
"Mas, bagaimana kelanjutan hubungan kita? Apa kamu akan berpoligami, menduakan ku seperti yang ku takutkan selama ini sebagai bentuk tanggung jawab mu pada Sekar dan Syam? Atau... justru kamu akan menceraikan ku karena... kesalahan ku?", tanya Helen dengan air mata yang sudah meluncur begitu saja. Lagi-lagi air bening itu meleleh begitu saja tanpa bisa di hentikan.
Glen masih bergeming dan duduk berseberangan dengan sang istri. Berpoligami? Bahkan dia tak pernah terpikirkan untuk seperti itu jika Helen tak mengatakannya.
Bercerai? Saat emosinya meledak-ledak, ya ...Glen sempat terpikirkan. Tapi ... kembali lagi!
Dirinya pun punya kesalahan besar yang masih di maafkan oleh Helen. Lantas, saat Helen melakukan kesalahan yang sama-sama tak ia sengaja, Glen harus sampai menceraikannya?
"Mas!", Helen memejamkan matanya.
Glen menatap istrinya yang tengah memejamkan matanya tersebut.
"Aku tidak bisa jika harus berbagi, kalau kamu memang mau mempertanggungjawabkan semua kesalahan mu pada mereka...aku memilih mundur mas. Aku ngga sanggup kalau...aku harus berbagi suami. Aku tidak bisa!"
Hati Glen mencelos melihat istrinya menangis seperti itu. Dia bangkit dari duduknya lalu berjongkok di depan Helen.
Dia meraih kepala Helen untuk ia tenggelamkan di dadanya. Helen semakin mengencangkan tangisnya.
Selama ia hidup sebagai anak bungsu, dia tak pernah merasakan beratnya hidup termasuk saat ia di jodohkan dulu. Tapi sekarang, masalah yang ia hadapi begitu berat.
Glen mengendurkan pelukannya saat tangis Helen mulai mereda.
"Maafkan aku yang tidak bisa mengerti dan memahami perasaan kamu Len! Maaf!", Glen menghapus air mata yang membasahi pipi mulus istrinya.
"Aku...aku akan mencoba ikhlas mas jika harus mele....!", ucapan Helen terhenti saat kecupan hangat mendarat di bibirnya.
Perempuan cantik itu memejamkan matanya menikmati sentuhan yang sudah sangat lama tak ia dapatkan dari sang suami karena mereka sering bertengkar.
Glen mengakhiri aktivitas fisik itu. Di hapus nya sisa basah di bibir Helen.
"Aku sudah pernah berjanji, tidak akan pernah meninggalkan mu dan Zea. Apa pun yang terjadi. Aku menyalahkan mu sedang kesalahan ku jauh lebih besar dari kesalahan tak sengaja yang kamu lakukan!", ucap Glen menakupkan kedua tangannya di pipi Helen.
Helen menatap mata tajam Glen yang berbulu lentik. Rasanya begitu nyeri jika mengingat bahwa lelaki di hadapannya pernah tidur dengan perempuan lain selain dirinya hingga menghasilkan Syam.
Helen memejamkan matanya untuk menghalau ingatan menyakitkan itu meski hanya sebuah masa lalu yang tidak akan mungkin bisa di ubah.
"Len!", Glen kembali menakupkan tangannya.
"Jangan pernah berpikir jika aku akan menduakan mu. Tidak pernah! Aku juga tidak akan pernah meninggalkan mu! Itu janji ku Helen! Aku bisa bertanggung jawab atas mereka tanpa harus menikahi Sekar. Apa kamu pikir jika Sekar menginginkan seperti itu?", tanya Glen yang sekarang lembut seperti biasanya.
"Bahkan melihat ku saja dia takut Len. Jadi tolong jangan berpikir seperti itu!", kata Glen.
Helen masih terisak kecil.
"Apa sebenarnya yang mas Arya tulis di sana?", tanya Glen. Helen menggeleng, dia merasa sebaiknya hanya dia dan mas Arya yang tahu.
"Kamu tidak ingin mengatakannya pada ku?", tanya Glen. Helen kembali menggeleng.
__ADS_1
"Tidak. Biar lah itu menjadi rahasia kami! Yang jelas, intinya Mas Arya hanya ingin aku menerima Syam. Itu saja!",jawab Helen.
"Lalu dari mana kamu berpikiran bahwa aku akan menduakan mu? Bahkan menceraikan mu?", tanya Glen yang sekarang sudah duduk di samping istrinya.
"Bukankah sudah ku katakan jika itu ketakutan ku selama ini?", Helen mulai berani menatap mata suaminya lagi.
"Ada yang kamu tutupi Len. Bukan hanya karena itu. Apa yang sebenarnya mas Arya lakukan pada mu?", tanya Glen masih penasaran.
"Aku tak ingin membahas itu lagi!"
Glen mendesah pelan lalu menahan kedua bahu Helen. Menatap mata lentik istrinya yang sembab.
"Percaya padaku, aku tidak akan pernah meninggalkan kalian!", kata Glen kembali meyakinkan istrinya.
