
"Yakin kita langsung pulang ke rumah kak Puja?", tanya Lingga. Galuh mengangguk pelan. Pikirannya melayang saat melewati sebuah rumah sakit yang pernah ia singgahi beberapa bulan lamanya di sana.
Jaman di mana ia melahirkan anak pertamanya dan juga terserang covid. Tak pernah terbayangkan oleh perempuan cantik mungil itu jika masa sulit itu kini telah berlalu.
Dan Alhamdulillah... covid sudah berlalu. Kelak akan menjadi cerita untuk anak cucunya di masa yang akan datang.
Terbersit dalamnya hati Galuh, ia ingin ziarah makam anak pertama mereka yang bahkan tidak pernah Galuh lihat wajahnya sama sekali.
"Yang?", Lingga mengusap bahu istrinya yang terlihat melamun.
"Ada apa heum?", tanya Lingga pelan.
"Putar balik mau ngga bang?"
"Putar balik? Mau ke mana?", tanya Lingga bingung.
"Ke makam, pengen ketemu kakaknya Ganesh! Boleh?", Galuh menoleh pada Lingga. Lingga mengangguk pelan.
"Tentu boleh sayang?!", jawab Lingga mengulas senyum tipis.
Lingga mencari tempat untuk berputar arah menuju ke pemakaman di mana anak sulungnya di makamkan.
"Yang!"
"Heum?"
"Jangan bengong dong?!"
"Iya, mau ngobrol apa Bang?",tanya Galuh pelan.
"Kamu tahu ngga Yang, tadi waktu di kafe ada cewek muda deketin papa!"
"Heum? Ngapain?"
"Kata papa, dia suruhannya papa nya Shiena."
Galuh mengangguk.
"Aku yakin papa tidak akan tergiur secantik apa pun cewek itu. Apalagi di lihat dari sikap papa selama ini. Aku yakin papa tidak pernah sedikit pun berniat atau terbersit untuk mengecewakan mama dengan bermain di luar!"
"Kok kamu sepaham itu Yang!?"
"Iya lah. Jauh sebelum papa tahu kita suami istri, aku bisa lihat gimana cintanya papa ke mama waktu mama mau operasi. Papa mengupayakan berbagai cara untuk menyelamatkan mama."
"Tapi melibatkan kamu juga kan?", entah Lingga menegaskan atau bertanya.
"Bang, itu sudah takdir. Nyatanya aku dan mama Alhamdulillah bisa melanjutkan hidup sampai sekarang bahkan , mama sudah menganggap ku seperti anak kandungnya sendiri."
Lingga mengangguk pelan dengan tangannya masih menyetir. Tak lama kemudian, mobil sudah sampai di area pemakaman umum itu.
Sepasang suami istri itu turun dari mobil mereka. Ternyata meski jam sudah menunjukkan pukul satu siang lewat, nyatanya ada peziarah yang lain juga.
Galuh dan Lingga membeli bunga dan air di depan pintu masuk pemakaman.
"Beli banyak banget Yang?", tanya Lingga pada istrinya.
"Sekalian ke makam eyang dan om Yudis bang! Bahkan aku sama sekali belum pernah bertemu dengan Eyang dan Om Yudis, tapi beliau sudah lebih dulu di panggil."
Suara Galuh memang seperti tak ada beban, tapi wajahnya terlihat muram.
Apa Galuh merasa jika dirinya tak dianggap dan di akui keluarga ku? Batin Lingga.
Setelah membayar bunga, Galuh dan Lingga berjalan beriringan menuju ke blok yang cukup jauh ke dalam area pemakaman.
Sesampainya di sana, ternyata mereka tidak hanya berdua melainkan ada orang lain yang ada di samping makam Yudis.
"Assalamualaikum!", salam Galuh dan Lingga pada dua sosok di depannya. Dua orang itu menoleh bersamaan lalu setelahnya ia pun berdiri.
"Lingga!!", panggil salah seorang perempuan yang usianya tak berbeda jauh dengan mamanya. Dan seorang perempuan muda yang seumuran dengan Galuh pun menatap Galuh dari balik kacamata hitamnya.
"Tante Lita?", tanya Lingga. Dia memang sudah lama sekali tak bertemu dengan istri Yudis itu. Galuh berusaha untuk tersenyum ramah meski ia tak mengenal sosok yang Lingga sapa tadi.
Lita membuka kacamata hitamnya lalu memindai penampilan Lingga dan Galuh bersamaan.
"Ngapain kamu di sini?", tanya Lita kasar.
"Seharusnya saya yang tanya, kenapa Tante di sini?", tanya Lingga balik.
