
Belum juga mulut Lingga berucap, Galuh lebih dulu bersuara.
"Memang mobil kak Karen di mana?", tanya Galuh. Karen menunjuk sebuah mobil mewah yang tak jauh dari mobil mereka.
"Yang itu!", jawab Galuh.
Galuh menautkan kedua alisnya dan sedikit menarik ujung bibirnya menunjukkan senyum tipis.
"Mobil sebagus itu, bisa mogok juga?",tanya Galuh yang membuat Karen tak bernafas untuk beberapa detik.
"Iya ...mau sebagus apapun namanya mobil tiap hari di pakai pasti akan ada saatnya butuh istirahat juga!", kata Karen.
Galuh manggut-manggut saja seolah menyetujui apa jawaban Karen.
Lingga, Gita dan Arya harap-harap cemas mendengar obrolan antara Galuh dan Karen. Lingga yakin istrinya bukan tipe perempuan yang suka main kekerasan. Jambak-jambakan misalnya! Hal itu hanya terjadi antara dirinya dan Galuh saja! You know lahhh...🤭
Galuh mengambil ponselnya dan membuka salah satu aplikasi.
"Emang tujuan kak Karen ke mana?", tanya Galuh sambil melihat ke arah Karen tapi jemarinya bekerja di benda pipih yang canggih meski bukan merek apel di gegel.
Karen menyebutkan alamat tujuannya yang tak lain proyek Alex. Dan kebetulan Galuh alamat tersebut. Galuh mengangguk mengerti.
"Jadi...boleh bareng kan?", tanya Karen pada Galuh dengan memasang senyum manis. Berharap sekali bisa meluluhkan hati sang mantan kekasih.
Galuh mengangguk pelan.
"Boleh!", sahut Galuh santai.
"Yang!", Lingga tampak keberatan dengan keputusan Galuh. Tapi Galuh seolah mengabaikan protes suaminya.
"Tapi Yang...!", ucapan Lingga terhenti saat Galuh mengangkat panggilan telepon.
Cihhhh....bucin amat si Lingga! Selama pacaran sama gue, boro-boro manggil gitu. Kencan aja ga pernah! Batin Karen.
[Iya hallo...mas?]
[....]
[Oh...iya, saya di depan mobil Xxx plat luar daerah berwarna merah]
[...]
[Baik mas...di tunggu. Terimakasih]
Lalu Galuh memasukkan ponselnya ke dalam saku gamisnya yang berwarna navy, warna favorit Galuh.
"Yang ...jangan mem....!", lagi-lagi ucapan Lingga terhenti karena tiba-tiba ada mobil yang berhenti di samping mereka lalu seorang laki-laki muda turun dari mobil tersebut.
"Permisi, saya dari G******, atas nama Bu Galuh Prastian?", tanya lelaki itu.
"Iya mas, saya yang pesan!",jawab Galuh. Semua mata tertuju pada Galuh yang santai.
"Jadi gini mas, mba ini mau ke alamat yang sudah saya berikan di aplikasi. Antar sampai ke tempat ya mas! Kasian, mobilnya mogok katanya!", kata Galuh panjang lebar.
Karen ternganga untuk beberapa saat. Begitu juga dengan tiga orang yang ada disamping Galuh.
"Sorry...sorry... maksudnya gimana sih Luh? Tadi kamu bilang, aku boleh bareng kalian?", tanya Karen dengan wajah herannya.
__ADS_1
"Iya emang bareng Kak. Cuma kita beda mobil. Gitu aja sih!", jawab Galuh santai.
Kali ini bukan hanya Karen yang ternganga tapi juga suami dan kedua mertua Galuh.
"Hah? Ckkkk .. mana ada kata begitu? Ini....!"
"Ssstttt! Kak Karen, kak Karen kan bisniswomen ya? Masa iya di hp Kakak ngga ada aplikasi G**** atau sejenisnya? Atau ...kakak biasa pakai taksi konvensional ya? Aku yang tinggal di kampung aja punya lho! Atau kak Karen mau aku bantu download aplikasinya?", tawar Galuh.
Jika dada Karen naik turun menahan emosi, tidak dengan ketiga orang dewasa yang masih terkejut dengan tingkah Galuh yang di luar prediksi BMKG.
Karen merasa di permalukan lalu dengan kesal ia menghentakkan kakinya.
''Tunggu Kak Karen!", panggil Galuh sebelum Karen melangkah.
"Jangan lupa kasih ulasan bintang lima buat mas supirnya ya?!!", pinta Galuh dan di sambut senyum oleh supir taksol itu.
Demi menunjukkan bahwa mobilnya benar-benar mogok, Karen pun memasuki mobil taksol tersebut dengan sedikit kasar menutup pintunya.
"Dah ...kak Karen, sampai jumpa di sana ya!", kata Galuh sambil melambaikan tangannya.
Suara klakson taksol berbunyi sebagai sapaan seperti pada umumnya.
Lingga merangkul bahu istrinya yang tingginya tak seberapa itu.
Perempuan cantik itu mendongak menatap wajah suaminya yang menunduk.
"Kawas cicak manehna teh. Hoyong we nemplok-nemplok salaki urang! Euweh bujang atawa duda gitu mereun nya ???!",kata Galuh mengeluarkan taringnya.
