
Salim kembali ke dapur untuk meminta tolong bik Mumun membuatkan minuman untuk Glen dan Helen.
"Apa mereka di persilahkan masuk aja ya bik?", tanya Salim pada Mumun.
"Saya teh ngga tahu mang. Atuh terserah ibu atau den Syam aja!", kata Mumun. Dia pun segan mempersilahkan tamu tersebut.
Bukan bermaksud tidak sopan, hanya saja dia tak ingin ikut campur jika tidak di mintai tolong secara langsung.
[Iya, Syam turun! Mamang bawa kan nota-notanya yang berapa hari kemarin? Tiga ya?]
[Iya den, sebentar lagi masuk gerbang]
Supir yang membawa sayuran akan menyetorkan uang dari penjualan sayur selama tiga hari terakhir. Mereka tahu jika majikannya tengah sibuk di rumah sakit.
[Ya udah, Syam turun deh!]
Syam pun menuruni tangga sambil membawa buku catatan yang biasa dia tangani tentang penjualan sayur yang sudah di percayakan pada nya sejak satu tahun belakangan ini. Lingga mengajari dan mempercayakan tentang pendapatan dan pengeluaran kebun sayuran.
"Lho, bik Mumun bikin minum buat siapa?", tanya Syam. Mumun melirik Salim yang sedang menggenggam kuping cangkir kopi nya.
"Itu den, ada tuan Glen sama nyonya Helen di luar! Kami tidak berani mempersilahkan mereka masuk, takut...ibu atau den Syam marah!", kata Bik Mumun.
"Oh, iya ngga apa-apa. Mereka di mana sekarang?", tanya Syam. Salim cukup terkejut melihat perubahan sikap Syam sekarang.
"Di mobil mereka Den!", kata Salim.
Din...Din... Din...
Klakson mobil sayur berbunyi.
"Syam keluar dulu ya, si amang mau setoran!", kata Syam berpamitan pada Salim dan Mumun.
"Iya den!", jawab Salim dan Mumun. Lalu Mumun menyusul Syam keluar dengan membawa minuman dan cemilan untuk sekedar lebih pantas di lihat.
Glen dan Helen melihat Syam yang keluar membawa sebuah buku lalu selang beberapa detik kemudian, sebuah mobil truk sayur berhenti tak jauh dari mobil mereka.
Sepasang suami istri itu pun turun untuk menemui Syam. Tapi ternyata, Syam sedang berbicara serius dengan supir truk tersebut.
Terlihat Syam yang postur tubuhnya memang tinggi dibandingkan anak seusianya sedang memegang beberapa lembar nota.
Lalu supir itu juga menyerahkan sejumlah uang. Syam tampak mengangguk mengerti lalu menerima uang tersebut.
__ADS_1
"Makasih ya Den!", kata si supir dengan sumringah.
"Sama-sama mang!", sahut Syam lalu berbalik badan dan berhenti seketika saat menyadari Glen dan Helen berada di belakang mereka.
Tadi ia sempat melihat sepasang suami istri itu, hanya saja supir truknya juga butuh segera beristirahat setelah bekerja dari dini hari.
"Syam!", sapa Glen. Syam yang tadinya tertegun pun akhirnya bisa menguasai diri lalu berusaha tersenyum.
Ada luka, ada pula bahagia yang ia rasakan saat ini.
Penolakan Glen saat itu masih cukup membekas dalam dadanya. Meski sebenarnya Glen tak sepenuhnya menolak, hanya saja ia berusaha untuk tidak lagi menambah daftar manusia yang sakit hati karenanya. Zea dan Helen, Syam bukan salah satu daftar manusia yang harus di jaga perasaannya kala itu. Tidak untuk sekarang, mungkin!
"Pa!", Syam tersenyum lalu menghampiri dua orang tersebut. Sedikit canggung, Syam meraih tangan Glen untuk di cium. Glen menyambutnya dengan sepenuh hati. Tak lupa tangannya mengusap kepala bocah tampan itu.
Saat melihat Helena, Syam benar-benar merasa ragu. Apakah dia akan melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan pada papanya?
Tanpa ba-bi-bu, Helen memeluk bocah yang berwajah sama persis dengan suaminya. Syam sedikit terguncang badannya karena kaget mendapatkan pelukan dari mamanya Zea, istri papa biologisnya!
"Maafkan Tante Syam!", kata Helen tulus. Lalu ia pun memegang kedua bahu Syam. Kedua pasang mata itu saling menatap.
Tangan Helen terulur mengusap kepala Syam dengan pelan.
"Syam sudah memaafkan Tante kok!", kata Syam. Helen semakin merasa dirinya sangat keterlaluan.
"Silahkan Pa, Tante!", pinta Syam.
Glen dan Helen pun duduk setelah di persilahkan oleh tuan rumah.
"Apa papa mengganggu Syam?", tanya Glen.
"Ngga kok, Pa. Papa ada perlu sama Syam?", tanya Syam. Helen yang terdengar menghela nafas.
"Iya Syam!", Helen yang menjawab. Syam hanya ber'oh' ria dan mengangguk.
"Maaf kalo papa lancang, tadi...Syam ngapain sama supir truk sayur?", tanya Glen yang penasaran.
"Oh, tiga hari ini Abang sama kakak ngga sempat ketemu sama si amang supir yang nganter sayur ke pasar induk. Jadi, Syam yang gantiin."
"Gantiin?", tanya Glen sedikit bingung.
"Kalo Abang atau kakak lagi ngga sempet Syam yang bantuin ngurusin kerjaan ini."
__ADS_1
Helen menelan ludahnya sedikit kasar. Tak salah memang, dia pernah mendengar jika Syam tak tergiur dengan warisan dari keluarga Atmaja. Dan, ia membuktikan dengan mata kepalanya sendiri.
Syam memang sedang belajar bisnis sejak usianya bahkan masih anak-anak.
Lingga dan Galuh benar-benar mempersiapkan masa depan sekaligus menata mental Syam menjadi pebisnis muda yang tangguh meski dia masih kecil.
"Kamu hebat sekali Syam!", puji Glen. Dia sangat kagum pada putra yang sempat ia abaikan.
"Terimakasih!", kata Syam.
Di dalam rumah....
"Bu!", sapa Salim saat Sekar masuk ke dapur.
"Eh, Mang Salim! Kok ngga istirahat? Nanti sore kita kerumah sakit lagi lho!", kata Sekar mengambil minuman di kulkas.
Cantik! Batin Salim.
"Mang? Mang Salim?", tangan Sekar melambai di depan wajah Salim. Beberapa detik kemudian, dia menyadari jika ada Sekar di hadapannya.
"Eh, iya Bu. Tadi sudah istirahat kok Bu!", jawab Salim kikuk.
"Eum, liat Syam ngga mang?", tanya Sekar celingukan. Dia sempat ke kamar Syam, tapi anak nya tidak ada di kamarnya.
"Den Syam di depan Bu, ada tuan Glen dan istrinya!"
Sekar sempat terkejut tapi cukup menguasai diri agar terhindar dari rasa trauma itu lagi. Salim menatap wajah cantik yang seolah tak pudar termakan usia.
"Anda baik-baik saja Bu?", tanya Salim yang khawatir pada Sekar.
"Ah, iya. Saya... baik-baik saja mang!"
Salim tak langsung percaya begitu saja.
"Mau saya temani Bu?", tawar Salim. Sekar menoleh sebentar setelah itu mengangguk pelan.
******
20.12
Segini dulu ya 🙏🙏
__ADS_1
Ada yang berasa gempa Jogja????