
Mungkin part-part berikutnya banyak flashback ya 🙏🙏🙏🙏
**********
"Abang tahu, banyak kesulitan yang sudah kamu hadapi selama Abang belum kembali!", ia menakupkan kedua tangannya di pipi Galuh.
"Abang minta maaf Yang!", kata Lingga. Nyatanya serentetan peristiwa yang belakangan ini terjadi mengingatkan masa-masa sulit yang harus Galuh hadapi dulu.
Galuh menenggelamkan kepalanya di dada bidang suaminya yang sangat nyaman. Lingga tidak nge-gym. Hanya saja sesekali suka membantu karyawannya berurusan dengan para karung beras atau batu bata yang di angkut ke mobil. Tapi akhir-akhir ini dia sibuk dengan kafe di kota.
Flashback on....
Sepasang suami istri yang baru mengesahkan kembali pernikahannya di kantor urusan agama hari itu terpaksa berpisah beberapa hari.
Lingga di bantu oleh Burhan menjual apartemennya untuk modal hidup bersama Galuh.
Lebih dari sekedar lumayan, bisa membeli rumah yang sederhana tentunya. Tapi, Lingga berniat untuk mengembangkan rumah makan Galuh. Itu pun jika di ijinkan.
Setelah berkomunikasi lewat ponsel selama beberapa hari, Lingga pulang ke rumah Galuh.
"Assalamualaikum!", sapa Lingga yang sudah mulai terbiasa seperti yang ia lihat pada Galuh beberapa hari lalu.
Nyatanya, istrinya memang jauh lebih taat agama jika dibandingkan dengan dirinya.
"Walaikumsalam!", jawab Umar dan Usman yang baru menutup warungnya. Mereka melihat kedatangan suami bosnya yang memarkirkan kendaraannya mepet ke depan warung karena memang tidak ada garasi di sana.
"Eh, mas Lingga. Masuk mas!", Umar mempersilahkan.
Lingga pun masuk. Masih asing, meski itu di rumah istrinya sendiri. Peristiwa pengusiran oleh papa nya di pesta itu masih cukup membekas. Dia tak mungkin melupakan kalimat-kalimat yang sudah meremehkannya.
Lingga akan membuktikan pada papanya jika ia dan Galuh bisa berdiri tanpa bantuan papanya.
"Kayanya Mba Galuh belum tidur mas, tadi masih sempat bikin susu panas!", kata Usman memberikan informasi.
"Oh, ya makasih mas Usman. Kalau begitu, saya naik ya!", kata Lingga sambil membawa koper yang tidak terlalu besar. Karena sebagian barang pentingnya masih ada di mobil. Burhan sendiri ngekost tak jauh dari sana.
Suasana sudah temaram. Lampu kamar Bu Sekar, Syam dan pekerja perempuan Galuh juga sudah padam.
Tinggal lampu kamar Galuh yang masih menyala. Lingga memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar istrinya.
"Siapa?", tanya Galuh yang heran ada yang mengetuk pintu kamarnya malam-malam.
__ADS_1
"Abang!", jawab Lingga. Tak berapa lama kemudian, Galuh membuka pintu kamarnya. Mata mereka saling mengunci lalu Galuh beralih pada koper yang Lingga bawa.
Gadis itu menghela nafas, setelah itu mengambil alih koper milik Lingga dengan tangan kirinya. Lalu ia mengulurkan tangannya untuk menyalami Lingga. Lelaki itu tak mengerti hingga Galuh meraih tangan kanan lelaki tampan itu, dan di cium dengan takzim oleh Galuh.
Lingga baru paham dan akhirnya tersenyum tipis. Ia baru menyadari kebodohannya. Belum terbiasa tepatnya, bukan bodoh ...
"Masuk bang!", pinta Galuh. Lingga pun mengekor di belakang Galuh.
Galuh meletakkan koper Lingga di dekat lemari pakaiannya dan setelah itu ia menata pakaian Lingga yang sudah ia siapkan tempat di samping pakaiannya.
Lingga yang duduk di ranjang, hanya memandangi kegiatan istrinya yang sedang merapikan pakaiannya.
"Luh?", panggil Lingga.
"Heum?", Galuh menoleh sekilas.
"Abang lapar!", kata Lingga. Galuh tersenyum tipis, menyelesaikan pekerjaan singkatnya lalu kembali menutup pintu lemarinya.
Ia melihat jam dinding di kamarnya, sudah hampir setengah dua belas malam.
"Abang mau makan apa?", tanya Galuh yang berdiri di depan Lingga.
"Makan kamu!", kata Lingga tersenyum penuh arti. Ayolah, dia lelaki dewasa! Yang ada di depannya adalah perempuan yang sah ia miliki.
Lingga menggelengkan kepalanya, membuat Galuh menautkan alisnya.
"Kok? Ngga jadi laper?", tanya Galuh dengan bibir manyun. Lingga gemas melihat gadis yang ada di depannya. Tangannya reflek menarik Galuh hingga duduk di atas pangkuannya.
Galuh sempat terkejut karena tahu-tahu dia sudah ada di pangkuan lelaki tampan yang tak lain suaminya sendiri. Meski bertahun-tahun menjadi istrinya, tapi mereka tak pernah dekat sama sekali. Bahkan mungkin bersentuhan saja saat bersalaman. Tak lebih dari itu. Itu pun hanya dua hari bersama saat mereka baru menikah dulu.