"Kamu tidak akan menceraikan aku mas?", tanya Helen memastikan.
"Jangan ucapkan kata-kata itu Len!", kata Glen lalu meraih Helen dalam pelukannya lagi.
.
.
.
Di sudut yang berbeda, Shiena semakin uring-uringan saat orang suruhan Arya berada di kantornya.
"Bagaimana nona?", tanya Lukas, orang kepercayaan Arya.
"Oke! Fine!", kata Shiena putus asa hingga ia akhirnya mau menandatangani dokumen pengalihan kepemilikan perusahaannya pada pihak Arya.
Dan....ya....saat ini, perusahaan keluarga Shiena resmi menjadi bagian dari anak perusahaan Arya.
Ancaman Arya tak sepenuhnya gila, Shiena masih menjalankan perusahaannya hanya saja sekarang dia 'bekerja' di perusahaan yang keluarganya rintis sejak dulu.
Sedih ya???? Niat hati ingin menjadi menantu Arya, sayangnya sekarang dia justru menjadi kacungnya!
.
.
.
Arya dan Syam memandangi dua wanita dewasa yang tersenyum bahagia melihat cucu mereka yang menggeliat kecil. Tubuhnya memerah semua karena ulahnya sendiri.
Dokter mengatakan jika Ganesh berkembang sangat baik. Bukan hanya Arya yang bahagia, tapi juga dua neneknya yang sangat antusias.
"Kapan Ganesh keluar dari kotak itu. Saya ingin menggendongnya!", kata Sekar.
__ADS_1
"Sama Bu Sekar, saya juga sudah lama sekali tidak menggendong bayi!", kata Gita.
Wajah Sekar yang tadi ceria mendadak muram. Sudah berapa lama ia tak menggendong bayi????
Mata Sekar pun beralih pada Syam yang sedang mengobrol entah obrolan apa hingga membuat Syam tersenyum lebar.
Gita menyadari hal tersebut dan merasa tidak enak hati. Gita tahu, Sekar tak merawat Syam saat bocah itu masih bayi.
Galuh lah yang mengurus segala sesuatunya juga....Arya!
"Bu Sekar?", Gita mengusap bahu Sekar dengan pelan.
"Saya bukan ibu yang baik ya Bu Gita. Bahkan anak saya saja, di urusi oleh kakaknya dan juga pak Arya. Saya justru mengabaikannya saat itu!", sesal Sekar.
"Bu, sudah. Yang sudah berlalu biarlah berlalu. Toh sekarang, Syam di urus dengan baik sama Bu Sekar. Ya?", Gita mengusap bahu Sekar lagi.
"Mau seperti apapun jahatnya pak Arya saat itu pada Galuh dan Lingga, beliau tetap lah orang yang sangat berjasa pada keluarga kami!", kata Sekar lirih.
Gita mengiyakan dengan anggukan. Sedang di sudut yang agak jauh, seseorang memperhatikan Sekar yang sedang di bujuk oleh Gita. Dia tak bisa mendengar obrolan dua wanita cantik yang sudah mulai termakan usia. Orang itu hanya mampu melihat dari jauh dan mengaguminya dalam hati.
"Mang!", panggil Syam tiba-tiba hingga membuat Salim terhenyak.
"Eh, Den Syam. Ada yang bisa mamang bantu?", tanya Salim. Syam melihat jika Salim gugup. Niatnya, Syam ingin meminta Salim mengantarkannya ke kantin untuk membeli makanan yang cukup banyak. Tapi ternyata Mang Salim sedang memperhatikan....Ibunya dan Mama Gita.
"Heum, temani. Syam ke kantin yuk. Beli makanan buat semuanya."
"Oh, ayok!", ajak Salim berjalan beriringan.
Ternyata, sikap Salim tidak hanya di perhatikan oleh Syam. Tetapi juga Arya.
Lebih dari dua puluh tahun Salim ikut dengannya. Saat itu, Salim masih kuliah di salah satu universitas. Tapi,baru beberapa semester dia terpaksa berhenti karena kedua orang tuanya meninggal. Dia pun mencari pekerjaan hingga akhirnya menjadi supir di keluarga Arya bersama supir yang sudah uzur dan beberapa tahun berikutnya Burhan bergabung menjadi supir juga di keluarga Arya yang di tunjuk untuk mendampingi Lingga hingga sekarang.
Arya pernah menawarkan Salim untuk kembali melanjutkan studinya, tapi dia menolak. Dia merasa sudah cukup menjadi supir di keluarga Arya tersebut dan Arya tak memaksanya.
Arya tersenyum kecil.
Agus Salim Supriatna, kamu sedang jatuh cinta rupanya???
*****
10.25
Udah ngga ada konflik berat ya 🤭
Otewe nih... otewe kayaknya 🙈🙈🙈
Betewe terimakasih banyak yang udah mampir. Selamat berakhir pekan 😁😁😁 Alhamdulillah saatnya liburan ngajak bocil jalan sebagai reward juara kelas 🤭🤭🙏🙏
__ADS_1