Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 204


__ADS_3

Lingga dan Galuh langsung menuju ke kediaman Puja usai dari pantai. Keduanya benar-benar tak mampir ke mana-mana lagi. Di saat yang sama, dua mobil mewah milik kakak dan papanya memasuki halaman rumah besar tersebut.


Ketiga pasangan suami istri itu keluar dari mobil mereka masing-masing. Terlihat ada keterkejutan di mata kedua orang tua dan kakak-kakaknya saat melihat Galuh dan Lingga sudah kembali kerumah karena setahu mereka, Lingga akan menghabiskan waktu bersama Galuh.


"Assalamualaikum!'',sapa Galuh dan Lingga bersamaan pada keempat orang yang ada di hadapannya.


"Walaikumsalam. Mama pikir kalian mau ke mana dulu? Ngga tahunya langsung pulang. Memangnya ngga jadi buan madu?'',tanya Mama Gita.


"Ngga Ma, besok pagi kan kita mau balik kampung'',jawab Lingga. Gita mengangguk mengerti.


"Mama pada dari mana? Kok bisa pulang bareng kakak?'',taya GAluh.


"Dari asrama Angel, mama kangen sama cucu cantik mama'',jawab Gita.


"Yah, kok mama sama kakak ngga ngajak sih? Galuh juga mau kali ketemu Angel.''


"Lain kali aja Yang!', Lingga merengkuh bahu istrinya.


"Ya udah kita masuk, udah magrib!'', Arya mengajak keluarganya untuk masuk ke dalam rumah. Istri dan anak-anaknya pun masuk mengikuti Arya.


Usai masuk ke kamar masing-masing, mereka pun membersihkan diri.


"Mandi bareng aja Yang biar praktis. Jadi magribannya cepet!", ujar Lingga. Galuh menatap curiga pada suaminya. Tapi Lingga paham betul tatapan istrinya itu.


"Ya Allah Yang, Abang juga tahu waktu kali Yang. Maghrib ini mah...janji cuma mandi, ngga macem-macem. Pamali kali!", kata Lingga seolah menyangkal tuduhan Galuh yang bahkan tidak Galuh katakan sama sekali.


"Janji?", tanya Galuh.


"Iya Yang, astaghfirullah! Tapi ngga janji ntar abis isya atau makan malam!", jawab Lingga sambil membawa handuknya dan juga handuk Galuh ke kamar mandi.


Mau tak mau Galuh mengekor di belakang suaminya. Ia percaya dengan apa yang suaminya katakan.


Singkat cerita, usai sholat jamaah berdua sepasang suami istri itu keluar dari kamar untuk makan malam bersama keluarganya.


Tapi ternyata Sekar menghubungi Galuh.


[Assalamualaikum ibu...]


[Walaikumsalam, lagi sibuk ngga kak?]


[Ngga Bu, sibuk apanya. Baru selesai solat magrib Bu. Ada apa? Ganesh ngga kenapa-kenapa kan?]


[Ngga kenapa-kenapa kak. Kali aja kakak mau lihat Ganesh mumpung belum bobok]


Sekar mengarahkan kameranya pada Ganesh yang di temani Salim. Galuh tersenyum bahagia melihat sang putra sedang tertawa dan bercanda dengan bapak tirinya tersebut.


[Jadi makin kangen sama Ganesh deh Bu. Tapi insyaallah besok pagi kami berangkat Bu]


[Iya, kalian hati-hati saja. Insyaallah Ganesh aman sama ibu dan Abah di rumah]


[Iya Bu]


Setelah panggilan video selesai, mereka berdua menuruni tangga menuju ke meja makan. Di sana sudah ada orang tua dan kakaknya.


"Habis telpon Ganesh ya?", tanya Gita.


"Iya Ma!", jawab Galuh.


"Nanti kalo Ganesh udah besaran, ajak ke sini ya Ga!", kata Vanes.


