Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 155


__ADS_3

Galuh meletakan Ganesh di kasurnya lagi. Sedangkan dia berpesan pada suaminya untuk menjaga Ganesh agar dia merasa tenang saat mandi.


"Bang, aku mandi dulu bentar ya?'!''


"Iya Yang.''


Galuh masuk ke dalam kamar mandi dan membiarkan Lingga berbaring di samping putranya. Berhubung Galuh masih nifas, dia tak terlalu lama mandi di pagi hari ini. Sekitar sepuluh menit, Galuh sudah selesai dengan ritualnya. Perempuan itu menjemur handuknya di jemuran yang ada di depan kamar mandinya.


Matanya tertuju ke tempat tidur mereka. Ternyata Lingga kembali tidur ambil memeluk Ganesh yang meringkuk di samping ayahnya. Perempuan itu menghela nafas pelan. Di dekati dua lelaki berbeda usia tersebut. Terlihat sekali jika Lingga sangat ngantuk. Karena bukan kebiasaanya tidur lagi usai solat subuh.


Sebelum keluar kamar menuju ke dapur, Galuh menyempatkan diri mengecup pipi suaminya. Romantis sekali ya??? Siapa yang menyangka jika kisah mereka akan seperti ini.


Llihat saja di bab awal, mereka seperti tikus dan kucing yang sama-sama tak mau kalah. Dan sekarang?


Keduanya berusaha saling menekan ego mereka masing-masing demi keutuhan rumah tangga mereka. Jadi...masa depan tetaplah rahasia!


Galuh memasang hijab instannya meski berada di dalam rumah. Karena biasanya akan banyak orang kebun berada di halaman belakang. Galuh dan Lingga tak menentukan mereka harus datang dan pulang jam berapa. Pokoknya saatnya isoma alias istirahat solat dan makan, mereka tahu waktu. Beruntung para pekerja kebun kebanyakan asli orang sini. Jadi, mereka semua sadar jika akan menyalahgunakan kesempatan bebas tersebut dari sang majikan.


"Kak, Ganesh belum bangun?'',tanya Sekar saat melihat putrinya memasuki dapur.


"Bobo lagi sama abang Bu",jawab Galuh.


"Iya, abang pasti ngantuk kak. Semalam bangun pas anak-anak mau berangkat ke pasar induk.''


Syam mengambil gelas dan mengisinya dengan teh hangat yang ada di poci.


"Abang ikut bangun?'',tanya Galuh. Syam mengangguk.


"Malah kayanya abang juga begadang lagi deh. Ganesh nya rewel, mungkin haus apa pipis gitu",lanjut Syam. Galuh terdiam beberapa saat. Dia semakin merasa bersalah karena menyudutkan suaminya saat ia baru pulang kemarin malam.


"Kok bengong kak? Kenapa?'', tanya Sekar penuh perhatian karena melihat putri sulungnya melamun pagi-pagi.


"Ngga bu!'', sahut Galuh.


"Non, bibik udah bikin sayur bening katuk sama tahu bakar. Mau bibik siapkan sekarang?', tanya Mumun yanng sepertinya baru keluar dari pasar atau warung.


"Boleh bik, aku laper!'', jawab Galuh mencoba mengalihkan perhatian ibu dan juga adiknya yang menatapnya curiga.


"Iya non, bibi siapin di meja makan. Tunggu ya non!'',kata bik Mumun. Galuh pun mengangguk patuh.


"Kalian tidak sedang bertengkar kan kak?", tanya Sekar pelan. Dia tahu seperti apa putri sulungnya itu.


Meski Galuh sosok perempuan yang berani, tapi dia begitu menghormati suaminya. Tidak mungkin tidak terjadi sesuatu hingga Galuh tak tahu jika suaminya begadang semalam.

__ADS_1


"Ngga Bu. Bertengkar kenapa?", tanya Galuh balik. Meski ibunya adalah orang yang sudah melahirkannya, tapi Galuh tidak ingin semua orang tahu rahasia rumah tangganya yang mungkin bukan masalah besar.


"Alhamdulillah kalau kalian baik-baik saja! Ibu sempat denger waktu Abang pulang semalam. Sebenarnya ibu mau nemenin kamu jagain Ganesh, tapi kamu yang kekeuh mau sendiri aja. Tapi ibu lega setelah Abang pulang. Dia pasti udah bantu kamu jagain Ganesh. Bahkan ngga seperti biasanya kan Abang tidur lagi habis solat subuh?", kata Sekar panjang lebar.


