
Di sebuah gedung megah....
"Jadi, mulai hari ini perusahaan AS grup akan di pimpin oleh putra pertama saya, Puja Narendra Putra."
Suara tepukan menggema di ruang meeting gedung tersebut. Setelah acara perkenalan dengan pimpinan baru, karyawan Arya pun menyalami bos barunya yang tampan seperti halnya dengan bos besar mereka sebelumnya.
Kini, Arya dan Puja menempati sebuah ruangan yang awalnya di huni oleh Arya. Interiornya kebetulan sesuai selera Puja yang memang manly seperti halnya dengan Arya. Tidak ada yang namanya dekorasi atau aksesoris tak penting di ruangan tersebut.
"Kalau ada yang ingin kamu rubah, papa tidak keberatan. Saat ini ruangan ini adalah milikmu!", kata Arya sambil mendudukkan diri di sofa.
"Selera kita sama Pa, apa yang harus ku rubah?", tanya Puja tersenyum.
"Heum, baiklah kalau kamu memang tak ingin merubahnya."
"Pa!", panggil Puja. Arya pun menoleh.
"Terimakasih papa sudah berubah sekarang. Aku senang melihat papa yang seperti ini. Maaf, kalau aku dan Lingga tidak bisa menjadi seperti yang papa inginkan."
"Justru harusnya papa yang minta maaf. Kalian terpaksa harus kehilangan masa kanak-kanak dan remaja kalian karena ulah papa yang memaksa kalian untuk melakukan kegiatan sesuai keinginan papa!"
Puja menggeleng pelan.
"Jika papa tak menggembleng kami seperti itu, mungkin anak-anak papa tidak akan setangguh sekarang!"
Arya terkekeh pelan. Akhir-akhir ini wajah Arya lebih sering terlihat tersenyum dan tertawa lepas.
"Ya, papa beruntung memiliki anak-anak yang hebat seperti kamu dan Lingga!", kata Arya.
"Tidak hanya kami berdua Pa. Ada Vanes dan Galuh menantu-menantu cantik papa. Ada Angel dan Ganesh yang juga kelak akan jauh lebih hebat dari kami!"
"Aamiin!", kata Arya sambil tersenyum. Ia merasa sangat bahagia. Anggota keluarganya kini sudah lengkap dengan berdamainya hubungan antara dia dan Lingga.
Dan juga sosok Arsyam kecil yang selalu mengingatkan dirinya dengan bayi mungil yang harus meregang nyawa karena keteledorannya.
"Pa ... kenapa? Kenapa tiba-tiba wajah papa sendu seperti itu?", tanya Puja.
"Papa hanya ingat Arsyam. Seandainya dia masih ada, pasti usianya sudah dewasa seusia Galuh."
"Pa, sudah! Arsyam sudah di tempatkan di tempat paling mulia. Dan sekarang, ada Arsyam yang bisa papa sayangi seperti anak sendiri!", kata Puja.
"Iya, kaya Malika si kedelai hitam ya Puja!", jokes Arya pada Puja dengan wajah datarnya yang tak menampakkan dirinya sedang bercanda.
"Malika siapa?", tanya Puja bingung. Wajar dia tak tahu, dia berada di Kanada bertahun-tahun sejak lulus kuliah dan bahkan melanjutkan kuliah S2 di sana.
"Lupakan!", ujar Arya.
"Oh...ya sudah. Eh, Lingga bilang hari ini dia dalam perjalanan menuju ke sini. Besok grand opening kafe baru mereka setelah selesai di renovasi."
"Baru buka besok! Dasar anak itu!", kata Arya.
"Ya wajar Pa, Lingga baru punya bayi. Wajar saja kalau dia pengen selalu dekat dengan putranya. Bukan hanya Lingga, papa saja kalau tak ada urusan dengan kepentingan Tante Helen juga pasti masih di sana!", sindir Puja.
__ADS_1
"Ckkk...sok tahu kamu Puja!", cebik Arya. Puja terkekeh mendengar sangkalan Arya.
Tapi dalam sudut hatinya, Arya membenarkan ucapan Puja.
"Jadi, kapan rencana papa akan mendekatkan diri dengan menantu dan cucu papa di kampung sana?"
"Ehem! Menurut kamu, lebih baik papa beli tanah di sekitar rumah Galuh atau beli rumah yang siap huni tapi jaraknya cukup lumayan?", tanya Arya.
"Aku ngga bisa kasih masukan Pa. Kembali ke selera papa!", kata Puja. Arya mendengus kesal. Putra sulungnya memang tak bisa di ajak diskusi.
"Papa rundingan dong sama mama. Kan kalian yang mau tinggal!", lanjut Puja.
"Iya, nanti coba papa tanya mama saja!", kata Arya.
"Terimakasih mang!", kata Sekar pada Salim yang mengantarkannya ke kost Galuh.
"Sama-sama Bu!", jawab Salim.
"Ya udah kalau mang Salim mau istirahat dulu di sini ngga apa-apa!"
"Tidak usah Bu, saya langsung balik saja. Barang kali ada anak-anak pabrik yang butuh bantuan saya sambil menunggu Den Syam pulang sekolah."