"Iya kak, insyaallah!", jawab Lingga tersenyum.


"Kalian tadi dari mana?", tanya Arya pada Lingga.


"Dari makam dan pantai", jawab Lingga. Arya pun mengangguk sambil mengunyah makanannya.


"Tadi, kami ketemu Tante Lita di makam Pa!", kata Lingga. Arya menghentikan kunyahannya sebentar tapi tak lama kemudian dia melanjutkannya.


"Apa dia bahas papa?", tanya Arya. Galuh menoleh pada suaminya sebentar.


"Heum!", gumam Lingga.


"Dia mau nuntut warisan Yudis yang sudah berpindah tangan ke perusahaan kita!", kata Arya santai.


Sepertinya Papanya tahu apa yang Lita inginkan, makanya Lingga tak menceritakan detail ucapan Tante nya yang pasti sangat menyakitkan untuk di dengar.


Terdengar helaan nafas Arya hingga semua menoleh padanya yang sudah lebih dulu mengakhiri makan malamnya.


"Kalau Lita bersikap baik, papa tidak keberatan memberikan cuma-cuma padanya apa yang dia inginkan. Tapi...papa rasa percuma saja! Dia saja sudah selingkuh dari Yudis saat Yudis masih sehat dan berada. Lalu untuk apa sekarang dia mengharapkan warisan jika kemarin saja dia tidak peduli pada suaminya!", kata Arya panjang lebar.


Semua terdiam di bangkunya masing-masing. Obrolan serius itu pun berakhir dengan berakhirnya makan malam mereka. Aktivitas mereka cukup melelahkan hari ini. Makanya, usai makan malam dan ngobrol sebentar mereka kembali ke kamar masing-masing.


Apalagi besok pagi mereka akan kembali ke kampung halaman Galuh.


Di kamar Lingga...


Sepasang suami istri itu sudah merebahkan diri di ranjang king size yang mewah. Tak lupa Lingga menurunkan temperatur AC agar lebih nyaman untuk tidur karena mereka sudah terbiasa dingin di kampung. Meski pun... sebentar lagi suasana kamar akan di buat panas oleh keduanya.


"Bang!"


"Heum?"


"Papa setia banget ya sama mama!", kata Galuh sambil tersenyum.


"Abang juga setia kok sama kamu Yang! Emang ngga merasa?", tanya Lingga yang kini sudah memiringkan tubuhnya ke samping.


"Heum, setia juga sih!", jawab Galuh.


"Kok gitu jawabnya sih ?", Lingga bertanya lagi sambil meringsek di tengkuk istrinya.


"Bang...!"


"Iya...Abang berdoa dulu kok! Ngga lupa Yang!", kata Lingga. Tak lama kemudian Galuh melihat bibir suaminya yang sedang merapalkan doa sebelum berjunub 🤭

__ADS_1


"Jangan lama-lama ya bang, ingat besok Abang nyetir jauh!", kata Galuh mengingatkan.


"Liat nanti aja Yang! Apalagi kamu abis perawatan tadi di salon. Abang ngga bisa janji, cuma insyaallah!", sahut Lingga sebelum ia menuju puncak nirwana.


Galuh menghela nafas berat, mau menolak tapi itu kewajiban dan ya ...dia pun membutuhkannya heheheh


.


.


.


"Adek mana Bah?", tanya Sekar yang tak melihat Syam turun lagi setelah makan malam.


"Mungkin masih belajar Bu. Abah liat dulu deh! Kalo ibu sudah ngantuk, tidur aja. Takut nanti Ganesh bangun malam."


"Iya bah!", jawab Sekar. Salim keluar dari kamarnya menuju ke kamar Syam yang pintunya terbuka. Lamat-lamat ia mendengar Syam yang sedang berbicara. Dari nada dan ucapannya, Salim yakin dia tengah bertelepon dengan Glen.


