Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 156


__ADS_3

"Anda berbicara apa Tuan?", tanya Salim. Glenn menyimpan kedua tangannya di saku celana bahannya. wajah bossy dan arogan terlihat jelas di wajah tampannya tersebut.


"Dari obrolan kalian semalam, benarkah kamu akan menikah dengan ibunya Syam?",tanya Glen to the poin.


"Insyaallah Allah berkehendak Tuan."


"Kamu yakin akan menikahi perempuan yang pernah depresi?", tanya Glen. Salim meremas kedua tangannya.


Meski benar begitu adanya, tapi bukankah itu hanya masa lalu? Toh sekarang kondisi Sekar baik-baik saja.


"Saya tahu tuan. Tapi mungkin apa yang terjadi saat itu juga ada andil anda bukan?", tanya Salim tanpa keraguan sedikit pun hingga Glen menoleh terkejut.


Di pelototi seperti itu tak membuat Salim menciut. Lelaki berusia hampir seumuran itu membenarkan posisi kacamatanya.


"Iya, aku sadar jika aku sudah melakukan sebuah kesalahan besar!", kata Glen mengakui perbuatannya yang bejat.


"Jika anda memang sudah menyesali perbuatan anda, lantas apa ada urusannya jika Sekar akan menikah. Entah itu dengan saya ataupun lelaki lain sekali pun?"


Glen melengos tak berani menatap wajah supir dari Kakak iparnya tersebut.


"Tuan, maaf jika saya lancang! Anda memang ayah biologis Syam, tapi anda bukan suami atau mantan suami Sekar. Sekar perempuan bebas, yang cerai mati dengan mendiang suaminya."


"Aku tahu, kamu tak perlu menjelaskannya! Aku hanya ingin mengatakan jika depresi seperti itu tidak akan benar-benar sembuh!", kata Glen.


"Saya tahu itu! Perasaan cemas yang berlebihan bisa mengganggu psikis Sekar. Tapi jika tidak ada yang memicunya, insyaallah dia akan baik-baik saja!", kata Salim.


Oh...Glen tak tahu, Salim tak sebodoh yang lelaki itu bayangkan!


Glen terdiam tak lagi bisa menjegal ucapan Salim yang benar adanya.


"Justru saya merasa curiga tuan! Maaf! Sebaiknya... segera hapus perasaan anda pada Sekar!"


Glen menatap Salim dengan nyalang karena ucapannya barusan.


"Hati-hati kalau bicara Salim!", hardik Glen.


"Maaf jika saya salah! Tapi sebagai sesama laki-laki, tentu saya memahami hal itu. Sekali lagi saya minta maaf atas kelancangan saya! Tolong jaga perasaan nyonya Helen. Karena bukan hanya Sekar saja yang anda sakiti, tapi istri anda mungkin jauh lebih sakit hati."


Wajah Glen memerah. Marah? Kenyataannya seperti itu!!!!


"Anda berhak marah atas ucapan saya tuan. Saya sadar diri jika saya hanya lah seorang supir. Tapi... semoga hati anda terbuka, apa yang saya katakan adalah fakta!"


Nafas Glen memburu tapi ia juga tak berani menatap supir kakak iparnya tersebut.


"Saya tahu, Syam menginginkan berada dalam keluarga yang utuh. Tapi dia tak ingin egois! Dia tidak ingin bahagia sendiri di atas kesedihan saudara perempuannya sendiri."


Perlahan, Glen mulai bisa meredam amarahnya. Wajah Zea dan Syam melintas di kepalanya. Dua wajah yang hampir mirip itu seolah menegaskan bahwa bahagia tidak harus selalu bersama.


"Tuan! Saya tahu, saya hanya orang kecil yang mungkin tak tahu diri mencintai besan majikan saya sendiri. Tapi...."


"Saya tidak pernah memandang status sosial orang lain Salim!!", kata Glen. Mungkin dia lupa pernah meremehkan Lingga saat membawa dump truk awal pertemuan mereka lagi.


"Iya, saya tahu kalian tidak seperti itu."


Glen masih tak mau menatap Salim.


"Tuan, maaf jika tebakan saya salah. Apakah anda merasa takut jika Syam akan menjauh dari anda andaikata saya dan Sekar menikah?", tanya Salim.

__ADS_1


Glen tak langsung menjawabnya. Dia sendiri bingung. Sebenarnya apa yang dia takut kan???


Syam yang semakin dekat dengan Salim atau rasa cemburunya pada Sekar????


Tak ada jawaban apapun dari Glen hingga dering ponselnya berdering nyaring. Ternyata dia sudah di tunggu untuk meeting di pabriknya.


"Aku rasa cukup pembicaraan kita Salim! Dan aku harap, kamu tidak mengambil posisi ku sebagai papa nya Syam!", kata Glen meninggalkan Salim begitu saja menuju ke mobilnya.


