak lain karena kebaikan anda pada saya!", ucap Syam yang masih duduk di samping ibunya.
"Papa akan mengatakan hal ini baik-baik pada Zea dan mamanya. Tolong jangan seperti ini Syam?!", pinta Glen.
"Sudah! Jangan bahas lagi! Kami mau fokus dengan operasi Kak Galuh. Jadi, mohon mengertilah jika anda memang dewasa!", sindir Syam.
Lingga hampir ternganga, adik kecilnya bisa berkata seperti itu.
"Iya, maafkan papa. Papa tidak tahu situasi Syam. Tapi...papa mohon, maafkan papa!"
Syam menarik nafas dalam-dalam.
"Kalau ibu memaafkan anda, Syam juga memaafkan anda!", kata Syam. Sekar tersentak di samping Syam yang seketika menoleh pada ibunya.
"Ibu mau memaafkan tuan Glen?", tanya Syam. Hati Glen sakit saat anaknya sendiri memanggilnya 'tuan'. Padahal dia sudah sangat senang saat tadi mereka berpelukan, Syam menyebut dirinya papa.
Sekar mengusap kepala Syam. Lalu mengangguk dan tersenyum.
"Jika itu bisa membuat Syam bahagia, akan ibu lakukan!", kata Sekar. Mata Syam kembali berkaca-kaca.
Hati Glen pun seolah mendapatkan sentuhan yang menenangkan. Rasa bersalahnya sedikit terobati saat mendapatkan maaf dari dua orang yang ia sakiti. Sekarang....dia harus berusaha keras membujuk Zea dan Helen. Bukan untuk menerima Syam menjadi anggota keluarga mereka. Melainkan menerima kenyataan bahwa Syam adalah anaknya yang juga memiliki hak yang sama seperti halnya Zea.
Lampu ruang operasi di padamkan. Arya yang berada di depan pintu itu satu-satunya yang menyadari hal tersebut.
"Lingga!", panggil Arya sedikit keras. Lingga pun menoleh dan bersamaan pula pintu ruangan itu terbuka.
"Dok!", panggil Lingga. Dia bingung akan bertanya apa. Terlalu bohong jika dia bertanya apakah istrinya baik-baik saja karena kenyataannya memang tidak baik-baik saja.
"Alhamdulillah, operasi berjalan lancar. Putra dan istri anda selamat", ucap dokter tersebut.
"Alhamdulillah!", ucapan hamdalah bergema di lorong tersebut. Beruntung itu rumah sakit swasta yang tidak terlalu ramai. Setidaknya kehadiran mereka yang mungkin seperti kesebelasan tak mengganggu orang lain.
"Putra?", tanya Arya yang justru antusias. Dokter itu tersenyum.
"Benar pak!", jawab dokter tersebut. Mata Lingga berkaca-kaca, begitu pula dengan Arya dan Gita. Entah kenapa, Arya dan Lingga reflek saling memeluk. Begitu pula dengan Gita dan Sekar yang tak berbeda jauh dengan dua lelaki beda usia tersebut.
Syam pun turut bahagia. Akhirnya di usianya yang hampir sebelas tahun, dia di panggil om. Ah, tidak! Dia ingin di panggil mamang seperti para tetangga dan teman-temannya.
Glen terpesona dengan senyuman Syam yang tak pernah ia lihat selama ini. Lelaki itu menyadari, kebahagiaan Syam memang ada pada keluarga ibunya. Bukan padanya. Tapi Glen juga bertekad akan memberikan kebahagiaan untuk putra yang selama ini ia campakkan.
Jika di depan ruang operasi rona bahagia dan rasa syukur sedang menggema, berbeda lagi di sebuah sudut kantin.
Surya, Zea dan Helen sedang berada di sebuah meja yang berada di ujung. Sepi! Gambaran kantin di malam hari karena hanya ada beberapa saja kios yang beroperasi.
"Makan Ze!", titah Surya. Bagaimana pun kesalahan sang cucu, dia tidak akan membiarkan cucunya kelaparan.
Zea pun menuruti perintah sang Opa. Makanan seadanya yang harus ia nikmati karena ini hanya kantin rumah sakit. Bukan restoran di mana ia bisa meminta sesuai seleranya.
Helen sendiri memilih bungkam. Dia cukup kesal saat Glen lebih memilih memeluk Syam di banding putrinya sendiri.
Helen tahu Zea salah. Dia juga tidak akan membela Zea atas apa yang sudah Zea lakukan. Tapi bukan berarti Glen harus mengabaikan Zea bukan?
Setelah Zea menyelesaikan makan malamnya, Surya memulai percakapannya.
"Kamu ke sini, berniat melabrak Syam?", tanya Surya. Zea tak mengelak, dia menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Setelah seperti ini, masih tidak merasa bersalah? Perbuatan kamu sudah mencelakai keluarga kamu sendiri Ze!", tuding Surya.
Zea menundukkan kepalanya.
