
Sekar berjalan perlahan keluar dari pintu samping dapur menuju teras dimana Syam bersama papanya.
Terlihat sekali jika Sekar ragu-ragu untuk melangkah keluar. Hingga tiba-tiba ia berhenti dan Salim yang ada di belakangnya terkejut.
"Astaghfirullah, Bu! Maaf Bu, saya ngga tahu ibu berhenti!", kata Salim mengelus dadanya karena ia tak sengaja menabrak punggung Sekar.
"Ngga apa-apa mang!", kata Sekar tersendat.
"Kalau ibu tidak berkenan menemui mereka, ibu istirahat saja!", kata Salim tak enak hati.
"Saya ngga apa-apa kok Mang!", jawab Sekar. Dan sekuat hati, ia keluar menuju teras dimana Syam sedang berbincang dengan papa biologisnya.
"Bu!", sapa Syam saat melihat kedatangan ibunya. Sekar sebenarnya sedikit bergetar, apalagi ia masih cukup ingat saat Helen mengatakan dirinya takut jika Sekar merebut Glen darinya.
Sekar mendekati Syam, Helen dan Glen otomatis berdiri. Mereka berdua menyapa Sekar dengan wajah kikuk.
Bagaimana perasaan Helen? Suaminya pernah berhubungan badan dengan perempuan di hadapannya meskipun mereka tak saling mengenal sama sekali?
Lalu Sekar? Dia berhadapan dengan istri sah dari laki-laki yang sudah melecehkannya hingga hadir sosok Syam?
Glen sendiri? Dia merasa bersalah pada dua perempuan yang di sakitinya. Mungkin benar, Helen wajar cemburu karena perbuatan di masa lalunya. Tapi bukankah Sekar yang justru sangat tersakiti di sini? Hamil karena di lecehkan, depresi berat, dan mungkin banyak penderitaan lain yang Sekar rasakan tapi Glen tak tahu.
Sekar mengangguk tipis menyapa sepasang suami istri itu. Terdengar helaan nafas dari Helen. Helen akui, Sekar memang cantik meski usianya lebih tua dari Helen. Bahkan mereka tampak seumuran.
Syam menunggu apa yang akan para orang tuanya ucapkan. Tapi hingga beberapa menit berlalu, tak ada obrolan yang terdengar.
"Ibu sudah di sini, Tante sama papa mau bicara apa?", tanya Syam memecahkan keheningan.
Salim memang tadi menawarkan diri untuk menemani Sekar keluar, tapi di rasa ia bukan siapa-siapa dan amat sangat tahu diri, ia pun kembali ke dapur setelah memastikan Sekar duduk bersama Syam.
Sekar mendongakkan kepalanya, ia memilin ujung jilbabnya dengan tak teratur.
"Ibu!", Syam menggenggam tangan Sekar dengan lembut. Sekar pun menatap sang putra.
"Ngga apa-apa. Semua baik-baik saja. Ya?", Syam berusaha menenangkan dan menguatkan ibunya.
Terdengar lebay mungkin, tapi seseorang yang memiliki trauma pasti akan sulit membuat dirinya kembali normal seperti orang lain pada umumnya. Dan, percaya lah! Sekar sudah berusaha melakukan itu semua.
Sekar mengangguk perlahan. Helen merasa sakit di dalam sudut hatinya. Sebagai sesama perempuan, dia yakin jika Sekar pasti sangat tertekan selama ini. Tapi ...Helen justru menambah tekanan batinnya.
Glen menatap iba pada ibu kandung putranya, andai...andai saja saat itu ia keukeuh mempertanggungjawabkan perbuatannya pada Sekar. Mungkin jalan ceritanya tidak akan serumit ini!
"Maafkan saya yang sudah berprasangka buruk pada Bu Sekar!'', kata Helen tanpa basa-basi.
__ADS_1
Sekar mendongak sesaat menatap perempuan cantik yang berpenampilan menawan dan pastinya perawatannya tak murah.
"Saya sudah membuat ketakutan sendiri, seolah-olah Bu Sekar ingin merebut suami saya!", kata Helen dengan suara yang semakin lirih.
"Saya tidak ada niat sama sekali untuk merebut pak Glen dari Bu Helen. Justru saya yang takut jika kalian membawa Syam dari saya!", kata Sekar dengan suara bergetar.
"Bu, Syam tidak akan ke mana-mana! Syam akan selalu sama ibu!", kata Syam sambil merengkuh bahunya.
"Saya memang ingin dekat dengan Syam, Bu Sekar. Tapi saya juga tidak akan menjauhkan Syam dari anda."
Ada rasa lega di dada Sekar. Putranya akan tetap bersamanya.
"Kami, benar-benar meminta maaf sebesar-besarnya Bu Sekar. Saya harap... hubungan kita membaik setelah ini. Sungguh, saya sadar sudah menyakiti kalian selama ini. Mungkin sebuah kata maaf tidak akan cukup!", kata Glen.
Sekar reflek mengangguk. Dia tak tahu lagi harus bersikap seperti apa, Syam tetap lah putra Glen. Hal itu tak terbantahkan! Akan tetapi, butuh waktu untuk nya agar bisa beradaptasi dengan kondisi dan situasi yang berbeda.
