
Mohon maaf sebelumnya atas ketidakpahaman othor yang memang bukan bidangnya. Memang ini hanya dunia halu, tapi setidaknya harus logis juga kan??? Kalo ngga logis, balik lagi ini hanya dunia halu 🤭🙏. Maafkanlah ketidakmampuan Mak othor yang kurang ilmu ini 🙏🙏🙏🙏🙏
Harap di maklumi ya pemirsahhhh 😁
Happy reading 🤗🙏
------------------------------
"Ini...hasil USG kan dok?", tanya Salim. Dia memang bukan lulusan kedokteran, hanya saja melihat kertas glossy bergambar seperti itu tentu dia paham.
"Betul pak", jawab dokter sambil tetap tersenyum. Dokter itu memberikan kertas kecil itu pada Salim. Mata Salim yang menggunakan kacamata sempat menyipit beberapa saat hingga telunjuknya mengarah ke tanda titik kecil.
"Ini... artinya apa dok?", tanya Salim.
"Alhamdulillah, dari pemeriksaan tadi, ada dua kantung janin yang ada di rahim Bu Sekar."
Salim terbengong-bengong beberapa saat, sedang Sekar yang mohon maaf kurang paham seperti Mak othor nih hanya mampu menatap suami dan dokter bergantian.
"Dua kantong janin dok?", tanya Salim.
"Betul pak, hanya saja karena usianya masih terlalu muda...bapak bisa memeriksakan ibu setelah empat Minggu untuk memastikan pak. Apakah kantung janin itu akan berkembang atau tidak. Mohon maaf, bukan bermaksud mematahkan harapan bapak dan ibu. Bisa saja kantong janin tersebut tidak isi. Lebih tepatnya, hamil kosong. Dan saya rasa ... sepertinya bapak paham hal tersebut."
Sekar mulai paham pembicaraan antara dokter dan suaminya.
"Dok, maksud dokter...saya...hamil dok?", tanya Sekar tiba-tiba. Dokter itu mengangguk pelan.
"Betul ibu, tapi mohon maaf untuk lebih jelasnya nanti sebaiknya ibu kembali ke mari setelah empat Minggu untuk memastikannya."
Setelah dirasa cukup mendengar semua jawaban dari setiap detail pertanyaan Salim pada dokter, sepasang suami istri itu pun keluar dari ruangan dokter tersebut.
Ada terselip rasa bahagia dan haru sekaligus. Niat awal hanya ingin berkonsultasi dan mencari solusi, nyatanya mereka langsung di beri bonus.
Bukan apa, Salim tidak lah sombong jika benih yang baru ia tanam sudah langsung menghasilkan 🤭. Kenapa? Wajar, dia menanamnya tidak hanya sekali.
Tapi...bahkan seorang Glen pun hanya sekali menanam benih bisa menghasilkan Syam. Itu artinya, Sekar memang cukup subur meski di usianya sekarang yang sangat rentan untuk hamil. Apalagi, statusnya yang sudah menyandang sebutan nenek dari Ganesh. Tentu lah tidak mudah!!!
__ADS_1
Salim menggenggam tangan Sekar selama di perjalanan pulang. Niat hati ingin ke studio foto untuk membuat foto paspor pun Salim urungkan. Dia sudah tidak sabar untuk mengabari anak dan menantunya di rumah.
"Kok diem aja Bu, kenapa?", tanya Salim. Sekar menoleh pada suaminya.
"Apa tidak apa-apa kalau ibu hamil?", tanya Sekar. Salim menghela nafas panjang mendengar pertanyaan istrinya.
"Dokter bilang, Abah harus selalu mendampingi ibu. Dan insyaallah Abah akan melakukannya. Apalagi... insyaallah nanti janin itu kembar, bukan kah itu sangat membahagiakan?", tanya Salim. Tangan Sekar mengusap perutnya yang datar.
"Heum, ini berita bahagia bah. Tapi..."
"Tapi apa?", tanya Salim.
"Bagaimana dengan respon anak-anak, terutama Syam?", tanya Sekar.
"Insyaallah adek juga akan menerima kehadiran adik-adiknya besok."
Sekar mengangguk pelan dan di saat yang bersamaan, sosok yang sedang di bicarakan menghubungi Sekar.
"Masyaallah, panjang umur adek bah. Lagi di omongin malah telpon ibu."
Salim memberi kode agar Sekar mengangkat panggilan tersebut. Setelah berbasa-basi cukup banyak, Sekat pun mencoba menyampaikan informasi tentang kehamilannya pada Syam. Dia ingin tahu apa reaksi Syam jika tahu ibunya tengah mengandung.
Tanya Sekar dengan senyum khas nya. Syam yang tadinya tertawa lebar kini mulai meredup meski masih menyisakan tawa di bibirnya.
[Seneng bu. Alhamdulillaah]
Dan keduanya terlibat pembicaraan serius tapi santai hingga akhirnya obrolan itu berhenti saat Zea meminta tolong pada Syam.
Selesai mengurusi Zea, Syam kembali duduk di tempat semula. Terlihat Helen yang sedang membuat teh panas. Dia pulang ke rumah lebih awal dari biasanya karena sedikit merasa pusing.
Melihat Syam yang sedang melamun, Helen menghampiri anak tirinya tersebut.
"Ada masalah Syam?", tanya Helen. Syam menggeleng pelan. Zea kembali terdengar berteriak, namun kali ini tak sekencang tadi.
"Kalo kamu butuh teman cerita, mama bisa kok jadi pendengarnya!"
__ADS_1
Nabil sempat terdiam beberapa saat. Dia bimbang ingin menceritakan apa yang dia rasakan, atau lebih baik diam.
"Kangen ibu?", tanya Helen. Syam mengangguk pelan.
"Masih ada waktu dua hari lagi, bagaimana kalau kita ke pantai atau ke gunung?!", tanya Helen lagi.
"Syam kan rumah nya di gunung Tante!", kata Syam yang masih sangat sulit untuk menyebut kata mama padanya.
"Ya udah berati ke pantai, mau kan?", tanya Helen. Syam mengangguk lagi.
"Oke, kita agendakan Syam. Mama dan papa akan menyelesaikan pekerjaan biar kita bisa santai menemani kamu dan Zea libur.
Tapi ternyata hal tersebut tak membuat Syam kembali tersenyum.
"Cerita sama mama!", Helen merangkul bahu Syam untuk beberapa detik.
"Ibu hamil, Syam mau punya adik", adu Syam.
"Alhamdulillah, bagus dong! Kamu punya adik pasti rumah akan ramai. iya kan?" tanya Helen.
"Huum! Semoga saja!", gumam Syam.
"Kok gitu jawabnya?", tanya Helen.
Nabil menceritakan semua alasannya hingga akhirnya dia merasa ,jika setelah mempunyai adik, dia akan akan tersisih.
"Semua akan tetap sama Syam. Mereka semua menyayangi kamu. Ada atau tidak adanya adik si antara mereka."
Meski tersenyum, kalimat Helen tak membuat Syam sedikit tenang. Wajahnya mendadak muram lagi.
*******.
Terima kasih udah dukung tulisan receh ini Mak2 kece 😁
Jangan lupa tinggalin jejak kalian y
__ADS_1
Terimakasih 🙏🙏🙏🙏.
21.44