Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 221


__ADS_3

"Aku ke meja makan dulu ya Bang, barangkali ibu belum selesai nyiapin makan malam", pamit Galuh pada suaminya.


"Kan udah di beresin bik Mumun tadi. Paling ibu cuma nyiapin teh hangat aja!", kata Lingga.


"Ya kan aku juga mau liat bang, barangkali ibu butuh bantuan! Kayaknya ngga boleh banget aku keluar kamar deh!"


"Heum, Abang lagi kangen soalnya!", sahut Lingga.


"Ishhh... aya-aya wae Abang mah. Udah ah...ntar aku panggil Abang sama Ganesh."


Lingga pun mengalah karena ucapan istrinya memang tak bisa di bantah.


Galuh langsung menuju ke meja makan. Di meja makan terlihat Glen yang duduk sendiri sambil mengamati sebuah foto.


Foto pernikahan Sekar dan Salim yang berdiri dengan pakaian berwarna putih. Glen mengamati wajah cantik yang masih terlihat muda dibandingkan dengan usianya.


Entah apa yang ada dipikiran Glen hingga ia tak menyahuti panggilan Galuh.


"Om...om Glen!", kali ini suara Galuh sedikit keras.


"Eh...iya, maaf Galuh! Om...eum...?!'', Glen terlihat bingung ingin menyahut apa. Galuh menoleh ke arah foto sepasang pengantin itu yang baru saja di tatap oleh Glen.


"Om liatin foto ibu sebegitunya ya?", sindir Galuh. Glen sedikit salah tingkah hanya saja ia berusaha untuk membuat ekspresi wajahnya biasa saja.


"Enggak, liat yang bagaimana maksudnya?", tanya Glen terbata.


"Om Glen jangan bohong! Aku tahu om liatin foto ibu!", kata Galuh yang kini duduk tak jauh dari Glen. Glen yang merasa usahanya menutupi hal tersebut hanya bisa mendesah pelan.


"Harusnya om simpan jauh-jauh perasaan itu! Aku ngga mau kalau ada yang menyadarinya. Terlebih...itu Tante Helen dan Abah Salim!", kata Galuh pelan tapi penuh penekanan.


Glen menggeleng pelan.


"Kamu bicara apa sih Galuh, Om nggak ..."


"Aku harap Om bisa menjaga perasaan mereka!", kata Galuh. Glen tak berkata apa-apa lagi.


"Keluarga kita sudah bahagia sekarang. Jangan menciptakan huru hara hanya karena perasaan Om yang terlambat datang. Sebagai seorang istri, aku tahu seperti apa rasanya jika sebagai Tante Helen."


"Galuh...sungguh, om tidak bermaksud apapun. Om hanya... hanya..."


"Sebatas mengagumi? Begitu?", tanya Galuh telak. Glen tak menjawabnya lagi.


"Maaf Om, jika Galuh terlalu lancang dan terlalu berterus terang!"


"Iya, om paham. Om minta maaf!", sahut Glen pada akhirnya.


"Dan aku harap... sudahi perasaan yang salah itu!", kata Galuh lirih.


Glen mengangguk. Dia tahu, seperti apapun dirinya mengelak, ucapan Galuh akan tetap seperti itu terus.


Di sisi lain, sepasang suami istri itu yang akan memanggil Syam berdiri di depan pintu kamar anak lelaki mereka. Terdengar suara tawa Zea yang cukup nyaring. Kedua orang itu memilih untuk mendengarkan obrolan mereka yang ada di dalam untuk beberapa saat. Mereka tak langsung mengetuk pintu.


"Zea ihhh...kamu tuh rese banget!", kata Syam kesal.


"Tuh kan Ma...liat...Syam malu kan? Mana ngga mau ngaku lagi!", adu Zea pada Helen yang dari tadi hanya tersenyum melihat keakraban keduanya dengan versi yang agak lain.


"Apaan sih Ze, di bilang itu tuh dikasih. Ngga ada yang aku mintain sama sekali. Aku terima juga karena ngga enak aja nolaknya, takut mereka malu!'', sahut Syam ketus.

__ADS_1


"Kalo aku mah ... biarin aja malu, lagian tebal muka amat ya Ma. Masa mau ngasih maksa! Aneh! Ngga punya harga diri!", sahut Zea.


"Zea.... ngomongnya!", Helen melotot tajam pada putrinya. Helen memang sengaja ikut di kamar Syam. Kenapa? Ya karena ini, kedua anak ini sepertinya tak lelah berdebat setiap bertemu.


"Tahu tuh Ma. Cerewet banget Zea tuh!", Syam manyun.


"Ciye....ciye...fans nya banyak! Tapi kayaknya si Riang-Riang itu deh crush nya!", ledek Zea lagi sambil terkikik.


"Zea!!!!", kali ini Syam tidak tahan untuk tidak membekap mulut lemes Zea. Zea terbahak-bahak karena melihat Syam yang salting.


Syam menggelitik Zea sampai kegelian! Helen ngapain? Dia tak ingin mencegahnya. Justru dia bahagia, Zea dan Syam bisa tertawa lepas berdua seperti itu.


Dibalik pintu, Sekar mengusap dadanya. Dirinya yang mudah baper, mendengar keakraban Syam dengan Zea pun jadi parno sendiri.


"Bu?", Salim mengusap bahu Sekar. Sepertinya Salim tahu seperti apa perasaan Sekar.


"Ibu ngga apa-apa."


Salim mengangguk mendengar jawaban sang istri. Lelaki itu mengetuk pintu kamar Syam.


"Masuk?", sahut Syam dari dalam. Terlihat Syam dan Zea lelah karena tertawa lepas tadi.


