
"Kalian ada rekomen makan di mana?", tanya Glen pada Syam dan Deni.
"Di mana aja Pa!", jawab Syam singkat. Sebenarnya dia tak sabar ingin segera pulang karena Ganesh sudah ada di rumah. Tapi... bagaimana pun dia tidak enak hati pada Glen yang sudah jauh-jauh ingin menemuinya.
"Mau makan nasi di restoran kota atau makanan apa gitu?", tanya Glen lagi mencoba mengakrabkan diri dengan sang putra.
"Kamu mau apa Den?", tanya Syam.
"Naon wae aku mah! Yang penting di traktir ya kan Om?", tanya Deni tertawa.
"Iya! Om traktir! Mau makan di mana?"
"Kalau mie ayam baso mau ga den?", tanya Syam pada Deni.
"Mau atuh!", jawab Deni semangat.
"Dimana belinya? Kasih tahu papa dong!", kata Glen.
"Dari sini masih lewat kantor pos Pa, nanti belok kanan. Di situ enak mie ayam basonya", jawab Syam. Glen pun mengikuti petunjuk Syam.
Tak sampai lima belas menit, mobil mereka pun sampai di sebuah kedai baso yang tak terlalu luas. Tapi ada beberapa pelanggan yang sedang makan di sana.
"Itu Syam?", tanya Glen. Syam mengangguk. Dua bocah itu turun dari mobil lalu menghampiri pedagang baso yang sedang berada di depan kompornya.
"Mie ayam baso ya mang! Es teh nya dua!", kata Deni tanpa malu-malu.
"Tehnya dua, sama buat aku?", tanya Syam pada Deni.
"Ngga, buat aku semua lah Syam! Hehehe!", sahut Deni. Syam menggeleng heran. Deni pun langsung mencari tempat duduk yang dekat dengan kipas angin.
"Kalo gitu saya juga mie ayam baso ya mang, jangan pakai sawi. Minumnya....jeruk hangat aja deh!", kata Syam. Pedagang baso itu mengiyakannya.
Syam menoleh ke arah papanya yang masih berdiri di belakang Syam.
"Papa mau mie ayam apa baso?", tanya Syam pada Glen.
"Heuh? Terserah Syam aja, papa mau kalo kamu yang pesenin!", kata Glen.
"Oh...oke!"
"Mang, baso satu ya. Sama teh manis hangat satu."
Setelah mengatakan demikian, Syam dan Glen menuju ke meja Deni yang sedang memakan kerupuk.
"Kamu pernah ke sini Syam?"
"Beberapa kali, sama Abang sama kakak juga sih!", jawab Syam. Mereka mengobrol bebas hingga pesanan pun datang.
Glen memperhatikan potocopyan dirinya ketika masih kecil. Sungguh, Syam benar-benar seperti dirinya saat di umur segitu.
Makan di tempat seperti sekarang, bedanya... Glen tidak memiliki sahabat seperti Deni. Dia terbatas memiliki teman yang sepadan secara strata dengan dirinya. Tidak seperti Syam, dia bebas berteman dengan siapa pun dan yang perlu di acungi jempol. Meski Syam terlihat dingin dan susah di dekati, nyatanya bocah itu memiliki pribadi yang baik. Mungkin karena ajaran dari orang terdekatnya.
"Zea ngga cemburu papa ke sini?", tanya Syam setelah menyelesaikan makannya.
"Ngga usah di tanya Syam seperti apa Zea! Kamu tahu lah!", jawab Glen.
__ADS_1
"Kasian!", kata Syam terkekeh kecil.
"Syam?"
"Heum?", sahut Syam karena sedang menyedot minuman hangat nya.
"Kalau liburan sekolah, Syam mau ngga ikut liburan ke Jakarta? Papa janji, hanya liburan. Ngga akan minta kamu dari ibu dan kakak!", kata Glen menampakkan wajah serius.
Syam sempat terdiam beberapa saat.
"Kalau soal itu, tanya sama Abang dan kakak aja Pa. Selama mereka mengijinkan, Syam mau!", jawab Syam.
"Kamu ikut juga kan den?", tanya Syam pada sahabatnya.
"Kalo emak sama Abah ngijinin mau atuh ke kota mah!",sahut Deni.
Glen tersenyum melihat dua bocah di hadapannya.
"Papa nginep di mana?", tanya Syam.
"Nanti papa bisa cari hotel dekat sini Syam. Masih ada dua hari lagi papa di sini."
"Oh...?!", Syam membulatkan mulutnya. Setelah semua selesai makan, termasuk Deni... mereka bertiga pun pulang.
Celoteh Deni membuat suasana tak terlalu kaku. Bahkan Glen bisa ikut tertawa karena candaan dua orang sahabat tersebut.
Tak terasa, mobil Glen sudah sampai di halaman rumah Syam.
"Papa mampir dulu kan?", tanya Syam. Glen sedikit ragu, meski hubungannya dengan Syam sudah baik tapi terakhir ke rumah ini ...
"Pa? Mau mampir dulu? Temuin ibu mungkin? Ganesh juga sudah di rumah."