Salim hanya memandangi punggung tegap ayah biologis Syam tersebut hingga masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian, mobil itu pun melesat meninggalkan halaman rumah Sekar.


Salim sendiri kembali ke pabrik karena memang belum ada tugas apa pun dari Arya atau yang lain.


Ternyata Sekar sedari tadi mengintip Salim dan Glen yang mengobrol. Perempuan itu tak tahu saja jika sumber obrolan mereka berdua itu karena dirinya.


Perempuan yang sudah memiliki cucu itu masih betah berada di belakang jendela hingga dua mobil itu berlalu.


Saat Sekar menoleh, ia dikejutkan oleh wajah Galuh yang hampir menempel di wajahnya juga.


"Astaghfirullah, kakak!", pekik Sekar terkejut melihat si sulung ada di belakangnya.


"Ibu liatin siapa? Om Glen? Mang Salim?", tanya Galuh tanpa permisi. Karena dia sempat melihat Glen dan Salim mengobrol.


"Ng-ng-ngga kok!", kilah Sekar.


"Oh, kirain!", Galuh mengedikan bahunya. Perempuan itu kembali duduk di bangku lagi.


Sekar jadi salting saat putri sulungnya seolah sedang menangkap basah dirinya yang melihat dua lelaki tampan mengobrol.


Selesai sarapan, Galuh membawa bekas makanan nya ke dapur.


"Bu, kakak ke kamar ya. Takut Ganesh bangun." Sekar pun mengangguk pelan.


"Ganesh udah bangun? Kenapa atuh ngga manggil aku bang?", tanya Galuh meraih Ganesh ke dalam pelukannya.


"Takut kamu repot di belakang Yang. Udah ngga apa-apa, orang Ganesh juga ngga rewel kok!", kata Lingga.


"Ya udah iya iya! Abang sarapan dulu deh sana!", pinta Galuh.


"Iya sayangku!", sahut Lingga. Tapi sebelum ia masuk kamar mandi, ia menyempatkan diri mencium Ganesh.


.


.


.


"Cucu Oma udah ganteng banget sih???", sapa Gita yang baru saja tiba bersama Arya.


"Udah mandi Oma!", kata ku dengan suara anak kecil yang di buat-buat.


"Boleh Oma gendong?", tanya Gita.


"Boleh dong Ma!", jawab Galuh. Arya dan Lingga tampak mengobrol serius. Hingga beberapa menit berlalu, Gita meminta ku untuk beristirahat saja di kamar dan membiarkan Ganesh di asuh oleh dua neneknya.


Tak lama setelah Galuh masuk, ternyata Lingga pun ikut masuk ke dalam kamar. Mungkin dia ada hal yang harus di ambil.


"Abang mau pergi?", tanya Galuh.

__ADS_1


"Ngga yang, cuma mau pakai celana panjang aja!", jawab Lingga.


"Oh...!", sahut Galuh. Lingga yang menyadari istrinya berubah pun mendekati Galuh yang duduk di ranjangnya.


"Mama sama ibu, minta aku suruh istirahat aja!", kata Galuh.


"Ya udah atuh istirahat!", pinta Lingga.


"Abang ngga ke mana-mana kan?"


"Ngga tahu Yang, belum ada jadwal apa-apa."


Galuh menggelendot manja pada suaminya sendiri.


"Kenapa heum? Apa yang sedang kamu pikirkan?"


Galuh hanya menggeleng pelan.


"Lagi kangen sama Abang!", kata Galuh manja.


Masyaallah manja banget!


"Kenapa Yang? Cerita sama Abang ! Jangan sembunyiin apa pun dari Abang!"


"Aku hanya takut bang "


Lingga memeluk erat istrinya dengan hangat.


"Apa yang kamu takuti yang?", tanya Lingga lirih.


"Aku takut Abang berpaling dari ku karena aku yang masih masa nifas."


"Astaghfirullah! Kepikiran aja ngga yang!"


"Alhamdulillah deh kalo gitu!"


"Kamu masih ragu sama cinta Abang heum?"


"Bukan bang, aku hanya takut kalau Abang bakal begitu begini karena aku yang lagi halangan...."


"Stttt...Abang bisa nunggu sampai semua beres Yang. Ngga usah berpikir yang buruk-buruk."


"Tapi..."


"Menikah itu untuk mencari ridho Allah Yang, bukan cuma having se* untuk sekedar menuntaskan hasrat. Paham?"


"Paham bang?!", jawab Galuh.


"Mumpung Ganesh sama dua neneknya, kamu istirahat aja yang?!"


"Huum , iya bang", jawab Galuh.


*****


21.44


Kalo ngga nyambung atau typo mohon maaf ya, sambil ngantuk nulisnya 🤭🤭😆

__ADS_1


Terimakasih yang sudah ngintip sampai bab ini. I love you full....😘😘😘😘


🙏🙏🙏🙏✌️✌️✌️✌️✌️


__ADS_2