"Kamu jangan lupa, mendiang om kamu masih sah berstatus suami ku!", kata Lita menggebu-gebu.
"Benarkah? Lalu di mana kalian saat Om Yudis terpuruk? Bersamanya? Atau ... meninggalkannya karena dia sudah tak punya apa-apa?", sarkas Lingga.
Lita menggeram kesal sambil menatap sengit pada sepasang suami istri itu.
"Jaga bicaramu! Kamu pikir, siapa yang membuat kami seperti sekarang hah??! Papa kamu yang serakah!", bentak Lita.
Lingga meremas tangannya berusaha menahan emosi. Andai yang dia hadapi adalah laki-laki, mungkin Lingga tak perlu menahan diri seperti ini.
Galuh berusaha menenangkan suaminya dengan memeluk lengan Lingga.
__ADS_1
"Bang ...!", panggil Galuh lirih.
"Tante! Harusnya Tante instrospeksi diri setelah semua kejadian yang Tante alami. Bukan malah menyalahkan orang lain!"
"Aku mengatakan seperti karena faktanya memang papa kamu serakah! Dia masih belum puas padahal jelas-jelas dia memiliki segalanya. Tapi apa? Dia justru tega mengambil apa yang bukan hak nya!"
"Cukup Tante! Cukup menjelekkan papa saya!", wajah Lingga sudah memerah. Lingga tahu betul apa yang papanya lakukan tak seperti yang Lita tuduhkan.
Perusahaan peninggalan Pandu ,eyang Lingga memang sudah terpuruk karena bangkrut dan memiliki banyak hutang di perusahaan Arya sejak Yudis yang memimpinnya.
Lelaki tua itu terlalu hidup dengan hedonisme yang sangat tinggi. Apalagi melihat seperti apa istri dan anak perempuannya, mereka hanya bisa menghamburkan uang.
Dan pada akhirnya riwayat Yudis berakhir di ranjang pesakitan tanpa di dampingi oleh istri dan anak-anaknya. Lantas siapa yang mau di salahkan???
"Kamu jangan tutup mata Lingga! Papa kamu jelas-jelas merebut perusahaan Om kamu dengan paksa. Jangan karena kalian merawat suami saya lantas kalian merasa seolah kalian adalah malaikat tanpa dosa!", ucap Lita dengan lantang.
"Apa yang terjadi tidak seperti yang Tante kira! Kenyataannya memang perusahaan Eyang sudah mati suri, kalau bukan karena papa perusahaan Eyang sudah tidak ada. Harusnya kalian sadar, kalian lah yang sudah menghancurkan semuanya!", Lingga tak kalah menggebu-gebu.
"Bang, udah bang! Ini di pemakaman. Ngga etis bang!", Galuh mencoba menenangkan suaminya semampunya.
Galuh sadar betul seperti apa suaminya jika sudah terlanjur emosi.
"Heh! Perempuan kampung! Ngga usah masang muka polos seperti itu! Aku yakin, kamu juga hanya memanfaatkan kekayaan Lingga kan? Jangan hanya karena kamu pakai hijab lantas kami akan menganggap mu lebih baik!"
"Cukup Tante!", bentak Lingga.
"Apa? Kenyataannya seperti itu kan? Dia hanya orang kampungan yang tiba-tiba hadir di tengah keluarga Pandu. Apalagi kalau bukan niatnya mau...."
"Stop! Jangan pernah menghina istriku Tante! Karena istri ku bukan Tante yang hanya bisa merongrong suami di saat berada di atas tapi saat suaminya terpuruk justru Tante meninggalkannya. Saya kasihan pada mendiang om Yudis. Ternyata selama hidupnya, ia hanya menjadi sapi perah untuk istri dan anaknya sendiri!", kata Lingga tak kalah pedas.
Tangan Lita sudah bersiap mengayun ingin menampar Lingga tapi Galuh lebih dulu menahannya.
"Lepas!", bentak Lita. Galuh pun melepas jeratan tangannya di pergelangan Lita.
"Maaf ,jika Tante kurang berkenan saya ikut campur saat ini. Tapi sekali lagi saya tekankan, pembicaraan ini tidak etis dilakukan di tempat seperti ini. Mohon maaf sekali lagi kalau saya lancang! Lebih baik, Tante tinggalkan bang Lingga dan Tante menenangkan diri agar tidak emosi lagi."
"Cuiiihhh...ngga usah sok bijak kamu perempuan kampung!", Lita mendorong bahu Galuh cukup kencang hingga membuat Galuh mundur selangkah.
"Tante!"
"Mami!"
