
"Mau kemana pagi-pagi begini Ma?", tanya Arya yang melihat istrinya sudah berpakaian rapi.
"Pergi!", jawab Gita singkat.
"Iya tahu mau pergi, tapi ke mana?", cegah Arya pada istrinya yang melewatinya begitu saja. Tampak sang istri menghela nafas sesaat.
"Mau bertemu dengan anak dan menantu ku!", ujar Gita.
"Apa? Ngapain kamu nemuin mereka lagi sih Ma?", hardik Arya.
"Ngapain? Papa tanya ngapain?", Gita menatap suaminya. Diam, hanya itu reaksi Arya.
"Mama masih rindu dengan mereka Pa. Apa salah seorang ibu merindukan anak-anaknya?", tanya Gita.
"Kalau mereka masih menganggap mama, kenapa tidak mereka saja yang mengunjungi mama ke sini? Harusnya mereka yang menghormati kita sebagai orang tua!"
"Ckkk... untuk apa mereka kemari Pa? Untuk papa hina? Papa remehkan? Papa rendahkan martabat mereka? Papa ngga usah gila hormat kalo papa sendiri tidak bisa menempatkan diri jadi orang tua yang patut di hormati!", kata Gita penuh penekanan.
Setelah itu, perempuan yang sudah berusia di atas lima puluh tahun itu pun meninggalkan suaminya di kamar.
"Salimmm!", teriak Gita. Salim, supir keluarga tersebut pun menghampiri sang nyonya.
"Saya nyonya!"
''Kita ke minimarket Lingga sekarang!", titah Gita.
"Siap Nyonya!", sahut Salim yang langsung bergegas menuju ke garasi untuk memanaskan mobil lebih dulu.
"Ma...mama!", panggil Arya. Gita pun menoleh dan memutar badannya.
"Apa? Papa mau mencegah mama pergi menemui anak-anak mama?"
"Sejak ketemu mereka, sikap mama berubah ya! Mau membangkang sama papa!?"
"Membangkang? Papa yang buat mama seperti sekarang! Mama capek selalu di kekang selama ini! Belum cukup kesabaran mama menghadapi sikap papa selama berpuluh tahun? Belum cukup?", suara Gita meninggi. Padahal dia adalah perempuan yang lemah lembut.
Arya begitu emosi saat istrinya meninggikan suaranya, hampir saja tangannya melayang ke wajah Gita jika tidak ada seseorang yang mencegahnya.
"Berhenti Pa!!!", teriak seorang laki-laki bertubuh tinggi menghampiri Gita. Gita dan Arya menoleh bersamaan.
"Puja...?", suara Gita bergetar. Putra sulungnya tak mengabari jika ia akan pulang ke Indonesia.
__ADS_1
"Puja? Kenapa kamu ada di sini?", tanya Arya. Dia sudah menurunkan tangannya yang hampir memukul Gita.
Puja meraih bahu mamanya. Lalu menatap tajam pada papa kandungnya.
"Papa mau kasar sama mama?", tanya Puja yang sontak membuat Arya terkejut. Arya memalingkan wajahnya tak mau melihat ke arah putra sulungnya.
Di belakang Puja, datang seorang perempuan cantik dan juga anak perempuan berusia dua belas tahun yang tak lain istri dan anak Puja.
Vannessa, istri Puja dan Angel putri Puja.
"Pagi Oma...opa...!", sapa Angel yang khas dengan suara bule nya meski ia lahir dari kedua orang Indonesia, hanya saja ia lahir dan di besarkan di negara orang.
"Pagi sayang?!", Gita langsung memeluk cucu perempuan nya.
"Apa kabar Ma?", Vanes menyapa ibu mertuanya.
"Baik sayang!", jawab Gita tersenyum.
"Papa apa kabar?", tanya Vanes, menantu kesayangan Arya karena ia dari keluarga yang stratanya tak perlu di ragukan lagi di mata Arya.
