Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 177


__ADS_3

"Pa, anterin Angel ke rumah Opa!", rengek Angel saat tengah sarapan di resto hotel. Bukan hotel mewah tapi cukup membuat mereka yang terbiasa dengan segala fasilitas merasa nyaman.


"Iya, nanti papa antar!", kata Puja di sela mereka sarapan.


"Heum, Zea juga ya bang!", kata Zea pada Puja.


"Iya!", sahut Puja pada Zea, sepupu kecilnya. Ya ...mau bagaimana pun juga, Zea tetap sepupunya meski usianya bahkan lebih muda dari anaknya sendiri. Tapi namanya silsilah keluarga kan??? Apalagi mereka berasal dari keturunan Jawa. Pasti masih memakai istilah semacam itu.


"Kan papa bisa antar Ze!", sahut Glen.


"Heheh iya sih Pa. Cuma biar ada temennya aja, bareng Angel. Ya kan An?"


"Iya Ze. Mumpung belum balik ke Jakarta!", sahut Angel.


"Panggil yang bener An. Tante Zea!", pinta Puja. Angel terkekeh tapi Zea cemberut.


"Ngga ah, aku masih kecil ya bang! Tuaan juga Angel! Apa kata orang aku di panggil Tante sama tuh bocah!", Zea mendengus.


Orang dewasa di meja itu tersenyum mendengar protes dari Zea.


"Iya-iya. Tapi meskipun begitu, kamu harus sopan sama Tante kecil kamu An. Meski pun Tante kecil kamu lebih muda dari kamu!", pinta Vanes menasehati putrinya.


"Iya mam!", jawab Angel.


"Opa mana Pa?", tanya Zea pada Glen.


"Opa udah duluan ke rumah Om Arya, Ze!", jawab Glen.


"Wah.....!", sahut Zea dan Angel kompak.


"Kalau start kita Ze!", celetuk Angel.


"Tahu nih Opa iiiihhh....!", Zea manyun.


"Udah, habiskan sarapan kamu Ze. Habis itu nyusul Opa. Sore nanti kita balik ke Jakarta. Syam jadi ikut kan mas?", tanya Helen pada Glen.


"Iya jadi Ma. Tapi...", Glen menggantung kalimatnya.


"Tapi apa Pa?", tanya Zea.


"Tapi apa Opa Glen?", tanya Angel bersamaan dengan Zea.


"Tapi, sepertinya Syam mau tinggal di rumah Opa Surya selama di Jakarta!", jawab Glen.


"Kenapa Pa? Kenapa ngga di rumah kita aja?", celetuk Zea. Helen menoleh pada Glen. Dia pun sama penasarannya dengan Zea atau pun Angel.


"Kalian tanya sendiri sama Syam!", sahut Glen.

__ADS_1


.


.


.


"Masa sih Opa?", tanya Syam pada Surya. Mereka sedang berada di halaman bersama Arya dan juga Gita.


"Iya! Maknanya...opa seneng liat kamu yang bisa bermain dengan teman-teman kamu."


"Papa Glen sama Syam jelas berbeda Opa. Kehidupan papa sama Syam kan bertolak belakang. Syam di kampung dan biasa hidup bermasyarakat. Sedang papa, hidup di kota yang terbiasa dengan individualismenya."


"Kok kamu pinter banget sih Syam!", puji Surya.


"Tapi ngga bisa di pukul rata juga sih Opa. Ngga semua individual gitu, buktinya waktu Syam tinggal di sana tetangga banyak yang ramah kok?!", kata Syam.


"Iya sih!", sahut Surya. Sedang Gita dan Arya mendengar obrolan kakek dan cucu tersebut.


"Sebenarnya Syam agak kurang suka banyak bicara. Susah akrab dengan orang asing. Tapi...sejak papa Arya datang....Syam merasa tidak ada salahnya bersosialisasi lebih baik dari sebelumnya."


Arya mengulas senyum saat Syam memujinya. Surya sendiri sempat merasa iri dengan keakraban keduanya.


"Sepertinya Opa jadi yang kesekian buat Syam?!"


Syam langsung menoleh pada Surya lalu tersenyum tipis. Tapi setelah itu ia memeluk Surya yang juga membalas pelukan Syam.


