Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 82


__ADS_3

Arya menjadi sosok terakhir yang melihat keributan di depan. Dirinya sudah menebak apa yang akan terjadi. Di lihatnya Sekar yang di papah oleh Gita dan Vanes. Tadinya Galuh yang memapahnya, tapi karena perut nya yang cukup besar membuat ia kesusahan dan di ambil alih oleh Vanes.


Keempat perempuan itu masuk ke kamar Sekar.


Arya menghentikan sarapannya dan keluar dari ruang makan untuk melihat situasi di ruang depan.


"Apa yang kalian lakukan di sini?", tanya Lingga. Syam masih memeluk erat pinggang Lingga. Puja berdiri di samping Lingga. Tak berapa lama, Arya pun muncul dan mensejahterakan dirinya dengan Puja.


"Ga!", sapa Surya.


"Ada apa om Surya kemari?", ulang Lingga. Tidak mungkin bukan dia bertanya dari mana Surya tahu kediamannya? Sudah jelas Glen yang memberi tahu karena mereka sudah bertemu beberapa waktu lalu di kampung ini.


Tangan Lingga masih mengusap kepala Syam. Sedang Glen masih bersimpuh sejak tadi. Perasaan bersalah, menyesal dan takut berkecamuk dalam dadanya. Yang ada dalam dadanya hanyalah perasaan sesak!


"Ga, ajak om Surya dan om Glen bicara di dalam saja! Tidak enak di lihat orang!", kata Puja bijak.


"Silahkan masuk Om!", pinta Lingga. Syam masih mengeratkan pelukannya pada pinggang Lingga.


Mereka semua duduk, tapi saat Arya akan kembali ke meja makan, Surya meminta ia ikut duduk di sana.


"Syam!", panggil Arya. Syam pun mendongak. Ia melihat Arya yang memberi kode untuk mendekat. Dan ya....Syam berpindah duduk dengan Arya. Jika Lingga dan Puja sudah mulai terbiasa, tidak dengan Glen dan Surya. Glen tahu sekali seperti apa kakak iparnya. Tapi...kenapa bisa selembut itu sikapnya dengan Syam???


"Maaf Om Surya, ada apa anda sampai datang ke rumah saya?", tanya Lingga datar. Ya, dia kesal pada suami dari tantenya, Glen!


"Sebelumnya om minta maaf Ga. Om tidak bermaksud membuat keributan di rumah kamu!", ucap Surya penuh wibawa. Syam menyandarkan kepalanya ke dada Arya. Tangan Arya mengelus puncak kepala Syam.


Iri? Iya, tentu saja Surya iri ingin melakukan hal yang sama seperti yang Arya lakukan pada Syam.


"Lalu?", tanya Lingga.


Surya menarik nafas dalam-dalam sedang Glen masih menunduk. Yang terlihat hanyalah tangannya yang saling menggenggam erat. Mungkin takut atau... entahlah! Hanya Glen yang tahu.


"Maafkan om yang baru tahu kalau...kalau...selama ini ternyata om punya cucu yang tak lain adik ipar kamu!", kata Surya.


"Lalu?", tanya Lingga. Dia duduk menyandar ke punggung sofa. Sepertinya ia paham apa yang akan di bicarakan oleh Surya.


"Mungkin ini terlalu terlambat Ga! Om...ingin minta maaf atas perbuatan Glen terhadap ibu nya Syam dan juga Syam tentunya." Surya menatap Syam yang melirik ke padanya.


Terkadang Syam bisa bersikap dewasa, tapi jika menyangkut urusan 'ayah' dia kan sensitif dan sangat rapuh.


Lingga tersenyum sinis.


"Lalu?", tanya Lingga lagi. Dia ingin tahu apa yang diinginkan oleh Surya hingga membuat Surya dan Glen kemari. Tapi kenapa tiba-tiba Surya tahu jika dia punya cucu Syam??


"Lingga! Terimakasih sudah merawat dan membesarkan Syam selama ini. Seharusnya...ini kewajiban om dan....", Surya menoleh pada putranya yang masih tertunduk.


"Dan Glen, sebagai ayah kandung Syam!", lanjut Surya.


"Sudah? Hanya itu?", tanya Lingga. Surya menggeleng cepat. Aura Lingga sudah terlihat dingin, mungkin karena ia masih emosi. Tapi Puja menepuk bahu adiknya, memintanya untuk bersabar.


Arya sendiri hanya diam, dia ingin tahu apa yang akan Surya lakukan.


"Bicara lah Glen!", pinta Surya.


Glen mendongak dan menatap Syam yang sedang menatapnya dengan pandangan sendu dengan mata sembab.


Ada perasaan tak tega menggelayut di hati Glen. Perasaan menyesal dan bersalah yang pastinya....akan sulit untuk di maaf kan oleh Syam apalagi Sekar.


"Lingga, Om minta maaf!", kata Glen dengan suara bergetar. Lingga kembali tersenyum sinis. Wajah persis seperti tokoh antagonis yang menyebalkan.


