Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 110


__ADS_3

"Ganesh Rajendra Mahaputra, itu nama yang ingin papa berikan buat cucu papa. Tapi... sebaiknya, kamu tanyakan dulu pada istri mu atau ibu mertua mu Ga!", kata Arya sambil menatap cucunya dari dinding kaca.


"Heum, nanti Lingga tanyakan pada Galuh, Pa. Kalau Lingga sendiri sebenarnya tidak keberatan. Hanya saja... mungkin namanya terlalu 'njawani' seperti nama ku, nama papa dan apalagi Kak Puja. Ngga ada bau-bau islami ya Pa."


Lingga tersenyum saat mengingat nama anggota keluarganya. Arya Saputra. Wening Legita. Puja Narendra Putra dan Hans Arlingga Saputra.


Arya pun tersenyum. Dia juga tidak akan memaksakan namanya di pakai untuk cucu lelakinya. Lelaki itu hanya berharap jika cucunya kelak akan jadi orang besar dan kuat.


"Bagaimana kondisi Galuh?", tanya Arya.


"Alhamdulillah, Galuh sudah siuman dan lagi belajar memiringkan tubuhnya Pa."


Arya mengangguk mengerti. Lelaki itu kembali melihat cucunya yang di pasang beberapa alat di tubuh nya. Terlihat tubuh kecilnya bagian perut bergerak teratur.


"Berapa lama cucu papa di sana?", tanya Arya pada Lingga tanpa memalingkan pandangannya. Entah dia sedang bertanya atau bermonolog, hanya Arya yang tahu.


"Do'akan saja pa, semoga cucu papa bisa secepatnya beradaptasi dan tumbuh sehat. Karena...Lingga yakin, opa nya akan sangat memanjakannya!", kata Lingga. Arya langsung menoleh pada putra bungsunya.


Tangannya terulur menepuk pelan bahu Lingga.


"Maafkan papa, nak! Maafkan sikap papa selama ini !", kata Arya.


"Sudah pa, jangan bahas lagi. Meski ini seperti mimpi, Lingga sangat bahagia melihat papa seperti sekarang. Sungguh, doa ku dan Galuh selama ini sudah terkabul!"


"Memang apa yang kamu doakan?", tanya Arya.


Lingga tersenyum.


"Aku dan Galuh selalu berdoa agar saat ini tiba. Meski dulu...kami menganggap semua ini tidak mungkin. Saat dimana kita bisa berkumpul bersama dan bahagia tanpa ada pertengkaran. Dan, doa kami sudah di ijabah. Terimakasih pa!", kata Lingga.


Sepasang bapak dan anak itu memandangi bayi mungil yang begitu menggemaskan.


Sedang di sebuah kamar hotel seberang rumah sakit, sepasang suami istri masih tak banyak mengobrol. Zea sudah pergi sarapan dengan opa nya. Semalam memang Zea berada di kamar yang sama dengan kedua orang tuanya. Baik Helen atau Glen tak membahas apa pun, terlebih ada Zea. Mereka hanya takut Zea mendengar pertengkaran yang tak pantas di dengar olehnya.


Sekarang, hanya ada Glen dan Helen. Helen sendiri baru selesai mandi dan masih mengeringkan rambutnya. Beruntung ada yang menjual pakaian yang tak jauh dari sana. Pagi-pagi sekali Helen sudah ke sana, pasar! Bukan levelnya Helen, tapi setidaknya dia punya pakaian ganti untuk nya juga untuk Zea meski barang murahan.


"Ma...!", Glen mencoba mengajaknya bicara.


Helen masih bersikap acuh. Hatinya masih rapuh, belum bisa menerima kenyataan itu meskipun suami dan papa mertuanya meyakinkan jika Glen tidak akan pernah berpaling darinya.

__ADS_1


Mereka hanya ingin memberikan hak yang sepantasnya untuk Syam. Tapi hingga detik ini, Helen masih merasa jika semua itu tidak adil baginya.


Dikhianati! Itu yang Helen pikirkan saat ini.


"Papa mau bicara Ma!", Glen menarik lengan Helen hingga perempuan itu terduduk di ranjangnya. Tapi Helen masih bungkam, hanya nafasnya yang memburu menandakan jika dirinya masih emosi.


"Sayang, dengarkan aku!", Glen duduk bersimpuh di depan kaki Helen yang mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Aku tahu, kamu pasti kecewa. Tapi please, tolong mengerti sedikit saja. Syam tidak bersalah di sini. Dia hanya korban. Baik aku atau Sekar tidak tahu jika akan ada Syam setelah perbuatan bejat ku!"


Mata Helen terpejam, ia tak bisa membayangkan seperti apa suaminya berbagi peluh selain dengan dirinya.


"Maafkan aku Len, aku salah!", Glen meraih tangan istrinya lalu mengecup punggung tangannya yang spontan di tepis oleh Helen.


"Kamu dengar sendiri bukan, Syam tidak ingin masuk dalam keluarga kita. Dia tak ingin kita ribut karenanya. Masih kurang bukti itu?", tanya Glen pelan.


