
"Glen!", panggil papanya. Glen dan Helen baru saja pulang dari kantor mereka.
"Papa? Kapan datang?", tanya Glen.
"Duduk, papa ingin bicara dengan kalian!", kata Surya, papa Glen. Sepasang suami istri itu pun duduk berhadapan dengan papa Surya.
Kebetulan jarak rumah papa Surya dengan rumah Glen tak terlalu jauh. Tapi mereka jarang sekali saling mengunjungi kecuali memang benar-benar ada keperluan. Dan Glen yakin jika papanya bisa sampai ke rumah ini, itu artinya ada hal penting yang akan di bicarakan.
"Helen ambilkan minum sebentar ya pa!", kata Helen bersiap bangkit dari duduknya.
"Tidak usah!", tolak Surya. Wajahnya terlihat sedang murka. Entah karena apa, Glen dan Helen pun tidak tahu.
Surya bangun dan berdiri di hadapan Glen.
Plakkkk! Kepala Glen tertoleh ke kiri.
Plakkkk! Sekali lagi tamparan untuk pipi satu lagi. Belum sempat Glen menutup keterkejutannya, papanya sudah meraih kerah kemeja Glen.
"Papa?!", Helen sampai terpekik kencang melihat suaminya yang menjadi sasaran amukan papa mertuanya.
"Laki-laki bejat! Breg*** kamu Glen! Papa tidak pernah mengajari mu menjadi laki-laki pecundang!", bentak Surya. Lalu sekali lagi sebuah Bogeman mendarat di rahang Glen membuat lelaki itu terhuyung dan jatuh terduduk ke sofa lagi.
"Ada apa Pa?",Glen mengelap sedikit darah yang keluar dari sudut bibirnya.
"Ada apa kamu bilang? Hah?!", bentak Surya.
"Pa, sabar pa. Kita bisa bicara kan ini baik-baik. Sebenarnya ada masalah apa Pa?",tanya Helen sambil mengelap luka suami nya dengan tisu yang ada di tasnya.
"Helen! Papa tahu kamu kecewa pada suami kamu! Tapi bukan berarti kamu juga harus membenci cucu papa, darah daging papa!", bentak Surya.
"Maksudnya apa pa?", tanya Helen dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu Glen! Kamu laki-laki bejat dan tak bertanggungjawab! Sudah menodai perempuan lain tapi justru menikahi Helen!"
Duarrr!!! Bagai tersambar petir! Keduanya tak menyangka jika papa Surya akan mengetahui hal ini jauh lebih cepat.
"Pa!", Glen bangkit dari duduknya. Tapi Surya mendorongnya kembali hingga terduduk di sofa lagi.
"Kamu kecewa suami kamu memiliki anak dari perempuan lain karena aksi bejat suami kamu Helen?", tanya Surya. Helen yang dari tadi menahan suaranya hanya mampu mengangguk.
Surya berdecih!
__ADS_1
"Dimana naluri kamu sebagai ibu Helen?", tanya Surya. Nafas Helen tercekat. Dia tak berani menatap mertuanya. Tapi Surya tidak akan menyalahkan Helen. Dia paham jika menantunya bersikap demikian. Bagaimana pun dia seorang istri dan pasti sangat kecewa saat tahu suaminya memiliki anak dari perempuan lain. Terlebih...dari perbuatannya yang sangat tidak bisa di tolerir.
"Pa...!", Glen bangkit dan berlutut sambil memeluk kaki papanya.
"Glen minta maaf pa. Glen ngga bermaksud seperti itu. Kejadiannya tidak seperti yang papa bayangkan. Itu...itu karena aku sedang terpengaruh oleh alkohol pa."
Surya melepas paksa kaki nya yang di peluk Glen. Dia berjongkok di depan Glen yang bersimpuh.
"Alkohol??", tanya Surya. Glen mengangguk. Akhirnya Glen pun menceritakan keburukan di masa lalunya dan itu semakin membuat Surya semakin marah.
Helen sendiri memilih pergi dari tempat itu dari pada harus mendengar percakapan suami dan mertuanya yang sedang membicarakan aib suaminya dengan perempuan lain.
Tolong di pahami, jangan menyudutkan Helen! Wajar jika dia marah bukan????
"Pa...maafin Glen pa!", kata Glen menghiba.
"Bukan sama papa kamu harus minta maaf, tapi pada anak itu dan juga ibunya!!!", kata Surya.
"Tapi...papa tahu dari mana?", tanya Glen.
"Tidak penting papa tahu dari mana! Sekarang ikut papa! Kamu bisa ijin dulu dengan istri kamu! Papa tunggu di mobil!", kata Surya meninggalkan putra nya yang masih bersimpuh.
Lalu perlahan, Glen menaiki tangga menuju ke kamar tidurnya. Di lihat nya sang istri yang sedang menghapus sisa make up nya.
"Pergilah!", sahut Helen. Glen mendekati istrinya lalu berjongkok di hadapannya. Ia meraih kedua tangan Helen.