Galuh mendadak beku saat tiba-tiba saja jilbabnya sudah terbuka, mungkin tangan nakal Lingga yang melakukannya.
"Apa yang Abang lakukan!", kata Galuh yang baru sadar dan bangkit dari duduknya di pangkuan Lingga.
"Maaf jika aku keterlaluan. Tapi... bukankah aku suami mu, kenapa kamu masih memakai jilbab di saat bersama ku?", tanya Lingga tanpa beranjak dari ranjangnya.
Galuh melipat bibirnya dan memandang arah lain.
"Kita memang suami istri Bang, tapi...bukankah kita butuh waktu untuk saling mengenal lebih dulu?", tanya Galuh.
"Jadi, kamu menolak ku?", tanya Lingga.
__ADS_1
"Ngga bang, bukan begitu maksudku. Tapi...tolong mengerti. Semua akan berubah seiring berjalannya waktu. Kita...kita bisa mencobanya lebih dulu untuk saling mengenal satu sama lain. Aku tahu, Abang berhak atas semuanya yang ada padaku. Tapi ...Abang juga tolong pahami, kita belum sedekat umumnya suami dan istri...."
Lingga bangkit dari ranjangnya, lalu mendekati Galuh yang berdiri di hadapannya. Puncak kepala Galuh tepat di bawah dagu Lingga hingga Lingga terpaksa sedikit menunduk untuk berbicara lebih dekat dengan istrinya. Begitu pula dengan Galuh yang terpaksa mendongak menatap suaminya yang dia akuinya jauh ... jauh lebih tampan di banding beberapa tahun yang lalu saat masih jadi anak selengekan.
Lingga menyelipkan rambut Galuh di sela telinganya.
"Abang tahu, kesalahan Abang yang sudah meninggalkan mu tanpa kepastian selama bertahun-tahun tidak mudah untuk di maafkan!", kata Lingga tepat di hadapan istrinya.
"Abang minta maaf akan kesalahan besar Abang itu! Abang tahu...Abang jahat! Abang..."
"Aku hanya sedang berusaha untuk memaafkan Abang, tapi....tolong beri aku waktu bang!", kata Galuh menunduk.
Lingga mengangkat dagu Galuh hingga gadis itu bisa saling menatap.
"Abang tidak akan memaksa mu dalam waktu dekat ini. Kita baru memulai semuanya untuk ke arah yang lebih baik. Abang tidak akan meminta hak Abang jika belum ada cinta di hati kamu, buat Abang!", kata Lingga masih menatap mata lentik istri mungilnya.
Galuh mengerjap pelan, ia sedang meyakinkan dirinya jika sosok yang di depannya adalah nyata.
"Abang akan membuktikan pada papa, bahwa apa yang Abang pilih adalah yang terbaik buat Abang. Dan kamu pilihan Abang! Mungkin benar, sekarang... belum ada cinta di antara kita. Tapi...aku sudah berjanji, aku tidak akan pernah membuat mu bersedih lagi atas apa yang ku lakukan padamu. Seperti kesalahan ku yang sudah meninggalkan mu, Galuh!"
Tenggorokan Galuh tercekat. Dia tak tahu harus berbicara apa. Lingga seperti sosok yang tiba-tiba hadir menjadi sandaran dalam hidupnya setelah selama ini ia bersikap seolah dia kuat menghadapi dunianya.
Menjadi tulang punggung, menjadi pelindung ibu serta adiknya.
Tapi...entah kenapa di depan lelaki tampan ini, ia merasa jika dirinya lemah. Dia tetap seorang perempuan yang butuh di lindungi. Dia tak sekuat seperti yang orang lain lihat.
Gadis itu menitikkan air mata. Entah air mata bahagia atau sedih.
Lingga menghapus bulir hangat yang menetes di pipi Galuh. Lelaki itu berjongkok di hadapan istrinya.
"Selama ini, kamu sudah menjadi sosok yang kuat Galuh. Sosok yang bisa melindungi dan menjaga ibu serta Syam. Tolong ...tolong beri kesempatan buat Abang untuk membuktikan jika Abang pun mampu menjaga mu, menjadi sosok yang berarti dan kamu...bisa bergantung sama Abang! Ya ...?", Lingga mengusap pipi Galuh lagi.
Gadis itu berusaha tersenyum dan mengangguk. Lingga mengecup kening gadis itu dengan penuh kehangatan. Tak ada nafsu di sana, ia hanya ingin mencurahkan bahwa dirinya memang tulus pada Galuh.
Tidak ingin memaksakan kehendaknya apalagi nafsunya. Jika selama ini ia bisa bertahan menghadapi godaan para gadis di negara barat, apakah dia mampu menahannya jika di suguhkan yang halal di hadapannya? Lingga akan berusaha, sampai Galuh mengijinkannya tanpa ia minta.
*******
Habis ini masih Flashback ya 😊😊😊
Mendung syahdu, pengennya rebahan Mulu gak seehh????
__ADS_1
Tararengkyu 🙏✌️✌️✌️
11.45