Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 193


__ADS_3

Libur semester masih tersisa dua hari lagi. Glen dan Helen memanfaatkan waktu tersebut untuk mengajak buah hatinya bertamasya lagi. Zea si paling excited jika di ajak berlibur. Dia selalu ceria di mana pun dia berada. Apalagi...sejak ia menerima Syam sebagai saudaranya. Jika beberapa waktu lalu mereka hanya berempat mengunjungi tempat wisata, kali ini Opa Surya turut dalam liburan ke pantai itu.


Glen mengajak keluarga ke pantai Anyer dan menginap di sana semalam. Dengan bantuan sekretarisnya, Glen menyediakan tempat yang nyaman untuk keluarganya.


"Pa, Zea ke pantai dulu ya!", pamit Zea seraya berlari menuju pantai. Glen tak dapat mencegahnya. Apalagi tempat mereka menginap memang dekat dengan pantai.


Helen hanya menggeleng pelan melihat tingkah gadis kecilnya tersebut. Mau di larang pun, gadis itu akan tetap memaksa keinginannya.


"Syam ngga mau ikut ke pantai juga?", tanya Surya pada cucu lelakinya.


"Nanti aja Opa, masih capek!", jawab Syam jujur. Hari memang menjelang senja, tapi suasana masih cukup terang. Dan kebetulan juga, Glen menyewa tempat yang sepi jadi seperti tempat wisata itu hanya di kunjungi oleh keluarganya saja.


"Pa, Helen temani Zea dulu ya!", pamit Helen pada bapak mertuanya. Glen sendiri sedang kembali ke mobil untuk mengambil sesuatu yang tertinggal.


Jadilah, Surya dan Syam yang ada di sana.


"Apa Syam ngga suka pantai?", tanya Surya.


"Suka. Dan ini baru beberapa kali Syam ke pantai, Opa!", kata Syam tersenyum. Lelaki sepuh itu menautkan kedua alisnya.


"Kakak mu ngga pernah mengajak mu berwisata?", tanya Surya.


"Kakak bukan ngga pernah ngajak Opa, cuma...dulu situasinya berbeda sebelum Abang datang ke kehidupan kami."


Glen yang tadinya berjalan terburu-buru kini memelankan langkahnya.


"Maafkan Opa!", lelaki itu mengusap bahu cucu lelakinya. Syam menggeleng pelan dan tersenyum.


"Ngga ada yang perlu meminta maaf atau di maafkan kok Pa!"


Hening! Hanya terdengar suara ombak yang terlihat dengan radius beberapa meter dari mereka duduk.


"Opa!"


"Iya?", Surya menoleh.


"Apa papa satu-satunya anak Opa?", tanya Syam. Surya mengangguk tipis.


"Iya. Oma hanya bisa memberikan papamu, buat Opa. Tapi....Opa tetap bersyukur Syam. Meski pun, sekarang Oma kamu sudah di surga."


Syam mengangguk pelan. Mungkin dia tidak akan bertanya pada Opa nya yang...ya... tidak akan memahami apa yang dia rasakan.


"Ada apa Syam?", tanya Glen yang kini duduk bersebelahan dengan Syam. Alhasil, dia diapit oleh papa dan Opanya.


"Syam mau punya adik!", kata Syam. Surya dan Glen saling berpandangan beberapa saat kemudian Glen bertanya.


"Maksudnya?", tanya Glen. Terdengar helaan nafas dari bibir mungil itu.


"Ibu sedang mengandung sekarang,Pa!", kata Syam berusaha tersenyum. Glen sendiri sebenarnya cukup terkejut, tapi kembali lagi. Bukankah wajar jika Sekar hamil saat ini, dia sudah menikah lagi? Apa yang harus Glen kecewakan di situasi ini?


"Alhamdulillah, kamu mau punya adik. Selamat ya....!", ucapan Surya berhenti saat ponselnya berdering. Ternyata ada panggilan dari rekan bisnisnya.


"Opa angkat telepon dulu ya!", pamit Surya meninggalkan anak dan cucunya.


"Selamat ya Syam, kamu akan jadi kakak!", kata Glen mengusap bahu putranya. Syam mengangguk pelan.

__ADS_1


"Huum, makasih Pa."


Suasana kembali hening. Glen sendiri tak mampu membaca raut wajah putra nya yang memang sering datar seperti itu.


"Papa tahu....!?", Syam menjeda ucapannya beberapa detik hingga Glen menoleh.


"Apa?", tanya Glen.


"Ibu dan Abah pasti bahagia dengan kehamilan ibu sekarang!", kata Syam tersenyum miris. Glen membeku mendengar ucapan Syam. Bibir nya tersenyum, tapi bagi Glen... sepertinya Syam menyembunyikan sesuatu.


"Syam yakin, ibu dan Abah akan mencurahkan semua perhatiannya untuk mereka nanti."


Bocah itu menekuk kakinya hingga tangannya ia letakan di atas lututnya. Glen masih mencoba menjadi pendengar yang baik untuk sang putra yang dewasa oleh keadaan.


"Mereka akan merasakan di sayangi, di perhatikan, di peluk dan di manjakan!", kata Syam yang tiba-tiba menitikkan air matanya tapi dengan cepat ia menghapusnya. Sayangnya, Glen cukup jeli melihat tetesan bening itu menitik cepat.


