
"Uncle?"
"Ya An? Kenapa?", tanya Lingga pada Angel.
"Kapan aku diajak ke rumah Uncle Hans?", tanya Angel. Lingga tak langsung menjawab melainkan tersenyum tipis.
"Rumah aunty jauh dari sini An. Bisa empat jam baru sampai!", jawab Lingga. Lingga sengaja menyebut rumah 'aunty' agar papanya sadar jika apa yang suami punya adalah milik istrinya. Kenapa? Karena ia paham , selama ini papa seolah membatasi hak mamanya soal kepemilikan meskipun papa tak pernah membatasi biaya hidup mama secara materiil.
Puja dan Vanes juga hanya tersenyum mendengar pertanyaan Angel sekaligus jawaban Lingga.
"Dekat lah Om. Dari Kanada ke sini lebih dari dua puluh jam!", kata Angel.
Galuh cukup tertarik dengan kecerdasan Angel yang ada saja alasannya untuk bisa bermain ke rumahnya.
"Memangnya kamu libur berapa lama sekolahnya An?", tanya Gita.
"I don't know Oma. Terserah papa. Bagaimana kalau Angel pindah sekolah di sini saja? Kalau perlu, sekolah di dekat rumah aunty!", celetuk Angel. Semua mata terbelalak ke arah Angel yang dengan entengnya mengatakan hal demikian.
Gita melirik ke arah Puja yang masih cukup terkejut dengan ucapan mendadak Angel. Pindah dari Kanada ke Indonesia bukan salah satu tujuan mereka berdua.
__ADS_1
"Boleh kan Aunty, uncle Hans?", tanya Angel sambil merengek.
"Sayang...!", Vanes mengusap bahu Angel.
"Mama, dari cerita uncle Angel yakin kalau tempat tinggal uncle dan aunty bagus dan pasti sejuk! Bukan begitu aunty?"
Galuh yang di beri pertanyaan seperti itu pun mengangguk dan tersenyum tipis.
"Oma juga belum pernah ke sana lho!", Gita seolah mendukung Angel agar dirinya bisa ikut ke sana juga.
"Masa sih Oma...????", pekik Angel. Gita mengangguk cepat.
"Uncle Hans! Pokoknya Angel mau ke sana!", kata Angel keukeuh.
"An, uncle masih banyak pekerjaan di sini sayang!", kata Lingga pada keponakannya.
"Kan Aunty ngga ada pekerjaan, kenapa ngga pulang aja sama Angel ke sana. Ya kan aunty?", Angel meminta persetujuan Galuh.
"Maaf kak Puja, kak Vanes, memangnya boleh kalo aku ajak Angel ke kampung kami?", tanya Galuh pada kedua orang tua Angel. Lingga sempat menoleh pada istrinya.
__ADS_1
"Kenapa tidak? Kami juga ingin ikut ke sana kok. Boleh kan?", tanya Puja.
Galuh dan Lingga tersenyum tipis.
"Tapi pekerjaan ku di sini banyak Ma, kak?!",kata Lingga.
"Benar kata Angel tadi. Yang kerja kan kamu, Galuh nggak.Lagipula tega banget mau nyuruh istri yang lagi hamil, kerja!",Gita ikut menimpali.
"Masa aku di sini Galuh di kampung. Ngga lah Ma!", tolak Lingga.
"Lha terus?", tanya mama nya lagi.
"Masa suami istri pisah begitu. Ngga mau ah!", Lingga masih kekeuh dengan pendapatannya sendiri jika suami istri harus selalu bersama. Mungkin karena rasa trauma saat awal pernikahan mereka yang terpisah sangat jauh dan lama tentunya. Pasti, Lingga dan Galuh sama-sama tak ingin mereka mengalami hal itu lagi.
"Bang, aku pulang aja deh kalo gitu. Ada temennya kan? Lagi pula kalo aku disini terus ,yang di rumah gimana? Kasian Syam dong pulang sekolah suruh merekap kerjaan terus?"
"Iya sih. Tapi....!?"
"Mama akan jaga menantu mama ini tanpa pernah membedakan anak kandung dengan menantu. Mama menganggap semua sama. Apalagi, Galuh sedang mengandung cucu mama."
__ADS_1
Galuh menatap suaminya, ia berharap jika suaminya akan mengijinkan nya kembali ke kampung.