
Lingga dan Puja duduk di teras belakang yang menghadap ke kebun. Tidak punya tetangga? Punya sih, hanya saja jaraknya agak jauh beberapa meter dari sana.
"Kakak dengar, kamu ikut nyumbang benerin jalan kampung dari depan ya?", tanya Puja.
"Heem!", jawab Lingga singkat.
"Ckk....kamu ngga lagi modus kan? Nyari simpatisan buat pilih kamu buat jadi RT kek lurah kek?", tanya Puja tersenyum meledek.
"Hahaha buat apa? Sorry kak, aku ngga tertarik sama birokrasi dan sejenisnya. Biarkan mereka bekerja sesuai bidang mereka, dan aku dengan bidang ku!", jawab Lingga.
"Kamu kan lulusan hubungan internasional dari Kanada Ga, masa iya ga ada niat gitu?"
"Gak kak! Udah, itu bukan bidang kita. Ga perlu bahas urusan yang kita ga tahu!", jawab Lingga.
"Terus bidang kamu apa? Kuliner? Retail? Agrobisnis? Bahan pangan? Bahan baku bangunan? Bidang apa lagi?", tanya Puja.
"Judul nya mah bisnis Kak! Tapi bukan bisnis seperti yang papa dan Kak Puja geluti."
"Heum, emang!", sahut Puja.
"Gini kak! Prinsip berbisnis aku dan Galuh tuh gini. Kita di beri kepercayaan memiliki ladang rejeki dari bidang yang berbeda-beda. Kenapa? Alhamdulillah, karena Allah percaya jika kami mampu menjaga kepercayaanNya."
Puja menautkan kedua alisnya.
"Jika dalam berwirausaha usaha yang di pikirkan hanya untung ruginya saja, selamanya kita akan tetap merasa kurang dan selalu kurang meski pun harta kita sudah segunung!"
Puja masih menyimak dan mendengarkan 'wejangan' sang adik.
"Kami bersyukur di beri kesempatan membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain. Mungkin benar, gaji yang kami berikan tidak membuat mereka kaya. Tapi setidaknya bisa membantu kelangsungan hidup mereka, meski tak sepenuhnya."
"Dan soal jalan yang kakak bahas tadi, sebenarnya itu hal yang lumrah kok. Kan aku sendiri juga pakai itu jalan buat mobilitas bisnis kami. Jadi, jangan seolah-olah aku ini sangat berjasa sudah membuat jalan itu menjadi bagus. Karena apa? Kebaikan yang kita lakukan akan kembali ke dirinya kita sendiri."
"Kak Puja tahu amal jariyah?", tanya Lingga. Puja diam, ilmu nya memang masih di bawah rata-rata meski lahir dari keluarga muslim. Sayangnya, baik mama atau papanya bukan muslim taat yang mengajarkan anak-anaknya agama yang kuat.
"Amal jariyah itu pahalanya akan terus mengalir sekali pun si pemberi amal itu sudah meninggal selama apa yang di amalkan di gunakan."
"Ngeri amat sih bahas amal sama meninggal!", kata Puja bergidik ngeri. Lingga terkekeh pelan.
"Emang kematian seseorang bisa di tawar? Nanti dulu, gitu?", tanya Lingga pada kakaknya. Puja menoleh pada Lingga.
"Apa kehadiran Galuh begitu berarti dan berpengaruh terhadap hidup mu Ga?"
Lingga mengangguk.
"Ibarat rasa haus, Galuh itu air yang menyejukan dan menghilangkan dahaga dalam hidup ku."
"Aku yang tak tahu apapun tentang tujuan hidup ku, seolah menemukan seseorang yang akan menjadi kan ku panutan. Dari situ, aku banyak belajar. Aku belajar jadi suami yang baik untuk Galuh, Abang sekaligus ayah buat Syam, dan...menantu yang bertanggung jawab buat ibu."
Puja benar-benar terpukau dengan semua yang Lingga ucapkan. Dia merasa tertampar, selama hidupnya apa yang dia dapatkan selain kehidupan duniawi seperti ajaran sang papa???
__ADS_1
Ditengah obrolan, tiba-tiba....
"Neng!", pekikan bik Mumun membuat Puja dan Lingga menoleh ke asal suara itu.