"Aku tahu kamu sedih, aku tahu kamu kecewa. Tapi aku tidak pernah membagi hati ku selain sama kamu Helen! Percaya padaku!", Glen mencium punggung tangan Helen.
"Dan...papa pasti akan menyingkirkan aku dan Zea, setelah dia tau kamu punya anak laki-laki seperti keinginannya!", kata Helen melengos.
"Sssttt....kenapa kamu harus berpikir seperti itu sayang! Ngga! Kalian akan tetap bersama ku, Zea tetap putri kesayangan ku Helena!", Glen menakupkan Keuda tangannya di pipi Helen.
Karena tak ada sahutan apapun dari Helena, Glen pun bangkit lalu mengganti kemejanya dengan kaos oblong lalu menyempatkan mencuci muka.
"Papa pergi dulu ma!", Glen mengecup puncak kepala Helen. Lalu setelahnya, ia menyusul papanya yang sudah menunggu di mobil beliau.
Glen masuk ke mobil dan duduk bersebelahan dengan Papa Surya. Jika biasanya sang papa ke rumah mengendarai mobil sendiri, tidak kali ini. Dia memakai jasa supir pribadinya.
"Kita ke mana Pa?", tanya Glen. Surya menoleh pada putra tunggalnya.
"Menemui cucu papa! Karena dia berhak mendapatkan pengakuan dan kehidupan yang layak!", kata Surya. Glen meneguk ludahnya dengan kasar.
__ADS_1
"Tapi...dari mana papa tahu...!???"
Surya tak menjawab pertanyaan Glen. Hanya terlihat kemarahan di wajahnya yang sedikit berwajah timur tengah itu. Jadi ...wajar jika Syam tampan bukan???
Flashback on
Arya ikut makan malam bersama keluarga Lingga dan yang lain. Dia masih diam, tapi sesekali mau menjawab jika Syam yang bertanya. Entah apa pun itu. Arya memainkan ponselnya karena menjawab chat dari rekan bisnisnya, yang tak lain adalah Surya, mertua dari adik iparnya sekaligus kakek kandung Syam.
Entah dapat ide dari mana, Syam ikut melongok mengintip ponsel Arya. Dan anehnya Arya juga tidak marah.
"Tuan, kita foto bersama yuk!", bisik Syam. Arya sempat mengernyitkan alisnya tapi ia setuju saja. Dan...ya...semua hanya menatap takjub kedekatan antara Syam dan Arya.
Angel saja sampai protes. Dan Sekar menggeleng pelan berharap Syam paham. Tapi ya... sepertinya Syam tak peduli dengan rengekan Angel.
Terlintas di pikiran Arya saat ia memandangi foto Syam, bagaimana jika ia memberi tahu pada Surya bahwa anak laki-laki yang bersamanya adalah cucu kandung Surya.
Arya mengirim foto berikut chat penjelasannya. Karena tidak puas, Surya pun menelpon Arya. Tanpa meminta ijin, Arya bangkit dari kursinya lalu naik ke kamarnya lagi untuk menerima panggilan dari Surya.
"Yah...Syam, udah ngga di manja lagi sama opa aku dong! Besok kami pulang wleeekkk...!", ledek Angel.
"Pulang aja Sono!", sahut Syam ketus. Bisa gitu ya???
Syam bisa menjadi sosok menyenangkan di depan Arya, dan seolah menjadi rival yang menyebalkan bagi Angel.
Orang tua keduanya pun hanya mampu menghela nafas dengan ulah dua bocah itu.
Sedang Arya sendiri menceritakan tentang Syam pada kakeknya. Dan setelah mendengar penjelasan dari Arya, Surya langsung menemui Glen.
Sosok Syam mengingatkan dirinya saat Arya kecil. Tinggal bersama dan di besarkan oleh keluarga tiri dan tidak di anggap. Awalnya, ia ingin bersikap ketus dan arogan sebagai bentuk balas dendamnya karena pernah mengalami hal semacam itu. Termasuk sikapnya pada Galuh sejak dulu.
Tapi melihat Syam, dia seolah sedang melihat rekaman dirinya meskipun Syam jauh lebih beruntung karena dia di kelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.
"Semoga ada keadilan buat kamu Syam!", monolog Arya. Tapi, Gita yang ternyata mendengar suaminya bercakap-cakap dengan seseorang tentang Syam pun cukup terharu. Meski Gita menyadari hal ini sangat menyakitkan bagi Helen, adik bungsunya. Tapi memang di sini Syam hanyalah korban yang sama sekali tak bersalah.
Jika papa bisa bersikap baik seperti ini pada Syam, semoga papa bisa membuka hati papa untuk Galuh sebagai menantu papa! Batin Gita.
Flashback off
*****
Terimakasih 🙏🙏🙏
__ADS_1
Dua bab ya??? 🤗🤗🤗🤗🤗
Selamat berakhir pekan ✌️