"Aku sudah bilang, dia tak akan pernah merebut perhatian ku dari kamu dan Zea. Kalian tetap aku sayangi. Jadi jangan pernah berpikir jika Syam akan merebut ku dari kalian."


Helena masih terdiam.


"Helen! Aku tahu, maafku tidak bisa merubah semuanya. Tapi aku benar-benar ingin memperbaiki kesalahan-kesalahan ku baik padamu atau pada Syam dan ibunya. Aku mohon, mengertilah sedikit saja Len!"


"Bagian mana yang aku tak tidak mengerti. Beri tahu aku Len? Beri tahu aku agar aku bisa mengerti mau kamu!", Glen masih mencoba merayu Helen. Sebenarnya ia masih merasa marah soal istrinya yang mabuk berat bersama Shiena. Tapi dia mencoba untuk memakluminya. Helen seperti itu karena dia sedang stres itu pun karena ulah Glen juga.


"Katakan Helen? Aku harus apa? Syam bahkan tak menuntut apa pun dari ku!", Glen masih berusaha membujuk istrinya.


Sebenarnya apa sih mau Helen? 🤔🤔🤔


"Kamu boleh menafkahinya, tapi aku tidak mau kalian rutin bertemu!", kata Helen memalingkan wajahnya.


Glen menggeleng lemah.


"Seperti itu keinginan mu?", tanya Glen dengan suara bergetar. Helen sendiri tak menjawab pertanyaan Glen.


"Kamu lihat kondisi Syam saat ini? Dia sudah menjadi pengusaha sejak di usia anak-anak, dia tidak kekurangan uang. Dia hanya haus kasih sayang seorang ayah. Hanya itu Helena!"


Helena meneguk salivanya kasar. Sebagai seorang ibu sekaligus perempuan, dia tentu cemas jika perhatian Glen akan teralihkan pada Syam. Dan.... sosok Sekar meski sudah tak muda lagi, dia masih sangat menarik. Dan pantas saja saat itu Glen bisa khilaf dengan perempuan cantik itu.


"Helena! Katakan padaku apa yang kamu cemaskan sebenarnya? Harta ku? Kamu tahu sendiri, Syam tidak menginginkan itu semua. Zea tetap jadi pewaris keluarga kita. Aku? Kamu takut aku berpaling, begitu?", tanya Glen. Helena melengos, tebakan Glen kali ini mungkin benar.

__ADS_1


"Iya?", Glen mencoba meyakinkan.


"Jawab aku Helen!", paksa Glen. Ia sedikit mengguncang bahu istrinya. Kesal! Glen seolah sedang berbicara sendiri karena Helena tak menyahuti setiap pertanyaannya.


"Sebegitu ngga percayanya kamu sama aku Len! Belum cukup kejujuran ku yang menyakiti kalian? Iya?"


"Tapi aku tetap tidak suka kalau kamu dekat dengan mereka mas. Pahami posisi aku. Aku istri mu! Salah kalau aku cemburu?", tanya Helena lantang.


Glen meraup kasar wajahnya. Istrinya memang cukup menguji kesabaran seorang Glen yang sabarnya saja setipis keju eh...tisu!


"Sudah aku bilang Helena, aku mana mungkin khianati kamu. Oke, saat itu aku memang membuat kesalahan. Tapi aku sedang tidak dalam kondisi sadar. Kalau saat itu aku dalam kondisi normal seperti sekarang, mana mungkin aku tega mempe**** perempuan lain sedang aku sendiri sudah siap menikah denganmu Helena, ya Tuhan!!!!"


Glen bangkit dari hadapan Helen bersamaan dengan notifikasi dari ponselnya. Seseorang mengirimkan foto dan video.


Glen menautkan kedua alisnya. Nomor asing yang mengirim entah apa. Saat masih proses download, Glen kembali mengantongi ponselnya.


"Ayo kita sarapan!", ajak Glen pada istrinya. Helena tak menggubris, dia memilih meletakkan handuknya di depan kamar mandi.


Ponsel Glen kembali berdenting. Download tadi sudah bisa di buka. Matanya melebar sempurna. Deru nafasnya memburu sambil menatap nyalang istrinya.


"Apa ini Helen???!!!", Glen melempar ponselnya tepat di depan dada Helena. Beruntung Helen cepat menangkapnya. Mulutnya ia tutup dengan telapak tangannya. Kepalanya menggeleng lemah.


"Mas....!", ucapan Helen menggantung. Dengan cepat Glen kembali merebut ponsel tersebut.


"Aku... arghhhh!", Glen memilih meninggalkan istrinya dari pada harus menjadikan Helen pelampiasan emosinya.


**********


Kenapa hayo???? 🤔🤔🤔🤔


Betewe...mba Yuliana Tunru ide namanya bagus juga hehehe makasih ya...


Lagi ngeblank soalnya ngga dapat Ilham buat kasih nama anake Galuh Lingga.


Terimakasih ya....


Insyaallah nanti malam update lagi. Makasih yang udah bersedia menunggu 🤭🤭


17.00

__ADS_1


__ADS_2