
Jam tiga dini hari, Lingga terbangun karena suara ponselnya berdering nyaring. Dia mengucek matanya sebelum mengangkat panggilan telepon.
Matanya menyipit saat melihat nama yang menghubunginya.
Burhan calling....
[Assalamualaikum Han?]
Suara serak khas bangun tidur menyambut telpon Burhan.
[Walaikumsalam mas Lingga]
[Ada apa Han? Kayanya panik banget?]
[Itu mas, kafe kebakaran mas!]
[Innalilahi. Kapan Han? Kok bisa?]
Pekik Lingga yang langsung bangkit dari ranjang. Galuh yang terganggu pun ikut bangun dari tidurnya.
[Ini masih kebakaran mas. Belum tahu sebabnya apa]
[Tapi anak-anak yang di mess selamat kan? Mereka tidak ada yang terluka kan?]
[Alhamdulillah ngga mas. Semua selamat, formasi lengkap]
[Syukur lah, yang penting anak-anak tidak ada yang terluka. Aku akan ke sana]
[Baik mas. Tim damkar juga sudah menurunkan lima mobil]
[Ya sudah. Tolong amankan apa yang bisa kamu selamatkan Han. Aku percaya padamu]
[Siap mas]
[Assalamualaikum]
[Iya mas, walaikumsalam]
Galuh menghampiri suaminya. Lalu mengusap bahu Lingga.
"Ada apa bang?", tanya Galuh yang sudah berdiri di belakangnya.
"Yang, kita dapat musibah."
"Innalilahi, musibah apa?", Galuh terkejut. Dia tak begitu mendengarkan apa yang di obrolkan suaminya dengan Burhan.
"Kamu yang sabar ya, kafe kita kebakaran. Tim damkar sedang mencoba memadamkan. Dan polisi juga akan segera menyelidiki]
"Innalilahi, tapi karyawan kita baik-baik saja kan bang? Ngga ada yang terluka kan?"
"Burhan bilang semua selamat. Kita tinggal menunggu hasil penyelidikan polisi saja."
__ADS_1
"Abang mau ke Jakarta?", tanya Galuh mendongakkan kepalanya menatap suaminya.
"Iya. Habis subuh nanti."
"Aku ikut bang!", rengek Galuh. Lingga menghela nafas. Lalu menekan pelan bahu sang istri.
"Sayang, Abang ke sana karena mau mengurus masalah kebakaran itu. Sama mau ngecek minimarket kita. Abang janji, Abang bakal langsung pulang kalo masalah udah selesai. Kamu di rumah, sama ibu sama Syam. Kasian si utun kalo di ajak perjalanan jauh. Nanti...."
"Pokoknya aku ikut bang. Kalo ngga boleh, aku ke sana sendiri!", Galuh mulai merajuk. Niat hati dia akan ngebut ke Jakarta, kalo istrinya ikut tentu saja dia akan jalan pelan. Dan makin lama menuju ke sana.
Sejak kehamilan keduanya, Galuh memang lebih sensi dan juga manja. Ya, masih dalam tahap wajar sih. Tapi apa salahnya menjaga agar tidak terjadi sesuatu pada istrinya dan juga calon anaknya bukan. Sayangnya nanti jika Lingga menjelaskan alasannya tersebut, Galuh akan berpikir yang aneh-aneh.
"Oke...oke...kamu ikut Yang, tapi nanti harus banyak istirahat selama di perjalanan ya."
Galuh mengangguk.
Kenapa mereka berdua tampak santai saja saat tahu kafe mereka terbakar? Padahal semua orang pasti akan panik begini dan begitu.
Hei, sepasang suami istri itu sudah melewati banyak kesulitan. Jadi, selama karyawan nya aman.... rejeki bisa di cari. Toh, mereka masih punya sumber keuangan yang lain.
Bukannya sombong!!!
Tuhan maha pemberi. Jangan kan pada mereka yang sudah berusaha dan berikhtiar, pada yang pasif saja Tuhan masih sangat berbaik hati memberikannya.
Azan subuh berkumandang, sisi rumah menjalankan kewajiban dua raka'atnya. Galuh menyiapkan beberapa pakaian untuk nya dan juga untuk Lingga. Tak banyak, hanya beberapa potong saja. Kalau kurang, nanti bisa belo di jalan.
"Kakak, Abang, mau ke mana?", tanya Sekar saat meletakkan kopi dan teh serta sisi untuk Syam. Syam pun masih memakai kain sarung dan baju kokonya.
"Kami mau ke Jakarta Bu, ada urusan mendadak!", kata Galuh. Dia tak ingin membebani pikiran ibunya.
"Kami? Kamu ikut Luh?"