"Yang!", seru Lingga sambil berlari.
"Galuh!", Puja tak kalah panik karena melihat Galuh yang hampir terjengkang karena kepeleset.
Tapi ternyata, Arya menahan tubuh menantunya hingga Galuh tertangkap dalam pelukannya.
Galuh sempat terkejut dan memejamkan matanya. Dia pasrah jika jatuh terpeleset. Tapi ternyata ada seseorang yang sigap menangkap tubuh nya hingga ia tak sampai jatuh menyentuh lantai.
"Astaghfirullah!", Galuh masih belum membuka matanya. Entah, jantungnya berdetak tak karuan. Antara takut jatuh dan....
Perlahan Galuh membuka matanya. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah papa mertuanya. Ia berada dalam kondisi dimana pinggangnya dalam rengkuhan papa mertua.
Pose apa ini??? Galuh merasa tak enak hati sendiri. Bukan karena ada nafsu atau perasaan yang bagaimana-bagaimana, tapi ...Galuh sadar betul hubungannya dengan sang papa mertua tidak lah baik.
Lingga menghampiri istrinya dengan wajah panik.
"Yang, kamu ngga apa-apa kan? Ada yang sakit?", tanya Lingga sambil memeriksa tubuh istrinya.
"Ak-aku ngga apa-apa bang!", kata Galuh masih tergagap. Lalu ia menoleh ke arah mertuanya.
"Terimakasih...tuan...eum... pa-pa! Sudah menolong saya!", kata Galuh masih dengan suara bergetar dan tergagap. Lingga dan Puja menoleh pula ke arah papanya.
"Lain kali hati-hati. Kamu bawa nyawa lain dalam perut mu! Jangan berbuat ceroboh, saya tidak ingin kehilangan cucu saya lagi!", hardik Arya dengan suara khas nya yang kasar. Setelah itu ia pun meninggalkan keempat orang yang sempat terkejut dengan bentakkan Arya.
"Maafkan papa Yang!", kata Lingga memeluk Galuh. Galuh pun membalas pelukan suaminya.
"Apa yang harus di maafkan dari papa?", tanya Galuh sambil mendongak ke atas. Tapi hanya sampai di leher Lingga.
Bik Mumun memilih menyingkir dari tiga orang dewasa itu.
"Abang sama kak Puja ngga denger tadi papa bilang apa?", tanya Galuh sambil menoleh ke kakak ipar nya yang berdiri di samping Lingga.
"Papa memarahi kamu karena kamu ceroboh! Begitu!", kata Puja. Dia masih tidak enak dengan sikap papanya terhadap Galuh.
"Iya, Abang sebenarnya ingin membalas ucapan papa. Tapi papa keburu pergi!", lanjut Lingga.
"Memang kalian tidak mendengar saat papa bilang tidak ingin kehilangan cucunya lagi?", tanya Galuh sambil mengurai pelukannya lagi.
Puja dan Lingga saling melempar pandangan. Mereka terlalu fokus pada bentakkan papanya terhadap Galuh sampai tak mendengar jika papanya berkata seperti yang Galuh sampaikan.
Lingga dan Puja kompak menggeleng. Galuh pun tersenyum.
"Papa menerima kehadiran anak kita Bang. Percaya sama aku! Aku yakin, papa akan luluh saat anak kita lahir. Bentakkan papa jangan Abang salah artikan. Justru papa berkata demikian karena khawatir padaku dan si utun, Bang!", kaya Galuh sambil tersenyum.
Puja menghela nafas panjang, dia berpikir bahwa adik iparnya itu terlalu berpikir positif pada papanya. Padahal dia yang anaknya saja sulit mempercayai jika papanya bisa berbuat baik dan bisa berubah menjadi lebih baik.
__ADS_1
Tak ingin istrinya salah sangka karena pemikiran Lingga yang berbeda dengannya, Lingga berusaha untuk tersenyum.
"Kita ke kamar lagi aja Yang! Nanti habis asar baru kumpul lagi. Lagi pula masih hujan!", pinta Lingga. Galuh pun mengangguk setuju.
"Kak, kami ke kamar dulu ya. Kak Puja juga balik ke kamar aja atau nonton TV di depan!", kata Lingga.