"Om Glen minta maaf pada saya?", tanya Lingga. Glen terdiam.


"Anda salah alamat jika meminta maaf pada saya, Om!"


Glen tidak berani menatap Lingga yang sepertinya sedang tersulut emosi.


"Sekalipun kamu berlutut di hadapan ibu dan juga Syam, aku rasa mereka pantas untuk tidak memaafkan perbuatan bejat kamu!", kata Lingga yang sudah tak bisa menahan ras hormatnya pada suami dari Tantenya.

__ADS_1


"Tapi aku benar-benar menyesal dan ingin minta maaf Ga. Aku tidak pernah bermaksud untuk tidak mengakui Syam. Aku pun ingin di panggil papa oleh Syam. Aku pun ingin menyayangi Syam layaknya papa pada anaknya. Tapi kamu tahu sendiri seperti kondisi keluarga Om, Ga! Kamu tahu itu!!!", terdengar isakkan kecil dari mulut Glen.


Lingga berdiri dan menghampiri Glen yang tertunduk. Di raihnya kerah pakaian Glen hingga membuat mereka sama-sama berdiri.


"Terlambat!", kata Lingga.


Buggghhhh!


Lingga memukul rahang Glen dengan keras sampai membuat Glen tersungkur. Tapi tidak ada yang mencoba melerainya termasuk Surya sendiri.


Glen tak memberi perlawanan pada Lingga. Ia membiarkan keponakannya melampiaskan kemarahannya.


Lingga berjongkok di depan Glen yang hanya mampu mengelap lukanya. Luka bekas tamparan papanya semalam saja masih terasa, sekarang di tambah lagi pukulan dari Lingga yang sangat kuat.


"Sakit?", sarkas Lingga.


Glen tak menjawab apa-apa dia hanya mengusap ujung bibirnya yang berdarah.


"Itu belum seberapa om!", kata Lingga pelan tapi masih bisa di dengar oleh yang lain.


"Syam, kita masuk saja ya?", bisik Arya pada Syam. Tapi Syam menggeleng, ia menolak untuk pergi dari ruangan itu. Ia ingin tahu kenapa dirinya tak diinginkan oleh papanya sendiri. Arya pun hanya menghela nafas. Arya paham seperti apa jadi Syam karena.... mereka punya nasib yang sama, tak di akui di keluarga papanya!


Lanjut ke Lingga dan Glen...


"Itu belum seberapa banding kesakitan yang harus ibu rasakan!"


Nafas Lingga kembali memburu dan lagi-lagi sebuah pukulan mendarat di wajah Glen yang pasrah saja di pukuli.


"Om tahu apa yang harus ibuku, Syam dan istriku alami karena perbuatan bejat kamu?", Lingga yang sangat emosional tak terasa menitikkan air matanya. Ia menghapusnya dengan kasar.


Glen tak berani menatap Lingga yang sedang sangat emosi.


"Karena kamu, ibu menjadi depresi berat setelah melahirkan Syam bahkan Syam ...Syam sampai tak pernah mengenal seperti apa di sayangi oleh ibunya ketika masih bayi bahkan sampai kalian di pertemukan beberapa tahun yang lalu!"


Nafas Surya tercekat mendengar kenyataan yang baru ia dengar. Ini lebih mengejutkan di banding dengan saat diri nya tahu jika ia memiliki cucu kandung selain dari menantunya.


"Itu ...itu untuk istri ku! Karena ulah kamu, istri ku harus menjadi tulang punggung untuk ibu dan Syam. Karena perbuatan bejat kamu, istri ku harus menjual ginjalnya untuk biaya operasi ibu dan Syam! Setelah tahu semua itu, masih punya nyali untuk meminta maaf hah?", bentak Lingga.


Glen semakin tersudut. Ia tak tahan lagi untuk menahan lelehan di pipinya. Air mata penyesalan dan tentu saja rasa perih yang membuat orang-orang yang tak bersalah harus merasakan kesakitan karena ulah bodohnya itu.


"Om minta maaf Ga! Om minta maaf!", Glen meraih kaki Lingga. Tapi ia memundurkan kakinya.


"Bukan padaku om harus meminta maaf! Tapi seandainya aku menjadi mereka, aku tidak akan pernah memaafkan om!", kata Lingga.


Glen sudah tak ada tenaga lagi untuk sekedar menjawab ucapan Lingga.


Lingga sudah bersiap untuk memukul Glen lagi, tapi Galuh tiba-tiba muncul dan melerai suaminya.


"Abang, udah!!", Galuh langsung menahan tangan Lingga.


"Laki-laki brengsek ini masih punya nyali untuk meminta maaf Yang!", kata Lingga.


"Sudah bang, sudah. Sekarang...aku cuma minta Abang, antar ibu ke rumah sakit. Sepertinya...ibu..."


Galuh menjeda ucapannya sesaat.


"Ibu kenapa?", tanya Lingga.