"Iya, keponakan Syam!", kata Syam. Glen pun mengangguk dan tersenyum. Mereka berdua pun turun, Deni sudah di turunkan di yang depan rumahnya.
Syam dan Glen memberikan salam. Penghuni rumah itu pun keluar satu persatu.
Tak lupa Glen meminta maaf pada Sekar yang sudah mengajak Syam pergi tanpa seijin dari nya secara langsung. Beruntung Sekar tak keberatan, toh tadi Arya sudah menyampaikan pesan Glen padanya.
"Selamat ya Luh! Om doakan semoga Ganesh menjadi anak yang pintar dan Sholeh!", kata Glen tulus.
"Aamiin, makasih Om!", jawab Galuh.
"Lingga ke mana?", tanya Glen.
"Oh...itu ,Abang lagi ada urusan sama juragan pasir. Paling jam lima sampai rumah!", jawab Galuh.
"Kamu nginap di mana Glen?", tanya Arya usai Galuh menjawab pertanyaan Glen.
"Itu mas, di hotel depan."
"Ngga usah ke hotel, nginep aja di rumah kami. Masih ada satu kamar kosong!", tawar Arya. Gita pun mengangguk setuju.
"Saya takut merepotkan mas Arya dan mba Gita, mas!", kata Glen.
"Ngga repot Glen, dari pada kamu di hotel sendirian. Helen dan Zea pasti seneng kalo tahu kamu nginep di rumah kami!", lanjut Gita.
__ADS_1
"Baiklah, makasih mba, mas!", kata Glen.
Ketiga orang itu pun berpamitan meninggalkan rumah Galuh.
.
.
.
"Bang, Abang bawa motor siapa? Jaket nya juga punya siapa?", tanya Galuh saat melihat motor dan helm asing di samping kamarnya yang ia lihat dari jendela.
Lingga baru saja selesai solat magrib, Galuh melipat sarung yang tadi di pakai Lingga.
"Punya temen Yang, tadi tukeran pakai. Nanti juga di balikin kok!", kata Lingga merangkul bahu istrinya yang sedang tak berhijab. Dia hanya memakai daster berkancing depan agar memudahkan Ganesh untuk menyusu.
Galuh sudah berlatih menyusui Ganesh sejak kemarin di rumah sakit. Dan sejak Ganesh pulang, entah sudah berapa kali bayi mungil itu menuntut hak nya dari sumbernya langsung.
"Kamu seksi banget yang pakai kaya gini tahu ngga!", kata Lingga mendusel di sela leher Galuh yang berdiri dihadapannya.
"Masih waktu magrib bang, jangan aneh-aneh deh!", kata Galuh tanpa menolak perbuatan Lingga.
"Iya...iya...!", Lingga melepaskan pelukannya lalu berjalan mendekati Ganesh yang tertidur telentang di tengah ranjang.
"Nanti dia bobo di tengah kita Yang?", tanya Lingga sambil mengusap pipi Ganesh.
"Jangan! Aku aja yang di tengah!", kata Galuh. Lingga langsung menoleh.
"Kenapa? Kamu ngga mau jauh-jauh dari aku Yang?", tanya Lingga penuh percaya diri.
"Dih, percaya diri sekali anda ya pak! Aku cuma ngga mau kalau sampai Ganesh ketiban badan gede Ayahnya! Kasian!", Galuh duduk di pinggir ranjang bersebelahan dengan Lingga.
"Oh...jadi yang boleh di tibanin Abang, ibunya aja nih?", canda Lingga sambil menaik turunkan alisnya.
"Mulai lagi kan??? Udah deh sana makan dulu bang! Aku aja udah berapa kali makan tahu!", pinta Galuh.
"Ya kamu kan makan ngga buat sendiri, tapi buat Ganesh juga."
Galuh mengiyakan dengan anggukan.
"Tapi Abang mau makan ini dulu, bentar aja! Ya?", Lingga mengusap bibir ping alami Galuh.
"Heum! Iya!", jawab Galuh. Tanpa basa basi, Lingga pun mendapatkan apa yang dia inginkan sebelum ia menuju ke meja makan untuk makan malam.
Lingga sebenarnya sedang memikirkan kejadian tadi, mungkin lebih baik ia tidak memberi tahu Galuh lebih dulu agar istrinya tak panik. Tapi, Lingga akan mengatakan pada Arya. Kenapa?
Arya pasti tahu! Buktinya, ada orang kepercayaannya yang menggantikan perannya saat jalan pulang kerumahnya tadi. Dan orang itu membuktikan bahwa dirinya adalah orang suruhan Arya.
Kalau memang dia begal atau bermaksud mencuri motor, motor yang Lingga bawa pulang harganya jauh lebih mahal di banding milik Lingga.
Lingga pun makan malam bersama Sekar dan Syam. Bocah itu menceritakan tentang pertemuannya dengan Glen yang juga menginap di rumah Arya.
*****
14.06
__ADS_1
Alhamdulillah, bisa up jam segini 😆✌️
Terimakasih yang sudah mampir 😁✌️