Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 69


__ADS_3

"Lho, Jang? kok teh nya tuan besar malah di bawa lagi ke dapur?", tanya Mumun pada salah satu pegawai Lingga yang mengurusi kebun sayur.


"Di suruh den Lingga Bik, katanya teh ganti yang baru. Udah kena air hujan ceunah!", jawabnya.


"Aih, kumaha bisa kena hujan? Suruh siapa teh nya di diemin ga di minum!", kata Bik Mumun.


"Oh ya Bik, kata den Lingga bikinin yang baru terus bawa ke teras samping!"


"Oh...ya nanti bibik bawa ke sana!", Bik Mumun membalik gorengannya dan si tukang kebun sayur menyomot gorengan yang sudah di angkat di atas serokan.


"Menta hiji Bik!", katanya sambil lari.


"Kenapa kudu lari, kalo minta baik-baik juga bakal di kasih!", kata Bik Mumun sewot.


Beralih ke ruang keluarga....


"Adek, kok udah pulang?", tanya Galuh.


"Gurunya rapat kak!", jawab Syam.


"Ya udah, ganti baju dulu gih!", pinta Sekar pada anak bungsunya.


"Iya Bu!", jawab anak lelaki itu.


Tak lama kemudian, Syam sudah mengganti bajunya. Lalu ia melewati Galuh dan yang lain.


"Kemana dek?", tanya Sekar.


"Ke teras samping sama Abang, sama...!", Syam menggantung kalimatnya.


"Sama tuan Arya! Kasian kan di gerbang dari tadi kena gerimis!", jawab Syam lalu melangkah menuju ke teras. Tapi baru selangkah ia balik arah.


Dan semua menatap heran pada sosok anak tampan itu.


"Syam?", panggil Puja.


"Iya, om?"


"Benar papa Om di teras, ngga di gerbang lagi?", tanya Puja. Syam mengangguk.


"Ma...Angel mau sama Opa dan uncle Hans dulu ya!", pamit Angel tanpa menunggu persetujuan orang tuanya. Tapi, mereka juga tak bisa melarang Angel menemui Opa nya bukan?


"Syam mau ke mana?", tanya Galuh.

__ADS_1


"Ke dapur. Minta minuman hangat sama bik Mumun. Tadi teh nya udah kena air gerimis. Jadi ganti aja sama yang baru!", kata Syam meninggalkan mereka begitu saja.


Galuh tampak tertegun, tak berbeda jauh dengan Gita dan yang lainnya.


Benarkah Arya sudah bersedia berteduh meskipun hanya di teras?


"Apa Galuh perlu menemui tuan Arya?", tanya Galuh pada Sekar.


"Lebih baik tidak usah Nak. Ibu tidak mau nanti kamu di hina lagi. Sudah cukup Nak!", kata Sekar.


"Maafkan suami saya Bu Sekar!", kata Gita. Sekar hanya tersenyum tipis. Sebagai seorang ibu, tentu dirinya tak rela jika anaknya di hina habis-habisan oleh mertuanya sendiri.


Sekali pun mertuanya merupakan sosok yang berjasa dalam hidupnya dan juga anak-anaknya. Tapi itu semua juga tidak gratis. Galuh menanggung beban hidup dengan satu ginjal saja. Andaikata dia tak menjaga kesehatannya, bisa saja dengan mudah ia terganggu kesehatannya. Beruntung Galuh memiliki Lingga. Lingga selalu merasa hutang Budi karena Galuh sudah menyempatkan mamanya.


"Bu, Ma! Sudah! Sepertinya Galuh harus tetap menemui tuan Arya. Bagaimana pun, beliau mertua Galuh yang harus Galuh hormati."


Galuh beranjak dari sofanya.


"Aku ikut Luh! Kita sapa papa mertua kita sama-sama!", Vanes menggandeng lengan Galuh.


Puja menghela nafas pelan. Mungkinkah Vanes akan berulah di depan papanya?


.


.


.


"Angel!", Arya membalas pelukan cucu kesayangannya. Mengecup puncak kepalanya dengan sayang.