Sekar tetap lah sekar yang lugu, yang tak mau mengganggu urusan rumah tangga orang lain. Dia tak ingin lagi menjadi penyebab pertengkaran sepasang suami istri tersebut.
Dan ia berharap, ini terakhir kalinya ia mendapatkan masalah sebesar ini dalam hidupnya.
"Bu Sekar bersedia memaafkan kami?", tanya Helen. Sekar mengangguk perlahan.
Dengan spontan, Helen menghambur memeluk ibu Syam dengan terisak. Syam memilih menyingkir dari sisi dua wanita dewasa tersebut.
Glen terharu melihat pemandangan di hadapannya. Semua seperti mimpi! Apakah semua masalah usai setelah berada di titik ini???
"Iya, nanti dulu!", sahut Syam.
"Bu, Syam mau main layangan dulu ya! Ini buku catatannya, Syam nitip ya Bu!", kata Syam meminta ijin.
"Iya nak, jangan terlalu sore pulangnya. Nanti kita mau ke rumah sakit lagi", jawab Sekar setelah mengurai pelukannya dengan Helen.
"Iya Bu, nanti jam lima Syam pulang!", kata Syam melihat pergelangan tangannya melihat jam tangan yang melingkar.
Seolah melupakan keberadaan Glen dan Helen, Syam berlari menghampiri teman-temannya yang memberikan sebuah layangan untuknya.
Senyum menawan Syam terbit saat bercanda dengan teman-temannya seusianya. Glen memandangi punggung Syam yang menjauh.
"Sekar, di mana biasanya Syam bermain layang-layang?", tanya Glen masih memandangi punggung Syam.
"Tidak jauh dari sini, di dekat bukit sebelah kiri dari gerbang!", jawab Sekar. Dia tak tahu harus memanggil Glen dengan sebutan apa.
"Ma, papa boleh menyusul Syam ke sana?", tanya Glen pada Helen. Helen pun mengiyakan dengan anggukan.
__ADS_1
"Kalian ngobrol dulu ya, papa ke sana sebentar!", pamit Glen dan berlalu meninggalkan dua perempuan cantik itu.
Glen sedikit tergesa mencari tahu keberadaan Syam. Padahal dia bisa melihat saat Syam baru tiba di sana dengan teman-temannya dan tertawa lepas.
Glen pun perlahan mendekati mereka. Jika beberapa saat yang lalu Glen melihat betapa dewasanya anak lelakinya itu saat membantu pekerjaan Galuh dan Lingga, di matanya kini Syam terlihat berbeda.
Bagaimana pun dewasanya Syam, anak itu tetap lah anak-anak yang masih memiliki jiwa yang penuh dengan keinginan tahuan dan ingin bermain.
"Syam, yang tadi kakaknya Abang ya? Kok beda sama yang kemarin?",tanya Deni pada Syam.
Syam tersenyum tipis.
"Bukan. Dia....papaku!", kata Syam.
Glen terharu mendengar Syam mengakui dirinya adalah papanya Syam di hadapan teman-temannya.
"Benarkah? Wah... pantas saja, wajahnya mirip banget sama kamu Syam! Makanya aku tuh dulu heran, muka ibu kamu kan lokal kaya kita ini. Sedang kamu kaya ada arab-arabnya gitu. Ngga heran sih, papa kamu ganteng kaya pangeran Arab heheheh!", puji Deni dengan jujur.
Syam tersenyum tipis. Dia mengakui, papanya memang tampan. Dan entah kenapa ia harus mewarisi ketampanan sang papa.
"Heum...!", gumam Syam.
"Apa dulu bu Sekar cerai ya dari papa kamu makanya beliau baru nemuin kalian selama kalian pindah di kampung ini?", tanya Deni.
Glen cukup terkejut mendengar pertanyaan dari teman Syam tersebut. Apakah Syam akan mengatakan yang sebenarnya pada temannya itu?
"Syam!", panggil Glen sebelum Syam menjawab pertanyaan Deni tersebut. Syam pun menoleh pada papanya yang sekarang terlihat jauh lebih muda karena penampilannya yang tak lagi memakai kemeja formal. Dia mengenakan kaos dalaman berwarna hitam.
"Kok papa ke sini?", tanya Syam heran. Glen mensejajarkan dirinya dengan Syam yang berdiri dengan Deni.
"Papa ingin main layang-layang juga, sama Syam...sama....?", Glen menggantung ucapannya sambil melirik Deni.
"Eum... Deni, tuan!", kata Deni. Glen terkekeh mendengar Deni menyebut nya tuan.
"Panggil saja papanya Syam, atau Om juga boleh!", kata Glen. Deni tersenyum lebar.
Glen merengkuh bahu Syam dengan satu tangannya lalu keduanya saling berpandangan.
"Papa ingin bermain, sama anak papa!", kata Glen. Entah kenapa, bibir Syam terangkat dengan sendirinya. Bocah tampan itu tersenyum mendengar ucapan itu.
Ini bukan mimpi kan ???? Batin Syam.
*****
__ADS_1
12.40
Makasih yang udah mampir 🤗🤗🤗