
Lingga turun dari kamarnya menuju ke ruang makan. Disana sudah ada papa dan mamanya.
"Pagi ma, pa!",sapa Lingga.
"Pagi sayang!",jawab mama Lingga. Tapi tidak dengan papanya. Wajahnya terlihat muram dan kesal karena putra mahkotanya tak langsung pulang ke rumah kemarin.
"Kemana kamu kemarin?",tanya Arya.
"Ke kabupaten Xxx!",jawab Lingga. Dia duduk di samping sang ibu.
"Ada urusan apa kamu di sana? Lagi pula, siapa yang kamu temui di kampung seperti itu!?"
Lingga menarik nafas dalam-dalam lalu menatap wajah papanya. Sebenarnya ia ingin sekali mengatakan hal yang sejujurnya. Tapi menilik sejarah seperti apa sifat papanya, Lingga memilih untuk bungkam.
"Urusan penting pa!", jawab Lingga. Mamanya meletakkan nasi dan lauk di atas piring Lingga. Beberapa bulan lalu, kedua orang tua itu baru saja berkunjung ke Kanada. Wajar jika mereka berdua tak terlalu antusias saat si bungsu pulang.
"Kamu tahu? Kemarin Om Beni dan keluarganya datang ke sini, menunggu kepulangan mu? Tapi apa? Kamu bahkan tak memberi kabar apa pun pada kami. Bikin malu!",bentak Arya. Mama nya hanya mengusap lengan Arya dengan lembut agar sang suami lebih bersabar.
"Om Beni kan tamu papa, tidak ada sangkut pautnya dengan Lingga!",jawab Lingga dengan ekspresi datarnya.
"Jaga ucapan mu! Kamu tahu, Shiena papi jodohkan sama kamu. Dan papa ngga mau tahu, kalian akan segera bertunangan!", lanjut Arya lagi.
Lingga meremas kedua tangannya yang ada di bawah meja. Dia lelah hidupnya selalu di atur-atur seperti ini. Dia bukan lagi ABG yang takut akan di cabut seluruh fasilitasnya seperti dulu. Lingga adalah sosok pengusaha muda yang bahkan semua kaum bisnis menginginkan dirinya untuk bekerja sama dengannya.
"Cukup Pa! Lingga capek selalu menjadi boneka papa! Biarkan Lingga menentukan masa depan Lingga sendiri!",kata Lingga pelan tapi penuh keyakinan.
"Bicara apa kamu hah?",Arya bangkit dari duduknya. Mama nya menahan agar papa tak sampai melakukan hal kasar pada si bungsu.
"Lingga sudah dewasa. Bukan lagi anak kecil yang harus menuruti semua keputusan Papa!",jawab Lingga.
"Oh, sombong kamu sekarang? Sudah bisa berdiri kaki sendiri, begitu?!",tanya Arya.
"Pa, Lingga menghormati papa. Tapi papa juga harus menghormati keputusan Lingga. Aku bukan anak kecil lagi yang bisa papa atur seenaknya. Belum cukup tiga puluh tahun aku jadi boneka papa? Aku juga ingin mencari kebahagiaan ku sendiri pa!",kata Lingga tak mau kalah.
"Dasar anak kurang ajar!",Arya menarik kerah kemeja Lingga dengan kasar.
__ADS_1
Plakkkk.....
Pipi putih Lingga sampai memerah terkena tamparan papanya.
"Papa, ngga harus main kasar seperti ini pa!",mama berusaha melerai.
"Terus! Terus saja belain anak bungsu kamu ini! Sudah hebat dia, bisa melawan papa! Mama lihat kan?",Arya membentak istrinya. Sang mama cukup terkejut mendengar bentakan dari suaminya.
"Jangan bentak-bentak Mama!",kata Lingga.
"Sudah-sudah cukup! Kalian baru saja bertemu. Kenapa harus bertengkar seperti ini?",kata mama berusaha menengahi.
"Beritahu anak mu Ma! Jangan melawan orang tua. Sudah tugas anak menuruti apa yang orang tua katakan! Semua orang tua hanya ingin yang terbaik buat anak-anaknya! Mama bilangin tuh anak mama yang sudah hebat itu!"
Arya meninggalkan meja makan. Tinggallah Ibu dan anak itu di meja makan. Mamanya meminta Lingga untuk meminum air putih lebih dulu. Setidaknya untuk menenangkan perasaannya.
