Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 144


__ADS_3

"Luka istri saya baik-baik saja ,dok?", tanya Lingga usai Galuh selesai di periksa.


"Beruntung anda segera membawa nya kemari. Soalnya bekas operasi ibu Galuh memang bukan di jahit. Tapi, kalau saya boleh sarankan tolong lebih berhati-hati ya pak, Bu. Luka istri anda istilah katanya masih cukup baru."


"Iya dok!", sahut Lingga lemah.


Dan sekarang sepasang suami istri itu berada di ruang UGD. Dokter tak meminta Galuh untuk di rawat. Hanya saja Lingga meminta waktunya beberapa saat sampai istrinya benar-benar tidak sesakit tadi.


"Kita ke depan kamar Ganesh aja bang! Takut nanti ada pasien yang lebih membutuhkan!", kata Galuh meringis.


"Kamu masih nyeri Yang!", tolak Lingga. Galuh menggeleng.


"Bohong, itu buktinya masih nyeri. Atau kita cari kamar rawat aja?", tanya Lingga.


"Ngga bang. Aku juga ngga butuh perawatan intensif. Masih banyak yang lebih membutuhkan penanganan medis nantinya. Entah di sini atau di ruang rawat inap!", Galuh berusaha duduk dari brankarnya. Dengan sigap Lingga membantu sang istri bangkit.


"Jangan di paksa Yang!", Lingga memperingatkan.


"Bang, aku ngga apa-apa. Ayo kita jenguk Ganesh. Aku kangen Bang!"


Lingga menghela nafas panjang mendengar rengekan istrinya tersebut.


"Ya udah, ayok! Tapi pelan aja Yang!", pinta Lingga.


"Heum! Kan Abang yang mapah aku jalan heheh!", sahut Galuh.


"Bisa-bisanya ketawa lagi sakit begitu sih Yang!", Lingga mencebikkan bibirnya.


"Dari pada nangis, Abang malah bingung kan?", timpal Galuh.


"Heum, iya sih!", sahut Lingga. Akhirnya setelah beberapa menit berjalan dari UGD ke ruangan Ganesh, keduanya bernafas lega saat melihat sang putra sedang menggeliat pelan.


Mata Galuh berkaca-kaca. Ingin sekali ia menyentuh darah dagingnya tersebut. Dokter Maria sudah selesai mengecek kondisi Ganesh serta bayi yang lain. Setelah itu, dia pun keluar.


"Dok!", sapa Galuh ramah sambil sedikit meringis.


"Lho, anda kenapa ?", tanya Dokter Maria penuh perhatian pada Galuh.


"Ngga apa-apa dok. Tadi sempat ada insiden kecil di depan traffic light. Tapi ngga apa-apa kok, aman!", jawab Galuh.


"Insiden apa?", tanya dokter tersebut kepo karena ia melihat Galuh masih meringis. Galuh menoleh ke samping yang ternyata suaminya sedang menerima telpon.


"Tadi kami hampir tertabrak motor yang ngebut,dok. Tapi Alhamdulillah kami semua tidak apa-apa."


"Puji Tuhan! Tapi bagaimana dengan bekas operasi...?"

__ADS_1


"Tidak sampai terbuka sih dok, hanya saja mungkin reflek ketarik tadi jadi nyeri!", sahut Galuh sambil tersenyum. Dokter Maria menggeleng pelan mendengar jawaban ibu dari pasien bayinya tersebut.


"Bagaimana perkembangan Ganesh dok?", tanya Galuh.


"Semakin baik! Itu yang bisa saya sampaikan!", dokter Maria menepuk lengan atas Galuh.


"Jadi, Ganesh bisa secepatnya pulang dok? Saya bisa menyusui Ganesh langsung dok?", tanya Galuh dengan mata yang mengembun.


"Heum, mudah-mudahan secepatnya. Kita lihat tiga hari kedepannya bagaimana. Yang sabar ya Nyonya Galuh. Kalian pasti akan segera berkumpul!", sahut dokter Maria dengan senyum ramahnya.


Tanpa di sadari bulir hangat menetes di pipi chubby Galuh. Buka tangis kesedihan, tapi tangis bahagia. Ya, Galuh sangat bahagia mendengar kabar baik tersebut.


Dokter Maria mempersilahkan Galuh melihat Ganesh lebih dekat dan masuk ke dalam ruangan tersebut. Lalu setelah itu, justru dokter Maria menghampiri Lingga yang baru selesai berbicara via telpon.


"Dokter Maria!", sapa Lingga.


