Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 65


__ADS_3

Vanes masih tak habis pikir dengan apa yang dia dengar dari adik iparnya itu.


"Mobil kesayangan Abang itu ...baru kembali di beli Abang dua tahun yang lalu kak setelah kondisi ekonomi kami benar-benar stabil dan membaik!", ujar Galuh. Vanes menengok sekilas pada mobil P**** sport itu. Meskipun sudah di pakai beberapa tahun yang lalu, nyatanya nilai jual mobil itu memang masih cukup tinggi.


"Tapi...maaf Luh, bukan aku tidak percaya padamu, tapi... setahu ku papa...tak seperti itu."


Galuh tersenyum tipis.


"Iya kak. Tuan Arya memang baik kok!", kata Galuh.


"Ayolah Galuh, beliau papa mertua kita. Bukan majikan! Kenapa memanggil seperti itu? Bik Mumun saja memanggil kamu Neng sama Aden kok ke kalian, bukan tuan dan Nyonya!", protes Vanes.


"Kak! Aku sadar diri aku ini siapa. Aku cuma orang kampung dari kalangan kasta terbawah mungkin. Bukan orang biasa apalagi dari keturunan yang jelas terhormat seperti kak Vanes. Wajar kalau tuan Arya tidak menginginkan aku menjadi bagian dari keluarga kalian."


Vanes menggeleng, dia tak sependapat dengan Galuh sekarang.


"Kasta apanya? Dimata Tuhan kita semua sama!", kata Vanes penuh emosi meski ia tak sedang marah pada Galuh.


"Bagi sebagian orang yang berprinsip harta tahta dan keturunan, hal itu tidak berlaku kak. Dan beruntungnya...kak Vanes berasal dari golongan yang sesuai dengan kriteria tuan Arya harapkan, bukan seperti aku yang hanya rakyat jelata seperti ini."


"Aku akan mencoba membujuk papa!", kata Vanes. Galuh tersenyum dan menggeleng pelan.


"Ngga perlu Kak. Pada dasarnya, tuan Arya memang baik. Baik sekali malah!"


Vanes menautkan kedua alisnya karena apa yang diucapkan Galuh seperti kalimat sarkastik.


"Karena tuan Arya, ibu dan Syam selamat. Beliau yang mengantarkan ibuku saat akan melahirkan Syam, memberikan nama untuk Syam, mengazaninya bahkan membiayai semua biaya rumah sakit. Padahal...saat itu aku hanya gadis delapan belas tahun yang sudah menikah dengan Abang, tapi...ya...kami terpaksa berpisah."


"Tunggu! Oke, aku tahu soal pernikahan dadakan kalian. Tapi...soal Syam?", Vanes mulai kepo.


"Syam lahir karena pelecehan seksual terhadap ibuku yang di lakukan oleh....om Glen!"


"Apa? Wait? Om Glen, suami Tante Helen?", tanya Vanes dengan keterkejutan luar biasa.


"Huum! Tapi...om Glen saat itu memang tidak tahu jika dari perbuatannya, hadir Syam. Di saat yang sama, hadir tuan Arya sebagai penyelamat kami."


Huftttt... terdengar hembusan nafas berat Galuh sambil mengusap perutnya yang buncit.


"Saat itu, mama Gita di rawat. Mama membutuhkan donor ginjal dan... karena aku butuh uang, aku menawarkan diri untuk menjadi pendonor ginjal, buat mama Gita! Dan tuan Arya memberikan apa yang ku butuh kan."


"Apa? Mama pernah kena ginjal? Jadi... kamu hidup dengan satu ginjal selama ini? Ya Tuhan....!", Vanes mengusap wajahnya.


"Alhamdulillah selama ini aku baik-baik saja kak. Jangan terlalu cemas seperti itu! Abang selalu memantau kesehatan ku dan bayi kami kok!"


Vanes mendekati Galuh lalu menggenggam tangan ibu hamil itu.


"Aku tidak tahu seperti apa rasanya jadi kamu selama ini. Tapi aku harap, kamu dan Lingga akan selalu bahagia! Semoga papa bisa merubah sikap dan pandangannya terhadap kalian."


Galuh membalas genggaman tangan Vanes. Entah kenapa dia merasa cocok sekali berbicara dengan perempuan cantik bak super model, tak seperti dirinya yang tingginya tak seberapa.


"Kak, aku tidak berani berharap banyak tuan Arya mau menerima kehadiran ku atau pun bayi kami karena mungkin Tuan Arya tak sudi darahnya mengalir dalam diri anak kami. Aku hanya berharap, semoga kedepannya papa jauh lebih baik."


