Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 173


__ADS_3

Angel mencoba membangunkan Arya yang tertidur pulas di kamarnya. Mungkin karena terlalu lelah, ia sampai tak mendengar ketukan pintu dari Angel.


"Ma, Opa ngga bangun-bangun!", keluh Angel pada Vanes.


"Mas, bagaimana ini?", tanya Vanes pada Puja.


"Biar papa yang bangunkan Opa, An!", kata Puja.


Lelaki berperawakan tinggi itu pun menuju ke kamar Arya. Sebenarnya pintu kamar Arya tak di kunci, hanya saja Angel tak berani masuk ke kamar Opa nya.


"Pa ...?", Puja langsung masuk ke dalam kamar Arya. Puja di buat takjub saat melihat papanya justru sedang bersimpuh di sajadahnya.


Perlahan Puja mendekati papanya. Puja sadar, dirinya belum bisa berubah sepenuhnya seperti Lingga. Dia masih harus banyak belajar seperti papanya, tapi nampaknya papanya jauh lebih baik di banding Puja.


"Jenazah mereka sudah tiba?", tanya Arya tanpa menoleh pada Puja. Puja terdiam beberapa saat.


"Papa tahu?", tanya Puja yang kini turut bersimpuh di atas karpet di samping Arya.


Tak ada jawaban apa pun dari Arya.


"Puja sudah mengabari Lingga. Mungkin mereka akan tiba di sini nanti malam."


Arya tak menyahuti ucapan putra sulungnya.


"Apa papa keberatan kedua almarhum di semayamkan sementara di rumah ini?", tanya Puja.


"Iya!", jawab Arya singkat. Puja menghela nafas perlahan.


"Maafin Puja yang tidak bertanya lebih dulu sama papa. Puja sudah memutuskan sepihak!", kata Puja dengan suara menyesal.


"Ini rumah mu! Kamu berhak mengatur apa yang ada di dalamnya!", tukas Arya.


"Pergilah! Papa ingin sendiri!", kata Arya. Puja menatap papanya yang masih duduk bersimpuh di atas sajadah cokelatnya itu.


Tak ingin mengganggu papanya, Puja pun meninggalkan kamar Arya. Di luar kamar, Vanes sudah menunggu dengan wajah penuh kecemasan.


"Bagaimana mas?", tanya Vanes.


"Papa sudah tahu Nes, tapi...papa untuk sekarang pengen sendiri, ngga mau di ganggu!", ujar Puja. Vanes pun mengerti. Setelah itu, ia dan anaknya pun menuju ruangan yang cukup besar di lantai bawah.


Dua jenazah sudah terbaring di ruangan tersebut. Vanes menghampiri kedua orangtuanya bersama Angel dan juga Puja.


Kerabat almarhum berdatangan silih berganti. Tapi tak terlihat istri dan anak-anak Yudis. Entah kenapa dada Puja merasakan sakit.


Di saat seperti ini, tidak ada satupun keluarga Yudis yang turut mendampingi nya untuk terakhir kali sebelum di makamkan.


Serentetan prosesi sudah di lakukan. Tinggal persiapan untuk sholat jenazah dan juga pemakaman.


Puja menatap pintu kamar papanya yang masih tertutup rapat. Dia tak berani menyuruh papanya untuk turut dalam sholat jenazah tersebut.

__ADS_1


Tapi saat imam akan memulai takbiratul ihram, pintu kamar Arya terbuka. Arya muncul dengan kemeja hitamnya lalu menuruni tangga mendekati shaf yang sudah rapi.


Melihat posisi papanya sudah berada di sampingnya, Puja mempersilahkan imam untuk memulai sholat jenazah.


Beberapa menit berlalu, sholat jenazah pun usai. Kini tiba saatnya mereka mengantarkan Yudis dan Pandu ke tempat peristirahatan terakhir.


"Papa ikut ke pemakaman kan?", tanya Vanes pada papa mertuanya. Arya menoleh sekilas pada menantu sulung nya, setelah itu ia pun mengangguk pelan.


Ada kelegaan di hati Puja dan Vanes. Papanya bersedia untuk turut ke pemakaman.


Arya dan kedua besannya serta anak, menantu dan cucu perempuannya berada di mobil yang sama.


Tak ada obrolan yang berlebihan di dalam mobil tersebut. Tapi juga tidak ada tangis yang mewarnai perjalanan menuju ke pemakaman umum itu.


Empat puluh menit berlalu, mobil mereka sudah tiba di pemakaman umum tersebut. Kedua jenazah itu di bawa berurutan menuju ke liang lahat yang sudah di siapkan.


Arya tertegun beberapa saat. Ada makam kecil yang berada di samping liang lahat Yudis dan Pandu.


Ya, makam itu milik putra pertama Galuh dan Lingga. Arya menatap makam kecil itu. Entah kenapa air matanya lolos begitu saja.


