
"Eh...adek sama Abah teh dari mana?", tanya Galuh.
"Habis antar pesenan belanjaan kak!", jawab Syam.
Galuh pun mengangguk mengerti. Sesekali ia menepuk bokong Ganesh yang ada di gendongannya. Ibunya sedang menghangatkan lauk untuk mereka makan malam.
"Abang mana kak?"
"Di kamar lagi siap-siap mau ke mushola"
"Syam juga mau ke mushola deh! Abah ikut kan?", tanya Syam pada Salim.
"Iya. Ya udah Abah mau ganti baju sama pakai sarung dulu!",pamit Salim. Syam pun melakukan hal yang sama seperti Abah nya tersebut.
Ting...
Ada chat masuk di ponsel Galuh. Perempuan cantik itu mengambil ponselnya yang sengaja ia letakan di atas meja ruang tengah. Dia membaca sesaat baru setelah itu ia meletakkan kembali ponselnya.
Tapi belum lama ponsel ia letakkan di meja, banyak pesan yang masuk lagi. Galuh hanya mengintip tanpa membukanya karena cukup terlihat dari matanya yang memang sudah empat sejak lama.
"Hp kamu bunyi dari tadi lho Yang!", kata Lingga meraih ponsel Galuh di meja.
"Tadi udah baca." Sekarang Lingga yang membaca ruang obrolan di grup alumni.
"Undangan reuni Yang? Mereka ngetag kamu mulu deh Yang!", kata Lingga lagi.
"Ngga ah, males datang aku bang!", jawab Galuh.
"Lho.... bukannya seneng ya kalo reuni tuh? Bisa nostalgia sama kenangan putih abu-abu?"
Galuh tersenyum tipis.
"Mungkin kenangan Abang banyak senengnya, ngga kaya aku!", kata Galuh.
"Kenapa begitu?", tanya Lingga sambil menoleh ke belakang yang ternyata Syam sedang mengambil wudhu.
"Abang inget motor butut yang menjadi perantara kita menikah dulu?", tanya Galuh. Lingga berdehem sesaat lalu mengangguk.
"Heum, kenapa?"
"Di saat mereka memakai roda dua nya dengan segala merk mau bebek atau matic, aku masih pakai yang butut sampai aku lulus."
Lingga menunduk sesaat.
"Lantas apa hubungannya dengan motor kamu Yang?"
Sekarang Galuh yang menghela nafas berat.
"Mereka segan menyapa ku kecuali dua sahabat ku yang sekarang sudah dinas di luar pulau Jawa. Aku tidak masuk ke dalam kriteria level mereka."
"Kamu di bully Yang?", tanya Lingga. Galuh menggeleng.
"Mana ada sih seorang Galuh di bully bang!", kata Galuh terkekeh pelan.
"Iya sih, keliatan waktu lawan Abang di gubug cinta hehehe!"
"Dih...alay!", sahut Galuh.
"Hehehe biarin. Tapi kenapa atuh kamu ngga berangkat aja Yang! Ngga semua kan benci atau tidak suka sama kamu? Kalo kamu mau, Abang bisa temenin?"
"Iya. Cuma...jujur aku males bang. Emang sih ngga bisa di samaratakan setiap acara reuni pasti ada aja yang ya.... gitu lah!"
"Gitu apa? Flexing? Atau pamer atau apa ?"
"Seringnya begitu bang. Sekali lagi tidak selalu seperti itu, tapi kebanyakan mah iya. Yang suka rantang runtung ke sana kemari, dresscode, arisanlah apa lah.... sejauh ini aku belum tertarik bang. Lagi pula...aku malas kalau ada yang nanti menghina atau merasa unggul satu sama lain."
"Jangan bilang kamu insecure Yang? Tapi kamu bukan tipe introverrt kok?", Lingga memundurkan kepalanya.
Galuh mengedikkan bahunya sedang tangannya mengusap punggung Ganesh.
"Yang, mereka pasti mikir-mikir sekarang kalo mau membully kamu, Nyonya Galuh Arlingga?!", Lingga menaikturunkan alisnya.
Ujung bibir Galuh terangkat tipis. Suaminya memang kadang-kadang...
"Emang anda siapa ya pak? Perdana Mentri?", tanya Galuh balik sambil tertawa.
"Bukan lah, tapi suami dari Galuh Prastian!", sahut Lingga.
"Ya Allah, ampunilah dosa suamiku yang setiap hari seolah bucin padaku!", kata Galuh hiperbola.