"Aku bukan orang yang sangat baik kak. Jauh dari kata itu! Ada kalanya aku punya sisi jahat yang mungkin tak banyak orang tahu, sekali pun itu Abang. Suami ku sendiri!"


"Kita memang baru saling mengenal Luh! Tapi dimata ku, kamu terlihat begitu baik dan tulus. Apalagi...aku bisa melihat seperti apa bucinnya Lingga. Padahal selama di Kanada, meski tak tinggal bersama kami sih. Dia begitu dingin dan ya...jarang bergaul. Yang aku tahu, dia berteman dengan Shiena cukup dekat. Tapi ternyata...Lingga menolak untuk di jodohkan dengan Shiena. Wajar sih dia mempertahankan pernikahan dadakannya, soalnya.... istri yang ia perjuangkan sebaik dan secantik kamu!", puji Vanes panjang lebar.

__ADS_1


"Jangan terlalu memuji ku kak, aku tak sesempurna itu!"


Keduanya pun terkekeh bersamaan dengan pasangan mereka yang pulang. Karena terdengar suara klakson mobil yang sudah Galuh hafal.


"Mereka sudah pulang kak!", kata Galuh.


"Oh ya? Kita ke sana yuk!", ajak Vanes. Galuh bangun dari kursinya dengan perlahan.


Lingga dan yang lain mencuci tangan lebih dulu sebelum masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum!", Lingga dan Syam mengucapkan salam.


"Walaikumsalam!", jawab Galuh.


"Duh yang habis jalan-jalan ke kota, mukanya cerah bener???", ledek Galuh pada Syam.


"Huum! Aku udah dapat ini kak!",kata Syam.


"Iya, tapi di pasangnya di ruang tengah aja ya. Biar bisa main sama Abang, terus bisa batasi mainnya. Inget, tugas adek itu belajar!", titah Galuh.


"Ihhh...kok sama kaya Abang sih ngomongnya kaya gitu waktu di mobil!", kata Syam.


"Eleh...manja!", celetuk Angel. Semua menoleh pada gadis cantik yang menginjak remaja itu.


"Iri bilang bos!", sahut Syam masih dengan nada ketusnya. Semua hanya mempu menggeleng heran.


"Oh ya Aunty, uncle Hans beli makanan aneh. Kayanya Aunty ngga usah makan deh. Keliatan banget pakai tambahan pewarna. Takut dedek bayinya kena racun!", kata Angel.


Galuh menautkan alisnya, memang makanan apa yang Angel anggap beracun???


"Abang yang beli pasti nih!", kata Galuh.


"Jelas dong yang, Abang kan tahu kesukaan kamu apa!", sahut Lingga. Puja meraih bahu Vanes yang tersenyum dengan keromantisan adik iparnya.


"Aunty... jangan di makan ih!", larang Angel.


"Sayang, kalo ini beracun sudah pasti banyak orang yang jadi korbannya dan penjual nya ngga bakal jualan lagi kan?", kata Galuh.


"Tapi aunty itu kan mpplhhh....!", ucapan Angel terhenti karena Syam dengan paksa menyuapi Angel yang masih saja menghina makanan tradisional itu.


Semua ternganga melihat tingkah Syam yang spontanitas menghentikan ucapan Angel. Karena keterkejutannya, tanpa di sadari Angel mengunyah makanan itu.


Puja dan Vanes menahan tawa, begitu juga dengan Galuh dan Lingga.


"Enak kan? Ga beracun kan?", tanya Syam lalu mencomot makanan itu. Angel merasa malu sekali. Padahal sejak awal beli, dia sudah menghina makanan itu. Tapi ternyata rasanya......ia suka.


"Di bilangin jangan suka mencela makanan, dosa!", ujar Syam. Galuh menutup wajahnya karena malu dengan kelakuan Syam pada Angel yang di rasa cukup keterlaluan. Mungkin jika Vanes dan Puja tidak ada di situ, ia akan memarahi Syam.


"Udah-udah Syam!", tegur Lingga.


"Bang, Abang pulang, aku bobo di mana?", tanya Syam.


"Di depan tv sama Abang. Ibu sama kakak di kamar!", kata Lingga.


"Heum, oke deh! Syam mau solat dulu!", pamit Syam.

__ADS_1


"Ngga usah bang, kamu sama Galuh yang di kamar. Ibu sama Syam bisa di....!", Sekar yang tiba-tiba bergabung membahas masalah tidur pun berhenti bicara saat Gita bersuara. Dia turun dari kamar karena mendengar suara orang mengobrol.


