Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 187


__ADS_3

Surya bercengkerama dengan dua cucunya di taman belakang. Rumah mewah nya yang selama ini sepi, saat ini terasa begitu hangat dengan celoteh dua cucunya yang justru sering kali adu mulut. Zea yang memang bawel dan cerewet, Syam yang dingin dan ketus tak mau mengalah pada saudara perempuannya tersebut.


"Sudah-sudah, mau sampai kapan kalian bertengkar heum?", Surya mengacak kasar rambut Syam dan Zea bergantian. Zea melepaskan hijabnya setelah masuk ke dalam rumah. Alasannya??? Panas! Padahal rumah Surya cukup sejuk untuk ukuran di tengah kota.


"Syam tuh, Opa! Nyebelin!", adu Zea.


"Kamu tuh yang bawel, segala apa di komen!", sahut Syam tak mau kalah. Surya hanya mampu memijat pelipisnya melihat kelakuan dua cucunya.


Bukankah ini yang ia harapkan selama ini? Rumahnya kembali hangat dengan suara tawa anak-anak.


Syam merogoh kantongnya, ada chat dari Lingga yang mengatakan jika Burhan akan menjemputnya. Yup, Syam meminta Burhan menjemputnya dari rumah Surya. Bocah itu ingin ke kafe kakaknya. Tempat yang sudah lama sekali ia tinggal sejak pindah ke kampung. Jangan lupa, lebih dari tujuh tahun Syam tinggal di sana.


"Siapa Syam? Ibu kamu telpon?", tanya Surya.


''Bukan Opa, Abang bilang setengah jam lagi Mas Burhan jemput Syam di sini. Syam mau ke kafe kakak!", jawab Syam jujur.


"Kok pakai jemput segala? Opa atau mang Ujang bisa antar lho!", kata Surya. Zea pun mengangguk setuju dengan ucapan Opa nya.


"Makasih sebelumnya Opa, tapi Syam juga udah lama ngga ketemu sama Mas Burhan. Lagi pula, takutnya nanti Zea minta dianterin ke kantor Papa. Ya kan Ze?"


"Huum! Tapi...aku juga mau ikut ke kafe kak Galuh deh!", sahut Zea.


Syam merenggut kesal, niat hati ingin menghindari bocah itu eh...malah mau ikut! Surya tampak memahami raut wajah Syam yang menggemaskan itu. Bocah tampan itu mirip sekali dengan Glen waktu masih kecil dulu. Apalagi jika sedang merajuk seperti itu, mereka bagai pinang di belah pisau.


"Pokoknya aku ikut!", Zea langsung pindah duduk nemplok pada lengan Syam. Syam memutar bola matanya malas. Surya sendiri terkekeh geli melihat dua bocah yang sebenarnya cukup mirip. Hanya saja, Zea lebih dominan mirip dengan Helen. Sedang Syam justru sangat mirip dengan Glen, mungkin....Tuhan ingin menunjukkan bahwa Syam benar-benar darah dagingnya.


"Terserah!", kata Syam pasrah.


.


.


.


[Share lock aja, nanti saya jemput mas!]


[Iya, Han! Makasih sebelumnya lho ya! Titip Syam selama dia ikut kamu]


[Insyaallah mas! Paling setengah jam lagi saya ke sana. Ada supplier bahan baku yang kirim barang]


[Iya, Han! Makasih]


Lingga menutup panggilan teleponnya dengan Burhan. Sejak Ganesh keluar dari rumah sakit , dia belum kembali menginjakkan kakinya ke ibu kota lagi.


Lelaki tampan itu masih sedikit trauma dengan jarak yang membentang. Segala ketakutan dan kekhawatiran tentang anak dan istrinya cukup membuatnya was-was.


Pernah kehilangan anak pertamanya, membuat Lingga jauh lebih protektif terhadap istri dan buah hatinya.


"Mas Burhan langsung jemput adek?", tanya Galuh pada suaminya.


"Belum Yang! Sebentar lagi paling, datang barang soalnya di kafe!", jawab Lingga.

__ADS_1


"Bang!"


"Heum?"


"Kayaknya udah lama Abang ngga ke sana deh, ngga mau liat sikon disana? Emang sih...ada mas Burhan, tapi...ngga ada salahnya kan owner ke sana menemui karyawannya minimal buat ngucapin makasih lah."


Lingga juga sempat berpikir seperti itu, tapi ketakutannya cukup beralasan kan?


"Abang khawatir sama aku ya?", kata Galuh mendudukkan dirinya di pangkuan Lingga.


"Sama kalian Yang! Wajar dong?", Lingga justru bertanya balik.


"Huum, tapi sepertinya ada yang Abang lupa!", kata Galuh mengalungkan tangannya di leher Lingga.


"Apa?", Lingga menautkan kedua alisnya.


"Udah ada papa dan Abah di sini. Kalo yang Abang pikirkan, tidak ada laki-laki dewasa di rumah ini!", jawab Galuh.


Apa yang Galuh katakan memang benar, tapi tak sepenuhnya benar juga. Karena....ada hal lain yang sebenarnya bagi Lingga cukup urgent. Eh???