"Sayang, kamu ini kenapa? Cerita sama mama!",Mama bersikap lembut pada Lingga. Sikap mama yang tenang selalu menjadi pendingin bagi Lingga ataupun papanya.
"Aku ngga mau di jodoh-jodoh kan Ma. Aku laki-laki dewasa! Aku bisa menentukan masa depan ku sendiri ma."
"Yang mama tahu, kamu dekat dengan Shiena. Kenapa kamu harus menolak di jodohkan dengannya? Dia cantik, berpendidikan tinggi dan ya sederajat sama keluarga kita Ga."
"Aku cuma berteman sama Shiena. Ngga lebih!", kata Lingga tegas.
"Tapi mama dengar sendiri kok, Shiena suka sama kamu dari dulu."
Ya, Lingga tahu jika Shiena memang menyukai nya dari dulu. Keduanya bertemu di kampus yang sama saat di Kanada. Tapi bagi Lingga, Shiena hanya sekedar teman. Tak lebih. Meski berulang kali seorang Shiena menyatakan perasaannya pada sosok lingga.
Mungkin karena sudah merasa hanya ada jalan buntu, Shiena meminta orang tuanya agar menjodohkan Lingga dengan Shiena.
"Aku ngga pernah suka sama Shiena ma. Aku harap, mama paham !",kata Lingga lalu bangkit dari kursinya. Mamanya pun ikut berdiri.
"Aku akan di apartemen saja ma, maafkan Lingga ya ma!"
Cup! Lingga mencium kening mamanya. Lalu dia pun pergi dari ruang makan itu tanpa menoleh pada mamanya lagi.
__ADS_1
Bagaimana pun juga, mamanya adalah perempuan yang sangat berharga baginya.
"Burhan!",panggil Lingga pada supirnya.
"Siap tuan muda!",sahut Burhan. Dia membukakan pintu untuk Lingga.
"Kita ke mana tuan muda?",tanya Burhan.
"Biasakan mulai sekarang memanggil ku Mas saja. Jangan tuan muda!", titah Lingga.
"Baik tuan muda, eh... mas Lingga!", sahut Burhan.
"Kita ke apartemen. Setelah itu ke kantor Tante Helen!", pinta Lingga.
"Siap mas!",jawab Burhan.
Lingga menatap jalanan yang terlihat macet di mana-mana. Dia memilih membuka kaca jendelanya saat berada di traffic light. Matanya menangkap sosok perempuan yang mengendarai sepeda motor matic bity.
Wajah perempuan yang menurutnya tak asing. Meski hanya bertemu selama dua hari berturut-turut dengan perempuan itu, tak membuat mata Lingga lupa pada sosok perempuan cantik yang ia nikahi tanpa sengaja delapan tahun lalu.
Lingga ingin memanggil perempuan itu, tapi lampu sudah berwarna hijau. Motor bity itu sudah lebih dulu melesat.
"Burhan, kejar pengendara motor bity itu Han!",pinta Lingga pada Burhan. Burhan yang bingung pun hanya melajukan mobilnya seperti biasa.
"Motor yang mana Mas?",tanya Burhan.
"Itu tadi yang pakai motor bity dan baju warna biru tua!", tunjuk Lingga lagi. Tapi ternyata motor itu berbelok. Sedang mobil Lingga tak bisa mengejar apalagi berbalik arah.
"Sialan!",umpat Lingga. Burhan yang merasa bersalah pun hanya bisa minta maaf pada tuannya.
"Maaf mas, maaf!",ujar Burhan. Lingga tak menyahutinya. Dia justru memijat pelipisnya.
"Saya baca kok nomor platnya mas tadi. Kalo emang mas perlu banget dengan pemilik kendaraan tadi, kenapa ngga kita tanya saja sama kantor Samsat!", kata Burhan.
Lingga langsung bangkit dari duduknya. Ia merasa ide dari Burhan cukup brilian.
__ADS_1
"Baiklah! Sekarang ke sana! Ke apartemen dan kantor Tante Helen kita tunda!", Burhan pun mengangguk patuh.
Syukurlah kalo dia nerima ide ku, batin Burhan. Dia tak mau di pecat karena masalah sepele seperti ini.