Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 170


__ADS_3

Mohon koreksinya kalo banyak typo atau pemahaman Mak othor yang kurang mumpuni 🙏🙏. Dengan tangan terbuka mamak menerima koreksi kalian reader's kesayangan 🤗🤗🤗


Happy reading 🤗🤗🤗🤗


**********


"Serem amat kamu bahas akhirat sih Syam! Ganti topik, ini terlalu berat di obrolin sama kamu!", kata Arya yang notabene merasa takut jika mengingat hal-hal yang berbau demikian.


"Papa takut?", tanya Syam.


Arya berdehem pelan. Bagaimana dia akan menjawabnya? Munafik jika dia jawab tidak takut mati. Tapi ...saat ia menjawab takut, apakah tidak terlihat memalukan di depan bocah pintar itu?


Karena tak mendengar jawaban apa pun dari Arya, Syam pun menatap Arya beberapa saat.


"Memang nya kalau kita takut, kematian tidak akan menghampiri?"


Arya meneguk salivanya lagi.


Serem amat sih Syam bahas kaya begitu? Mana malam-malam pula! Batin Arya.


"Syam pun sama kok takutnya. Tapi...ya semua memang menunggu giliran!", kata Syam.


Arya menyesap kopi nya beberapa saat untuk sekedar menenangkan dirinya agar tak terlihat gugup di depan Syam.


"Kata pak ustadz Mulyono yang orang Jawa tuh gini Pa!", Syam dalam mode serius.


"Hidup di dunia ini ibarat perjalanan menuju ke kehidupan kekal di sana. Nah, amal dan ibadah serta perbuatan kita di sini adalah bekal untuk berada di sana. Namanya juga bekal, cukup tidak nya ya tidak tahu kecuali kalau sudah selesai di tujuan akhir."


Mendadak bulu kuduk Arya berdiri karena sapuan angin malam yang cukup dingin.


"Papa tahu kain kafan kenapa berwarna putih?", tanya Syam.


"Iiihh...kamu bahas kaya gitu melulu sih Syam!", kata Arya ogah-ogahan. Sisi arogan yang selama ini ia perlihatkan, runtuh di hadapan Syam.


Mungkin jika orang lain yang membahas hal itu, dia akan biasa saja. Sayangnya, bocah sekecil itu yang mengatakannya.


"Syam bukan lagi nakutin papa kali pa!", kata Syam.


"Filosofi putih itu kan suci, bersih, dan tanpa noda. Begitu pula dengan kain kafan, yang menandakan bahwa si pemakai nya sudah tidak membutuhkan barang-barang lain selain kain kafan tersebut."


Dada Arya tiba-tiba merasa sesak.


"Ustadz Mulyono bilang! Kain kafan dalam bahasa Jawa itu di sebut Mori. Kalo dalam bahasa Indonesia mungkin di sebut akronim dari Limo Ojo Keri (Lima jangan lupa) yang dalam artian Lima tersebut adalah solat lima waktu. Dari kain itu, kita di ingatkan untuk selalu solat lima waktu. Ya ... mungkin itu yang bisa Syam pahami."


Arya melengos ke arah samping tak mau menatap Syam.


"Syarat mati ngga harus tua lho Pa!", lanjut Syam.


"Kamu bahas itu Mulu sih Syam!", kata Arya yang tak bisa marah sedikitpun melihat wajah polos bocah di hadapannya itu dengan suara yang di tahan.


"Tapi papa ngga merasa kalo syam lagi nakutin papa kan???"

__ADS_1


"Nakutin sih ngga, cuma...papa malu, sudah setua ini malah di kasih tahu sama bocah segede kamu!", Arya mengusap kepala Syam.


"Jangan di lihat siapa yang bicara, tapi apa yang di bicarakan!", kata Syam. Arya pun mengangguk.


"Belajar untuk memperbaiki diri tidak di lihat dari usia kok Pa. Yang penting sudah berusaha bertaubat dan melakukan semua yang baik. Lalu tidak melakukan kesalahan yang sama lagi."


"Iya, papa masih akan terus belajar Syam."


"Dan Syam harap, papa juga belajar untuk memaafkan kakak papa seperti halnya papa yang memberanikan diri meminta maaf pada kakak dan Abang."


Arya diam tak menyahut.


"Dendam di dalam hati hanya akan menyakiti diri sendiri Pa. Memaafkan memang mungkin bisa papa lakukan, tapi tidak untuk di lupakan."


"Syam sendiri mengalaminya kok Pa."


"Iya, papa tahu itu", kata Arya.


"Huum, kalo boleh Syam jujur mah Syam pengen memiliki keluarga utuh seperti yang lain. Tapi... terlalu egois kalo Syam pengen Papa Glen cuma jadi papa Syam sedangan di sana juga ada Zea yang mungkin lebih membutuhkan papa Glen."


"Setidaknya, justru Syam sudah memiliki banyak orang-orang di sekitar Syam yang sangat sayang sama Syam."


"Ibu, kakak,Abang, mama Gita, papa Arya dan mungkin...Mang Salim pun akan seperti kalian yang sayang sama Syam", lanjut Syam.


"Iya! Syam anak baik, wajar kalo semua sayang sama Syam!", tangan Arya terulur mengusap kepala Syam lagi.