"Iya pak Lingga."


Dokter dan Lingga pun mengobrol perihal keinginan Lingga semalam sebelum pulang. Ternyata seperti dugaan Lingga.


Dokter Maria dan pihak keamanan mencurigai beberapa orang yang mengawasi ruang khusus bayi tersebut.


Dan mengikuti permintaan Lingga, dokter Maria meminta beberapa bayi di pindah ke dalam ruangan yang berbeda untuk beberapa saat. Petugas yang kebetulan sedang bertugas pun sebenarnya bingung, hanya saja mereka menurut pada atasan.


"Apa di cctv terlihat seperti apa yang di curigai mengawasi ruangan itu, dok?"


"Beberapa laki-laki berpakaian serba hitam. Tapi wajahnya tak terlihat jelas karena cukup jauh dari kamera pemantau."


Lingga mendesah pelan. Rumah sakit di kota ini belum bisa menyamai sistem yang lebih canggih seperti di kota besar. Jadi, wajar saja jika masih ada pihak-pihak yang 'punya' kepentingan lain bertindak di saat petugas lengah.


"Baiklah dok, terimakasih atas kerjasamanya selama ini."


"Sudah kewajiban kami. Kalau begitu, saya permisi!", pamit dokter. Lingga pun mempersilahkan.


Lelaki tampan itu mendekati dinding kaca. Dibalik dinding tersebut, pemandangan mengharukan terlihat di depan matanya.


Sang istri tengah menimang buah hati mereka dengan di bantu oleh petugas tentunya. Meski hanya beberapa menit, tapi terlihat Galuh sangat bahagia.


Senyumnya tak luntur meski dekapan hangatnya tak berlangsung lama.


Setelah keluar dari ruangan Ganesh, Galuh melemparkan senyuman manisnya pada Lingga.


Tanpa ba-bi-bu, Galuh yang pendek itu memeluk suaminya. Lingga pun tersenyum lalu reflek mengusap puncak kepala Galuh.


"Udah puas gendong Ganesh nya?", tanya Lingga tanpa melepaskan dekapannya. Galuh menggeleng di dalam pelukan Lingga.

__ADS_1


"Mana ada puasnya sih Bang!", kata Galuh.


"Heum, sabar sayang! Sebentar lagi! Oke?!", Lingga mencoba menenangkan istrinya walau pun dia sendiri sebenarnya pun sama tak sabar nya ingin segera berkumpul bersama.


.


.


.


"Mang Salim mau ke mana?", tanya Syam.


"Mau ke bawah Den, tuan Arya dan nyonya Gita datang ke rumah baru mereka di bawah sana den. Rumah yang Deket sawah, seberang toko meubel!", jelas Salim.


"Mereka pindah?", tanya Syam dengan mata berbinar-binar.


"Iya den, mereka akan tinggal di sini."


"Wah, aku mau ikut mang. Boleh Ya? Aku kangen papa Arya!", kata Syam merayu Salim. Tangan Salim reflek mengusap kepala Syam yang masih menggelendot di lengan Salim.


''Sama mamang boleh, tapi tanya ibu dulu!", pinta Salim perlahan agar Syam tak salah memahami ucapan Salim.


Tapi sepertinya alam semesta sedang merestui. Sekar keluar dari ruang tamu menuju ke halaman.


Praktis! Perhatian dua lelakinya beda generasi tersebut langsung beralih pada sosok cantik berdaster hitam dan bergo berwarna coklat susu itu.


"Syam bilang ibu dulu ya mang", pamit Syam. Salim pun mengiyakannya. Terlihat sedikit perdebatan kecil antara Sekar dan Syam. Tapi ternyata helaan nafas Sekar keluar begitu saja hingga membuat Syam bersorak riang lalu berlari ke dalam untuk membawa beberapa benda yang dia butuhkan.


Tinggallah Salim dan Sekar yang hanya saling diam. Tapi keduanya menyiratkan bahwa tak perlu bicara lewat Verbal karena keduanya seolah sedang telepati.


Sekar mengangguk pelan dan tersenyum. Senyuman yang Sekar berikan pun di terima dengan baik oleh Salim.


"Ayo mang!", pinta Syam.


"Ayok den!", jawab Salim. Sebelum dia pergi, ia sempat mengangguk tipis pada Sekar sebagai bentuk pamitan atau permisi.


Kendaraan Salim pun melaju nyaman menuju ke rumah baru Arya yang tak sampai setengah jam untuk bisa sampai ke sana.


****


21.35


🙏🙏🙏🙏🙏


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2