"Iya, Abang ingat kok. Ada papa, ada abah! Bahkan mereka punya bodyguard yang ngga tahu tinggal di mana. Tapi tahu-tahu nongol aja pas di butuhkan!"


Galuh tertawa pelan mendengar ucapan suaminya tersebut. Mungkin suaminya lupa, dirinya lahir sudah terlanjur kaya. Tak seperti Galuh yang harus melalui banyak hal hingga bisa merasakan seperti sekarang.


"Itu artinya mereka sayang sama kita!", kata Galuh mengusap rahang suaminya dengan telunjuknya.


"Heum, bau-baunya ada yang mau ngajak ibadah siang-siang nih?", tebak Lingga menatap curiga pada istrinya.


"Tuh buktinya, udah bangunin dia kan? Makanya sengaja duduk di sini?"


Galuh dan Lingga sama-sama melihat ke pangkuan Lingga.


"Baperan amat sih nih bapak!", kata Galuh bangkit dari pangkuan suaminya. Tapi Lingga menahannya agar Galuh kembali duduk. Dan ya...Galuh sadar, setelah ini dia hanya pasrah 🤭


"Mau lari dari tanggung jawab, heum?", ledek Lingga.


"Hahahaha iya-iya! Tapi jangan lama-lama! Ganesh bentar lagi waktunya minum asi lho!", kata Galuh.


"Siap! Patas kok Yang!", jawab Lingga semangat.


.


.


.


"Nih kakak lagi sibuk ngerekap kali ya? Kok ngga keluar-keluar?", tanya Sekar pada besannya.


"Ngga apa-apa lah, mungkin mereka ada kesibukan lain!", sahut Gita.


Iya, sibuk iya-iya Bu....!!!

__ADS_1


"Oh iya, tadi papanya Lingga bilang kalo mereka udah nemu tempat yang strategis buat usaha baru Salim nanti."


"Oh ya? Alhamdulillah atuh!", kata Sekar bersyukur.


"Iya Sekar. Jadi secepatnya kalian bisa buka usaha bersama. Semoga segala sesuatunya di lancarkan ya!", kata Gita tulus.


"Aamiin. Makasih doanya lho mba Gita!", kata Sekar. Tak lama kemudian, sepasang suami istri itu menghampiri dua perempuan cantik beda usia dan juga bayik mungil.


"Maaf ya Bu nitip Ganesh nya lama! Sini, biar Ganesh minum asi dulu!", Galuh meraih Ganesh dari pangkuan ibunya.


Aroma sampo dari balik hijab Galuh terendus oleh hidung Sekar. Perempuan cantik itu hanya mengulas senyum dan menggeleng pelan.


Tak berbeda jauh dengan sang besan, Gita pun memperhatikan rambut basah putra bungsunya. Tiba-tiba ide jahilnya muncul begitu saja.


"Nesh, sepertinya Oma mau di kasih cucu lagi nih!", sindir Gita sambil menowel-nowel pipi Ganesh. Wajah Galuh memerah mendengar sindiran eh... candaan dari ibu mertuanya.


Tapi Lingga menanggapinya santai.


"Ya kali Ma, masih bayik begini mau di kasih adik. Ada-ada aja!", kata Lingga.


"Bisa aja kan?", Gita menimpali.


"Jangan bikin takut Galuh dong Ma!", pinta Lingga. Tapi ternyata Galuh justru menegang.


"Emang kakak kapan mau ke bidan? Biar Ganesh ibu atau mama yang jagain!", kata Sekar.


"Ke bidan???", justru Lingga yang membeo. Dua nenek itu kompak mengangguk. Tapi Galuh dan Lingga justru saling berpandangan.


Bukan karena keduanya mendadak jatuh cinta lagi. Tapi.....????


Lingga mengusap wajahnya dengan telapak tangannya kasar. Sedang Galuh tertawa keki pada ibu dan mama mertuanya.


Dua perempuan baya itu saling melirik satu sama lain!


"Jangan bilang kalo....!", ucap Sekar dan Gita bersamaan. Tapi setelahnya, kedua besan itu tertawa lepas melihat wajah anak dan menantunya berwajah seperti itu.


"Udah! Jangan terlalu di pikirin, nanti ke bidan aja. Sekalian konsultasi! Tadinya mama cuma bercanda lho, ngga tahunya....!", Gita kembali terkekeh.


Lingga dan Galuh tampak mengangguk lesu. Lalu Gita menoleh pada besannya.


"Kamu juga ngga salah kok kalo mau konsultasi ke bidan, Sekar! Barang kali sebentar lagi adiknya Galuh sama Syam on the way!", celetuk Gita. Sontak Sekar merasa malu jika hal seperti ini di bahas.


Bukan masalah tabu nya, hanya saja...dia sadar diri jika dirinya tak lagi muda.


****


Ringan-ringan saja yang bosss 🤗🤭🤭


Terimakasih banyak-banyak 🤩✌️🙏🤭✌️


19.47

__ADS_1


__ADS_2