
Masih Flashback ya....
*****
Lingga memukul setir mobilnya dengan frustasi. Sempat terpikirkan untuk menjual mobilnya yang sangat ia sayangi. Dia benar-benar membeli mobil itu murni dari uangnya sendiri. Makanya...sang papa tak keberatan sama sekali saat Lingga keluar dari rumah dengan membawa kendaraan miliknya.
"Tapi siapa yang akan membeli mobil ini??? Apalagi aku harus secepatnya membayar administrasi!", monolog Lingga.
Ia memukul-mukulkan kepalanya ke setir mobil. Lingga hanya mampu menangis sendiri. Ia merasa gagal menjadi seorang suami sekaligus calon ayah. Bagaimana bisa ia membiarkan istri dan calon anaknya berjuang antara hidup dan mati. Sedang dia sendiri tak menghasilkan apapun!
Di tengah rasa frustasinya, ponsel Lingga berdering. Ada nama Alex yang menghubunginya.
"Alex?", gumam Lingga. Tanpa menunggu lama, Lingga mengangkat panggilan dari Alex.
[Hallo Lex!]
[Hallo Bro! Gila Lo, udah balik ke Indo kenapa ga kabar-kabar sih?]
[Heheh sori, gue sibuk banget]
Lingga mencoba menetralkan suaranya agar tak terdengar habis menangis.
[Sibuk apaan sih? Udah berapa lama Lo balik di indo?]
[Ya... satu tahun belakangan ini sih]
[Eum...Lo sibuk banget ya? Gue lagi cari mobil nih Bro. Kita kan satu selera nih, mobil gede sporty! Gaya kita lah pokoknya. Gue ga butuh yang baru keluar dari showroom. Maunya yang langsung pakai!]
Seolah mendapatkan angin segar, Lingga mengusap kasar sisa air matanya.
[Lo mau beli mobil gue ngga? Mobil gue pasti selera Lo banget, gue udah modif banyak tapi yang jelas udah pasti nyaman]
Lingga mempromosikan mobil satu-satunya. Di seberang sana, Alex merasa bingung dan bertanya-tanya. Bagaimana bisa anak konglomerat sekelas Lingga harus menjual mobilnya hanya karena butuh uang yang bagi seorang Arya, jumlah itu tak sebesar. Tapi, Alex tak mau banyak bertanya pada sahabatnya itu.
[Mobil Lo? Serius? Gue liat deh, kita ketemuan di mana?]
__ADS_1
[Di rumah Lo aja deh! Lagi lockdown kan kafe resto juga?]
[Oke, gue tunggu Lo sekarang ya!]
[Sip Lex. Gue otewe!]
Panggilan itu berakhir. Lingga tak berharap berlebihan. Berapa pun yang Alex berikan, uang itu akan ia depositkan di rumah sakit agar Galuh bisa segera di tangani.
Alex mengirimkan chat pada Arya, bahwa Lingga sudah setuju untuk menjual mobilnya. Arya berjanji akan mentransfer uang yang Alex keluarkan untuk Lingga setelah transaksi selesai.
Mobil putih nan kekar itu sudah terparkir didepan sebuah pintu gerbang mewah rumah orang tua Alex.
Tak berselang lama kemudian, sekuriti membukakan pintu gerbang. Ia meminta Lingga masuk ke halaman sesuai perintah majikannya.
Setelah mobil berhenti di halaman yang luas, Lingga turun dari mobilnya. Di teras, Alex sudah menyambutnya dengan tersenyum.
Alex mendekati Lingga yang berdiri di samping mobil kesayangannya.
"Iya Ga, ini selera gue banget!", kata Alex mengusap bodi mobil Lingga.
"Tapi, Lo yakin mau jual nih mobil ke gue?", tanya Alex basa basi mencoba memastikan.
"Iya, gue lagi butuh duit banyak!"
"Hahahaha lagak Lo, Ga! Bokap Lo kaya ,Lo tinggal nadahin tangan gue yakin duit segitu ga keliatan buat bokap Lo!", kata Alex.
Lingga mendesah pelan. Lalu ia menceritakan tentang istrinya yang dirawat dan juga perlakukan papanya tadi.
Alex hampir tak percaya jika Lingga sudah menikah sejak mereka masih kuliah dulu. Dan yang lebih tak Alex percayai adalah sikap papa nya Lingga. Ini sangat bertolak belakang dengan apa yang di terima Alex.
Ingin rasanya ia mengatakan jika bantuan itu berasal dari Arya, tapi...Alex tak bisa mengatakannya karena sudah berjanji pada Arya.
Akhirnya, transaksi itu pun berlangsung lancar. Alex mengirimkan nominal yang Lingga tawarkan, tapi karena Arya mengirim lebih, Alex pun mentransfer sejumlah yang Arya katakan.
Terlihat notifikasi transaksi dari mobile banking di ponsel Lingga. Karena limit Alex tidak cukup, dia tak bisa mentransfer sekaligus tujuh ratus.
__ADS_1
"Sisanya nanti sore gue transfer via ATM ya Ga. Limit gue ga bisa nih!", kata Alex. Dia masih memiliki kartu pembayaran yang lain.
"Iya Lex, makasih banyak ya. Segini dulu ga apa-apa. Setidaknya gue bisa deposit dulu!"
"Ga! Lo yang sabar ya!", Alex menepuk bahu sahabatnya.
"Iya Lex. Terimakasih banyak. Mungkin lewat tangan Lo, Allah membantu gue!"
Alex mengangguk.
"Gue ga akan jual mobil ini, kalo suatu saat nanti Lo ada rejeki buat beli lagi, Lo bisa ambil?!", kata Alex. Lingga sempat tak percaya, tapi... sahabatnya pasti tak akan mengecewakan dirinya.
"Anggap aja gue hutang ya Lex dan mobil gue jaminannya!", kata Lingga. Alex menanggapinya dengan senyum tipis. Karena pada dasarnya, papanya sendiri yang sudah membantunya.
"Lo mau ke rumah sakit? Gue anterin! Testdrive mobil baru gue!", tawar Alex sambil tersenyum meledek.
"Ngga perlu, gue naik taksi aja, gue masih mampir-mampir dulu soalnya. Makasih banyak Lex!"
Alex hanya mengangguk dan tak bisa memaksa seorang Lingga yang jika sudah memutuskan sesuatu tak bisa di ganggu gugat.
Kenapa Lo sama bokap Lo harus kaya gini sih Ga??? Gumam Alex sambil menatap punggung Lingga yang menjauh dan keluar dari gerbang.
Wajah Lingga sudah tak semuram tadi, mungkin dia sudah sedikit lega. Setidaknya ia sudah ada pegangan untuk biaya operasi Galuh.
[Hallo Om, transaksi berhasil]
[Terimakasih Lex! Cukup berhenti di Kamu!]
[Tapi kenapa Om? Kenapa om membiarkan Lingga salah sangka dan berpikir buruk pada om Arya!?]
[Biarkan saja seperti itu! Terimakasih atas bantuannya Lex]
Sambungan telepon itu pun berakhir. Alex masuk ke dalam rumah untuk mengambil dompetnya untuk mentransfer sisa pembayaran pada Lingga.
Flashback off 🤗🤗🤗
__ADS_1
Terimakasih 🙏🙏🙏