Ucap Lingga dan anak Lita bersamaan. Tentu saja anak Lita tak mau jika ibunya akan mendapatkan masalah jika terjadi sesuatu dengan istri Lingga. Kehidupannya sejak papanya bangkrut sudah cukup prihatin, hidupnya sudah tak seperti dulu lagi. Dia tak ingin jika nanti Lingga akan berbuat seperti Arya yang mungkin akan memiskinkan keluarganya sampai ke akar-akarnya.
"Sudah mam, kita pulang!", ajak anak Lita.
"Awas kamu Lingga! Aku tidak akan tinggal diam setelah apa yang kalian lakukan pada kami!", kata Lita.
"Kamu ngga apa-apa Yang?", tanya Lingga pada Galuh.
"Harusnya aku yang tanya sama Abang. Kenapa Abang harus meladeni Tante Lita?"
"Kalau dia bicara baik-baik dan tidak mengatakan yang buruk tentang kamu dan papa, Abang tidak akan emosi seperti tadi Yang!"
Galuh menghela nafas berat.
"Ya udah, lebih baik sekarang kita berdoa dan menyapa si sulung!", kata Galuh lalu berjalan beberapa langkah menuju ke sebuah nisan kecil di samping nisan Pandu.
Lingga pun mengekor di belakang Galuh lalu ikut berjongkok di depan nisan kecil itu.
"Assalamualaikum anak ibu! Maaf ya, ibu baru sempat kesini lagi." Galuh berbicara seolah putra sulungnya ada di hadapannya. Seandainya dia masih hidup, mungkin sekarang dia sudah berada di bangku TK.
Usai mengatakan demikian, sepasang suami-isteri itu pun berdoa. Bukan hanya di nisan putra mereka, tapi juga nisan Pandu dan Yudis.
"Udah Yang?", tanya Lingga. Galuh mengangguk.
Galuh mengusap batu nisan kecil milik putranya itu.
"Ibu sama ayah pulang dulu ya sayang. Insyaallah kalau ibu atau ayah ke sini lagi, pasti jenguk kamu lagi!", kata Galuh dengan mata yang berkaca-kaca. Perempuan itu menghela nafasnya lalu berjalan depan belakang dengan sang suami.
"Mau ke mana sekarang Yang? Mumpung masih di sini, besok subuh kita kan pulang ke kampung!"
"Ke pantai, mau ngga ?", tanya Galuh.
"Boleh dong! Mau ambil baju ganti dulu?", tanya Lingga.
"Ngga, buat apa baju ganti? Aku ngga mau berenang kali bang!"
Lingga tersenyum tipis.
"Ya sudah!", sahut Lingga. Kemudian Galuh mengambil ponselnya. Ibunya mengirim video dan foto Ganesh yang begitu menggemaskan.
"Lihat deh bang, Ganesh gemesin banget kan?", kata Galuh. Lingga melihat video dari ponsel Galuh.
"Heum! Tapi yang di samping Abang ngga kalah gemesin kok!", kata Lingga. Galuh melirik tajam pada suaminya yang justru malah tertawa lepas seolah lupa jika tadi emosinya menggebu-gebu saat di makam.
Tapi dalam hati Galuh, ia bersyukur suaminya tak ambil pusing pertengkaran antara dirinya dan Tante Lita.
"Sekarang Abang serius yang!", kata Lingga. Galuh menautkan alisnya.
__ADS_1
"Serius apa?", tanyanya bingung.
"Hotel!", jawab Lingga singkat padat dan jelas tanpa kurang satu apa pun. Galuh mencebikkan bibirnya yang lagi-lagi membuat Lingga tertawa lepas.
.
.
.
"Diem aja dek, kenapa?", tanya Salim saat melihat Syam diam saja.
"Ngga apa-apa bah!", jawab Syam.
"Apa teman adek itu mengatakan sesuatu yang bikin adek tersinggung?", tanya Salim. Syam langsung menoleh pada bapak tirinya tersebut.
"Dari mana Abah tahu?", tanya Syam. Salim tersenyum simpul.
"Abah mendengarnya. Cuma Abah tidak mau ikut campur karena Abah yakin, anak Abah ini anak yang hebat!", Salim mengusap lembut kepala Syam.
"Syam sering berpikir! Kenapa Syam harus dilahirkan jadi anak ha-ram? Kenapa tidak seperti yang lain, yang lahir dari hubungan yang sah?"
Salim menghela nafas sejenak lalu berusaha berpikir untuk mengatakan kalimat yang pas untuk menjelaskan pada Syam.
"Takdir! Adek tahu rukun iman yang ke enam?", tanya Salim. Syam mengangguk.
