Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 118


__ADS_3

Semua mata tertuju pada Lingga. Mereka cukup terkejut karena ucapan Lingga yang melarang Glen menemui Syam setiap saat.


Mereka ingin tahu kenapa Lingga melarangnya. Pasti ayah satu orang anak itu memiliki alasan kuat hingga ia bisa melarang Glen.


"Kenapa Lingga?", tanya glen.


"Karena dia di sini dan om Glen di kota. Mana mungkin aku membiarkan Om Glen selalu bersama Syam sedang Zea juga membutuhkan Om. Apa Om pikir ini adil buat Zea? Tidak Om! Syam memang membutuhkan sosok seorang ayah tapi bukan berarti Om Glen bebas memasuki kehidupan keluarga kami. Aku tidak melarang Om Glen sepenuhnya hanya saja lebih baik Om pikirkan juga masa depan keluarga Om sendiri baru memikirkan bagaimana kedepannya dengan Syam."


Kini semua paham dengan ucapan Lingga yang juga memikirkan perasaan Syam dan Helen.


Bagaimanapun juga Syam pernah merasakan seperti apa rasanya diabaikan maka dari itu ia tidak ingin adik satu ayah itu merasakan seperti apa yang ia rasakan oleh sosok yang sama.


Helen terdengar pasrah saja mendengar setiap obrolan mereka. Yang dia pikirkan adalah bagaimana nasib pernikahannya dengan Glenn apakah masih bisa diselamatkan atau harus berakhir karena video dari Shiena.


"Lebih baik sekarang om Glen dan tante Helen selesaikan urusan kalian lebih dulu. Insya Allah Syam akan tetap aman bersama kami dan dia akan baik-baik saja sama seperti sebelum bertemu dengan home Om Glen."


Semua terdiam, apa yang dikatakan Lingga ada benarnya.


"Glen, Helen! Mari kita selesaikan urusan kalian!",ujar Surya.


"Tapi Pak Mas Arya bilang dia sudah menyelesaikan urusanku maksudnya masalah aku."


"Masalahmu dengan Shiena memang sudah Arya tangani tapi masalahmu dengan suamimu harus kalian selesaikan", kata Surya.


Helen menghela nafas panjang.


Mungkin memang begini jalannya! Batin Helen.


Keluarga Surya berpamitan meninggalkan ruangan Galuh. Tapi sebelum benar-benar keluar dari ruangan tersebut Glen menyempatkan diri untuk memeluk putranya lalu mengecup puncak kepala Syam sesaat. Sedangkan Syam sendiri pun tak menolak pelukan serta kecupan dari sang ayah biologisnya.


Apakah semua akan menjadi cerah setelah mamanya Zea menerima kehadiranku? Monolog Syam dalam hati.


Kini tinggallah Galuh, Lingga ,Sekar ,Syam serta Gita dan Arya yang ada dalam ruangan tersebut.


"Ma, Papa mau lihat Ganesh dulu ya. Kalau kamu mau ikut ayo!", ajak Arya.


"Iya pa!", sahut Gita.


"Papa Arya Syam juga ikut dong!", kata Syam. Arya tersenyum dan mengangguk.


"Ya udah ibu juga ikut ah kalian kedua saja dulu ya!", pamit Sekar. Jadilah, Galuh berdua dengan Lingga.


"Bang?"


"Heum?", sahut Lingga yang mengusap kening Galuh di samping brankar nya.


"Kenapa Abang bicara seperti itu ke om Glen. Aku tahu maksudnya baik, tapi kesannya kita jadi melarang pertemuan antara anak dan ayahnya."


Lingga mendesah pelan.

__ADS_1


"Bukan begitu Yang. Sesalah apa pun Tante Helen, dia pasti juga punya perasaan yang bisa saja tersinggung jika sebentar-sebentar perhatian Om Glen atau Om Surya tertuju pada Syam. Ingat, ada Zea juga!"


"Iya bang, aku tahu tapi...."


"Yang, Abang ngga akan melarang Om Glen kok. Hanya sedikit memberikan batasan agar dia bersikap adil. Dan ya.... terlalu mudah dia mendapatkan maaf dari kalian."


Lingga menggeleng dengan pelan.


"Terus, Abang mau gitu kita marah-marah berkepanjangan gitu? Naruh dendam sama setiap orang yang nyakitin kita? Iya, gitu?"


"Hehehh ya ngga juga sih Yang. Cuma, gimana ya! Ya...aku berkaca dari diri ku sendiri sih sebenernya. Aku berjuang mati-matian buat mendapatkan maaf dari kamu. Harusnya om Glen juga berusaha dong! Jangan cuma karena menjaga perasaan istri, tapi jadi mengabaikan Syam!"


"Ishhhh Abang nih ngga konsisten banget sih! Tadi bela tante Helen terus mendadak pro sama Syam. Aneh!", celetukan Galuh.


"Ngga usah aneh Yang..Kan tergantung dari mana cara kita lihat dari sudut pandangnya. Kalo dari sisi Syam begitu, dari sisi Tante Helen juga begini. Masing-masing punya jatah perasaan sakit hati dengan porsi yang beda kok!"


