Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 132


__ADS_3

Kafe semakin ramai menjelang malam, ternyata keluarga Glen juga menyempatkan diri berkunjung ke kafe Galuh.


Tampak Helen mulai kembali menjadi sosok seperti sedia kala yang lembut. Pantas saja jika Glen mudah jatuh hati pada perempuan cantik itu. Hanya saja, masalah hati beberapa waktu lalu seolah membuat dirinya menjadi 'bukan dirinya' yang sebenarnya.


Jika di posisi Helen, tidak semua bisa menerima keadaan itu terlepas itu tekanan dari Arya. Apakah di sini Arya jahat? Tergantung dari mana sudut pandang yang melihat posisinya.


Fyuuuuh.... lupakan masalah itu yang sudah selesai. Keluarga kecil itu kini bergabung dengan anggota keluarga Arya yang lainnya.


"Mas Arya!", Glen mencoba mengobrol dengan kakak iparnya. Arya hanya mendongak sekilas lalu kembali fokus pada menu makanan yang ada di hadapannya.


"Maaf, boleh aku tahu surat perjanjian yang mas Arya buat untuk Helen?", tanya Glen yang langsung di tanggapi oleh Helen dengan tatapan tajam.


Kenapa????


"Tanyakan saja pada istri mu!", pinta Arya.


"Helen tidak mau menjawabnya!", jawab Glen. Arya meletakkan sendoknya dengan posisi tengkurap itu artinya di menyudahi makannya.


Lelaki berusia hampir senja itu menopang dagunya dengan dua genggam tangannya. Suasana mendadak hening, untung saja Angel dan Zea berada di lantai atas. Mereka tidak makan bersama para tetuanya.


Glen harap-harap cemas, mungkin juga Lingga, Gita dan Vanes pun sama penasarannya. Puja sendiri sudah membaca surat perjanjian itu.


Helen sendiri sudah membacanya, hanya saja dia tidak teliti saat membaca poin yang mengatakan hal kebalikannya. Ya... begitu lah kalau membaca terburu-buru dan tidak berpikir tenang.


"Jelaskan kak!", pinta Arya pada Puja. Puja yang tadi akan menyuapkan nasi ke dalam mulutnya pun tidak jadi.


"Ehem!", Puja berdehem sambil melirik papanya lalu ia pun meneguk air putih yang Vanes ulurkan.


"Intinya Tante Helen hanya disuruh menerima Syam. Itu saja!", sahut Puja.


Helen menautkan alisnya pada keponakannya itu.


"Om Glen tidak usah berpikir yang bukan-bukan! Masalah sudah selesai kan? Jadi kalau pun om tahu, itu pun percuma! Tak merubah apa pun! Begitu kan papa Arya?", Puja memicingkan matanya sebelah pada sang papa.


Dia kesal pada papanya itu, papanya yang bikin poin begini begitu kenapa harus dirinya yang menjelaskan!


"Heum!", sahut Arya datar.


Lingga dan Gita hanya menggeleng heran dengan interaksi Arya dan Puja.


Kadang-kadang memang, buah jatuh tak jauh dari pohonnya! Tapi itu pepatah lama! Bisa saja kan buahnya di bawa kelelawar terus jatuh ke kali, di kali langsung terbawa arus entah kemana!!! Ngawur!!!?!?


"Owh...oke! Lalu, soal Shiena?", tanya Glen lagi. Lelaki itu benar-benar ingin tahu dan bisa bebas dari masalah yang menghampiri keluarganya.


"Saham Shiena berpindah tangan!", jawab Arya datar.


Helen dan Glen menoleh bersamaan. Bagaimana bisa?


"Jauh sebelum masalah Helen, dia memang sedang mencoba mengusik ku! Tapi ... harusnya dia sadar diri untuk memilih lawan. Dia pikir, menggunakan video kamu lantas bisa membuat ku rela begitu saja? Tidak!"


Glen dan Helen menelan salivanya dengan kasar.

__ADS_1


"Sepertinya kalian harus banyak belajar! Dunia bisnis itu tak segampang yang orang pikir. Banyak trik intrik yang bisa saja tak pernah terpikirkan oleh otak orang biasa. Dalam artian pebisnis biasa!"


Lingga, Puja, serta Glen berusaha untuk fokus mendengarkan nasehat Arya.


"Sahabat bisnis mu, kadang bisa jadi lawan mu! Kadang tiba-tiba saja berada di puncak, tapi dengan cepat pula tiba-tiba di bawah."


"Untuk kasus Shiena! Aku punya kartu AS nya yang membuat Shiena tak berkutik! Sorry Helen, mungkin aku terlalu jahat kemarin. Sudah memanfaatkan situasi hingga kamu mau menerima Syam dengan terpaksa. Padahal, kamu tahu aku tidak ada hak apa pun di sana!"


Dada Helen naik turun! Jadi, ada atau tidaknya masalah videonya yang mabuk dan bercumbu dengan para brondong, Arya bisa menjatuhkan Shiena kapan saja. Lantas, Arya memanfaatkan momen di mana ia bisa mengambil keuntungan untuk Syam yang terpaksa di terima dalam keluarga Surya Atmaja.


"Apa kamu menyesal Helen, sudah menerima Syam?", tanya Arya. Semua mata kini tertuju padanya.