Tak lama kemudian panggilan itu usai bersamaan dengan Salim yang mengetuk pintu.


Tok tok


"Boleh Abah masuk dek?", tanya Salim.


"Eh, Abah! masuk aja bah!",pinta Syam. Salim pun mendekati Syam yang duduk di bangku menghadap buku. Mungkin dia tengah mengerjakan tugas tapi Glen menghubunginya.


"Ada pr?", tanya Salim.


"Huum, iya bah." Salim melirik buku Syam.


"Bisa. Kalo ngga bisa biasanya di bantu sama abang kalo ngga kakak." Salim mengangguk.


"Jadi sekarang ngga ada kesulitan?", tanya Salim lagi. Syam menggeleng.


"Heum, adek emang pinter!", Salim menepuk pelan bahu Syam. Syam tersenyum mendengar pujian abahnya yang terlihat tulus itu.


"Boleh Abah tanya sesuatu yang cukup private?", tanya Salim penuh kehati-hatian.


"Private? Soal apa bah?", Syam mengernyitkan alisnya. Tapi Salim tak langsung menjawab melainkan melihat sebuah kardus yang terlihat berisi beberapa bungkus kotak dengan kertas kado bermacam-macam warna dan ukuran.


Salim bangkit dan mendekati kardus tersebut.


"Ini hadiah ulang tahun adek? Kok Abah ngga tahu adek ulang tahun sih? Tahu gitu kita bisa rayakan Dek?", kata Salim mengambil salah satu kotak kecil dengan bungkusan berwarna merah muda tak lupa pita yang dibuat indah.


"Syam belum ulang tahun bah. Nanti habis lebaran!", jawab Syam. Salim menoleh pada Syam.


"Terus, ini hadiah dari mana?", tanya Salim yang kini mendekati Syam lagi.


"Dari teman-teman!", jawab Syam datar. Salim memicingkan matanya.


"Teman sekelas kamu ngasih hadiah semua gitu?", tanya Salim heran karena kado itu cukup banyak.


"Ada yang sekelas, ada yang lain kelas juga!"


"Males bah! Buat apa! Syam menerimanya saja cuma karena menghargai mereka aja!"


"Heum? Mereka? Perempuan?", tanya Salim.


"Abah tahu dari mana?", tanya Syam balik.


"Nebak aja sih, tapi bener itu dari teman perempuan adek?"


Syam mengangguk. Salim tersenyum.


"Kalau kamu memang menolaknya, bilang aja pelan-pelan. Dari pada kamu menerima tapi ternyata hanya teronggok di rumah. Nanti mereka pikir kamu menerimanya dengan baik, seolah memberi harapan kalau kamu akan menerima lagi kalo mereka ngasih lagi."


"Begitu ya Bah?"


"Eum... mungkin!"


"Lagian pada masih kecil aja ganjen banget ya Bah! Padahal uang aja masih minta orang tua. Sok-sokan mau ngasih hadiah!", kata Syam dengan nada ketusnya. Salim terkekeh pelan mendengar celetukan Syam.


"Seusia kalian kan emang lagi masa pubertas. Masing-masing orang tidak sama melewati masa puber nya dek! Ada yang seumuran kamu, ada yang usia SMP bahkan SMA, ngga bisa di sama ratakan."


Syam mengangguk tanda mengerti.


"Ehem...kamu tahu hal apa yang menandai seorang anak perempuan dan anak laki-laki baligh?", tanya Salim penuh hati-hati.


"Tahu!", jawab Syam santai.


"Oh ya? Tahu dari mana? Dan kalo boleh tahu, coba Syam jelaskan!", pinta Salim. Syam tersenyum tipis.


"Abah jangan lupa, kalo Syam lahir dari hubungan yang tidak semestinya!"


Wajah Salim sedikit terkejut mendengar istilah yang Syam sebutkan tadi.