"Iman kepada qadha dan qodar. Qadha adalah ketetapan Allah SWT sejak sebelum penciptaan alam semesta, sedang qadar adalah perwujudan ketetapan Allah SWT yang sering disebut takdir", jawab Syam.
Salim mengangguk, ia yakin putra sambungnya sudah mempelajari tentang rukun tersebut.
"Berbicara tentang takdir, ada takdir Allah yang tidak bisa di rubah atau sudah di tetapkan oleh Nya. Salah satunya yaitu tentang kelahiran dan kematian. Seseorang tidak bisa memilih siapa orang tuanya,kapan dan dimana ia di lahirkan, jenis kelaminnya maupun fisiknya."
Syam tertegun mendengar ucapan bapak tirinya tersebut.
"Jadi, jika setiap hati kecil Syam bertanya kenapa Syam harus lahir di luar nikah, Syam tau jawabannya."
Syam tak menyahuti ucapan Salim hingga lelaki berkacamata itu menoleh pada Syam.
"Tindakan zinah memang salah. Sama sekali tidak bisa dibenarkan dek! Tapi apa yang terjadi pada ibu, itu bukan keinginan ibu. Itu semua di luar kendali ibu. Bahkan papa Glen...juga tidak tahu jika akan ada Syam nantinya."
Syam meneguk salivanya sedikit perlahan karena tenggorokannya kering.
"Seandainya saat itu papa Glen bertanggung jawab terhadap ibu... belum tentu Zea menjadi saudara Syam? Apalagi Abah, apakah Abah bisa jadi bapak sambung Syam?"
Seketika itu juga Syam menoleh pada Salim yang tersenyum.
"Sebenarnya...Abah masih segan menjelaskan hal-hal berbau dewasa sama kamu dek. Tapi..."
"Syam udah besar bah, bukan anak kecil lagi!", sahut Syam. Salim terkekeh pelan lalu mengacak rambut Syam.
"Iya, maaf!", kata Salim. Sekarang Syam sudah mulai tersenyum.
"Bah!"
"Heum?"
"Apakah anak di luar nikah tidak bisa menikah?", tanya Syam. Salim menautkan kedua alisnya.
"Kok gitu tanyanya??", tanya Salim heran.
"Ya kan...Syam dan mungkin anak lain juga tuh ngga punya nasab karena lahir di luar pernikahan. Bukankah butuh wali untuk menikah?", tanya Syam.
Salim menggeleng heran. Pembahasan pernikahan untuk remaja seusia Syam di rasa terlalu dini. Tapi... melihat latar belakang Syam yang memang istimewa, dia harus hati-hati menjawabnya agar tak menimbulkan kesalahpahaman kedepannya nanti.
(Mohon di koreksi dan di benarkan dengan sangat jika othor salah 🙏🙏🙏)
"Adek laki-laki, jika menikah tidak memakai wali. Tapi karena adek lahir di luar pernikahan...maka nasab adek itu ada pada ibu, bukan papa Glen. Maaf, Abah bukan ahli fikih dek. Mungkin lain kali adek bisa bertanya pada guru agama adek!", kata Salim mencari aman. Syam mengangguk mengerti.
"Oh iya, pak Rama itu guru adek ya? Beliau teman kost waktu Abah masih kuliah", kata Salim.
" Gitu?!?! Abah pernah kuliah?", tanya Syam.
"Pernah, cuma empat semester habis itu ngga lanjut karena orang tua Abah sudah tidak ada. Dan sejak itu, Abah kerja di keluarga Mas Arya. Sebenarnya...mas Arya meminta Abah untuk lanjut kuliah lagi, tapi...Abah menolak."
Syam mengangguk paham.
"Adek yang pinter ya! Nanti kalau bisa kuliahnya di luar negeri, seperti Abang!", kata Salim.
"Insyaallah bah, doakan saja!", kata Syam. Tak terasa obrolan panjang keduanya terhenti saat menyadari jika mobil mereka tiba di halaman rumah.
*******
Mohon koreksinya ya teman2. Harap maklum kalo Mak othor masih kurang ilmu karena cuma lulusan S3 🤭🤭🤭🤭 SD SMP SMA maksudnya 🙏🙏🙏
Terimakasih banyak yang udah dukung sampe bab ini. Harapannya... jangan bosan buat mampir di sini. Dan dengan senang hati kalau ada yang mengoreksi kesalahan entah dalam penulisan atau isi bab nya. Kritik yang membangun ya 😁👍✌️
Terimakasih
Haturnuhun 🙏🙏🙏🙏
__ADS_1
21.07