"Iya gampang, kakak habisin kopi dulu!", kata Puja.
Setelah berpamitan pada Puja, Lingga menggandeng tangan Galuh menuju ke kamarnya. Jam dinding sudah menunjukkan hampir jam dua siang.
Karena hujan masih lebat, kegiatan mereka yang terbiasa berada di luar pun terbatas. Bahkan Sekar dan Syam tak keluar kamar sejak makan siang tadi.
"Abang!", panggil Galuh saat keduanya sudah berada di kamar.
"Apa sayang?", Lingga membantu Galuh melepaskan jilbabnya.
"Nanti...kita coba ajak papa bicara yuk! Aku berubah pikiran! Aku rasa...papa tak seburuk yang kita pikirkan selama ini!", kata Galuh sambil menyandarkan kepalanya di dada Lingga. Lingga mengusap perut buncit istrinya.
"Kamu yakin? Abang cuma takut nanti papa akan berbicara buruk dan menyakiti hati kamu lagi. Abang tidak apa-apa kalau papa menghina Abang, tapi Abang ngga terima kalau papa terus-terusan menghina kamu Yang!", Lingga memeluk erat istrinya.
"Khusnudzon bang! Kita coba aja dulu! Mungkin...Allah memang mengirim papa ke sini agar hubungan kita dengan beliau membaik. Aku tahu...perkataan papa di masa lalu memang sangat menyakitkan. Tapi..."
"Pssssttttt!", Lingga menutup bibir Galuh dengan telunjuknya. Dua pasang mata itu saling menatap.
"Cukup Yang. Abang tidak ingin mendengar kalimat-kalimat pedas dari papa waktu itu!", kata Lingga pelan di depan kening istrinya. Sesekali Lingga mengecup puncak kepala Galuh.
"Aku jadi kepikiran ucapan papa tadi bang. Bukan soal bentakkan papa, tapi ucapan papa yang tak ingin kehilangan cucunya-- lagi! Itu artinya...dulu papa juga merasa kehilangan cucu pertamanya kan bang?", Galuh menenggelamkan kepalanya ke cerukan leher Lingga yang terasa hangat. Apalagi saat Lingga berbicara, getaran pita suaranya bisa terdengar oleh Galuh.
Galuh sering tak percaya jika ia memiliki suami setampan dan sebaik Lingga. Padahal di awal pertemuan mereka saja sudah seperti tikus dan kucing. Tapi siapa sangka mereka berjodoh hingga saat ini,dan berharap sampai tua nanti tentunya.
Lingga mengusap kepala Galuh, sedikit menunduk hingga wajah mereka berdekatan. Lalu dengan singkat, Lingga mengecup bibir istri nya.
"Jika papa merasa sayang pada cucunya, anak kita pasti papa akan membantu biaya perawatan kamu dan anak kita. Tapi nyatanya?"
Sepasang suami istri itu menghela nafas panjang bersamaan. Pemikiran dua kepala memang berbeda. Tapi keduanya tak berpikir untuk egois, memaksa pemikiran masing-masing.
Apa mereka tak pernah bertengkar? Tentu saja pernah! Tidak ada rumah tangga yang adem ayem tanpa pertengkaran meskipun hanya pertengkaran kecil.
"Baru mau jam dua, bobo siang dulu?", tanya Lingga.
"Iya, apa lagi? Main hp ge bosen Bang!", kata Galuh manja memeluk pinggang suaminya.
"Kirain Abang mau cari keringat lagi!", kata Lingga. Jika orang lain yang berbicara mungkin rasanya biasa saja. Tapi jika lingga yang berbicara seperti itu, maknanya lain! Dan Galuh sangat paham.
"Kan udah tadi, ngga boleh keseringan di jenguk! Takut lahiran lebih cepat!", kata Galuh.
"Bagus dong, kan jadi cepet di kasih adik lagi?", canda Lingga.
"Abang! Yang ini aja belum lahir udah rencana mau kasih adek??? Bener-bener nih?", kata Galuh pura-pura marah. Tapi akhirnya keduanya hanya tergelak bersama dan akhirnya memutuskan untuk tidur siang, catat! Hanya tidur siang ya ....
__ADS_1
****
Terimakasih 🙏🙏🙏