"Papa baik Vanes!", jawab Arya.
"Puja, kamu ngga bilang mau pulang nak?", tanya Gita. Ia menggandeng tangan cucunya untuk duduk di sofa. Angel pun menurut Oma nya.
Gita tak mau suaminya buruk di mata putra sulungnya pun, mencoba menutupi kesalahan suaminya.
"Apa sih Puja? Eh, kalian udah sarapan belum? Mendarat jam berapa sih?", Gita mencoba mengalihkan pembicaraan agar tak membahas tentang pertengkarannya dengan Arya.
"Kemarin sore sih Oma, tapi kami langsung menginap di hotel dekat bandara. Makanya baru ke sini sekarang!", jawab Angel. Dia memang cukup baik berbahasa Indonesia meskipun dengan dialek bule nya.
"Oh, begitu."
"Oma, uncle Hans mana ya? Apa tidak tinggal di sini?", tanya Angel. Gita dan Arya langsung menatap cucu perempuannya.
"Eum... uncle Hans memang tidak tinggal di sini sayang!", jawab Gita mencoba tersenyum.
"Lalu di mana?", tanya Angel. Gadis remaja itu tidak akan berhenti bertanya sampai dia mendapatkan jawaban yang memuaskan.
"Sebentar ya, Oma telepon dulu karyawan Uncle Hans!", kata Gita. Puja dan Vanes saling beradu pandang. Mereka benar-benar tidak tahu apa yang terjadi selama hampir empat tahun Lingga kembali ke negaranya.
[Hallo, Nadia...saya Gita, mamanya Lingga. Apa lingga sudah datang ke situ Nadia?]
__ADS_1
[Eh, iya Nyonya. Kalo pak Lingga sepertinya langsung ke kafe yang mau di renovasi. Tapi kalo mba Galuh, ada nyonya!]
Gita menimbang sesaat.
[Boleh kasih hape kamu ke Galuh? Atau...kamu kirimkan nomor Galuh atau Lingga ke saya?]
Lagi-lagi Puja dan Vanes saling berpandangan, kenapa mamanya sampai meminta nomor Lingga pada karyawan Lingga.
[Heummm, maaf nyonya. Saya berikan ponsel saya saja dulu ya. Nanti setelah ada persetujuan dari mereka boleh memberi nomor ponsel mereka, saya kirim ke nyonya Gita]
Gita pun menghela nafas berat. Tapi tak lama kemudian, ia mendengar suara lembut dari seseorang. Siapa lagi jika bukan menantunya?
[Hallo, assalamualaikum Mama?]
[Wa...wa... walaikumsalam Galuh, kamu ngga lagi sibuk kan nak?]
[Ngga kok ma. Ada apa ma? Mau ngomong sama Abang ya?]
[Sama kamu juga ngga apa-apa Nak]
[Oh, ada apa Ma?]
[Bisa kita bertemu? Ada yang ingin bertemu sama uncle Hans, eh ... maksud mama bertemu Lingga]
Galuh nampak berpikir sebentar.
[Bisa sih ma. Nanti aja pas makan siang gimana? Tapi...Galuh ngga boleh pergi jauh-jauh Ma. Di omelin Abang!]
Gita tersenyum mendengar suara manja menantunya.
[Ya, kita ketemu di restoran dekat minimarket kamu aja gimana? Jangan lupa ajak Abang ya Luh?]
[Insyaallah ma, nanti Galuh ajak Abang ke sana]
[Ya udah ya Luh. Mama tutup. Assalamualaikum!]
[Walaikumsalam]
Gita meletakkan ponselnya lagi.
"Galuh? Galuh istri Lingga ma?", tanya Puja heran. Karena selama di Kanada, Lingga selalu bercerita tentang dirinya yang sudah menikah dengan seorang gadis yang bernama Galuh.
__ADS_1
"Kamu tahu hal itu puja?", tanya Gita.
"Ya!", jawab Puja tapi matanya langsung tertuju pada sang papa.