Pa, syarat mati tidak harus tua!


Kalimat Syam begitu terngiang-ngiang di telinga Syam. Dan di depan matanya, bukti ucapan Syam memang benar. Bayi mungil yang tak berdosa itu kini sudah ada surgaNya.


"Pa!", Puja menepuk bahu papanya.


"Papa yang akan mengazani Eyang kamu!", kata Arya. Puja pun mengangguk. Itu artinya dia yang akan mengazani Yudis.


Air mata Arya meleleh setelah berhasil mengumandangkan azan untuk Pandu.


"Aku ... sudah memaafkan mu, A-yah! Semoga Allah mengampuni semua dosa-dosa mu!", bisik Arya yang hanya mampu di dengar oleh dirinya sendiri mungkin juga oleh almarhum.


Arya di bantu untuk keluar dari liang lahat sebelum jenazah itu benar-benar di timpa dengan tanah.


Arya menoleh sekilas ke makam Yudis. Mungkin benar, balas dendam Arya pada Yudis cukup sadis hingga membuat Yudis harus menjumpai ajalnya lebih cepat.


Tapi kembali lagi, banyak cara Tuhan mengambil apa yang Dia miliki termasuk nyawa umatnya.


Hampir jam tiga sore, semua sudah selesai. Arya dan yang lain sudah kembali ke rumah masing-masing.


Karena tak biasa dengan adat dan tata cara di daerahnya, Puja meminta para pekerja nya melakukan apa yang biasa di lakukan setelah ada keluarga yang meninggal.


Disepakati bahwa akan ada doa bersama hingga tujuh hari ke depan di rumah tersebut. Untuk hal ini, Puja meminta persetujuan lebih dulu pada Arya.


Arya pun tak menolaknya. Selama yang Puja lakukan baik, dia tak akan melarangnya.


.


.

__ADS_1


.


Basa isya, saat semua tetangga yang doa bersama sudah pulang, Lingga dan Gita tiba di rumah Arya. Tak lupa Salim turut menemani mereka berdua.


"Papa!", Gita menyalami suaminya begitu pula dengan Lingga.


"Mama langsung istirahat saja!", pinta Arya. Gita menoleh ke Lingga yang mengangguk pelan.


"Iya Pa!", jawab Gita yang di temani oleh Vanes dan juga Angel menuju ke kamarnya.


"Pa...maaf, Lingga ngga ngajak Galuh dan Ganesh!", kata Lingga.


"Iya!", jawab Arya singkat.


Lingga mendesah pelan. Papanya sedang tak bisa di ajak bicara saat ini.


Entah apa yang papanya rasakan! Mungkin dia merasa sedih karena kehilangan ayah juga kakaknya. Apalagi... hubungan keduanya tak baik selama hidupnya.


"Papa ke kamar, nemenin mama!", kata Arya meninggalkan Lingga dan Puja.


Puja dan Lingga memilih duduk di ruang keluarga. Beberapa pekerja rumah itu membereskan sisa acara doa bersama tadi.


"Apa papa mengatakan sesuatu kak?", tanya Lingga pada Puja.


"Maksudnya?", tanya Puja. Lingga pun menceritakan tentang kemarahan papanya hingga membuatnya memutuskan untuk menarik semua harta yang Yudis miliki.


Terdengar helaan nafas dari Puja.


"Kalau kamu ngga cerita, kakak ngga bakal tahu Ga!", kata Puja.


"Apa menurut kakak, papa bersedih atau menyesal?", tanya Lingga.


"Entah! Wajah papa datar! Ngga ada ekspresi apa pun yang papa tunjukkan! Atau mungkin...papa ingin menyimpan semua rasa itu, sendiri!", kata Puja.


Dua kakak beradik itu mengobrol hal lain hingga larut malam.


Disisi lain, Gita yang berada di kamar bersama suaminya hanya mampu memandangi suaminya yang duduk terpekur di atas sajadahnya sejak memasuki kamarnya. Gita mendekati suami nya yang tampak terdiam di sana.


"Papa!", Gita mengusap bahu kokoh suaminya.


"Semoga Allah mengampuni dosa mereka ya Ma!", kata Arya. Gita mengangguk lalu memeluknya dari samping.


"Dan juga... semoga Allah memberikan kesempatan pada Papa untuk bertaubat sebelum papa di panggil seperti mereka!", kata Arya dengan suara parau.


Gita tak tahan untuk tidak mengeratkan pelukannya. Hidup puluhan tahun bersama Arya, baru kali ini keduanya membicarakan tentang hal sereligius ini.


"Iya Pa, mama juga ingin belajar lebih baik lagi! Kita belajar sama-sama pa!", bisik Gita. Arya mengangguk pelan sambil merengkuh bahu Gita.


*****

__ADS_1


10.59


Jam nanggung ya??? Betewe terimakasih banyak udah baca 🤗🤗🤗🙏🙏🙏


__ADS_2