"Its amazing, opa menyusul kami? Kenapa kita tidak berangkat bersama saja kemarin Opa?", tanya Angel dengan nada merajuk.


Syam dan Bik Mumun membawa minuman untuk tuan besarnya.


"Silahkan tuan!", kata Mumun. Baru lah setelah itu ia meninggalkan teras. Arya hanya menatap Mumun sekilas tanpa menjawab apa pun.


"Opa? Opa tidak jawab! Kenapa opa baru menyusul? Tidak bersama kami saja ke sini dari kemarin?"


"Opa sibuk sayang!", kata Arya tersenyum.


"Opa sendiri menyetir ke sini?"


Arya mengangguk.

__ADS_1


"Opa pasti lelah. Gimana kalo opa menginap di sini, pasti seru. Boleh kan uncle Hans?", tanya Angel tanpa bertanya lebih dulu pada opanya. Sedang Lingga hanya tersenyum dan mengangguk tipis. Karena apa? Dia sudah menebak apa yang akan keluar dari mulut papa nya.


"No, An! Opa tidak ingin menginap di rumah ini?!", kata Arya tegas.


"Why? This is cozy house, opa! You must try to stay one night Opa!", Angel masih meyakinkan opanya.


"No, An!", Arya masih menolaknya.


"Mungkin karena rumah ini tak sebagus rumah Tuan Arya di kota sana ya?", tanya Syam yang duduk di lengan bangku yang di duduki Lingga.


Lingga membiarkan saja papanya berinteraksi dengan dua bocah yang selalu bermusuhan itu.


Siapa tahu...papanya perlahan akan luluh karena ulah dua bocah ajaib itu. Angel yang banyak bertanya, dan Syam yang menyahuti dengan ketus.


"Tentu saja!", jawab Arya dengan sombongnya. Lingga memijit pelipisnya. Benarkah rumah senyaman ini masih jauh dari sekedar layak bagi papanya yang kaya raya???


"Abang?!"


"Apa Dek?", tanya Lingga. Arya sempat menoleh saat Lingga memanggil Syam dengan panggilan 'Dek'.


Telinga Arya seolah terngiang-ngiang dengan panggilan Lingga yang sama pada Arsyam nya yang meninggal saat masih bayi dulu. Apakah...jika Arsyam nya masih hidup, Lingga juga akan memperlakukan sama sayangnya seperti pada Syam???


"Tuan Arya ngga di persilahkan minum. Nanti keburu dingin lagi. Cuaca di jakarta kan panas. Takut nya...perutnya kaget karena di sini dingin!", kata Syam.


"Opa, minum dulu teh nya. Biar perut opa hangat. Disini dingin banget lho Opa!", kata Angel. Dia merasa kalah start dari Syam.


"Heum, oke! Opa minum!", kata Arya. Angel mengangguk senang karena ia merasa lebihnya di dengar kan oleh opanya. Lingga dan Syam sama-sama tersenyum.


Syam tahu, Angel tak mau bersaing dan Tuan Arya tak ingin mendengar siapapun selain cucunya. Jadi...Syam hanya berusaha memperalat Angel untuk sekedar membuat tuan Arya meminum teh itu.


Galuh dan Vanes sudah di ambang pintu, tapi Galuh menarik tangan Vanes. Jadi lah keduanya menguping di balik pintu. Dua menantu Arya itu mendengarkan obrolan mereka semua. Keduanya saling melempar senyum saat Angel berhasil membujuk Arya.


"Sudah siap Luh?", tanya Vanes. Galuh mengangguk yakin. Dia tak peduli jika nanti papanya akan mengatakan hal-hal kasar padanya atau tidak.


"Pagi pa!", sapa Vanes yang menggandeng Galuh.


"Pa-gi Nes!", kata Arya. Tapi matanya menatap Vanes dan Galuh bergantian.


*****


Kira-kira sikap Arya seperti apa? Ramah pada Galuh karena ada Vanes, si menantu kesayangan atau .....?????


Hehehe terimakasih yang sudah berkenan mampir ke sini 🙏🙏🙏🙏🙏😉

__ADS_1


__ADS_2