"Abang pernah menjelaskannya dulu, awal dia kembali sama kakak. Dan dari sana juga, Syam merasakan seperti apa punya ayah sekaligus Abang!"


Salim paham sekarang! Di mata Syam, laki-laki yang ia contoh tentu saja Lingga. Beruntung Syam bertemu Lingga sudah menjadi sosok yang baik dan wibawa seperti sekarang. Entah jika Syam bertemu di saat Lingga masih selengekan. Apakah jiwa playboynya akan ia tularkan juga???


Syam mulai menjelaskan apa yang Abangnya katakan tentang baligh baik untuk laki-laki atau perempuan. Salim cukup kagum dengan penjelasan yang Syam sampaikan padanya.


Bukan hal tabu nya yang mereka diskusikan tapi ilmu yang di dapat dari penjelasan orang yang jauh lebih mengerti.


"Apa Abah mau tanya kalo Syam udah baligh atau belum?", tanya Syam to the poin.


"Ehem! Eum...ya maaf, kalo kekepoan Abah bikin Syam tersinggung!", kata Salim.


"Abah ngga usah minta maaf. Syam justru senang kok, di perhatikan begitu!", kata Syam.


"Beneran?", tanya salim. Syam mengangguk.


"Jadi?", tanya Salim yang masih penasaran. Dia akan menjawab apa pada istri kalau di tanya lagi?

__ADS_1


"Jadi apa bah? Syam memang tahu proses reproduksi manusia. Tapi...apa yang Abah dan ibu pertanyakan, Syam jawab 'belum' ."


Terdengar helaan nafas dari bibir Salim. Dengan jawaban Syam seperti itu, ia bisa menjelaskan pada istrinya nanti.


"Lega banget kedengarannya bah?", tanya Syam tersenyum.


"Iya, Abah lega dek. Setidaknya walaupun Abah bukan ayah kandung kamu, kamu masih mau terbuka sama Abah!", ujar Salim.


"Heum, Syam juga tahu kok kejadian mati listrik beberapa waktu yang lalu itu ... sudahlah! Syam sudah cukup dewasa kok!"


Ingatan Salim melayang pada saat mati listrik dan dia bersama Sekar....


Mendadak tubuhnya menegang dan wajahnya merah menahan malu karena ucapan Syam tadi. Itu artinya ada saksi mata saat kejadian itu berlangsung. Dan yang lebih memalukan justru saksi matanya adalah syam sendiri.


"Sudah bah, Syam ngga akan meledek Abah kok. Abah tahu, Syam punya banyak laki-laki yang Syam kagumi. Pertama...Abang! Abah tahu, tidak perlu di jelaskan kenapa Syam kagum sama Abang. Kedua Abah, sekalipun Abah tahu seperti apa masa lalu ibu....Abah menerima kondisi ibu sepenuhnya, lalu Papa Arya. Dia lelaki pertama yang mengumandangkan adzan di telinga Syam dan memberi nama untuk Syam."


"Bagaimana dengan papa Glen?", tanya Salim yang sudah mampu menguasai rasa malunya. Syam terdiam beberapa saat kemudian tersenyum tipis.


"Beliau... orang yang sudah berkontribusi membuat Syam hadir dalam rahim ibu. Tapi...udah lah bah. Setidaknya sekarang hubungan kami baik."


Salim menggenggam kedua tangan Syam.


"Membenci dan di benci, tidak ada yang lebih baik!", kata Salim. Syam memandangi wajah bapak tirinya yang makin berwibawa dengan kacamatanya.


"Syam tahu bah, makanya Syam berusaha semampu Syam untuk sayang sama papa Glen."


Salim menepuk bahu Syam dengan pelan.


"Ya udah, adek istirahat! udah malam! Makasih udah nemenin Abah ngobrol!", kata Salim. Syam mengangguk tipis.