Lingga tertawa lepas. Ia benar-benar senang jika suasana hati istrinya kembali bagus.
"Yuk bang?!", ajak Syam dan Salim di belakangnya.
"Abang jalan dulu Yang! Nanti sholatnya gantian aja Yang sama ibu!", pinta Lingga.
"Iya gampang nanti bang! Udah buru jalan sana, keburu azan!"
"Iya ...!", sahut Lingga.
__ADS_1
"Assalamualaikum!",pamit tiga lelaki beda usia itu.
"Walaikumsalam!", jawab Galuh.
.
.
.
"Kakak sholat gih, ibu udah nih! Ganesh sama nenek yuk!", ajak Sekar pada Ganesh. Bayi chubby itu tak keberatan sama sekali ikut neneknya.
Galuh pun Solat Magrib di kamarnya. Beberapa menit berlalu, perempuan cantik itu sudah selesai. Saat akan melipat mukenahnya terdengar dering ponsel. Tapi seingat Galuh, ponselnya ada di ruang tengah. Itu artinya itu bunyi ponsel suaminya.
Galuh menghampiri ponsel Lingga yang ada di meja riasnya. Ada sebuah nomor asing yang memanggil.
"Siapa?", monolog Galuh karena tidak ada nama di kontak tersebut. Hanya ada foto profil bergambar jam tangan mewah.
[Hallo assalamualaikum?]
[Ehhem...hallo,bisa bicara dengan Lingga?]
Galuh menjauhkan ponselnya dari telinganya lalu melihat kembali nomor tersebut. Kalau memang rekan bisnis Lingga, sudah tentu dia tak akan memanggil nama suaminya begitu saja.
[Maaf, dari mana ya?]
[Ckkkk...aku mau bicara sama Lingga, ada ngga?]
Galuh menggeleng heran.
[Maaf ya Bu, ada perlu apa sama suami saya? Kalau memang ada kepentingan, katakan saja pada saya. Nanti saya sampaikan pada beliau.]
[Ibu??? Kamu tuh ya...!]
Galuh makin mengernyitkan alisnya.
"Jangan-jangan....???", gumam Galuh.
[Maaf ya Bu, kalau boleh saya memberikan saran. Lain kali kalau mau telpon liat waktu. Ini masih jam nya orang sholat ya. Kalo memang tidak ada pesan, saya matikan]
[Heh!? Ngga bisa gitu dong, aku ada urusan bisnis sama Lingga. Kamu mana tahu urusan bisnis. Cuma perempuan kampungan]
Galuh menghela nafas panjang. Dia sudah menebak siapa perempuan yang menghubungi suaminya. Tapi Galuh memilih mengabaikan suara Karen yang merepet tak jelas. Di letakkannya ponsel Lingga dalam posisi telungkup.
Galuh melanjutkan melipat mukenahnya. Di saat yang sama, tiba-tiba Lingga datang diam-diam lalu memeluk Galuh dari belakang.
"Astaghfirullah! Abang! Ngagetin aja deh! Salam kenapa?", oceh Galuh.
"Walaikumsalam!", jawab Galuh.
"Yang ...!"
"Heum?", gumam Galuh.
"Makan yuk!", ajak Lingga.
"Iya, sebentar! Awas dulu bang, biar cepat selesai terus kita makan!", kata Galuh menyingkirkan tangan Lingga dari perutnya.
"Bukan makan yang itu Yang....!", kata Lingga manja. Galuh melotot tajam pada suaminya.
"Hahahaha! Biasa aja dong Yang, ya Allah tolong!", kata Lingga sambil melepaskan pelukannya. Galuh tak heran jika sikap suaminya seperti itu.
Usai melepaskan pelukannya, Lingga mengambil ponselnya yang dalam posisi tertelungkup. Dia cukup terkejut saat melihat ada panggilan aktif dari nomor yang tak di kenal.
Kalau begitu...si penelpon pasti mendengar obrolan menjurus antara dirinya dengan Galuh.
[Hallo?]
Tut...tu...Tut...
Panggilan itu langsung terputus. Lingga melihat lagi ponselnya. Melihat durasi panggilan yang ternyata cukup lama.
"Siapa yang telpon tadi Yang?"
"Mantan kamu kayaknya deh!", jawab Galuh.
Lingga menautkan kedua alisnya.
"Siapa Yang!?", ulang Lingga pelan. Galuh menghela nafas pelan.
"Begini nih kalo kebanyakan mantan, sampe bingung mantan kekasihnya yang mana!", Galuh menggeleng.