"Biar Angel bobo sama Oma, jadi kamar Syam di pakai Bu Sekar sama Syam. Maaf sekali ya Bu besan, kami sekeluarga merepotkan kalian!", kata Gita tidak enak.


"Ya Allah Bu, sudah tidak apa-apa. Angel sudah mulai remaja, kasian kalo nanti dia butuh privasi atau yang lain!", tolak Sekar.


"Ngga apa-apa kok Angel bobo sama Oma di kamar Syam!", kata Angel. Sekar pun tak menolaknya.


"Udah pada makan malam belum?",tanya Lingga.


"Sudah bang!", jawab Galuh.


"Sudah!", di jawab Gita, Sekar dan Vanes bersama-sama. Sedang yang tadi habis jalan-jalan pun sudah makan di luar.


"Ya udah kalo gitu, pada istirahat aja ya!", pinta Lingga. Satu persatu meninggalkan ruangan itu dan kembali ke kamar.


"Abang ke depan sebentar ya!", kata Lingga.


"Ngapain? Jangan lama-lama!", kata Galuh.


"Ya sudah ayok kalo mau ikut?! Biar tahu Abang mau ngapain!", ajak Lingga. Dengan senang hati bumil itu melangkah ke depan.


"Abang tahu, ada yang kangen berat sama Abang!", Lingga mencolek dagu Galuh.


"Emang Abang ga kangen gitu sama aku, sama dedek utun?", tanya Galuh dengan bibir manyun.


"Habis ini kangen-kangenan di kamar!", bisik Lingga. Hanya berbisik di dekat telinga Galuh.


Tapi yang di lihat oleh seseorang yang ada di dalam mobil di ujung gang sana, sepasang suami istri itu seperti sedang berciuman.


Siapa lagi kalo bukan tuan Arya? Dia sudah sampai di dekat rumah Lingga. Tapi hari sudah cukup malam, dia yakin jika istrinya sudah tidur seperti kebiasaannya. Maka, Arya mengurungkan niatnya untuk menghampiri sang istri besok pagi dan menyeretnya keluar dari rumah Lingga.


Lingga menutup pintu gerbangnya tanpa mengunci karena biasanya pagi-pagi karyawan nya akan ke gudang belakang untuk mengambil keperluan bekerja. Entah itu di kebun sayur atau pabrik penggilingan padi.


"Udah puas? Abang cuma mau nutup gerbang di ikuti?",tanya Lingga. Galuh terkekeh kecil.


Lingga berjalan menutup gerbang perlahan. Dari jauh ia melihat sebuah mobil asing yang menghadap ke arah rumahnya.


Bukannya sombong, Lingga tahu beberapa tetangga yang memiliki mobil. Tapi sepertinya mobil itu bukan milik salah satu tetangganya. Dan ya...Lingga masih berpikir positif, mungkin tetangganya punya mobil baru.


Dari pada pusing memikirkan hal tak penting itu, ia mengajak sang istri ke kamar untuk saling melepas rindu.


Melihat anak dan menantunya masuk ke dalam rumah, Arya pun mencontohkan beristirahat di dalam mobil. Ia menurunkan joknya hingga bisa telentang. Tapi belum ada setengah jam ia tertidur, gedoran kaca mengganggu tidurnya.


Lelaki setengah baya itu hendak marah, tapi melihat ada beberapa orang memakai sarung membawa senter dan juga alat kentongan, Arya mencoba untuk tidak marah. Dia pun membuka kaca mobilnya.


"Ada apa ya pak?", tanya Arya.


"Bapak siapa? Dari mana mau ke mana?"


"Saya dari Jakarta. Cuma mau numpang tidur. Besok pagi saya pulang ke jakarta!", kata Arya.


"kenapa anda tidak cari saja penginapan pak? Kami sebagai petugas siskamling hanya antisipasi saja, takut ada tindakan kriminalitas. Sekarang, kami yang kebetulan berkeliling bertemu anda. Bagaimana kalo ternyata ada orang jahat atau perampok mungkin? Jadi, lebih baik bapak menginap di hotel depan sana. Kalau memang anda mau mencari alamat, bisa besok pagi lagi!", kata ketua grup siskamling itu.


Arya pun tak menyalahkan para lelaki bersarung tadi. Apa yang mereka katakan ada benarnya juga.

__ADS_1


"Baiklah bapak-bapak, saya akan ke hotel. Permisi?!", kata Arya lalu menyalakan mobilnya. Para petugas siskamling pun menyingkir agar mobil Arya bisa putar balik. Setelah mobil Arya benar-benar pergi, barulah mereka melanjutkan siskamling nya.


__ADS_2