"Iya, Abah juga istirahat!", kata Syam. Salim pun keluar dari kamar Syam. Tak lupa ia menutup pintu kamar Syam lalu menuju ke kamarnya yang sudah di tunggu oleh Sekat serta Ganesh.


Tapi ternyata saat ia memasuki kamar, Sekar dan Ganesh sudah terlelap. Entah kenapa Salim merasa sedikit trenyuh jika mengingat Syam yang merasa tak di inginkan sejak bayi.


Apa reaksi Syam jika melihat Sekar memeluk Ganesh dalam tidurnya????


.


.


.


"Abang keluar dulu Yang, mau ambil minum!", bisik Lingga di samping telinga Galuh.


"Heum! Jangan lupa pakai bajunya!", kata Galuh dengan suara seraknya.


"Iya!", sahut Lingga singkat. Ia pun memakai kaos singlet dan sarungnya lalu keluar dari kamarnya. Kebetulan si bibi alias art nya berada di rumah yang berbeda. Alhasil, rumah itu hanya di huni oleh para majikan.


Saat tiba di dapur, ternyata ada Puja yang sedang meminum teh.


"Belum tidur kak?", tanya Lingga yang langsung membuat Puja menoleh.


"Eh, udah tadi. Tapi kebangun ngga bisa tidur lagi!", jawab Puja. Lingga beralih mengambil air putih di dalam kulkas.


"Habis lembur lagi kamu Ga?", ledek Puja. Lingga yang sedang meminum pun sedikit tersedak.


"Iya! Mending di sini, ngga usah sewa hotel! Mahal!", kata lingga duduk berhadapan dengan kakaknya.


"Gaya Lo, Ga!", sahut Puja terkekeh pelan.


"Apa ada masalah di kantor?",tanya Lingga pada Puja.


"Biasa lah!", jawab Puja enteng.


"Terus, kenapa ngga bisa tidur lagi?", tanya Lingga.


"Ngga apa-apa!", jawab Puja santai.


"Oh iya, apa kak Puja menempatkan bodyguard di sekitar kak Vanes dan Angel?", tanya Lingga. Ia ingat betul jika papanya dan bapak mertuanya memiliki orang-orang yang menjaga mereka selama ini.


"Bukan kakak, tapi papa mertua Ga. Kamu tau seperti apa papanya Vanes!", kata Puja. Lingga mengangguk mengerti. Dia cukup mengenal seperti apa khawatirnya papa mertua Puja pada Vanes.


"Itu karena mereka sayang sama kak Vanes, kak!"


"Iya."


"Ya udah aku balik ke kamar, besok pagi kan mau balik."


"Sepi lagi rumah ini!", celetuk Puja.


"Lain kali kami nginep rame-rame dan lama di sini!l lho kak...", Lingga membawa gelas dan botol ke kamarnya. Sedang puja sendiri pun bangkit dari bangkunya lalu beranjak ke kamarnya.


Sesampainya di kamar, Galuh sudah berganti pakaian yang layak tidak seperti tadi usia berperang dengan suaminya.


"Minum dulu Yang! Kalau lapar, bilang Abang ya. Art kan di rumah belakang semua."


Galuh mengambil gelas yang ada di tangan suaminya. Baru lah setelah itu, ia meneguknya hingga tandas.


"Masyaallah, haus Bu Haji????", ledek Lingga.


"Yang bikin saya haus teh bapak mereun! Poho atau pura-pura aja biar ngga di salahkan???", sindir Galuh.


"Hehehe bercanda Sayang!", kata Lingga sambil mengambil gelas di tangan Galuh.


"Tidur yang, udah mau tengah malam. Besok bangun pagi!", titah Lingga.


"Iya bang, iya??!", lalu Galuh pun kembali merebahkan dirinya. Tak lama kemudian ,Lingga pun sama-sama rebahan lalu setelah itu ia memeluk erat istrinya.


*********


Terimakasih 🙏✌️✌️


21.10

__ADS_1


__ADS_2