Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 159


__ADS_3

"Jadi yang di sebelah bapak ini...papa?", tanya Galuh pada akhirnya. Arya pun mengangguk.


Galuh mengerjap tak percaya. Bayangan saat bahagia bersama almarhum bapaknya yang selalu mengajarkan menjadi sosok gadis yang kuat tapi juga mempunyai sopan santun serta pemaaf. Tak lupa ibadah yang rajin agar senantiasa di lindungi oleh yang maha kuasa.


Pertemuan demi pertemuan antara dirinya dengan Arya seolah nampak di pelupuk matanya.


Arya yang menolongnya di tengah hujan saat sang ibu akan melahirkan. Operasi transplantasi ginjalnya untuk mama mertua. Perjanjian nya yang tidak akan memunculkan diri dihadapan Arya yang tidak ingin bertanggung jawab seandainya hal buruk terjadi padanya. Ibunya yang depresi berat. Penolakan Arya yang tak menerimanya sebagai menantunya. Kehilangan bayi pertamanya. Dan banyak yang sudah ia lalui selama bertahun-tahun.


Dan sekarang Galuh mengetahui fakta bahwa anak majikan bapaknya yang selama bapak hidup selalu di puji, nyatanya dia salah satu orang yang membuat seorang Galuh mengalami kesulitan hidup.


"Maafkan papa Galuh! Maafkan papa!", kata Arya menunduk kian dalam.


Galuh yang asalnya memang lembut hati nya pun merasa tak tega melihat papa mertuanya seperti itu.


"Sudah Pa, cukup! Jangan minta maaf terus",bujuk Galuh.


"Tapi...papa sudah melakukan banyak kesalahan sama kamu! Padahal...bapak kamu adalah orang yang sangat berjasa dalam hidup papa. Tapi papa justru...."


"Pa... sudah! Tidak apa-apa. Apa yang papa lakukan kemarin-kemarin karena papa khilaf. Sekarang semua baik-baik saja. Bapak pasti bahagia kalo tahu Galuh udah ketemu papa!"


"Tapi mungkin bapak kamu akan kecewa karena papa sudah...."


"Pa, semua orang berhak untuk berubah. Dan sekarang papa Arya adalah papa terbaik. Kesalahan di masa lalu bisa kita jadikan pelajaran agar tidak terulang di masa yang akan datang."


Tangan Arya terulur mengusap kepala Galuh.


"Kenapa papa harus tahu sekarang? Tidak sejak dulu Luh? Kenapa papa bisa sejahat itu pada kamu, pada Lingga."


"Sudah Pa...sudah!", Galuh menggenggam tangan lelaki tampan yang sudah mulai keriput itu.


Galuh tahu papa mertuanya memiliki penyesalan yang luar biasa setelah apa yang dulu ia lakukan.


Galuh bukan perempuan suci tanpa dosa. Dia pun tak sebaik yang orang pikir. Ada saatnya sisi jahatnya meminta nya untuk membalas rasa sakit hati. Tapi kembali lagi, dia hanyalah seorang anak yang di besar kan oleh kedua orang tua yang tidak berpendidikan tinggi. Meski begitu, orang tuanya selalu mengajarkan hal baik untuknya.


Bukankah termasuk amal jariyah jika sampai detik ini apa yang mendiang bapaknya ajarkan di amalkan oleh Galuh?


"Berhenti minta maaf kalau papa memang sudah menganggap Galuh anak papa. Ya?"


Arya semakin teriris hatinya. Gadis yang selama beberapa tahun ini memiliki beban berat selama hidupnya karena ulah Arya, kini justru menjadi pelita dalam keluarganya.

__ADS_1


Galuh pernah ia remehkan bisa mendampingi sang putra, nyatanya kini menjelma menjadi sosok yang sangat berharga di hidup seorang Arya.


"Terimakasih Nak!", kata Arya masih terus mengusap kepala Galuh dengan sayang.


Sekar memutuskan untuk membuat minuman di dapur. Dia tak perlu menawarkan pada besannya yang sedang berbicara serius dengan putri sulungnya.


.


.


.


"Biar bibik aja yang bikin Bu!", kata Mumun yang dari tadi melihat majikannya tak bergerak di depan meja untuk membuat teh panas.


