Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 64


__ADS_3

Galuh menemani Vanes duduk di teras belakang yang menghadap langsung dengan perkebunan sayur sawi. Cuaca cukup cerah, jadi tak terlalu dingin seperti biasanya meskipun bagi mama Gita, udara seperti ini cukup sejuk bagi badannya yang mulai renta.


Makanya, Gita memilih untuk beristirahat di kamarnya saja.


"Perut kamu sudah besar ya Luh?", Vanes memandangi perut adik iparnya yang terlihat menggemaskan. Sebenarnya ia ingin sekali memberikan adik untuk Angel, tapi Puja yang trauma saat Vanes melahirkan Angel secara normal, melarang Vanes untuk hamil lagi.


"Iya kak. Kan emang dua Minggu lagi mau tujuh bulanan heheh!"


"Iya wajar sih."


"Kak Valen mah ga ngalamin acara tujuh bulanan ya? Kan di Kanada mana ada seperti itu!"


"Siapa bilang? Aku juga pake acara tujuh bulanan kali Luh. Apalagi mami papi ku asli keturunan Jawa. Ga tahu aja prosesinya sampai memakan waktu berjam-jam hahahah!"


"Oh ya? Oh...jadi kak Vanes orang Jawa?", tanya Galuh.


"Keturunan Jawa tepatnya. Soalnya kalo di bilang orang Jawa, aku ngga bisa bahasanya heheheh."


"Bisa aja kak Vanes ini!"


"Oh ya Luh, ini kehamilan kedua kamu ya katanya. Eum...maaf, tapi... kenapa saat itu bayi kamu tidak bisa diselamatkan. Pre-eklampsia atau karena apa?"


"Iya kak. Saat itu awal pandemi kan emang parah banget kak. Ngga cuma orang sipil, nakes aja banyak yang terkena covid. Selain berdampak dengan kesehatan, covid juga berdampak pada perekonomian kami kak."

__ADS_1


Mata Galuh menerawang jauh ke depan sana yang terlihat gelap.


"Kafe milik kami yang sedang jaya-jayanya terpaksa di tutup karena wabah itu. Keuangan kami benar-benar sedang di uji. Tapi melihat karyawan kami yang terpaksa kami rumahkan pun kami tidak tega kak. Jadi...kami tetap membayarkan hak mereka karena mereka tidak bekerja bukan atas kemauan mereka sendiri. Tapi karena kami yang meminta, kami tidak bermaksud memecatnya sih. Hanya merumahkan saja."


"Kamu...bayar mereka walaupun mereka tidak bekerja?"


"Itu hak mereka kan kak. Mungkin terdengar halu dan tidak mungkin bagi seorang yang berkecimpung di dunia bisnis. Tapi kembali lagi, tergantung manusia itu sendiri."


Vanes kagum dengan pemikiran adik iparnya itu.


"Simpanan kami sudah terpakai untuk biaya kami sehari-hari dan juga bayar karyawan. Di saat sedang benar-benar down, aku akan melahirkan kak. Tapi... ternyata aku juga positif covid saat itu. Dan...bayi kami pun terjangkit virus yang sama."


"Ya Tuhan...lalu???"


"Seharusnya...bayi kami masih bisa di selamatkan jika saja penanganannya tidak terlambat!", Galuh tersenyum miris. Terlihat sekali ada rasa penyesalan yang tak bisa ia tahan.


"Kami terkendala biaya kak!", lanjut Galuh masih dengan senyum penuh kepahitan.


"Biaya? Kayanya ngga mungkin banget deh Luh! Oke, kalian kehabisan dana karena membayar karyawan kalian. Tapi...ayolah ...kalian punya orang tua. Punya papa yang bahkan uang nya tak seberapa berkurang cuma buat biaya operasi mu Luh?"


Galuh menunduk sambil memainkan jemarinya.


"Abang udah pernah coba pinjam ke papa, Kak!", kata Galuh.

__ADS_1


"Pinjam?", Vanes membeo. Rasanya aneh sekali bagi Vanes, Lingga meminjam pada papanya? Sepertinya tidak mungkin. Papa mertuanya selama ini selalu royal pada Angel. Mana mungkin dia hanya sekedar meminjamkan uang, bahkan...papa mertua pasti akan memberikan dengan sukarela.


"Huum. Tapi...papa tidak mau memberikan pinjaman sama Abang selama Abang tidak mau menuruti perintah papa untuk menikah dengan Shiena."


Vanes ternganga lalu menutup mulutnya. Tak percaya, sungguh!


"Bagaimana bisa?", tanya Vanes.


"Aku ngga tahu kejadiannya seperti apa kak. Yang jelas, saat aku sadar dari operasi. Bayi kami sudah tidak ada. Bahkan aku belum pernah melihat dan menyentuhnya karena Abang sudah memakamkannya sesuai prokes waktu itu."


"Pasca operasi dan juga recovery dari dampak covid, aku berada di rumah sakit hampir sebulan. Saat aku tanya abang dapat uang dari mana, dia jujur mengatakan kalau dia menjual mobilnya yang hitam itu!", Galuh menunjukkan mobil Lingga yang terparkir di samping karena tadi Lingga memakai mobil kecil.


"Menjual mobil?", Vanes membeo lagi dan lagi. Banyak hal yang tidak ia percayai tapi itu nyata.


"Iya, mobil Abang di jual untuk membayar biaya rumah sakit. Sisanya untuk pulang ke kampung ini. Tapi...ruko kami biarkan kosong sampai situasi kondusif, tak sampai menjualnya."


"Kenapa Lingga tak minta tolong pada kami?", tanya Vanes.


"Abang tidak ingin membebani siapa pun Kak. Apalagi kalau papa tahu, kak puja membantunya. Sudah pasti papa akan kembali meremehkan Abang."


"Benarkah papa seperti itu????", tanya Vanes heran. Masalahnya...selama ini papa mertua baik padanya .


Jadi... siapa sebenarnya yang sedang berada di posisi bersalah saat ini....????

__ADS_1


****


Tengkyu 😌🙏


__ADS_2