"Astaghfirullah Yang! Jangan bahas gitu lagi kenapa heum?", Lingga memeluk istrinya lagi.
"Iya iya! Dari bahasanya sih, itu Karen!", jawab Galuh.
"Lha? Darimana dia tahu nomor Abang?", tanya Lingga.
"Kok bapak nanya saya?", tanya Galuh balik berlagak formal. Lingga menyentil dahi Galuh tapi setelah itu mengecupnya sebelum istrinya protes.
__ADS_1
"Heran aja Yang, Abang ngga pernah komunikasi sama teman seangkatan Abang jaman SMA!"
"Kan Alex masih seangkatan Abang, lupa?"
"Oh iya ya? Jangan-jangan dia dapat nomor Abang dari Alex!"
"Udah lah ngga penting dia dapat nomor Abang dari mana!", kata Galuh melepaskan lagi pelukan suaminya, kebiasaan!
"Tapi jangan marah dong Yang! Abang kan ngga ngasih nomor Abang ke dia atau yang lainnya?!"
"Siapa yang marah sih bang, ya ampun!", Galuh menggelengkan kepalanya.
"Bener ya?"
"Iya!"
"Abang janji akan selalu terbuka sama kamu Yang! Ngga akan ada rahasia-rahasiaan di antara kita. Selama ini kita bebas buka ponsel kita masing-masing kan?"
"Aku percaya sama Abang! Udah yuk kita makan, udah di tunggu yang lain."
Galuh meninggalkan kamar lebih dulu di bandingkan Lingga.
.
.
.
[Pa, Tante Lita semakin keterlaluan tahu ngga!?]
Puja sedang mengadu pada Arya.
[Tinggal libas aja, Puja!]
[Aku ngga setega itu Pa, gimana juga Tante Lita itu orang tua]
[Memang papa nyuruh kamu buat pukulin dia? Ngga kan?]
[Terus apa?]
[Memang apa yang udah Lita lakukan?]
Puja menceritakan tentang kelakuan Lita yang bar-bar saat Puja dan stafnya sedang melakukan rapat. Bahkan tanpa segan-segan ia menghina Arya dan juga Galuh yang tak ada sangkut pautnya sama sekali.
[Kok jadi bawa-bawa Galuh sih?]
[Ngga tahu tuh Pa, katanya Galuh salah satu penerima pengalihan aset Yudis. Apalagi sekarang papa juga di kampung Galuh. Tuduhan Tante Lita makin menjadi-jadi]
Arya menghela nafas beberapa saat.
[Kalau dia sudah tidak kooperatif, keluarkan saja semua buktinya! Tak usah memikirkan apakah akan memalukan untuknya atau tidak! Jangan pedulikan!]
[Tapi Pa...]
[Kalau kamu tidak tega, biar Lukas yang melakukannya]
Puja tak tahu harus berbuat apa selain menuruti perintah papanya yang sudah pasti sudah memikirkan masak-masak apa akibatnya jika masalah warisan itu di up ke publik.
Bukan hanya nama papanya yang akan tercatut, tapi juga Lingga dan terutama Galuh yang bahkan sama sekali tak mengenal Lita hanya karena tuduhannya yang berdasarkan pemikirannya sendiri.
[Iya pa]
Setelah mematikan ponselnya, Arya menghampiri Gita yang sudah selesai menyiapkan makan malam mereka.
"Puja ada masalah di perusahaan?", tanya Gita pada suaminya.
"Lita berulah lagi di kantor Ma!", jawab Arya sambil meminta piring nya di isi nasi oleh Gita.
"Apa ngga sebaiknya berikan saja pa, secukupnya saja!", kata Gita yang sekarang mengambil lauk untuk Arya.
"Lita mana pernah merasa cukup, Ma. Mau seberapa pun dia akan tetap berusaha merongrong yang bukan haknya!"
"Dari pada dia bikin repot Puja terus?"
Arya mengunyah makanannya.
"Nanti Lukas yang akan membereskannya. Dia sudah mulai bertingkah! Pakai menyeret Galuh dalam urusannya yang tak penting itu."
"Kok Galuh? Apa urusannya?", Gita pun bingung.
"Dikira nya aset Yudis beralih ke Galuh. Apalagi sekarang papa juga di kampung ini. Itu pemikiran orang licik!"
"Ya Allah, Pa ...", Gita menarik nafas dalam-dalam. Semoga Lita tidak melakukan apapun yang akan membuat anak dan menantu bungsunya susah.
****
Terima kasih
🙏🙏🙏🙏
__ADS_1
09.13