"Oh, ya sudah kalau begitu. Saya masuk mang, permisi!", pamit Sekar.
Salim pun mengangguk ia kembali ke dalam mobil yang siap melaju ke arah kampung Galuh. Sambil mengusir kesepian, ia pun menyalakan musik.
"Ibu? Kapan datang?", sapa Lingga dan Galuh yang sama-sama akan keluar dari kamar kost mereka.
"Belum lama ini kok Kak, bang!", jawab Sekar.
"Oh, kirain dari tadi. Tapi kok ngga ngetuk pintu. Ke sini sama siapa Bu?", tanya Lingga celingukan yang tak melihat keberadaan orang lain selain mertuanya.
"Sama mang Salim."
Lingga hanya ber'oh' saja.
"Abang udah mau berangkat ke kota?", tanya Sekar.
"Iya Bu, nitip Galuh sama Ganesh ya Bu!", kata Lingga.
"Apaan sih bang!", kata Galuh manyun. Sekar tersenyum tipis melihat bibir Galuh yang manyun.
"Sudah-sudah! Kamu tenang aja bang. Tanpa kamu bilangin, ibu pasti jagain anak sama cucu ibu."
"Makasih ya Bu!", kata Lingga tersenyum. Lalu ia mencium punggung tangan ibu mertuanya.
"Abang jalan ya Yang! Jaga diri baik-baik sama anak kita!", Lingga memperingatkan Galuh.
"Iya bang, iya.... insyaallah!", ujar Galuh. Lingga pun mendaratkan kecupan di kening Galuh. Tak ada rasa malu sama sekali ia beradegan seperti itu di depan ibu mertuanya.
Mungkin dalam hati Sekar, percuma pura-pura ngga lihat. Dia susah terbiasa melihat kemesraan mereka berdua sejak mereka di pertemukan kembali di dalam ikatan yang lebih sakral.
__ADS_1
"Assalamualaikum!", pamit Lingga.
"Walaikumsalam!", jawab Sekar dan Galuh bersamaan.
Lingga pun meninggalkan dua perempuan cantik berbeda usia tersebut.
"Ibu mau masuk dulu?", tanya Galuh.
"Ngga usah lah, kita langsung ke rumah sakit. Ibu udah ngga sabar pengen liat cucu ibu!", kata Sekar dengan riang.
Galuh tersenyum dan bersyukur dalam hatinya. Jika beberapa tahun yang lalu, ibunya seperti mayat hidup, tidak dengan sekarang.
Sekar jauh lebih segar dan ceria belakangan ini seperti orang yang sedang jatuh cinta. Wajahnya selalu berseri.
Tapi.... benarkah ibunya sedang jatuh cinta? Tapi pada siapa??? Galuh berharap, sosok itu bukan papanya Syam!
"Bu!", panggil Galuh yang sedang berjalan beriringan menuju rumah sakit.
"Heum?", gumam Sekar.
"Ibu bahagia?", tanya Galuh untuk pertama kalinya mempertanyakan hal itu.
"Ya...tentu saja ibu bahagia Luh!", jawab Sekar.
"Ibu bahagia melihat Syam sudah berdamai dengan ayah kandungnya?", tanya Galuh. Sekar mengangguk dan tersenyum tipis.
"Iya, Syam berhak mendapatkan pengakuan dari keluarga ayah kandungnya. Kamu sendiri bisa melihat kan kalau Syam begitu bahagia sekarang? Bahkan sekarang dia sudah banyak bicara, tidak pendiam apalagi ketus, kadang-kadang!"
"Hehe. Iya Bu. Alhamdulillah, Galuh merasa sedikit terangkat beban di pundak Galuh. Syam dan keluarga papanya berdamai. Apalagi Tante Helen yang dulu begitu menentang, sekarang juga dengan tangan terbuka membiarkan Syam masuk ke dalam lingkungan mereka."
"Iya Luh. Jujur, ibu benar-benar merasa bersalah saat itu menolak pertanggungjawaban dari papanya Syam. Kalau saja waktu itu ibu tak menolaknya, mungkin Syam tidak akan sesakit itu dan ibu tidak gi-la!"
"Ibu ngga gila. Tolong jangan bicara seperti itu lagi."
Sekar menoleh dan tersenyum. Jarak rumah sakit dan kost Aini tidak jauh.
"Boleh Galuh bertanya sesuatu, Galuh harap ibu jujur!"
"Serius sekali wajah kamu Luh? Apa yang harus ibu jawab dengan jujur?", tanya Sekar.
"Ibu...sedang tidak kasmaran dengan Om Glen kan bu?", tanya Galuh tepat sasaran dengan mata yang terlihat begitu penasaran.
Sekar membulatkan matanya tak percaya mendengar pertanyaan sang putri.
Bagaimana bisa putrinya berpikir seperti itu....????
*****
Cuacanya syahdu bener ngga sih??? Mohon maaf kalo banyak typo ya. Tapi semoga bisa di pahami dan di maklumi πoleh kalian para reader's kesayangan π€π€
Tiga hari ke depan bakal sibuk di dunia nyata. Jadi up nya ngga tentu jam berapa. Terimakasih πππππ
__ADS_1