"Apa yang papa rasakan sekarang setelah mendengar kakak papa sudah tak memiliki apapun, siapa pun bahkan sedang sakit parah tak bisa melakukan apa-apa sendiri?", tanya Syam yang sudah ingin ia tanyakan sejak tadi. Tapi ternyata dia harus melalui berbagai obrolan yang... mungkin di anggap absurd.


Arya tak menjawab pertanyaan Syam. Justru dia makin terdiam.


"Pa! Dulu, papa mungkin merasakan kesulitan bahkan kesedihan yang amat sangat menyakitkan hati papa. Tapi lihat lah sekarang? Dimasa tua papa, ada mama Gita, ada Abang, kakak, Ganesh, Om Puja, Tante Vanes dan juga Angel yang Papa miliki berada di sekitar papa dan pasti ingin selalu bersama papa. Sedang kakak nya papa??? Opa Surya yang bukan siapa-siapa bagi kakak papa, membantu sebisanya kan?"


Arya hanya mengubah posisi duduknya lalu setelah itu menoleh pada Syam.


"Apa Surya menghubungi kamu Syam? Dia meminta mu membujuk papa?", tanya Arya. Syam menggeleng.


"Ngga pa. Opa ngga telpon Syam. Justru Syam tahu kalo kakak papa di tolong opa Surya, dari papa tadi kan?", tanya Syam balik.


"Banyak hal sederhana yang patut kita syukuri, sekecil apapun itu. Kata kakak, selagi ada rasa 'nikmat syukur ' dalam hati kita insyaallah Allah akan menambah berkali-kali lipat apa yang kita butuhkan bukan sekedar apa yang kita inginkan!", kata Syam bak orang tua yang sedang memberi petuah pada anak kecil tapi ternyata sebaliknya.


"Lalu, papa harus apa?", tanya Arya menoleh pada Syam.


Syam tersenyum tipis.


"Papa akan tahu jawabannya sesuai hati nurani papa bukan karena omongan Syam atau siapa pun."


Lelaki dewasa itu terdiam. Dia tak menduga jika bocah kecil itu bisa memberikan ceramah dengan versinya sendiri yang mudah di pahami oleh orang keras kepala seperti Arya.


Syam menguap, menutup mulutnya lalu menghapus ekor matanya karena mengembun.


"Udah malam banget Pa. Syam ijin bobo duluan boleh ngga?", tanya Syam. Jika tadi Syam terlihat begitu dewasa, tidak saat ini.

__ADS_1


Tak bisa di pungkiri jika bocah yang di ada di depan mata Arya hanyalah bocah kecil yang belum genap dua belas tahun.


"Boleh, kamu bobo di kamar yang kemarin papa kamu pakai. Hanya ada dua kamar di rumah ini Syam!", kata Arya.


"Huum, ngga masalah Pa! Ya udah, Syam masuk ya Pa. Selamat malam!", pamit Syam.


"Iya Nak, mimpi yang indah."


Syam pun berlalu memasuki kamar yang akan ia huni. Sedang Arya sendiri tengah memikirkan apa yang dia obrolkan bersama Syam tadi.


Apa yang harus ku lakukan? Monolog Arya dalam hatinya.


.


.


.


Sebelum subuh, Arya sudah memanasi mobilnya. Bahkan Gita cukup terkejut melihat suaminya sudah berada di samping rumah.


Gita pun mencuci wajah nya sebelum menemui Arya.


"Pa? Lagi ngapain? Ini belum subuh lho!", kata Gita.


"Manasin mesin sebentar ma!", sahut Arya. Tak lama kemudian, azan subuh berkumandang.


"Manasin mesin kan bisa nanti kalo udah terang? Ini aja kita belum solat subuh Pa!", kata Gita. Belum juga Arya menyahuti, Syam berada di belakang Gita.


"Ya udah, solat subuh aja dulu!", kata Arya menghampiri Gita dan Syam.


"Kamu pasti keganggu karena bising ya Syam?", tanya Gita pada Syam.


"Ngga kok ma. Udah biasa bangun jam segini. Lagian, mobil papa kan mobil mahal, mana ada bising hehehe bahkan nyaris tak terdengar heheheh!", kata Syam.


"Bisa aja!", Arya mengusap puncak kepala Syam.


"Memang papa mau ke mana sih manasin mobil jam segini?",tanya Gita.


"Papa mau ke Jakarta. Surya bilang, Yudis kritis. Dan Pandu juga masuk rumah sakit, kata Puja semalam."


"Papa masuk rumah sakit?", tanya Gita terkejut.


"Heum! Tapi Puja dan Vanes sudah mengurus nya di bantu Lukas! Papa ke sana hanya formalitas kok!", kata Arya meninggalkan Gita dan Syam yang tersenyum tipis penuh arti.


Bukan! Mereka bukan mentertawakan kondisi Pandu atau Yudis! Tapi keduanya bersyukur karena sekeras apapun Arya di dalam hatinya masih ada kasih sayang yang tulus tanpa memperlihatkan pada semua orang.


*****


17.45


Lumayan banyak lah yak 🤭✌️🙏

__ADS_1


Kesibukan belum berakhir gaes 🤗


Makasih banyak-banyak 🤩 ✌️🙏🤭✌️


__ADS_2