Sekar pun mengiyakan lalu duduk di bangku yang biasa Salim duduki.


Perempuan yang sudah tak lagi itu terngiang-ngiang obrolan antara anak sulungnya dan besannya.


Dan sekarang...dia merasa ragu dengan perasaannya sendiri. Benarkah dia sudah berpaling dari Prastian? Laki-laki yang pertama kali nya membuat dirinya jatuh hati hingga langsung memutuskan untuk menikah di usia belia?


"Ibu teh kenapa?", tanya Mumun.


"Biar bibik aja yang nganterin teh nya ke teras ya!", kata Mumun membawa nampan. Sekar mengangguk tipis dan mempersilahkan Mumun.


Di saat yang hampir bersamaan, Mumun melihat Arya dan Galuh yang juga akan menghampiri Ganesh dan Gita.


"Bik, teh buat siapa?", tanya Galuh.


"Ibu yang minta bawain ke teras Non! Buat Nyonya dan Tuan Arya sekalian."


"Oh, gitu. Terus ibu mana?", tanya Galuh lagi.


"Ada di dapur Non."


Galuh pun mengangguk tipis. Arya dan Galuh menghampiri Gita yang masih menimang-nimang Ganesh.


"Eum, Galuh ke dapur dulu sebentar ya ma, Pa. Pengen minum air putih!"


Kedua mertuanya pun mengiyakan dengan senang hati tentunya. Galuh mendapati ibunya yang sedang bengong di bangku dapur.

__ADS_1


Melihat ibunya seolah tak menyadari kehadirannya, Galuh pun menyeret kursi hingga mereka duduk berhadapan.


"Ibu kenapa?", tanya Galuh. Sekar cukup terkejut saat tahu-tahu Galuh ada di hadapannya.


"Eh, ngga apa-apa kak. Bikin kaget aja deh!", kata Sekar.


"Ibu yang ngelamun makanya ngga tahu kakak di sini. Sebenarnya ibu lagi mikirin apa? Mang Salim?"


"Ish...apaan sih kakak!", kata Sekar. Galuh meraih punggung tangan ibunya lalu ia genggam dengan erat.


"Kakak tahu, ibu sama mang Salim. Dan kakak sama sekali ngga keberatan kalau ibu nikah lagi."


Sekar terdiam.


"Bu, ibu yakin kan sama perasaan ibu?", tanya Galuh lagi. Sekar yang sudah tak mampu menutupi apa pun dari sulungnya pun mengangguk tipis.


"Ibu yakin dengan perasaan ibu atau pun mang Salim kak. Tapi, ibu takut mengecewakan dan merepotkan mang Salim dan kalian."


"Ibu ngomong apa sih?"


"Apa ibu sudah sepenuhnya sembuh dari gila Luh? Bukankah seperti itu tidak bisa sembuh?", tanya Sekar.


"Astaghfirullahaladzim!", Galuh beristighfar.


"Ibu ngga pernah gila Bu. Kenapa ibu tanya seperti itu...?"


"Ibu cuma takut kalau...kalau...mang Salim akan ninggalin ibu kalau..."


"Ssst! Istighfar Bu! Jangan biaya seperti itu dong. Mang Salim laki-laki yang baik. Galuh yakin itu! Please, jangan bilang ibu pernah gila. Ngga ada! Ibu ngga gila! Ibu hanya pernah depresi karena masalah yang sangat berat saat itu. Tapi sekarang, semuanya sudah baik-baik saja. Semuanya Bu?!"


Sekar mengangguk tipis lalu ia pun memeluk erat putri sulungnya.


Galuh jadi berpikir, jika dia bisa menguatkan ibunya untuk mengendalikan emosi. Kenapa ia tak mencoba melakukannya untuk dirinya sendiri? Saat ini saja ia hampir terkena syndrom baby blues bukan? Tapi Lingga selalu menguatkannya. Jadi .... untuk sekarang, apa salahnya menguatkan diri sendiri agar berpikir positif hingga kecemasannya tidak lagi berlebihan pada hal-hal yang tak jelas.


****


13.57


Selamat berakhir pekan gaes 😁😁

__ADS_1


Terimakasih 🙏🙏🙏🙏


__ADS_2