"Adek, Zea! Makan dulu yuk!", ajak Salim. Sepertinya sang istri sedang kehilangan kata-katanya.


"Siap!", sahut dua bocah itu yang berebut ingin keluar lebih dulu dari kamar.


"Zea, Syam! Jangan lari-lari, nanti jatuh!", suara Helen cukup keras.


"Maaf mba Sekar, mang Salim. Zea...!"


"Tidak apa-apa, mba Helen!", kaya Sekar menunduk.


"Mari makan malam dulu, mba Helen!", pinta Sekar.


"Iya, terimakasih. Maaf sudah merepotkan!", kata Helen.


Sekar tersenyum tipis lalu menggeleng.


"Tidak merepotkan kok, mari!", ajak Sekar. Helen mempersilahkan Sekar dan Salim keluar lebih dulu. Lalu dia yang menutup pintu kamar Syam.


Dua bocah itu kembali berdebat di meja makan. Kali ini Galuh lah yang jadi wasit untuk kedua bocah itu.


Lingga membawa Ganesh yang belum tidur lagi ke meja makan untuk makan bersama. Meski Ganesh tak ikut makan, dia duduk di strollernya dengan nyaman.


Makan malam berlangsung hening saat Lingga sudah mengkomando dua adiknya. Adik iparnya dan juga adik sepupunya.


Tak ada ledekan apa pun dari mulut Zea. Tapi di kolong meja, kakinya hobi menendang Syam. Syam yang tak enak dengan kakak iparnya memilih hanya melotot tajam pada Zea. Sayangnya si biang rusuh tetap saja membuat rusuh.


.


.


.


"Ya...padahal Zea masih pengen di sini!", rengek Zea.


"Ngga! Balik aja ke Jakarta sana, males sama kamu!", kata Syam.

__ADS_1


"Ih... males-males! Nanti kangen lho!", Zea menaik turunkan alisnya.


"Tidak, terimakasih!", kata Syam ketus. Semua orang dewasa di sana tak bisa komentar apapun. Dua adik Kakak beda ibu itu seolah tak ada lelahnya untuk mencari bahan berdebat.


"Syam, papa pulang dulu. Lain kali, Syam ke jakarta lagi!", kata Glen pada Syam.


"Insyaallah Pa!", jawab Syam. Glen menyempatkan mengecup puncak kepala Syam dengan penuh kasih sayang. Dan pelukan hangat lelaki itu berikan pada Syam.


"Papa pasti bakal kangen Syam lagi!", kata Glen.


"Iya. Papa hati-hati ya! Jagain mama sama si cerewet Zea!", kata Syam. Glen mengangguk. Setelah itu dia berpamitan pada keluarga Galuh. Seperti ucapan Galuh yang mengandung ancaman tadi, Glen berusaha bersikap biasa saja pada Sekar dan Salim.


Salim juga laki-laki, dia tahu apa yang Glen sembunyikan. Bahkan mereka pernah berdebat sebentar saat acara lamarannya dengan Sekar beberapa waktu lalu.


Glen membunyikan klaksonnya saat keluar dari rumah besar tersebut. Dan semua anggota keluarganya masuk ke dalam rumah karena hari sudah cukup malam.


Salim, Lingga dan Syam tidak sholat di mushola jadi mereka baru melaksanakan empat raka'atnya di kamar masing-masing.


Di kamar Lingga...


"Yang!", panggil Lingga pada Galuh yang tengah menyusui Ganesh.


"Heum? Kenapa bang?", tanya Galuh.


"Kamu ngomong apa tadi sama om Glen? Udah ngomongnya pelan, eh...muka om Glen pucat!", kata Lingga.


"Hehehe apa sih Bang? Ngobrol biasa aja lah. Om glen pasti capek Bang, maklum kalo mukanya pucat!", jawab Galuh.


Dia tak ingin menjatuhkan harga diri Glen di depan suaminya. Meski dia bilang akan selalu terbuka pada suaminya. Akan tetapi dia hanya ingin mencari yang terbaik untuk semuanya.


Galuh tak ingin suaminya menghakimi perasaan Glen pada ibunya, terlebih...Lingga pasti tidak terima kalau Tantenya harus tersakiti lagi oleh Glen.


"Bener Yang?", tanya Lingga.


"Bener Abang!", sahut Galuh.


"Ganesh masih lama ngga?", tanya Lingga.


"Heum? Kenapa?", tanya Galuh pura-pura tak tahu.


"Gantian dong Yang! Masa Ganesh Mulu. Habis ini, Abang juga mau di manjain hehehe!"


Galuh menggeleng pelan tapi tersenyum tipis.


"Iya, habis ini. Heum?", Galuh mengusap rahang Lingga. Suaminya ikut berbaring di belakang Galuh.


Sayangnya, Ganesh belum juga berhenti meminta haknya hingga dengkuran halus terdengar di belakang telinganya.


"Lha??? Tos sare???", gumam Galuh. Dia merasa kasian pada suaminya, tapi kasian juga pada anaknya kalau di paksa untuk berhenti begitu saja.


"Maaf ya sayang?!", kata Galuh lirih yang tak akan di dengar oleh Lingga tentunya yang sudah tertidur pulas.


Setelah dua lelaki tampannya mengarungi mimpi, Galuh pun ikut tidur.


*****


Cepet banget udah weekend ya?? Kalo libur malah capeknya dobel kuadrat 😆😆😆 ya ngga sih??? Harinya mah Minggu, kerjaan rumah mah Senin melulu 🤭🤭🤭 curhat dong makkkkk....✌️✌️✌️

__ADS_1


Betewe terimakasih banyak semuanya ✌️✌️✌️


19.21


__ADS_2