"Mungkin ibu terlalu shock, ibu...ibu... sepertinya....ibu kambuh lagi Bang!", kata Galuh tersendat-sendat.


"Astaghfirullah!", Lingga meraup wajahnya dengan kasar. Lalu ia menoleh cepat pada Glen yang masih duduk di lantai


"Ini semua gara-gara kamu Om!", Lingga masih sempat mendorong tubuh Glen. Jika tidak di tarik oleh Galuh, mungkin Lingga masih akan memukulnya.


Syam masih betah di dalam dekapan Arya.


Galuh menoleh pada Syam yang sepertinya nyaman bersama papa mertuanya. Arya menyadari jika menantunya sedang menatap dirinya.

__ADS_1


"Pergilah ke rumah sakit, papa yang akan menjaga Syam!", kata Arya pada Galuh untuk pertama kalinya.


Mata Galuh mengerjap. Ia hampir tak percaya jika papa mertua nya menyebut dirinya papa terhadap Galuh.


"Terimakasih, pa!", ucap Galuh tersendat.


Setelah semua masuk, tinggallah Syam bersama Arya dan Glen di bantu bangun oleh Surya.


"Maaf ,aku tidak tahu akan seperti ini Ar!", kata Surya pada Arya.


"Obati luka Glen, biarkan semua tenang lebih dulu!", kata Arya datar. Surya pun memapah Glen menuju ke mobilnya. Supir mereka dengan cekatan membuka pintu mobil untuk Glen dan Surya.


"Kerumah sakit Pak!", pinta Surya.


"Siap tuan!", jawab sang supir.


Di dalam kamar Sekar....


Sekar teriak-teriak tidak jelas. Depresi yang sudah di anggap sembuh nyatanya kambuh lagi. Semua memahami seperti apa rasanya jadi Sekar. Menjadi korban pelecehan hingga membuatnya hamil dan juga perasaan bersalah karena merasa becus menjadi ibu hingga putri sulungnya mengorbankan dirinya untuk kelangsungan hidup Sekar.


"Bu! Ibu, tenang! Ini Lingga ,Bu! Tenang ya Bu, istighfar!", Lingga mengusap punggung tangan ibunya.


"Mereka... mereka mau bawa Syam?", tanya Sekar perlahan tenang saat sang menantu menenangkannya.


"Ngga Bu, Syam sama papa!", jawab Lingga.


"Mereka mau merebut Syam dari kita bang?", tanya Sekar lagi.


"Ngga Bu, Syam akan tetap bersama kita. Ibu yang tenang ya, sekarang kita kerumah sakit ya Bu?!", bujuk Lingga.


"Apa kamu masih menganggap ibu Gila, bang?", tanya Sekar.


"Ngga. Abang ngga berpikir seperti itu. Abang cuma mau ajak ibu ke dokter, biar tahu kondisi ibu seperti apa. Diantara kami tidak ada yang menganggap ibu gila. Ngga ada, kita ke dokter ya?", bujuk Lingga. Dengan pelan, Sekar mengangguk.


Gita dan Valen membantu Sekar bersiap-siap.


"Yang, kamu di rumah saja ya. Biar ibu, mama dan kak Valen yang jaga."


"Ngga bang! Nanti....!"


"Dengarkan Abang, kamu harus jaga kesehatan kamu juga yang. Ya?", Lingga mengusap pipi Galuh. Dengan berat hati, Galuh mengangguk setuju.


"Berhubung Syam sama papa, kamu nemenin Angel aja. Kasian Angel sendirian!", kata Vanes.


"Iya kak!", kata Galuh. Dan semua bersiap mengantar Sekar ke rumah sakit Xxx.


Di rumah... tinggallah Syam, Arya, Galuh dan Angel.


Syam memilih untuk duduk di tepi kolam ikan yang ada di halaman samping di temani Arya. Sedang Galuh bersama Angel berada di kamar.


"Kamu bisa ceritakan apa pun, sama papa sebelum papa kembali ke Jakarta!", kata Arya. Syam menoleh pada lelaki yang sudah tak muda lagi.


"Syam boleh panggil papa sama Tuan Arya?", tanya Syam dengan mata berkaca-kaca. Arya pun menoleh pada nya. Kedua pasang mata itu saling berpandangan.


"Kamu adik nya Lingga, berarti...anak papa juga kan?", tanya Arya balik. Senyum Syam mengembang.


"Terimakasih tu.. pa-pa!", kata Syam terharu. Tangan Arya terulur mengusap kepala Syam sambil tersenyum.


Tanpa mereka sadari, Galuh menatap kedua lelaki berbeda usia dan tak memiliki hubungan darah itu dengan pandangan haru.


Aku tahu papa orang baik, tapi entah apa yang papa tutupi dari kami hingga kami harus melihat seolah papa selalu buruk di mata kami. Apa papa akan menerima kehadiran ku dan anakku seperti papa menerima Syam, Pa? Monolog Galuh sambil mengusap perutnya.


**********


To be continue 🤗🤗🤗


Terimakasih 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2