Lingga menyentil pelan dahi istrinya.
"Jangan kasar begitu ngomongnya atuh Yang! Malu di dengerin mama papa!", bisik Lingga. Mata Galuh melebar sempurna lalu menoleh pada kedua mertuanya yang masih terlihat bingung.
"Untung mama papa ngga tahu kamu ngomong apa Yang! Kalo sampai tahu....beuh... predikat menantu idaman yang lemah lembut bakal terhapus dari daftar menantu mereka!", bisik Lingga.
Galuh menaikkan salah satu alisnya.
"Terus...mau ganti istri gitu?", tanya Galuh pelan tapi matanya melotot dan melepas rangkulan Lingga.
Lingga menghapus kasar wajahnya. Serba salah pokoknya mah!!!
"Ayok ma...masuk mobil, di sini suasananya panas!", ajak Galuh pada mama mertuanya. Gita pun tersenyum lalu memeluk lengan Galuh dan langsung masuk ke mobil.
"Udah! Istri mu hanya sedang cemburu!", kata Arya yang juga langsung memasuki mobilnya. Dia duduk di depan untuk menemani Lingga.
Di dalam mobil....
"Mama ngga nyangka kamu bakal kepikiran seperti itu Luh!", kata Gita terkekeh.
"Kepikiran gimana ma? Soal order taksol?", tanya Galuh. Gita mengangguk.
"Menurut penelitian, katanya kebanyakan perempuan itu mengedepankan perasaan dari pada logikanya. Ngga salah sih, tapi untuk saat-saat tertentu...kita harus lebih mengutamakan logika di banding perasaan!", pungkas Galuh.
Lingga meneguk salivanya.
"Yang Galuh bilang ngga salah kan Ma? Boleh Karen bareng, tapi di mobil yang berbeda sama kita!", lanjut Galuh.
Lagi-lagi Gita di buat tertawa karena mendengar ucapan sang menantu bungsu yang ia kenal sangat kalem. Tapi ternyata....
__ADS_1
"Oh...jadi ini maksud ucapan kamu tadi heum?", tanya sang mertua. Galuh tertawa pelan.
"Belum seberapa sih Ma. Lama-lama mama bakal tahu aib-aib aku, ngga cuma kebaikan ku aja!"
Gita menggeleng tapi tetap memasang senyum manis. Arya tak tahu lagi harus berkomentar apa untuk menantu spesialnya tersebut.
.
.
.
Syam mengendarai sepedanya dengan Deni dan beberapa temannya. Dia tak mau merepotkan abahnya karena sejak pagi Ganesh sepertinya enggan berjauhan dengan Abah dan neneknya.
"Syam, mampir beli minum dulu ke warung Abah mu yuk??", ajak Deni.
"Oke!", sahut Syam singkat. Syam dan tiga temannya pun menggowes sepedanya menuju ke warung Abah Salim.
"Punten, teteh! Meser cai tiis!", kata Deni yang sudah lebih dulu turun dari sepedanya di susul oleh Syam dan kedua temannya.
"Eh, den Syam!", sapa si teteh tersenyum ramah.
"Punten teh, semua berapa?", tanya Syam setelah teman-temannya mengambil minuman yang mereka inginkan.
"Eum...den Syam teh bayar?", tanya si teteh.
"Iya teh. Berapa?"
"Lima belas ribu den!", jawab si teteh. Syam pun merogoh kantongnya lalu menyerahkan pada si teteh.
"Kamu traktir Syam?", tanya Deni.
"Ngga!", sahut Syam datar. Tapi Deni dan teman-temannya paham seperti apa Syam. Jadi ia tak ambil pusing dengan omongan Syam yang terkesan ketus itu.
Mereka berempat mengayuh sepedanya dengan kecepatan sedang. Hari ini sangat cerah. Matahari memang terik tapi tak mengurangi antusias empat bocah-bocah itu untuk menggowes sepeda mereka.
Saat mereka berempat melintas di sebuah bangunan rumah yang nampak masih baru, mereka terpaksa menghentikan sepeda karena ada mobil yang akan berbelok ke halaman rumah tersebut.
Mau tak mau mereka menunggu sampai mobil itu berhenti. Kaki Syam siap menggowes bersamaan dengan seorang gadis kecil seusia Syam menuruni mobilnya.
Dan untuk beberapa detik, dua pasang mata itu saling menatap.
"Riang! Cepet!", seorang perempuan menyeret paksa gadis yang di panggil Riang itu masuk kedalam rumah.
Syam yang cukup peka melihat sorot mata gadis itu yang sepertinya tidak sedang dalam kondisi baik-baik saja!
"Syam?", panggil Deni yang menoleh ke belakang karena melihat Syam tak menyusulnya.
"Iya!", sahut Syam datar tapi ia masih menoleh pada rumah baru itu.
Entah kebetulan atau apa, gadis yang di panggil Riang itu menoleh di saat Syam pun menoleh padanya.
*****
Segini dulu ya...🙏🙏🙏
Sampai kangen sama Yuliana Tunru Darra...where are you???
__ADS_1
Terimakasih banyak2 🙏🙏🙏
Happy weekend ✌️