"Syam harap, cuma Syam satu-satunya anak yang tidak pernah merasakan itu semua dari seorang ibu!", akhirnya air mata itu luruh juga. Glen mendekap bahu putranya. Dia mulai paham kecemasan sang putra dan mungkin rasa iri yang timbul dalam hatinya.


Syam tidak salah!


"Syam bukan anak yang kalian harapkan kehadirannya, wajar jika Syam tidak mendapatkan momen itu!", Isak Syam. Glen menggeleng lemah saat mendekap sang putra.


"Cukup Syam, jangan bicara seperti itu lagi! Hati papa sakit mendengarnya Syam!", batin Glen. Bagaimana pun juga, Glen lah yang sudah membuat Syam harus menderita dan melewati masa-masa itu.


"Beruntung Syam punya kakak! Dan.... beruntung pula ada Abang! Karena sejak ada Abang, Syam akhirnya merasa di sayangi oleh ibu!", Syam menghapus air matanya.


"Maafkan papa Syam, maafkan papa!", Glen semakin erat memeluk Syam. Hati mana yang tak hancur mendengar curahan hati seorang anak lelaki seperti Syam ini.


Sakit! Kecewa! Khawatir! Semua rasa yang tidak enak bernaung dalam hati bocah tampan itu.


Glen mengecup puncak kepala Syam dengan penuh kasih sayang.


"Jangan pernah khawatir yang berlebihan seperti itu. Papa yakin, baik ibu atau Abah mu akan tetap sayang sama kamu Syam!", kata Glen.


Syam tak merespon apapun hingga sebuah tangan mungil menarik Syam dari dekapan papanya.


"Mau aku beri tahu caranya ikhlas berbagai kasih sayang?", tanya Zea dengan alisnya yang naik turun. Ternyata, obrolan papa dan anak itu juga di dengar oleh Surya, Helen dan juga Zea.


Syam lupa, Zea mungkin lebih sulit menerima kenyataan bahwa dirinya memiliki darah yang sama seperti Zea! Tapi perlahan gadis itu mengakui bahwa Syam adalah saudara sedarah dengannya.


Benarkah Syam harus belajar dari gadis kecil yang menyebalkan itu????


.


.


.


"Kak, adek ada pesan mau pulang kapan?", tanya Sekar saat mereka sedang berada di teras samping menemani Ganesh.


"Ngga sih Bu, kenapa? Ibu kangen banget ya?", tanya Galuh.


"Iya lah kak!", jawabnya.


Galuh kembali menggunting daun tanaman yang sudah kuning-kuning.

__ADS_1


"Gimana reaksi Syam saat tahu dia mau punya adik ya Kak?", tanya Sekar sambil mengusap perutnya.


"Pasti seneng lah Bu!", sahut Galuh. Sekar tersenyum simpul, dia harap pun begitu.


.


.


Tibalah saat Syam kembali ke kampung halamannya. Kali ini hanya Glen yang mengantarkan Syam. Itu pun langsung kembali ke ibu kota karena pekerjaannya banyak yang belum di selesaikan.


"Dek, gimana liburannya?", tanya Sekar saat Syam berada di dapur akan mengambil minum. Setelah beristirahat beberapa menit, Glen langsung pulang dan Syam baru mengambil minum.


"Biasa saja!", jawab Syam datar. Setelah minum, bocah itu meninggalkan ibunya di dapur begitu saja tanpa bicara apapun.


Naluri seorang ibu tidak bisa di bohongi, sikap Syam memang cuek. Tapi tidak sampai seperti ini. Apa dia marah padanya??? Batin Sekar.


"Lho, Syam mana Bu?", tanya Galuh pada ibunya.


"Mungkin kecapekan, jadi istirahat di kamarnya kak!", kata Sekar. Perempuan hamil memang perasaannya sensitif, melihat sikap putranya seperti itu...Sekar bape.


"Oh, ya udah deh. Ibu juga istirahat deh ya! Jangan capek-capek!", ujar Galuh.


"Iya kak!", Sekar pun beranjak menuju ke kamarnya.


.


.


.


"Makasih Yang!", kata Lingga saat sang istri menyuguhi teh hangat di mejanya. Lingga sedang memeriksa pekerjaannya.


"Iya bang!", Galuh duduk di samping Lingga. Lingga menoleh pada sang istri.


"Ada apa yang?", tanya Lingga.


"Bang!"


"Heumm?"


"Feeling aku tuh... kayaknya Syam ngga suka mau punya adik, beda waktu aku hamil Ganesh!", kata Galuh.


"Jangan main feeling, kita aja belom ketemu sama ngobrol kok sama Syam. Gimana bisa nyimpulin seperti itu!", kata Syam.


"Bang, Syam itu memang cuek, dingin. Tapi selama ini dia pasti akan selalu cerita apa pun pengalamannya sekali pun dia sedang capek berat. Sedang sekarang???? Jangankan menyapa kita, sama ibu aja cuek begitu!", kata Galuh. Lingga mengehentikan pekerjaannya beberapa saat.


"Ya udah, biar nanti Abang ngajak Syam ngobrol kalo dia udah ngga capek!", kata Lingga. Galuh pun mengiyakan dengan anggukan.


*****


Nyempetin mumpung bocil lagi Les 🤭🤭🤭


Mon maap kayaknya bab kemarin kok muncul Nabil ya???🙈🙈🙈🙈Mau revisi tapi udah terlanjur, ya udah lah.


Harap maklum ya 🙏🙏😁😁 Mon maappppp 🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


Terimakasih banyak-banyak 🙏🙏🙏🙏


__ADS_2