"Iya Bu, Galuh ngga mau jauh-jauh dari Abang!", alasan Galuh. Mereka memang sepakat untuk tidak mengatakan kejadian yang sebenarnya pada Sekar agar perempuan setengah baya itu tak berpikir berat.
"Ya ampun Kak, cuma ke Jakarta aja kaya ditinggal jauh aja sih."
"Heheh bawaan utun Bu!", Galuh nyengir.
"Adek, selama Abang dan kakak pergi ke kota, kamu jaga ibu ya!"
"Iya bang!", sahut Syam. Pukul setengah enam, Lingga dan Galuh pun keluar dari gerbang rumah menggunakan H**** Br** berwarna merah. Lingga memilih mobil yang lebih kecil karena mereka hanya pergi berdua, eh ...bertiga sama utun. Tapi jika ia sekeluarga pergi di tambah art, dia pasti akan membawa mobil kesayangannya.
Katanya kaya, ngapa ga beli Lam**** atau P**** atau mungkin Rubi*** kaya anak pejabat yang lagi viral itu??? Sebenarnya mampu, hanya saja takut di anggap sebagai flexing, kata yang baru-baru ini viral entah mamak yang baru dengar 😆.
Jadi, Lingga membeli apa yang dia butuhkan saja. Toh, fungsinya sama-sama untuk bepergian.
Jam tujuh pagi, Galuh dan Lingga sudah berada di kabupaten Xxx. Lingga mengajak Galuh untuk beristirahat sebentar. Sebagai seorang suami siaga, Lingga berusaha memberikan perhatian terbaik untuk istri dan si utun. Ia trauma dengan kelahiran anak pertamanya yang di makamkan di ibu kota. Lingga bertekad, akan memberikan suport terbaik untuk kehamilan Galuh kali ini.
"Mau sarapan apa Yang?", tanya Lingga.
"Kayanya bubur ayam enak deh bang!", kata Galuh sambil menggandeng tangan suaminya. Mereka memang sengaja berhenti di alun-alun kabur Xxx yang terlihat banyak penjual makanan.
__ADS_1
Benar kan? Niat hati ingin segera sampai ke Jakarta, jadi harus sesekali berhenti karena mencemaskan kenyamanan sang istri. Beruntung Burhan sudah memberikan informasi jika api sudah bisa di padamkan.
Saat keduanya makan, ponsel Lingga berdering. Ada panggilan dari Burhan.
"Abang angkat telpon dulu ya Yang!", ijin Lingga. Galuh pun hanya mengangguk pelan sambil menikmati sarapan buburnya.
[Ya Han?]
[Mas Lingga sudah sampai mana?]
[Di alun-alun kabupaten Xxx]
[Hah?]
[Galuh ikut Han, ngga mungkin kan aku ngebut. Tapi semua pasti aman kan Han?]
[Delapan puluh persen rusak parah mas. Nanti polisi yang akan menjelaskan sama mas Lingga langsung]
[Iya, baiklah. Paling jam satuan kami baru sampai]
[Iya mas, hati-hati]
[Iya]
Panggilan pun usai bersamaan dengan Galuh yang selesai sarapan buburnya.
"Ayo bang, lanjut sekarang!",pinta Galuh.
"Ke kamar mandi dulu deh, takut kebelet pipis."
"Heum, iya."
Setelah selesai membuang hajat, keduanya melanjutkan perjalanan.
.
.
Hal yang tak jauh berbeda di lakukan oleh Glen dan keluarga. Ia kembali ke ibukota juga pagi itu. Glen duduk di samping supir sedang Helen dan Zea duduk di bangku penumpang.
Jemari Helen menari lincah di benda canggih bergambar apel di gigit. Dia sedang berbalas chat dengan kakaknya, Gita.
Galuh menceritakan pertemuannya dengan Lingga. Gita begitu antusias ingin sekali bertemu dengan putra bungsunya.
Helen memang tak menyukai Syam yang menjadi darah daging suaminya, tapi dia juga tidak tega dengan kakak perempuan satu-satunya yang selama ini sangat menyayangi dirinya. Setidaknya, jika Helen sudah menginformasikan keberadaan Lingga, Gita bisa menemui putranya. Meskipun harus sembunyi-sembunyi dari suaminya yang arogan.
"Mau ke rest area dulu ngga tuan?", tanya Supir.
"Langsung aja pak. Kalo Zea yang minta turun karena kebelet atau apa, baru kita berhenti."
"Siap tuan!", jawab sang supir. Glen hanya mencuri pandang istrinya yang sibuk dengan benda pipihnya. Glen tak ingin banyak bertanya pada Helen, takut malah bertengkar di hadapan orang lain meski supir mere sendiri.
__ADS_1