"Dan kamu Helen! Apa yang sudah kamu cekoki pada Zea? Prasangka kamu? Ketakutan kamu?", tanya Surya pada Helen yang tidak berani menatap papa mertuanya.
Surya kesal karena tak ada reaksi atau jawaban tegas dari ibu dan anak yang ada di hadapannya itu.
"Kamu tahu Ze? Tindakan kamu yang sengaja mendorong Syam serta Galuh sudah termasuk kriminal?", tanya Surya menakut-nakuti Zea yang otomatis membuat Zea tersentak. Mendengar kata kriminal, otak Zea langsung terhubung dengan polisi.
Helen pun akhirnya mengangkat kepalanya menatap sang papa mertua.
"Opa tidak bisa membantu apa-apa jika keluarga Lingga melaporkan kamu ke pihak kepolisian Ze!", kata Surya menyandarkan punggungnya ke belakang. Mata Zea dan Helena membulat bersama-sama.
"Ngga! Zea ngga mau di tangkap polisi, Opa!", rengek Zea ketakutan sambil kepalanya menggeleng cepat.
"Papa! Mana mungkin Lingga akan melaporkan adiknya sendiri. Papa jangan merusak mental Zea dengan kalimat seperti itu !", kata Helen.
"Papa? Merusak mental Zea?", tanya Surya.
"Papa menakuti Zea!", kata Helen.
"Kamu yang tahu seperti apa keponakan kamu Len! Kamu pikir, suami kamu babak belur sampai di rawat di sini, karena siapa? Karena Lingga yang menghajarnya! Jika tidak Galuh cegah, mungkin suami kamu tinggal nama Len!", kata Surya yang mulai kesal dengan sikap keras kepala Helen.
"Aku ngga mau di tangkap polisi Opa!", rengek Zea menggelayut lengan opanya. Surya mengusap kepala Zea pelan.
"Minta maaf lah pada mereka!", kata Surya. Zea menganggukkan kepalanya cepat. Tapi mata Helen justru melebar.
"Tapi , Pa...!", Helen menyela. Sayangnya ucapan Zea lebih dulu meluncur.
Surya mengangkat tangannya.
"Zea mau meminta maaf pada Syam dan kak Galuh karena takut di tangkap polisi atau karena merasa bersalah?", tanya Surya.
Dalam sudut hati Zea sebenarnya ia merasa sangat bersalah. Tapi....
"Ze?", panggil Surya.
"Zea menyesal Opa. Sungguh, Zea ngga bermaksud buat mencelakai kak Galuh!", kata Zea lemah.
"Jadi, Zea mau meminta maaf pada mereka?", tanya Surya. Dengan optimis, Zea menganggukkan kepalanya.
"Tidak ada yang perlu Zea cemaskan! Opa tetap sayang Zea, begitu pula papa. Tidak ada yang merebut kami dari Zea. Kamu dengar sendiri kan? Bahkan Syam sama sekali tak tertarik menjadi anggota keluarga kita. Menerima nama Suryaputra apalagi Atmaja. Dia tak menginginkan itu semua."
Zea terdiam.
"Kamu lebih beruntung Ze. Hadir di tengah keluarga kita dengan...dengan semua kesempurnaan yang ada. Tapi Syam? Dia bahkan hadir tanpa kesengajaan. Dari bayi di benci ibunya sendiri! Kamu tahu seperti apa rasanya?", tanya Surya.
"Iya, Syam pernah jadi teman dekat Zea waktu masih kecil dulu. Zea sering kesal setiap ada yang mengolok Syam yang punya ibu gila dan tak punya papa. Zea marah pada mereka Opa. Tapi ... setelah tahu kalau....kalau ..papa Zea adalah papa Syam juga, Zea justru lebih takut bukan hanya kesal Opa. Zea takut Syam mengambil papa dari Zea. Zea ngga mau!", kata Zea sambil terisak.
Helen tak sanggup mendengarkan obrolan antara cucu dan kakek tersebut. Ia memilih bangkit dan meninggalkan mereka berdua.
Tapi Surya atau Zea tak menggubris Helen yang emosi. Percayalah, seusia Zea masih mudah sekali terpengaruh oleh keadaan sekitarnya. Jika dia di beri contoh yang baik, niscaya ia pun akan meniru yang baik pula. Begitu pun sebaliknya!
"Tapi, setelah ini kamu mau menerima kehadiran Syam yang tidak ingin sama sekali merusak keluarga kita?", tanya Surya pelan sambil mengusap kepala Zea.
Gadis kecil itu mengangguk pelan. Ya, dia akan mencobanya meskipun sebenarnya sulit menerima kenyataan itu.
Tapi Zea bisa melihat jika...benar, dirinya jauh lebih beruntung dibandingkan Syam. Lalu, untuk apa dia merasa iri???
*****
Udah ngga pake bawang kayanya deh 🤭
Kirain udah di kirim dari tadi, ternyata lupa belum di up
🙈🙈🙈 harap maklum wes tuwek 🤭
__ADS_1
Lebih dari 2k kata ternyata 🤭
Terimakasih banyak semua 🙏🙏🙏🙏🙏