Helen menggeleng dengan perlahan. Mana mungkin ia menjawab tidak? Bukankah dirinya sudah ikhlas menerima semuanya???


"Tidak mas!", jawab Helen pasti. Glen sontak mengalihkan perhatiannya pada sang istri.


Ia menggenggam tangan Helen yang ada di bawah meja. Perempuan cantik itu menoleh pada suaminya yang juga sedang menatapnya dengan senyuman.


Aku tahu aku terluka, tapi waktu yang akan menyembuhkan luka ku. Melihat kebahagiaan di wajah suami ku dan juga anakku membuat ku merasa bahwa aku harus banyak bersyukur! Batin Helen.


"Syukurlah kalo kamu memang sudah menerima Syam!", kata Arya.


"Iya mas, insyaallah aku akan berusaha menganggap Syam seperti putra ku sendiri!", jawab Shiena.


Ada kelegaan di wajah Lingga yang melihat ketulusan di Helen. Dia tak menyangka jika Tantenya akan berlapang dada menerima kenyataan yang sebenarnya menyakiti dirinya juga.


"Mewakili Syam, aku ucapkan terima kasih Tante?", kata Lingga.


Kemudian acara makan santai di kafe Lingga pun berlanjut dengan ocehan dua gadis yang menginjak usia remaja yang mendominasi.


Siapa lagi kalau bukan sang Tante dan keponakannya????


"Tante Zea ngga seru tahu, Ma!", adu Angel pada Vanes. Usianya satu tahun di atas Zea.


"Papa, masa Angel panggil aku Tante? Aku aja lebih muda dari dia lho?!",Zea pun mengadu pada Glen.


Para orang tua di sana pun tersenyum menghadapi Tante dan keponakannya tersebut.


"Ya kan Zea emang tantenya Angel, papa aja di panggil Opa Glen sama Angel, ngga keberatan kok!", jawab Glen. Zea memanyunkan bibirnya mungil itu.


"Tuh kan apa ku bilang????!", sahut Angel yang merasa menang karena di bela oleh Glen.


"Yang anak papa Zea apa Angel sih?!", tanya Zea.


"Ya Zea lah, kan Angel cucu papa!", jawab Glen yang semakin membuat Zea meradang.


Hidungnya megar menahan kesal tapi setelah itu dia tersentak saat tiba-tiba Lingga meraih Zea.


"Dan Zea itu adik kesayangan Abang!", kata Lingga mencoba membujuk Zea agar tak merajuk.


Zea menjulurkan lidahnya meledek Angel yang merasa ada yang membelanya. Dan para orang tua di sana hanya bisa memijat pelipis dan tengkuknya mendengar pertikaian antara Tante dan keponakannya tersebut.

__ADS_1


.


.


.


"Kamu yakin di kost sendiri Kak?", tanya Sekar yang di minta pulang oleh Galuh.


"Iya Bu, aku ngga apa-apa kok. Luka jahitan ku juga sudah tak sakit. Ngga ada aktivitas berat selain jalan kaki dari sini ke rumah sakit Bu."


"Bukan hanya itu kak, tapi kamu sendirian!"


"Ibu, ayolah...Galuh ngga apa-apa. Anak perempuan ibu kan tangguh. Heum?", rayu Galuh. Sebenarnya bukan maksud hati menolak ibunya yang ingin menemaninya. Hanya saja, dia takut Syam tidak ada yang mengurusnya apalagi Syam juga akan membantu pekerjaan yang tidak bisa di kerjakan Galau selama dia ada di rumah sakit.


"Baiklah! Kamu hati-hati!"


Galuh mengiyakan dengan anggukan.


Kedua perempuan itu ke mobil.


"Mang, titip adek sama ibu ya! Mang Salim bawa cintanya hati-hati!", Galuh sedang mewanti-wanti sopir itu.


Ucapan Galuh sontak menarik perhatian Sekar dan Salim yang berpikir jika Galuh sedang dalam mode usil. Beruntung Syam langsung tergeletak di bangku belakang.


"Maksudnya apa ya non?", tanya Salim pada.


''Ngga maksud apa-apa!", goda Galuh pada Salim dan Sekar.


Barulah setelah itu mobil Salim melaju menjauh dari kost Galuh. Karena Syam sudah tidur bahkan sebelum berangkat, anak itu sudah tidur duluan.


"Eee ...!", tiba-tiba saja Sekar dan Salim hendak membuka obrolan tapi dengan kompaknya mereka tak langsung bicara melainkan sekedar mengeluarkan sebuah suara yang tak ada artinya.


"Silahkan ibu dulu!", Salim mempersilahkan Sekar berbicara lebih dulu.


"Ngga usah lah Mang Salim, tidak jadi!" kata Sekar.


"Memang kenapa?",tanya Salim.


"Tidak mang tidak jadi."


Lalu setelah obrolan keduanya hanya sebatas itu, mobil Salim pun mendarat.


dengan tepat di halaman rumah Sekar. Bersamaan dengan Syam yang bangun dari tidurnya. Ia mengucek matanya saat melihat jika dia berada di halaman rumahnyq.


Dia heran kenapa Mang Salim dan ibu nya seperti diam-diaman??....


****"


23.06


Ngantuk berat plus capek badan. nih Selamat beristirahat! Terimakasih 🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2