Lagi-lagi Galuh merasa tertampar dengan kalimat yang keluar dari adik juga ibu kandungnya. Kenapa dia seemosi tadi malam bahkan tak mau mendengar alasan suaminya. Yang lebih parah, dia tak tahu jika suaminya justru melakukan tugasnya sebagai seorang ibu yang menjaga bayi mereka.


"Huum! Nanti kalau Ganesh bangun, Abang juga pasti ikut bangun!", kata Galuh bersamaan dengan makanan yang dia inginkan sudah di sediakan oleh Mumun.


"Adek berangkat naik sepeda?", tanya Sekar melihat bungsunya mengeluarkan sepedanya.


"Iya Bu. Udah lama ngga naik sepeda!", jawab Syam. Tapi suara klakson mobil mengalihkan perhatian Syam dan Sekar. Galuh menikmati sarapannya dengan melamun.


Seseorang turun dari mobil, yang tak lain adalah Gle. Tak berapa lama, mobil Salim pun memasuki halaman rumah Sekar.


Syam mengerjapkan matanya pelan. Jujur dia bingung! Kedua lelaki dewasa itu pasti akan mengantarkannya ke sekolah.


Glen sudah mengirim pesan pada Syam bahkan sebelum subuh tadi. Sedang Salim sendiri memang sudah di tugaskan oleh Arya untuk antar jemput Syam.


Di sini, Syam yang dilema mau ikut siapa???


"Udah siap Syam? Ayo papa antar!", kata Glen.


"Den Syam mau berangkat sama tuan Glen?",tanya Salim pada Syam.


"Eum... kebetulan nanti ada les tambahan. Les bahasa Inggris gitu lho Pa, mang! Ehem...jadi kayaknya syam naik sepeda aja. Biar kalo pulang ngga nunggu jemputan!", kata Syam.


Terlihat dua wajah orang dewasa yang kecewa. Tapi itulah keputusan paling tepat.


"Ya udah kalau mau naik sepeda, hati-hati ya Dek!", kata Sekar yang seolah memahami pikiran si bungsu.


"Iya Bu? Assalamualaikum!", Syam menyalami Sekar. Tak lupa ia pun menyalami Glen dan juga Salim bergantian.


Tinggallah tiga orang dewasa yang tampaknya sama-sama tak tahu harus berkata apa. Dan akhirnya, Sekar memilih untuk meninggalkan dua lelaki dewasa di hadapannya dengan senyuman terpaksa.


"Kamu tidak ada tugas?", tanya Glen pada Salim.


"Belum tuan, apa anda membutuhkan sesuatu?", tanya Salim.


"Kita bicara di sana!", Glen menunjukkan sebuah tempat duduk yang ada di pinggir kebun sawi.


Salim pun mengikuti perintah adik dari majikannya itu. Meski dalam hatinya dia juga bertanya-tanya sebenarnya Glen ingin bicara apa.


.

__ADS_1


.


.


"Tuan, sudah sampai!", supir itu membangunkan Yudis yang terlelap.


"Sudah sampai?", tanya Yudis. Si supir pun mengangguk.


"Sudah tuan. Silahkan!", kata supir.


Yudis baru saja tiba di kampung halaman Galuh.


Tapi baru saja ia keluar dari mobilnya, ponselnya berdering nyaring.


[Hallo?]


[......]


[Apa...??? Bagaimana bisa!]


[....]


[Ini pasti ulah Arya. Dasar SE***!]


Yudis langsung mematikan panggilannya.


Brengsek Arya!!! Sialan?!!!


Yudis berteriak karena kesal.


"Kita kembali ke kota dan langsung menuju ke kantor!", kata Yudis.


Di tempat yang berbeda, Arya sedang melakukan zoom meeting. Puja mengabari jika permintaan sang papa sudah ia turuti. Jadi mau tak mau Yudis harus kembali ke kota.


"Baik Tuan!", supirnya pun mengangguk.


Arya! Sampai kapan pun aku tak akan pernah berhenti mengusik mu!! Yudis mengepalkan tangannya.


******


22.07


Dua bab ya???

__ADS_1


Haturnuhun 🙏✌️🙏🤭


__ADS_2