"Ya Allah Abang, ini sakit hati lho! Perasaan! Kenapa jadi porsi jatah segala, kaya makanan aja!", kata Galuh mencebik.


"Hehehe pokoknya intinya, menurut ku sebaiknya om Glen belajar bersikap adil. Baik untuk Syam atau pun keluarganya."


Galuh mengangguk pelan.


"Tapi...Syam beneran masih sama kita kan walaupun tadi papa mau mengurus apa gitu ke notaris?", tanya Galuh.


"Iya, papa pasti akan memberikan yang terbaik untuk Syam. Papa memikirkan dampak ke depannya seperti apa. Dan aku rasa, memang ngga ada salahnya kok jika Syam mendapatkan haknya dari om Glen dan om Surya. Mungkin saat ini Syam belum membutuhkan, tapi suatu saat nanti kan tidak ada yang tahu."


"Heum! Iya, aku paham."


"Heum? Apa itu?"


"Kenapa kamu, ibu dan Syam di ciptakan begitu baik dan mudah memaafkan. Contohnya aku! Aku sudah mencampakkan kalian bertahun-tahun tapi akhirnya kalian memaafkan ku."


"Abang tahu aku tidak sesempurna itu kan? Jadi, untuk apa Abang bertanya. Abang bahkan tahu sekali aku ini seperti apa. Memaafkan memang tak mengubah kesalahan sebelumnya tapi setidaknya kita bisa belajar dari hal tersebut yang harus di maafkan hingga kesalahan tidak akan terulang lagi. Entah oleh siapa pun itu."


"Terimakasih sudah hadir dalam hidup Abang Yang?!", kata Lingga menggenggam tangan Galuh.


"Aku juga berterima kasih Abang! Sudah sabar menghadapi ku yang seperti ini."


"Seperti apa heum? Seperti apa pun Abang cinta!", rayu Lingga.


"Halah! Gombal! ", sahut Galuh.


"Malah di bilang gombal lagi. Kamu ingat Yang dulu awal pertemuan kita seperti apa? Kamu terlihat begitu marah karena mobil ku tak sengaja menabrak motor butut mu itu."


Galuh mengulum senyum. Peristiwa itu sudah lama sekali tapi keduanya masih cukup mengingatnya.


"Iya bang, kamu kelihatan anak urakan. Udah gitu ngomongnya kasar. Eh, tapi setelah di rumah pasca nikah dadakan, Abang keliatan anak baik-baik."


"Heum? Tentu saja Abang anak baik-baik. Saking baiknya, Abang ngasih kamu hamil dua kali. Iya kan?"

__ADS_1


"Ishhhh.... mengarang bebas silahkan lah!", kata Galuh.


"Ish, marah!",ledek Lingga.


"Eh ngga ya", sahut Galuh.


"Yakin?", tanya Lingga. Galuh mengangguk.


"Oke lah kalo begitu, istri ku memang terbaik!", puji Lingga lagi.


"Stop mas! Nggak usah di teruskan!", kata Galuh. Lingga terkekeh pelan mendengar protes dari suami tampan nya.


"Ngga kok, siapa yang mau meneruskan Yang? Ya ampun!", Lingga menggeleng pelan.


"Ya Abang lah!", sahut Galuh.


"Oh... begitu rupanya! Oke!"


Keduanya pun kembali berbincang hangat seperti biasa.


.


.


.


Disisi lain, Helen di sidang oleh suami dan papa mertuanya. Zea di ungsikan untuk menunggu di kamarnya saja agar mendengarkan obrolan para orang tua.


"Apa sebaiknya papa memang tidak disini? Papa temani Zea saja!", kata Surya beranjak dari sana. Baik Helen atau Glen tak mengindahkan ucapan Surya yang sudah menjauh dari mereka.


"Aku tahu kamu kecewa! Tapi...aku tidak pernah berniat untuk melakukan hal seperti itu mas! Dan...dan...apa yang mas Arya lakukan untuk ku cukup membantu ku , bahkan sangat-sangat membantu ku."


Glen bergeming. Di satu sisi, ia bahagia saat istrinya mengakui Syam dan mau memberi syam menjadi bagian dari keluarganya. Tapi... tetap ada rasa di khianati saat para brondong itu mencumb*** istrinya.


Apakah ini juga yang Helen rasakan? Cemburu?


"Terimakasih!", kata Glen. Helen mendongak tak percaya.


"Terimakasih sudah menerima Syam, meski aku tahu kamu terpaksa melakukannya karena Mas Arya."


Helen tersenyum tipis, sangat tipis.


"Lalu bagaimana dengan kelanjutan hubungan kita?", tanya Helen.


Glen menatap wajah istrinya yang sembab karena pasti terlalu banyak menangis!


****


Hufttt.... update update 😁😁😁😁😁✌️✌️✌️

__ADS_1


21.35


Terimakasih semua 🙏🙏🙏🙏


__ADS_2