"Opa!!!", pekik Zea seperti toa masjid. Arya, Gita, Surya dan Syam menoleh ke sumber suara tersebut.


"Sini cucu cantik Opa!", Surya meminta Zea mendekatinya. Meski sedikit merajuk, Zea tetap menurut.


Tak jauh berbeda dengan Angel, dia buru-buru duduk di antara Arya dan Gita. Ia takut posisi Syam akan berpindah pada kakek neneknya.


Sepasang suami istri itu hanya menggeleng pelan dengan tingkah cucu perempuannya itu.


Di susul oleh dua pasang suami istri yang heran menatap anak-anak mereka. Bagaimana tidak???


Angel nemplok pada kakek neneknya, begitu pula dengan Zea yang memeluk Surya seolah Syam akan merebutnya.


Helen menghela nafas melihat tingkah putrinya tersebut. Glen tersenyum mengusap bahu Helen dengan pelan.


"Zea masih jadi penguasa Ma, tenang saja!", bisik Glen sambil tersenyum tipis. Helen menoleh pada suaminya.


"Bukan gitu mas, liat muka Syam begitu? Pasti dia juga mau di manja opa nya."


"Nanti di jakarta, mereka bisa lebih dekat kok."


''Iya sih mas!", kata Helen.

__ADS_1


Kembali ke Syam...


"Syam, emang ntar selama di Jakarta kamu bakal tinggal di rumah opa?", tanya Zea.


"Ngga tahu!", jawab Syam santai tanpa ekspresi.


Arya mengusap pelipisnya. Lelaki itu paham, Syam sedang dalam mode malas bicara.


"Kok ngga tahu?", tanya Zea lagi.


"Belum tanya Abang!", jawab Syam. Arya dan Surya sama-sama menaikkan kedua alisnya mendengar jawaban Syam.


.


.


.


Lingga sedang membereskan berkas-berkas pribadinya juga milik Galuh. Lelaki itu membuka map-map yang berisi ijazah Galuh dari TK hingga SMA.


Foto-foto Galuh terlihat begitu mungil dan sangat menggemaskan. Lingga sampai terkekeh sendiri.


Apalagi di ijazah SMA, foto Galuh mengingatkan dirinya yang bertemu pertama kalinya dengan sang istri.


Pertemuan pertama hingga berujung menjadi pasangan suami istri hingga saat ini.


Galuh sendiri tengah melipat pakaian Ganesh sebelum di masukkan ke dalam lemari pakaian Ganesh.


"Nilai nya bagus dari jaman SD sama SMA, bahkan rangking satu mulu?", gumam bapak satu anak itu tapi di dengar oleh sang istri.


"Rangking kan angka! Kesuksesan orang kan ngga berdasarkan rangking. Ada suport sistemnya juga kali! Bisa dari segi finansial, keberuntungan, dukungan orang sekitar dan yang jelas kemauan!", sahut perempuan yang sedang melipat baju bayi itu.


Apa yang istrinya ucap kan tak sepenuhnya benar dan tidak salah juga. Memang banyak faktor pendukung lainnya yang menentukan masa depan seseorang, bukan karena rangking.


"Tapi... setidaknya...ada kebanggaan di masa-masa itu hehehe meskipun setelah dewasa, tidak jadi apa-apa!"


"Siapa bilang tidak jadi apa-apa? Lupa? Madrasah pertama itu adalah ibu. Jadi, ngga salah kok kalo seorang ibu itu berilmu. Meski tidak di amalkan pada orang banyak setidaknya jadi amal jariyah lewat mengajar pada anak sendiri yang akan terus di pakai hingga akhir hayatnya nanti."


Ibu muda itu mengulas senyum. Awalnya...ia minder, tapi ucapan suaminya cukup membuatnya sadar jika apa yang di milikinya saat ini harus membuat nya semakin banyak bersyukur.


******


Mulai gaje ya??? ✌️✌️✌️🤭🤭


Berhubung udah ngga ada konflik alias beres sadayana, insyaallah akan segera di tamatkan. Takut pada bosen sama mereka hehehe


Eh, sama Mak othor maksud nya deennngggg...

__ADS_1


Terimakasih 🙏🙏🙏


Jangan lupa tinggalin jejak kalian. Oke????


__ADS_2